Pil Pahit Di Sudut Jalanan

Beberapa waktu yang lalu, salah seorang kolega-ku menulis dalam status jejaring sosial facebook, bahwa dia merasa sangat iba melihat para gepeng di per­em­patan jalan yang sering ia lalui, apalagi para anak-anak, dan ibu-ibu yang meng­gen­dong bayi atau balitanya. Peman­dangan seperti itu sung­guh menyayat hati.

Ber­pakaian lusuh, dengan wajah yang kumuh. Tangan yang menengadah ke atas guna meminta-minta. Bayi-bayi dalam gen­dongan yang ter­lelap seakan telah ter­biasa dengan panas­nya sengat matahari siang, atau aroma asap serta kebisingan ken­daraan di per­em­patan jalan besar. Bayi-bayi yangbegitu tidak ber­daya tanpa setitik pun kekhawatiran, jus­tru sebalik­nya menim­bulkan kekhawatiran bagi yang menyak­sikan peman­dangan itu. Atau peman­dangan para lan­sia yang begitu kurus seakan kematian bisa saja segera tiba pada mereka, namun wajah­nya mereka menun­jukkan eksp­resi yang ber­agam, beberapa tam­pak pas­rah, beberapa masih dengan sedikit sinar peng­harapan, tam­pak sesekali sem­burat senyum di wajah tua yang penuh kerut itu ketika menerima uluran recah dari mereka yang peduli. Peman­dangan ini selalu begitu menyakitkan, namun entah meng­apa lama kelamaan seakan-akan semua itu men­jadi sesuatu yang sam­bil lalu dan kewajaran bagi kita semua.

Aku tak per­nah tahu berapa yang mampu mereka dapatkan dalam seharinya, cukup­kah itu bagi sesuap nasi seba­gaimana yang selalu mereka gunakan seba­gai alasan peminta-pinta. Namun beberapa hal lain jus­tru hadir seba­gai sebuah per­tim­bangan bagi kita semua.

Aku tidak yakin, namun dapat meng­ingat beberapa hal yang kusak­sikan dalam sebuah acara televisi beberapa tahun yang lalu. Seorang peminta-pinta (gepeng) bisa jadi men­dapatkan uang senilai puluhan hingga ratusan ribu rupiah per harinya, beberapa di antara mereka telah men­jadikan­nya seba­gai profesi, mereka yang mengenal tem­pat yang strategis dan cara yang jitu bisa mem­peroleh peng­hasilan lebih banyak dari gepeng lain­nya. Adakah gepeng men­jadi sebuah profesi bagi mereka? Jika iya, tidak heran bahwa walau ber­ulang kali dipulangkan ke kam­pung halaman oleh pihak ber­wajib melalui pener­tiban sosial, gepeng yang sama ber­ulang kali datang ke tem­pat yang sama. Ini jus­tru semakin menyedihkan bagi kita semua.

Hal kedua yang men­jadi per­tim­bangan adalah beberapa di antara para gepeng jus­tru merupakan sum­ber daya poten­sial dalam dunia kerja. Aku tidak ingin mem­bahas apakah cukup atau tidak­nya lapang­nya kerja di negeri ini, namun marilah kita menengok ke dalam keseharian mereka. Beberapa di antaranya cukup muda dan cukup kuat untuk bekerja, bahkan tam­pak jauh lebih sehat daripada diriku sen­diri. Salah seorang sahabat dekatku, dan beberapa yang lain tidak per­nah ber­sedia meng­ulurkan receh bagi gepeng seperti ini, mereka lebih bepedulian pada lan­sia yang tam­pak­nya sudah tidak dapat bekerja untuk menyam­bung hidup kecuali dari ban­tuan orang lain. Dan sebagian dari gepeng-gepeng yang “poten­sial” ini pas­tilah sudah meng­etahui ten­tang yayasan-yasanan dan panti sosial baik milik pemerin­tah atau pun swasta yang ber­sedia menam­pung dan melatih mereka untuk sebuah keteram­pilan, sedemikian hingga mereka dapat diterima di dunia kerja. Meng­apa aku sam­paikan mereka pasti tahu, karena seharus­nya setiap pen­jaringan sosial yang dilakukan oleh pihak ber­wajib, pas­tilah selalu men­dapatkan pengarahan ten­tang hal ini. Dan mereka seper­tinya lebih ter­tarik kem­bali men­jadi gepeng setelah pengarahan itu daripada men­coba melatih diri. Apakah kita tengah mem­buang receh kita sia-sia bagi mereka yang malas?

Hal ketiga adalah, walau tak dapat kupas­tikan namun kita tak per­nah tahu ke mana uang-uang itu meng­alir. Apakah mereka sung­guh meng­gunakan­nya untuk sesuap nasi? Jangan heran aku ber­tanya seperti ini, bukan ber­arti aku meragukan ketidak­mam­puan dan ketidak­berdayaan mereka seba­gai suatu kepal­suan. Apakah Anda per­nah melihat gepeng di per­em­patan jalan meminum minuman kaleng dari merk ter­kenal, atau anak-anak yang men­cicipi esk­rim ber­kelas? Yang bahkan sedikit dari makanan enak itu kita sen­diri akan per­tim­bangkan untuk mem­beli saat keadaan nor­mal, apalagi saat kon­disi kesusahan. Kita tak per­nah tahu, apakah orang-orang tua yang kita serahkan receh atau si anak-anak bisa meng­gunakan sesuai yang kita ber­ikan. Belum lagi ditam­bah isu mafia yang ber­gerak di balik para gepeng ini.

Aku masih ter­ingat saat gempa di Yogyakarta beberapa tahun yang lalu, bumi Ban­tul porak poranda. Banyak warga yang tidak memiliki apa-apa lagi, baik harta maupun per­sedian pangan mereka. Melihat situasi yang darurat ini, maka banyak elemen masyarakat dan pemerin­tah ber­gerak bersama-sama guna mem­berikan ban­tuan. Aku sem­pat men­dengar dari para warga sekitar dan para ang­gota NGO yang saat itu aku turut serta di dalam­nya. Beberapa saat setalah gempa, banyak truk ber­muatan orang-orang ber­penam­pilan seperti masyarakat di sana diturunkan di ber­ba­gai titik. Mereka-lah yang kemudian “menyamar” men­jadi masyarakat sekitar dan men­cegat bantuan-bantuan kemanusian bagi masyarakat yang sebenar­nya memer­lukan. Mung­kin hal ini dapat ber­lang­sung mulus karena pada kon­disi gen­ting seperti itu, koordinasi antara tiap elemen yang mem­beri ban­tuan tidak ber­jalan baik sepenuh­nya. Nah, siapakah yang ber­sedia meng­erahkan truk, dan dari mana semua orang yang menyamar ini? Ah…, mung­kin itu benar-mungkin itu tidak. Namun bagi kitalah untuk mempertimbangkannya.

Ada cerita lain lagi yang merupakan pengalaman pribadiku. Saat itu aku sedang par­kir di depan sebuah swalayan kecil guna mem­beli per­leng­kapan sehari-hari, hari itu masih pagi dan swalayan itu tam­pak­nya baru saja buka. Setelah selesai ber­belanja, aku keluar dan menemukan seorang tukar par­kir yang sudah ber­diri di sam­ping sepeda motorku, walau itu bukan tukang par­kir yang biasa ada di sana. Aku pun menyerahkan lem­bar uang seribu padanya, namun aku sangat kaget, bukan­nya mem­bantu meng­eluarkan sepeda motor dia malah nyelonong pergi begitu saya. Dan di sana aku tahu, dia bukanlah tukang pakir di situ. Beberapa saat kemudian aku melihat­nya kem­bali saat di jalan aku ber­ken­dara, seorang bapak separuh baya ber­leng­gang san­tai dengan meng­hisap sebatang rokok ber­fil­ter sem­bari acuh saat aku meman­dang ke arah­nya. Aku merasakan kon­disi masyarakat yang begitu memperihatinkan.

Keem­pat guna men­jadi per­tim­bangan adalah, adakah kita mem­bantu menyelesaikan meng­atasi masalah mereka ataukah jus­tru menam­bah­nya? Jika kita meng­elurkan receh bagi mereka, mereka akan ter­bantu – untuk semen­tara waktu, namun bagaimana selan­jut­nya? Mereka akan selalu seperti itu, mung­kin mereka tak akan memikirkan bagaimana mereka dapat meng­hidupi dirinya, namun bagaimana cara untuk men­dapatkan beberapa receh lagi esok hari. Karena ini seakan-akan men­jadi peker­jaan mereka, men­jadi jalan hidup bagi mereka. Jika mereka sudah mampu untuk hidup dari apa yang mereka lakukan sekarang, meng­apa mereka perlu men­cari kerja lagi, mung­kin demikianlah pan­dangan mereka. Celakanya, ini seperti penyakit menular, seperti stasiun televisi yang berlomba-lomba mem­buat tayangan sejenis yang sedang naik daun. Makin banyak orang yang ikut men­jadi gepeng, dan anak-anak yang lahir dan/atau tum­buh di ling­kungan para gepeng seba­gai gepeng juga, mereka akan ikut seperti itu di kemudian hari dan demikianlah mata ran­tai ini terus ber­lan­jut. Sehingga dapat kusam­paikan bahwa kita ketika meng­ulurkan receh pada mereka, kita telah turut ber­peran men­jadikan hidup mereka seperti itu.

Apa yang dapat kita lakukan?

Kita mung­kin tidak tega untuk tidak meng­ulurkan mereka ketika kita ber­hadapan sen­diri dengan situasi ter­sebut. Ketika kita melihat ketidak­berdayaan itu di hadapan ketika di luar fakta apakah kon­disi itu adalah keadaan yang sesung­guh­nya ataukah rekayasa. Hati kita bisa jadi luluh, apalagi dengan adanya per­tim­bangan norma agama dan kemanusiaan untuk selalu mem­bantu mereka yang tidak mampu dan kesusahan. Tidak mem­berikan sesuatu yang mereka sam­paikan dengan bahasa mereka bahwa mereka amat memer­lukan sesuatu itu, tentu akan mem­berikan rasa yang sangat tidak enak bagi kita.

Namun, aku tidak melihat jalan lain untuk memutus ran­tai dari penyakit yang menular ini kecuali memotong sum­ber yang meng­hidupinya, yaitu uluran tangan para pem­beri receh di jalanan, yang adalah kita sen­diri. Kita harus ber­sedia untuk ber­henti mem­berikan receh jika menyadari bahwa itu akan tidak akan mem­per­baiki keadaan mereka dan jus­tru menam­bah buruk situasi dalam tatanan sosial kita.

Kita harus rela menelan pil pahit dari per­asaan tidak meng­enakan dengan tidak mem­bantu para gepeng, dengan tidak menyerahkan receh atau uang pada mereka yang meng­ulurkan tangan. Dan per­cayalah, jika Anda sungguh-sungguh meng­erti hal ini, pil ini akan selalu ter­asa pahit setiap kali kita menelan­nya, tidak akan ber­ubah men­jadi ham­bar atau manis, karena kita ber­bagi rasa yang sama pada setiap masyarakat pada setiap manusia. Kita harus ber­sedia menelan pil pahit ini guna menyem­buhkan masyarakat.

Namun bagaimana bila kita tidak sang­gup. Nah…, kita semua adalah orang-orang yang belajar men­jadi dewasa. Ketidak­sang­gupan tidak meng­akhiri segalanya. Namun menyadari kon­sekuensi bahwa dengan mem­berikan receh pada gepeng itu tidak menyelesaikan masalah, maka kita juga turut ber­tang­gung jawab atas ketidak­berdayaan mereka. Dan jika kita belajar men­jadi dewasa, maka tang­gung jawab itu akan ada pada kita semua.

Jika kita memang hen­dak mem­bantu mereka. Seba­gaimana juga dian­jurkan oleh lembaga-lembaga inter­nasio­nal, nasio­nal mapun lokal. Sum­bangkan receh kita melalui yayasan, panti dan lem­baga sosial yang resmi yang ber­peran dalam menam­pung para gepeng dan mem­berikan mereka bekal keteram­pilan guna memasuki dunia kerja.

Jika Anda ber­pan­dangan sama dengan saya, sebar­kanlah pesan ini pada dunia. Negeri ini telah 64 tahun merdeka, namun kita pun harus tetap mem­bantu mem­per­baiki beberapa sisinya, dan ini adalah peran kita semua.

Anda diizinkan untuk berbagi (menyalin, mendistribusikan, mengubah bentuk) & mengadaptasi artikel blog ini baik sebagian atau pun keseluruhannya di bawah penggunaan lisensi yang sama (CCA-NC-SA 3.0 Unported) kecuali dinyatakan sebaliknya atau berbeda oleh penulis. Anda diwajibkan menyertakan sumber asli pada salinan dan adaptasi yang Anda karyakan berupa pranala berikut:

Diambil dari: Pil Pahit Di Sudut Jalanan oleh Cahya.

Tidak Ada Tanggapan

Kirimkan sebuah Tanggapan

Surat elektronik anda tidak akan pernah dibagikan. Unsur yang wajib diisi ditandai *