Kasih sayang seorang ibulah yang mendorongnya meminta sang suami, Kuchela agar pergi menghadap Krishna agar anak-anaknya bisa mendapatkan makanan yang layak. Ia memiliki kepercayaan pada Krishna. Kuchela ragu-ragu dan menyanggah mungkin Krishna tidak akan mengenalnya lagi, tidak akan mengundangnya masuk atau tidak menerima penghormatannya. Sang istri mendesak suaminya agar tidak ragu-ragu dan berjalan terus, setidak-tidaknya hingga tepat di di hadapan gerbang istina Krishna. Ia yakin bahwa Krishna akan memanggil suaminya masuk, jika ia berusaha sedikit saja. Kuchela demikian gugupnya sehingga ia hanya bisa dibujuk hingga pergi ke depan pintu gerbang saja.
Setelah diputuskan bahwa Kuchela akan pergi, istrinya mengambil segenggam beras dari tempat beras cadangan yang biasanya digunakan untuk keperluan mendesa saja. Beras itu direbus, dijemur kemudian digoreng, lalu ditumbuk dengan alu guna menyiapkan “nasi tumbuk”, yang menurut Kuchela merupakan makanan kegemaran Krishna ketika masih bersekolah. Nasi itu dibungkus dalam ujung kain baju yang dikenakan Kuchela, dan ia pun berangkat.
Setiap satu langkah yang diambil Kuchela menuju gerbang istana Krishna, semakin bertambah pula rasa takutnya.
Namun setibanya di sana, Krishna justru menyambut Kuchela dengan gembira karena sahabat kecilnya di sekolah yang lama tidak ia jumpai. Krishna pun sangat senang dengan “nasi tumbuk” yang dibawakan oleh Kuchela.
Copyright secured by Digiprove © 2010 Cahya Legawa
Anda diizinkan untuk berbagi (menyalin, mendistribusikan, merubah bentuk) & mengadaptasi artikel blog ini baik sebagian atau pun keseluruhannya di bawah penggunaan lisensi yang sama (Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported; CCA-NC-SA 3.0 Unported) kecuali dinyatakan sebaliknya oleh penulis. Anda diwajibkan menyertakan pranala balik pada salinan dan adaptasi yang Anda buat: Diambil dari: Wanita Lebih Penuh Pengabdian Daripada Pria oleh Cahya.



by imadewira
11 Feb 2010 at 15:29
btw, kembali pake captcha nih? hehe
by Cahya
11 Feb 2010 at 19:14
Iya Bli, mengenang kembali masa lalu