Kita di negara yang kaya akan hasil bumi bernutrisi tinggi serta berada di zamrud khatulistiwa mungkin tidak akan khawatir kekurangan vitamin D, sebagaimana saudara-saudara yang hidup di negeri bermusim empat dan tempat-tempat yang amat jarang tersentuh matahari. Karena selain nutrisi yang baik, sinar matahari yang berkecukupan (sinar ultraviolet B / UV B) sangat penting bagi pembentukan vitamin D dalam tubuh manusia.

Vitamin D menjadi sangat penting (esensial) bagi perkembangan tulang agar optimal, menjaga kesehatan tulang dan fungsi neuromuskular (persarafan otot). Baiknya juga, vitamin D memainkan peranan penting dalam menjaga tubuh dari penyakit pembuluh darah dan jantung (cardiovascular diseases), depresi dan kanker kolon.

Lalu apa sih vitamin D itu? Menurut wikipedia, definisi vitamin D bisa dinyatakan sebagai berikut:

Vitamin D is a group of fat-soluble prohormones, the two major forms of which are vitamin D2 (or ergocalciferol) and vitamin D3 (or cholecalciferol).[1] Vitamin D obtained from sun exposure, food, and supplements, is biologically inert and must undergo two hydroxylation reactions to be activated in the body. Calcitriol (1,25-Dihydroxycholecalciferol) is the active form of vitamin D found in the body. The term vitamin D also refers to these metabolites and other analogues of these substances.

Kekurangan vitamin D pada masyarakat tertentu dapat mengakibatkan munculnya penyakit rickets secara epidemis, semisal yang ditemukan pada anak-anak di Pennsylvania pada abad ke-19 di kota-kota industri saat itu. Kelemahan otot-otot proksimal; nyeri otot;

Diagnosis kekurangan (defisiensi) vitamin D sering kali terlewatkan dan kondisi ini tidak mendapat perawatan karena tanda dan gejala berkembang dengan amat sangat lambat dan tidak spesifik. Hal ini bisa meliputi nyeri punggung bawah (low back pain) yang simetris pada wanita; sensasi sakit berdenyut pada tulang di punggung bawah, area pelvis, atau ekstremitas bawah, atau ketika tulang sternum atau tibia ditekan. Kekurangan vitamin D juga dapat dicurigai pada pasien dengan peningkatan risiko terjatuh (pasien mudah terjatuh), atau kemampuan fisik yang terganggu.

Faktor risiko kekurangan vitamin D ditemui pada mereka yang berusia di atas 65 tahun, ibu yang memberikan ASI eksklusif pada anaknya tanpa mengonsumsi suplemen vitamin D; kulit gelap; kekurangan paparan sinar matahari, gaya hidup sedentari (kurang bergerak dan olah raga); obesitas yang didefinisikan sebagai indeks massa tubuh (BMI) lebih besar dari 30kg/mk. Serta, penggunaan antikonvulsan (obat anti kejang), glukokortikoids, atau obat-obatan lain yang mempengaruhi metabolisme vitamin D bisa memberikan dampak defisiensi.

Diagnosis kecurigaan defisiensi vitamin D dikonfirmasi kadar 25-hidroksivitamin D kurang dari 20 ng/mL (50 nmol/L). Sedangkan untuk kategori ketidakcukupan (insufisiensi) vitamin D didefinisikan sebagai kadar serum 25-hidroksivitamin D antara 20 – 30 ng/mL (50 – 75 nmol/L).

Rekomendasi Suplementasi

Akademi Pediatri Amerika (AAP) merekomendasikan untuk infan dan anak-anak setidaknya mendapatkan asupan vitamin D 400 IU per harinya baik dari diet (makanan) atau pun suplemen guna mencegah kekurangan vitamin D.

Suplementasi sejumlah 400 IU per hari direkomendasikan untuk semua infan yang menyusu  hingga setidaknya mereka mampu mencerna formula atau susu yang diperkaya vitamin D sekurang-kurangnya 1 L per hari, dan bagi semua infan yang tidak menyusu namun mengonsumsi formula atau susu yang diperkaya vitamin D kurang dari 1 L per harinya.

Serta, suplementasi sebesar 400 IU per hari direkomendasi untuk semua anak-anak dan dewasa yang tidak terpapar cahaya matahari secara teratur setiap harinya, yang tidak mengonsumsi susu diperkaya vitamin D setidaknya 1 L per harinya, atau yang tidak mengonsumsi multivitamin yang mengandung vitamin D setidaknya 400 IU.

Penelitian-penelitian menduga bahwa suplementasi vitamin D setidaknya 700 IU – 800 IU per harinya bisa menurunkan risiko mudah terjatuh dan patah tulang (fraktur). Kontraindikasi suplementasi vitamin D adalah penderita tuberkulosis (TB) atau penyakit granulomatusa lainnya, penyakit tulang metastasis, sarkoidosis, atau sindrom Williams.

Ketika defisiensi atau insufisiensi vitamin D ditemukan, tujuan pengobatan/terapi adalah adalah guna menormalkan kadar vitamin D untuk memperbaiki gejala, mengurangi risiko fraktur, terjatuh, dan gangguan kesehatan lainnya. Vitamin D2 (ergocalciferol) per oral sejumalh 50.000 IU per minggu selama 8 minggu dapat efektif sebagai terapi pada pasien dengan kekurangan vitamin D.

Kadar serum 25-hidroksivitamin D sebaiknya diperiksa setelah 8 minggu terapi ini berjalan, jika nilainya tidak mencapai atau melebihi ambang batas minimal, maka terapi 8 minggu ergocalciferol gelombang kedua diberikan.

Menurut ahli:

“The optimal time for rechecking the serum levels after repletion has not been clearly defined, but the goal is to achieve a minimum level of 30 ng per mL,” the review authors write. “If the serum 25-hydroxyvitamin D levels still have not risen, the most likely cause is nonadherence to therapy or malabsorption. If malabsorption is suspected, consultation with a gastroenterologist should be considered.”

Ketika kadar normal vitamin D tercapai, untuk mempertahankannya disarankan vitamin D3 (cholecalciferol) secara teratur, 800 – 1000 IU per hari baik bersumber dari asupan sehari-hari maupun suplementasi.

Oleh karena vitamin D larut dalam lemak dan dapat disimpan di dalam lemak, terdapat peringatan akan keracunan yang diakibatkan oleh terlalu banyak (berlebihan) dalam mengonsumsi suplementasi. Tanda dan gejala keracunan vitamin D antara lain, sakit kepala, lidah mengecap rasa seperti rasa logam, kasinosis pada ginjal atau pembuluh darah, pankreatitis, mual dan/atau muntah.

Berikut rekomendasi klinis berdasarkan tingkat bukti medis:

  • In older adults, vitamin D supplementation of 700 to 800 IU per day is associated with a lower risk for falls (level of evidence, B).
  • In older adults, vitamin D supplementation of 700 to 800 IU per day is associated with a lower risk for fractures (level of evidence, A).
  • To prevent vitamin D deficiency, infants and children with inadequate sun exposure should have vitamin D intake of 400 IU/day (level of evidence, C).
  • To prevent vitamin D deficiency, adults with inadequate sun exposure should have vitamin D intake of 400 to 600 IU per day (level of evidence, C).
  • Adults with vitamin D deficiency, except for those with malabsorption syndromes, should receive maintenance dosages of 800 to 1000 IU of vitamin D per day (level of evidence, C).

Disadur dari Medscape

Digiprove sealCopyright secured by Digiprove © 2010 Cahya Legawa