Apa itu penyalahgunaan narkotika?

Salah satu tujuan seseorang pergi ke dokter adalah guna menyembuhkan atau menghilangkan rasa nyeri/sakit. Ada sejumlah macam obat-obatan yang dapat mengurangi rasa sakit.

Opioid – juga disebut opiat atau narkotik – adalah penghilang rasa sakit yang terbuat dari opium, yang dihasilkan tanaman Papaver. Morfin dan kodein adalah dua produk alami opium. Modifikasi sintetis atau imitasi morfin menghasilkan opioid jenis lain:

  • Heroin
  • Dilaudid (hidromorfin)
  • Percocet, Percodan, OxyCodin (oxycodone)
  • Vicodin, Lorcet, Lortan (hydrocodone)
  • Demerol (pethidine)
  • Methadone
  • Duragesik (fentanyl)

Ketika seseorang menggunakan narkotika hanya untuk mengontrol rasa sakit, mereka tidak memiliki kecenderungan ketagihan terhadap obat. Namun, opioid bisa sangat intolsikasi ketika disuntikkan atau diminum dalam dosis tinggi. Opioid juga merupakan pelega/penghilang kecemasan yang sangat kuat. Untuk alasan-alasan ini, penyalahgunaan narkotika menjadi salah satu bentuk penyalahgunaan obat yang paling umum.

Terminologi seperti penyalahgunaan opioid, penyalahgunaan obat, kecanduan obat (dalam hal ini di Indonesia kata ‘obat’ seringkali diungkapkan dengan kata ‘obat terlarang’) sering kali digunakan saling bergantian untuk maksud yang sama. Namun para ahli memberikan definisi sebagai berikut:

  • Penyalahgunaan obat, termasuk penyalahgunaan opioid, adalah penggunaan suatu obat secara bebas di luar peresepan oleh seorang dokter. Dalam kasus opiat, tujuannya secara umum adalah untuk meninggikan atau untuk mengurangi kecemasan.
  • Ketergantungan muncul ketika tubuh membentuk toleransi terhadap obat, artinya dosis yang lebih besar dibutuhkan untuk efek yang sama. Sebagai tambahannya, menghentikan obat akan menimbulkan gejala-gejala penarikan obat (drug withdrawal symptoms).
  • Kecanduan obat terjadi ketika orang memiliki ketergantungan terhadap obat, namun juga menunjukkan efek-efek psikologis. Ini termasuk tingkah laku yang kompulsif (ada dorongan rasa keharusan) untuk mendapatkan obat, sangat menginginkan obat; dan tetap selanjutnya melakukan apapun meski memiliki konsekuensi negatif, seperti tersangkut masalah hukum atau kehilangan pekerjaan.

Gejala-Gejala Penyalahgunaan Narkotika

Tanda dan gejala penyalahgunaan opioid termasuk:

  • analgesia (tidak merasakan sakit)
  • sedasi
  • euforia (merasa selalu hebat)
  • depresi pernapasan (napas dangkal atau lambat)
  • pupil mengecil
  • mual, muntah
  • kulit gatal-gatal atau memerah
  • konstipasi
  • bicara sembarangan/meracau
  • kebingungan atau kemampuan penilaian yang buruk

Gejala Penarikan Obat Opioid

Jika seseorang menggunakan opioid untuk jangka waktu yang panjang, mereka membentuk ketergantungan dan toleransi secara fisik. Biasanya, si penyalah guna opioid kemudian akan menggunakan lebih banyak obat, untuk merasa lebih baik (jika istilah para pengguna yang sering kita dengar adalah ‘agar bisa fly’). Jika seseorang berhenti menggunakan opioid setelah mereka menjadi tergantung secara fisik, maka mereka akan mengalami gejala-gejala penarikan obat. Untuk opiodi antara lain:

  • Kecemasan
  • Sensitif
  • Amat menginginkan obat
  • Peningkatan laju pernapasan (napas cepat)
  • Suka menguap/menganga
  • Pilek
  • Menghasilkan ludah berlebihan
  • Hidung terasa tersumbat
  • Nyeri pada otot-otot tubuh
  • Muntah
  • Kram perut
  • Diare
  • Berkeringat
  • Kebingungan
  • Pupil yang membesar
  • Tremor
  • Kehilangan nafsu makan

Gejala penarikan obat opioid tidaklah berbahaya secara medis. Namun itu semua bisa membuat penderitanya begitu sengsara dan sulit melawannya, sehingga memberikan alasan untuk melanjutkan penyalahgunaan obat. Secara umum, bagaimana parahnya gejala-gejalan penarikan obat, dan berapa lama gejala itu menetap, bergantung pada berapa lama orang itu telah menyalahgunakan obat dan seberapa banyak yang telah mereka gunakan.

Obat-obatan seperti halnya methadone atau Suboxone dapat digunakan untuk mencegah timbulnya gejala-gejala penarikan setelah seseorang berhenti menggunakan, sebuah proses yang disebut detoksifikasi (dektoks). Setelah penarikan lengkap, seseorang tidak lagi secara fisik tergantung akan obat. Namun secara psikologis ketergantungan dapat berkelanjutan. Kebanyakan orang dengan kecanduan obat acap kambuh lagi kecanduannya dikarenakan respons terhadap stres atau pemicu kuat lainnya.

Ketergantungan vs Kecanduan

Mengendalikan nyeri adalah tujuan ketika opioid digunakan dalam kedokteran. Pasien-pasien atau profesional pelayanan kesehatan selayaknya tidak membiarkan ketakutan akan kecanduan menghalangi mereka dalam menggunakan obat opioid untuk penghilang rasa nyeri yang efektif. Mengetahui perbedaan antara ketergantungan dan kecanduan merupakan hal yang penting.

  • Orang-orang yang mengonsumsi opioid untuk menghilangkan rasa nyeri dalam jangka waktu tertentu bisa jadi memerlukan dosis yang lebih tinggi guna meredakan rasa sakitnya. Mereka bisa membentuk toleransi terhadap obat dan mengalami gejala penarikan obat jika obat-obatan secara mendadak dihentikan. Mereka menjadi tergantung pada obat secara fisik.
  • Kecanduan terjadi ketika penyalahgunaan narkotika menjadi kompulsif dan destruktif terhadap diri seseorang, khususnya ketika seorang pengguna memerlukan obat untuk alasan-alasan lain di luar menghilangkan rasa nyeri.
  • Guna mencegah gejala penarikan obat pada orang-orang yang secara fisik tergantung pada suatu opioid untuk menghilangkan rasa nyeri, dosisnya bisa diturunkan secara bertahap dalam beberapa minggu. Orang-orang yang berhenti dari/menyapih opioid dan bebas dari rasa sakit biasanya tidak mengonsumsi obat lagi atau menjadi penyalah guna narkotika. Opioid yang digunakan dalam jangka pendek untuk kepentingan medis biasanya jarang memerlukan penyapihan. Pada kasus-kasus itu, menghentikan pengobatan dalam jangka pendek biasanya tidak menimbulkan gejala penarikan.

Penyalahgunaan Obat Lainnya

Sebenarnya, kebanyakan obat yang secara tidak resmi dirujuk sebagai narkotika sesungguhnya bukan. Namun, dua kelompok memiliki beberapa efek mirip opioid, ketika disalahgunakan:

  • Benzodiazepine, termasuk Valium, Ativan, dan Xanax. Penyalahgunaan Benzodiazepine menghasilkan rasa tenang dan sedasi (mengantuk), namun toleransi bisa muncul dan berkembang dengan cepat. Penarikan bisa memunculkan kejang, tidak seperti penarikan opioid.
  • Barbiturat, termasuk Secanol, Amytal, Nembutal, dan Luminal. Barbiturat juga menimbulkan rasa tenang dan sedasi. Penarikan setelah penyalahgunaan barbiturat sama seperti benzodiazepine, berbahaya secara medis.

Secara umum, benzodiazepine dan barbiturat memiliki efek penghilang nyeri yang lebih rendah dibandingkan opioid. Ketiga golongan obat ini memiliki sifat sedasi dan menghilangkan cemas.

Adapatasi dari: Addicted to Painkillers?