Radiology ~ Path of Burning Hell

Radiologi merupakan sebuah bagian yang sing­kat dalam pen­didikan kepaniteraan kali ini, hanya dua minggu, sedangkan ada materi menum­puk yang harus dikuasai, walau dalam kolom kom­petensi begitu seder­hana, tapi ga sreg rasanya kalau belum men­cicipi semua.

Pertama-tama, apa sih definisi Radiologi (Radiology) itu? (aku menam­bahkan bagian ini karena ada beberapa pengun­jung blog ini yang sering kali mam­pir ke sini melalui google dengan kata kunci “definisi radiologi”). Menurut Kamus Kedok­teran Dor­land Edisi 29, Radiologi adalah cabang ilmu kesehatan yang ber­kaitan dengan zat-zat radioak­tif dan energi pan­caran serta dengan diag­nosis dan pengobatan penyakit dengan memakai radiasi pengion (e.g: sinar-X) maupun bukan pengion (e.g ultrasound pada USG).

Radiologi adalah sesuatu yang unik, seperti antara yang pasti dan yang tak pasti, antara hitam dan putih, antara opak dan lusensi, antara den­sitas dan keham­paan, wuih… bikin ber­getar dan merin­ding deh pokok­nya… (sebenar­nya sih karena AC ruang koass disetel super dingin). Per­tama masuk ke radiologi, setelah terseok-seok dengan glaukoma dan katarak di oftal­mologi, entah apa yang akan menunggu. Kami meng­ikuti jadwal yang ada sesuai dengan protokol kemahasiswaan/kepaniteraan. Hari per­tama sesuai dengan kisi-kisi (dari para pen­dahulu kami yang tidak mening­galkan apapun kecuali 2 GB data untuk mem­per­mudah kehidupan kami di stase ini), ten­tunya bim­bingan oleh kepala bagian (sebelum­nya oleh KODIK DOKTER MUDA, namun hanya orien­tasi sing­kat seperti stase lain­nya) yang sudah tidak sabar ingin mem­berikan kesem­patan pada kami seluas-luasnya. Anak-anak saat itu hanya meminta tiga tugas untuk masing-masing anak, setelah disetujui, setiap tugas seperti referat seder­hana ter­diri dari sebuah kasus klinis, definisi kon­disi, temuan klinis saat pemerik­saan awal, per­min­taan pemerik­saan penun­jang radiologis sesuai dengan tahapan kon­disi dan keadaan penyakit, serta contoh-contoh foto yang mung­kin ditemukan serta analisis­nya sesuai dengan pem­bacaan yang lege artis.

Hmm…, kupikir tugas ini lumayan lah, setidak­nya kami bisa saling ber­tukar ide. Ups…, ter­nyata masih ada lagi tugas yang lain, buku pan­duan studi di bagian radiologi ter­diri dari enam bab, masing-masing bab dengan per­tanyaan pen­dahuluan yang ber­jum­lah hingga lebih dari 5 buah. Oke, kita ker­jakan dulu yang bisa diker­jakan. Aku harus membuka-buka ber­kas buku elek­tronik hingga lebih dari 1 GB, buku-buku lain seperti Lecture Notes Radiologi, Radiologi Klinis hingga ke buku yang diwariskan secara turun-temurun dengan ber­ba­gai jebakan yang menyesatkan dalam corat-coret yang tidak jelas. Ber­buru mem­buka halaman emedicine medscapes di dunia maya yang begitu luas, hingga membolak-balik buku ajar Ilmu Penyakit Dalam, buku ajar bedah, patologi klinis, bahkan Kamus Kedok­teran Dor­land. Setelah beberapa jam, membalik-balik halaman demi halaman, meng­analisa paragraf demi paragraf, menyim­pulkan dan menulis ulang, ter­masuk menam­bahkan foto-foto radiologis dan pem­bacaan­nya, akhir­nya hari kedua dini hari, satu tugas hari per­tama selesai. Kini aku meng­erti rasanya mem­baca lebih banyak dalam sehari apa yang biasanya kuhabiskan dalam sebulan (wuih…, ini hanya per­nah ter­jadi di stase pediatri). Hari kedua, kem­bali datang tugas dari pem­bim­bing dan bagian, 5 buah refleksi kasus dan 5 buah tutorial klinis…, tunggu dulu kalau dijum­lah ber­arti ada 5 x (3+5+5+5) setara dengan 5×18 tugas, kemudian untuk setiap bagian akan ada satu tugas yang meliputi bagian foto polos, tomografi ter­kom­puterisasi, ultrasonografi, dan foto dengan kon­tras, ber­arti kini ada 5×22 tugas, di hari keem­pat mun­cul masing-masing dengan tiga tugas mem­buat presen­tasi kuliah yang harus selesai dalam 1×24 jam, itu ber­arti 5×25 tugas, akhir­nya setelah puas-puas berhitung-hitung, kami saling pan­dang dan menemukan kelom­pok kami men­dapat setidak­nya 130-an tugas dalam kurang dari seminggu. Saling ber­pan­dangan dan tidak bisa ber­henti ter­tawa karena stressnya sudah mulai pada kumat.

;Aku pun masih ter­ingat saat harus tidak tidur semalaman setelah menyelesaikan 3 mini lectures sehingga paginya hanya terkantuk-kantuk saat ber­tugas di rumah sakit, itu karena aku men­dapat satu topik dengan tema miosar­koma, hah…! ter­nyata malah jadi dua topik rhabdomiosar­koma dan leiomiosar­koma, malah salinda yang dibuat ber­tam­bah menyamai 4 mini lectures. Setelah itu kon­disiku lagi turun dras­tis, radang teng­gorokkan yang tadinya tidak kun­jung mem­baik walau tidak mem­buruk, malah jadi batuk-batuk akut dengan suara serak, wah… ini mah dah men­jamah laringitis pikirku. Ter­nyata hingga sekarang kon­disiku belum pulih total, seperti ken­daraan pasca kerja rodi saja, mung­kin perlu turun mesin segala. Setiap hari kami seperti paparazzi, mem­bawa mini kamera ke mana-mana, siap mem­bidik foto yang sudah hasil bidikan, padahal orang wajar mah mem­bidik buat dijadikan foto, kami jus­tru mem­bidik foto untuk dijadikan foto (kurang ker­jaan banget), namun begitulah proses­nya, kamera ber­warna meng­hasilkan foto hitam putih, per­cayalah hal ini hanya bisa ter­jadi secara instan saat ini ketika berodi-ria di bagian radiologi!

Radiologi bukanlah pem­bacaan yang mudah, seseder­hana rang­kaian gelap dan terang yang ia per­lihatkan, kami ter­kadang harus duduk ber­sama, ber­bekal proyek­tor LCD dan foto-foto yang tidak per­nah jelas, ber­usaha mem­baca secara teliti ~ entah oleh karena tugas atau inisiatif kelom­pok ~ kami bisa ber­tahan berjam-jam meman­dangi bayangan opak dan lusensi silih ber­ganti ter­pam­pang di atas layar yang putih, itulah yang ter­jadi sebelum kami menyerah karena menyadari tidak ada yang dapat kami baca (foto koq dibaca coba).

Minggu dua adalah minggu ter­akhir, padahal minggu satu adalah minggu orien­tasi maka kita akan lang­sung melom­pat ke minggu ujian dengan sedikit tryout yang diadakan ala kadar­nya. Kami kadang ber­kum­pul hingga agak malam, mem­baca beberapa foto dan men­dis­kusikan­nya, walau sung­guh ga ngerti apa hasil dis­kusinya valid atau tidak, ya… tidak dipung­kiri radiologi adalah satu bagian yang menyenangkan untuk dipelajari, karena kamu tidak meng­erti apa yang sudah kamu pelajari (coba kalau ngerti pasti ber­henti belajar dan bosan), hasil­nya setiap hari di muka kami hanya ada opak dan lusen (kecuali kalau mau ada USG Dop­pler). Lama kelamaan aku merasa bayangan lusen dan opak-lah yang menem­pel di mata kami, wuih…, capek deh.… ^_^

Hari ujian tiba, walau sudah beberapa ratus halaman dibolak-balik, dengan segudang print-outSiapkan ujian! Siapkan ujian untuk remediasi besok!” Ha ha ha, kupikir mereka sudah patah semangat, namun mereka selalu menun­jukkan semangat yang sama yang tidak per­nah surut walau sesulit apa pun. Dan aku melihat si nar­sis numeo uno dan the lucky man num­ber one sedang asyik mengutak-atik lap­topnya, ber­awal dari sebuah ide kecil, mereka sibuk meng­er­jakan sebuah script untuk memin­dahkan semua ber­kas dari mobile device seperti UFD yang dicolokkan ke notebook ke sebuah folder X tanpa ken­tara. Setelah sejam kerja keras sebelum ujian (dan kerja yang ga ada hubungan­nya itu) akhir­nya tibalah wak­tunya kami ujian, notebook OK! Proyek­tor dan layar OK!, (the sibbling trouble maker say: Script OK!), kemudian datanglah dosen kami, ia meng­am­bil notebook dan taraa.…, sebuah CD dimasukkan ke dalam DVD Drive, oh…, bukan UFD, aku ter­tawa terbahak-bahak, mereka ber­dua kelihatan syok karena script hasil karya cipta mereka gagal total (ga diran­cang untuk DVD ROM). Aku masih ingat beberapa soal yang keluar, ada Babygram (mesti ga yakin kelainan­nya ada di mana, mung­kin pada gam­baran lusensi yang agak nyen­trik di area tes­tikuler), Bron­kiek­tasis (jelas sekali peman­jangan area opaq linier dari area hilus ke daerah diafragma, entah juga apa disengaja atau memang asli kalau ini gam­bar dari suatu keadaan situ inver­tus, karena posisi jan­tung dan udara lam­bung yang ber­ada di kanan pada daerah ini), per­forasi usus ~ mung­kin lebih tepat pnumoniabdominalis? (karena ada udara bebas di per­itoneum namun ter­kesan di luar udara usus, mau dari mana lagi coba, aku udah ga bisa mikir yang lain), pneumothorax dengan kolaps paru bilateral (habis gam­baran parunya dah pada hilang semua, ting­gal lusensi di mana-mana), Head CT Scan (menilai bagian-bagian yang tam­pak, seharus­nya aku lebih belajar saat neurologi kemarin, masa nukleus pada hipotalamus aja ga dong (ngerti), memalukan), ada gam­bar Ca colon (dengan ber­ba­gai pola mukosa usus ireguler dan gam­baran apel ter­gigit), frak­tur fibula prok­simal (yang kelihatan cuma dis­kon­tinuitas fibula di seperem­pat prok­simal dengan kesan pem­beng­kakan soft tis­sue, tapi ga yakin juga potongan yang tajam itu frak­tur, makanya aku lebih suka seni anam­nesis yang indah), ter­akhir mung­kin masa intraluminal di bagian dis­tal kolon asen­den (tam­pak kron­tras ter­halangi per­jalanan­nya, namun ada yang ter­kesan seperti menyelusup di antara halangan yang lusen). Ga tahu bener atau salah, kayanya bener tapi ga yakin, parah bener, mung­kin besok rom­bongan lagi kalau mau ikut remediasi, ha ha…, kalau udah pusing begini dah jadinya. dan beberapa buku, tetap saja susah untuk meng­in­terp­retasikan hal ini. Aku ingat sem­boyan GUCAGIJI yang berkobar-kobar, “

Bagi yang mau memasuki radiologi, ada beberapa kon­sep awal yang harus dipahami, beberapa per­tanyaan men­dasar yang harus dijawab, walau tidak diujikan. Ber­ikut kuberikan bonus itu, diam­bil dari negeri antah ber­an­tah, jadi harus dicek dan cek ulang hingga puas. Mung­kin ini ber­asal dari bab-bab Health study club dari mereka yang telah men­dahului kami di sini.

Atas saran seorang rekan, saya memin­dahkan tulisan di bagian ini yang ber­isi tanya jawab meng­enai radiologi ke halaman ini, untuk lebih mudah dibaca ber­hubung juga dengan isu kom­patibilitas halaman weblog.

Kurasa ini yang bisa kusam­paikan, terima kasih untuk siapa pun leluhur kami di radiologi yang menyediakan tulisan ini, sung­guh sangat ber­man­faat.… Next stop… CSI alias depar­temen foren­sik, saat­nya mem­buka kasus-kasus kejahatan.… atau kecelakaan (ah…, ter­serah, pokok­nya belajar lagi)

Anda diizinkan untuk berbagi (menyalin, mendistribusikan, mengubah bentuk) & mengadaptasi artikel blog ini baik sebagian atau pun keseluruhannya di bawah penggunaan lisensi yang sama (CCA-NC-SA 3.0 Unported) kecuali dinyatakan sebaliknya atau berbeda oleh penulis. Anda diwajibkan menyertakan sumber asli pada salinan dan adaptasi yang Anda karyakan berupa pranala berikut:

Diambil dari: Radiology ~ Path of Burning Hell oleh Cahya.

4 Tanggapan

  • daniiswara.net menulis:
    via Unknown Unknown pada Unknown Unknown

    putu cahya,
    apa ngga lbh baik dibuatin ber­kas pdf atau odt(open document text)-nya aja..lisensi open/free, siapa aja bisa saling melengkapi..jd ngga mesti pan­jang lebar Smile

  • Haridivanandha menulis:
    via Unknown Unknown pada Unknown Unknown

    Saya sudah coba semen­tara memin­dahkan link-nya ke GoogleDocs, memang perlu klik satu kali sih untuk masuk, namun tadi saya cek sudah bisa.
    Terima kasih banyak atas saran­nya, dari dulu sebenar­nya mau nam­bah sis­tem “read more” di halaman blog ini, namun nam­pak­nya masih ada beberapa hal yang perlu diutak-atik, sehingga sam­pai saat ini, belum bisa diterapkan Smile
    Jadi belum bisa jadi “sim­ple and attractive” deh

  • ridhaniar menulis:
    via Unknown Unknown pada Unknown Unknown

    pake for­mat odt aja… eh sayang mikocok office 2007 ndak bisa baca„, padahal openoffice 3 dah bisa baca for­mat docx, pptx, xlsx halah semua pake x, mak­sud­nya apa ya.…

    pake pdf lebih frien­dly dan community

  • Haridivanandha menulis:
    via Unknown Unknown pada Unknown Unknown

    Weleh-weleh, itu kusimpan di google docs juga meng­gunakan for­mat .odt kok…, jadi com­munity frien­dly juga, kalau por­table data for­mat, entar, tem­pat lain saja, atau kamu yang buat ya…

Kirimkan sebuah Tanggapan

Surat elektronik anda tidak akan pernah dibagikan. Unsur yang wajib diisi ditandai *