Mathru Bhakti Di Hadapan Iswara Bhakti

Dalam tradisi kuno Hindu, seorang ibu men­dapatkan tem­pat yang ter­puji di dalam hati setiap manusia. Wanita men­jadi pen­jaga keluarga yang utama. Wanita – jika aku tidak salah meng­utip – ber­asal dari kata Sans­kerta: Vanin yang ber­arti “kasih”, sedangkan seorang istri – kem­bali jika aku tidak salah meng­utip – ber­asal dari kata Stri, yang ber­arti “ia yang penuh kasih”. Dalam tradisi kuno Hindu juga, Tuhan dipuja dalam ben­tuk premas­warupa – Ia yang merupakan per­wujudan kasih – sedemikian hingga setiap ben­tuk kasih adalah hal yang paling utama. Sehingga dalam tradisi kuno Hindu, sebenar­nya tidak begitu pen­ting orang mengenal Tuhan, toh tidak setiap orang bisa sekena hati ber­temu Tuhan setiap hari. Namun jika ada kasih sayang, itu lah yang cukup untuk hidup di atas bumi ini.

Perintah-Ku yang per­tama dan ter­utama: “Hor­matilah orang tuamu, ter­utama ibumu.”

Suatu ketika, ada sebuah daerah yang diserang amukan badai yang amat dahsyat, sehingga rumah-rumah pen­dudukan­nya rata dengan tanah. Mereka yang selamat banyak yang tidak memiliki apa-apa untuk dimakan apalagi dijadikan tem­pat bernaung.

Di antara orang-orang malang itu, ada seorang ibu ber­sama dua putranya. Yang lebih sulung adalah seorang anak yang bijak. Ia memiliki rasa tang­gung jawab atas keselamatan dan pemeliharaan keluar­ganya, karena ia begitu men­cin­tai ibunya yang selalu mem­berikan­nya restu dan kasih sayang.

Mereka ber­usaha men­cari makan dengan meminta-minta di daerah yang ter­timpa kelaparan ter­sebut. Namun beberapa lama kemudian, si ibu men­jadi begitu lemah dan tidak sang­gup melang­kah lagi. Sehingga anak yang sulung memutuskan untuk melan­jutkan meminta-minta, ia tidak bisa melihat ibunya ter­lalu lelah, karena kesehatan ibunya akan memburuk.

Anak sulung ini meng­itari daerah yang luas guna meng­um­pulkan makanan untuk keluar­ganya. Namun karena sulit­nya kon­disi, ia pun men­jadi lemah dalam waktu yang cepat. Dengan lang­kah ter­seok, ia menuju rumah seorang tuan tanah, ber­seru dengan suaranya yang mulai hilang guna meminta sesuap nasi. Nyonya rumah yang ramah memin­tanya masuk ke dalam rumah dan menyediakan makanan yang ber­kecupan di atas sebuah piring.

Anak malang ini sudah ter­lalu lemah, ia ter­huyung dan jatuh. Tuan tanah ber­lari meng­ham­piri tamunya dan melihat ia hen­dak meng­ucapkan sesuatu. Segera pemilik rumah ini menem­pelkan telinganya ke dekat mulut anak yang sekarat itu, serta menang­kap kata-kata ter­akhir yang keluar dari mulut­nya. Ia ber­kata, “Jangan…, jangan…! Per­tama ibu lah yang harus men­dapatkan makan. Aku bisa men­dapat giliran setelah­nya.”

Mereka yang konon men­cin­tai Tuhan, selayak­nya juga memiliki sifat ini.

Adap­tasi dari: Chinna Katha I.14

Anda diizinkan untuk berbagi (menyalin, mendistribusikan, mengubah bentuk) & mengadaptasi artikel blog ini baik sebagian atau pun keseluruhannya di bawah penggunaan lisensi yang sama (CCA-NC-SA 3.0 Unported) kecuali dinyatakan sebaliknya atau berbeda oleh penulis. Anda diwajibkan menyertakan sumber asli pada salinan dan adaptasi yang Anda karyakan berupa pranala berikut:

Diambil dari: Mathru Bhakti Di Hadapan Iswara Bhakti oleh Cahya.

10 Tanggapan

  • via Firefox 3.5.5 Firefox 3.5.5 pada Windows Vista Windows Vista

    Bagaimana dengan seorang anak yang mem­bunuh ibunya karena ibunya men­derita sakit yang ndak bisa disem­buhkan dan cuma mem­buat sang ibu men­derita?
    .-= pushandaka´s last blog ..Ang­kat Telpon! =-.

  • via Firefox 3.5.5 Firefox 3.5.5 pada Windows Vista Windows Vista

    @ Pushan­daka

    Saya rasa tidak ada sesuatu yang kon­teks­tual tepat untuk setiap keadaan.

    Jika selama ini saya di bidang medis — dan mung­kin juga umum mengenal — ada istilah euthanasia, yang secara kon­teks­tual ber­makna: a deliberate interven­tion under­taken with the exp­ress inten­tion of ending a life, to relieve intractable suffering. Dan dari apa yang saya lihat, orang lebih memilih suatu ter­api paliatif (meng­urangi pen­deritaan), diban­dingkan dengan euthanasia (peng­hilangan nyawa), seba­gaimana pun sulit­nya ter­api itu.

    Kalau di Hindu sen­diri mung­kin ada banyak pan­dangan, seba­gaimana yang diung­kapkan di Euthanasia and Hin­dhuism.

  • via Firefox 3.5.5 Firefox 3.5.5 pada Windows Vista Windows Vista

    Oh, saya salah ngomong mas. Mak­sud saya ndak bisa disem­buhkan karena biayanya yang mahal, semen­tara si anak ndak mampu mem­biayai pengobatan ibunya.

    Memang, si anak bisa saja meng­emis seperti yang dilakukan si anak dalam cerita untuk meng­um­pulkan uang untuk pengobatan ibunya. Tapi andaikata dia memilih untuk mem­bunuh ibunya demi meng­hilangkan pen­deritaan ibunya, apakah itu ber­ten­tangan dengan sikap meng­hor­mati ibu?
    .-= pushandaka´s last blog ..Ang­kat Telpon! =-.

  • via Firefox 3.5.5 Firefox 3.5.5 pada Windows Vista Windows Vista

    pushan­daka :

    Oh, saya salah ngomong mas. Mak­sud saya ndak bisa disem­buhkan karena biayanya yang mahal, semen­tara si anak ndak mampu mem­biayai pengobatan ibunya.

    Memang, si anak bisa saja meng­emis seperti yang dilakukan si anak dalam cerita untuk meng­um­pulkan uang untuk pengobatan ibunya. Tapi andaikata dia memilih untuk mem­bunuh ibunya demi meng­hilangkan pen­deritaan ibunya, apakah itu ber­ten­tangan dengan sikap meng­hor­mati ibu?
    pushandaka´s last blog ..Ang­kat Telpon!

    Firefox 3.5.5 pada Win­dows Vista

    Sebenar­nya hal ter­sebut acap kita dengar walau dalam pola ter­balik, seperti ibu yang mem­bunuh anak­nya karena sakit dan tidak sang­gup mem­biayai, kemudian si Ibu bunuh diri.

    Rasa hor­mat ditun­jukkan dengan cara yang berbeda-beda, demikian juga rasa sayang yang melandasinya.

    Jika anak memilih mem­bunuh ibunya dalam cerita ini bagaimana? Bukan­kah dengan demikian pen­deritaan ibu bisa ber­akhir dengan cepat?

    Jika kita sungguh-sungguh sayang pada ibu (atau pun seseorang lain­nya), kita pasti akan men­dobrak pintu-pintu kehidupan lain­nya meski ter­tutup rapat. Karena entah meng­apa, jika diberikan posisi yang sama, pintu kematian bukanlah pilihan per­tama atau pun ada dalam daf­tar pilihan berikutnya.

    Saya rasa sebuah rasa hor­mat yang lahir dari rasa sayang adalah kekuatan yang meng­gerakkan orang untuk tetap mem­buka pintu kehidupan, betapa pun sulit­nya itu, karena rasa sayang dari orang tuanya sudah mem­berinya lebih dari sekadar kekuatan untuk tetap memilih kehidupan, meski kehidupan itu seperti neraka.

    Love always giving someone something we never know, but always never let us give up on life, no mat­ter what, no mat­ter how

  • via Nokia Series60 5.0 Nokia Series60 5.0 pada Nokia N97 Nokia N97

    Saya menulis komen­tar ini sebanyak 3x gara-gara recap­tcha sial! Hehe!

    Intinya saya setuju dengan point bahwa meng­hor­mati Ibu adalah salah satu wujud untuk memuja-Nya.

    Artikel bagus. Menam­bah wawasan saya ten­tang hindu. Saya yakin semua agama meng­ajarkan kebaikan yang sama.
    .-= pushandaka´s last blog ..Ang­kat Telpon! =-.

  • via Firefox 3.5.5 Firefox 3.5.5 pada Windows Vista Windows Vista

    pushan­daka :

    Saya menulis komen­tar ini sebanyak 3x gara-gara recap­tcha sial! Hehe!

    Intinya saya setuju dengan point bahwa meng­hor­mati Ibu adalah salah satu wujud untuk memuja-Nya.

    Artikel bagus. Menam­bah wawasan saya ten­tang hindu. Saya yakin semua agama meng­ajarkan kebaikan yang sama.
    pushandaka´s last blog ..Ang­kat Telpon!

    Mozilla Com­patible pada Sym­bianOS 9.4

    Seper­tinya reCAP­TCHA tidak begitu bagus untuk peramban mobile. Mohon maaf, tapi kalau tidak saya pasang, entah kenapa ada banyak spam yang masuk (lolos dari Askimet), mung­kin ngikut dari blog lama di blogspot.

    Terima kasih Mas, saya yakin juga semua agama meng­ajarkan kebaikan.

  • via Firefox 3.0.15 Firefox 3.0.15 pada Windows XP Windows XP

    d^_^b..terimakasih sudah meng­ingatkan untuk ber­syukur punya ibu yang baik, dan ber­semangat jadi ibu yang baik..
    .-= wigati´s last blog ..Maka Jadilah Solusi atau Katalis =-.

  • via Firefox 3.5.5 Firefox 3.5.5 pada Windows Vista Windows Vista

    @ Wigati

    Sama-sama, ter­kadang saya juga ter­ingat kem­bali. Jika mem­buat ibu sedih, hati ini juga sedih, namun saya sering kali tidak dapat ber­buat apa-apa…

  • via Internet Explorer 7.0 Internet Explorer 7.0 pada Windows XP Windows XP

    hahaha jadi inget jaman belajar s2 dulu
    ngam­bil mata kuliah per­em­puan dan agama.
    aku nulis argumen kalau sifat dominan yesus itu adalah feminin dan bukan mas­kulin. dan itu disebabkan pola pengasuhan maria (maaf kalau salah ya. tapi dalam kitab suci katolik kok peran yusuf sang ayah kurang menonjol).

    dan, dengan suk­ses makalah­nya dapat nilai 46 hahahahaa (alias D).
    *untung lulus*

  • via Firefox 3.5.5 Firefox 3.5.5 pada Windows Vista Windows Vista

    Because Christ always smiling, and smile closely related with beauty and peaceful which are iden­tical with feminism, makes someone mind and soul become soft and tender Smile

    I still con­fuse when reading Christ of Khas­miris years ago. But ever­ybodies have their own point of view.

Kirimkan sebuah Tanggapan

Surat elektronik anda tidak akan pernah dibagikan. Unsur yang wajib diisi ditandai *