Sering kali para sahabatku bertanya-tanya, ketika saat kepaniteraan utamanya, pertanyaannya yang biasa, “Kamu sudah nikah ya?” Awalnya aku selalu bingung dengan pertanyaan itu, namun tak perlu lama untuk mengetahuinya mengapa. Tentu saja, dengan cincin yang ada di salah satu jariku ~ yang notabene tidak umum ~ pertanyaan-pertanyaan seperti itu akan sangat mudah untuk dilayangkan. Dan pastinya kujawab sopan, “Belum”. Nah…, pertanyaan berikutnya akan segera mampir, “Kalau begitu tunangan ya?”, “Ah… tidak juga” jawabku kembali, seraya meninggalkan mereka dalam kebingungan.
Saat melihat kembali ke dalam hati ini, hanya cukup ada sebuah rasa itu, rasa yang tidak dapat dikenali oleh semua pengetahuan yang ada. Rasa yang menjadikan setiap gerak dalam kehidupan ini berawal dan berjalan dengan keindahan yang luar biasa. Yang saling memberi, menerima dan memahami.
Aku menyukainya yang tersenyum gembira, terkadang aku harus mencari alasan yang cukup konyol untuk bisa sedikit berlama-lama menatap senyum itu, entah mulai menemani ke toko buku atau hanya sekadar memintanya mengupaskan apel di akhir pekan. If you can do everything for one, with all your heart, then you may say that you in love.
Aku tahu kata cinta dan sayangnya akan membuat semua kekhawatiran berubah menawarkan ketenteraman. Jika semua yang rasa ini begitu berharga, maka biarlah hanya itu yang ada. Keindahannya terlalu bermakna jika tercampurkan oleh banyak hal. Dan kami rasa kami telah cukup dewasa untuk menimbang dan memberikan arah setiap langkah ini.
Mungkin terdapat beberapa harapan yang terselip di dalam hatiku, namun bagiku saat ini bukan itu yang terpenting, ada sebuah harapan ~ di mana aku tak ingin lagi melihat air mata kesedihan baik yang tampak menetes itu, maupun yang tersembunyi yang tak hendak ia perlihatkan sebagai beban padaku. Ada beberapa masalah yang tak akan kunjung usai, dan aku tak mengharapkan keajaiban untuk datang dan membuatnya menjadi semudah membalikkan telapak tangan. Ya, memang dari banyak ketidaktahuanku akan apa yang harus kulakukan, maka semoga apa yang dapat kuberikan bisa menjadi sebuah jalan tengah untuk mengembalikan keceriaan dalam hidupnya, walau aku tak yakin sepenuhnya dengan putusanku, namun aku tahu, ia sosok yang kuat walau dengan kecengengan, keras kepalanya dan sedikit kebodohannya. Dan inilah yang menjadi permintaan maafku yang terbesar padanya, lagi pula semua ini berawal dan sifatku keras kepalaku yang tak mendengarkan nasihatnya.
Just like a light, which need no more light to be a lighting light.… just as simple as one who is in love, who need no more love to be love.… if there is love… there is just love, nothing more nothing less, one shall need no more love, just one it shall bright the entire living.
She is my beloved one, best friend and a so kind sister, a gift of celestial’s miracle which might be only one in a life time. I give her the very respect itself, A Shining Kindness ~ Anastasia Sari Kusumawati.
Anda diizinkan untuk berbagi (menyalin, mendistribusikan, mengubah bentuk) & mengadaptasi artikel blog ini baik sebagian atau pun keseluruhannya di bawah penggunaan lisensi yang sama (CCA-NC-SA 3.0 Unported) kecuali dinyatakan sebaliknya atau berbeda oleh penulis. Anda diwajibkan menyertakan sumber asli pada salinan dan adaptasi yang Anda karyakan berupa pranala berikut:
Diambil dari: If Love… There’s just Love oleh Cahya.




Tidak Ada Tanggapan