Ada keramaian dan sedikit argumentasi yang agak panas di salah satu milis krama (bahasa lokal untuk istilah warga) Bali. Pasca menelusuri beberapa kiriman sebelumnya, ternyata salah satu pemicunya adalah tulisan salah satu narablog dalam negeri yang diangkat ke dalam milis – beberapa pihak mengatakan bahwa tulisan tersebut “dibuat seenaknya” sehingga tidak sesuai dengan realita, riwayat dan konsep yang sebenarnya dan terkesan ‘melempar’ citra buruk pada Hindu.

Sebenarnya – entah mengapa krama milis tersebut heboh – tulisan-tulisan seperti itu ada cukup banyak di Internet, kalau mereka mau menelusuri tentunya. Ada tulisan-tulisan yang memang menyinggung bagi – tidak hanya satu elemen tertentu, bahkan sindiran-sindiran terbuka pada pelbagai agama pun kerap muncul di Internet. Itu sering terjadi, dan biasanya akan menyulut debat yang berkepanjangan dan justru tidak sehat. Maka lenyap sudah etika berdialog di dunia maya.

Sebagaimana saya utarakan dalam tulisan-tulisan sebelumnya, saya bukanlah ahli agama, yang bisa memberikan pelbagai penjelasan secara akurat. Ini hanya tulisan pendek, dari sebagian kecil topik-topik yang sering diperdebatkan. Ya, saya sering kali menemukan perdebatan klasik tentang konsep ketuhanan dalam Hindu, namun tentu saja jika ingin diulas seluruhnya, seseorang harus membongkar seluruh Veda untuk itu.

Hindu, mungkin agak rumit dipahami dari kacamata agama-agama Abrahamik (konon demikian menyebutnya), mungkin karena dalam Hindu tidak ada istilah “a single God that commands”. Jadi mungkin tidak ada yang pernah mendengarkan istilah “menjalankan perintah-Nya” dalam budaya Hindu.

Lalu apa fungsi agama jika demikian? Kalau Tuhan tidak memberikan perintah, lalu bagaimana? Apa berarti kitab-kitabnya tidak disusun berdasarkan perintah Tuhan? Atau memang di Hindu tidak ada Tuhan, malah menyembah dewa-dewa, atau bahkan berhala?

Ini kemudian berkembang dalam wacana, apakah Hindu itu menganut paham monoteisme, politeisme, atau malah panteisme atau bahkan ateisme?

Secara singkat mungkin dapat dijawab, bahwa semuanya adalah benar. Jika memang ada sesuatu yang disebut Tuhan dalam Hindu, maka itu dikenal dengan istilah Brahman – alasan dari segenap keberadaan. Jadi ya, jika mesti memaksakan bertanya apa ada konsep monoteisme, ya dalam Hindu itu ada.

Lalu mengapa dalam Hindu ada banyak sekali dewa dan dewi, atau bahkan pelbagai aliran yang menyembah Tuhan yang berbeda? Jadi bukankah agama Hindu itu politeisme? Ini adalah pertanyaan klasik yang lainnya. Biasanya debat akan mulai panas jika ada yang bertahan bahwa Hindu adalah agama monoteisme, dan mengesampingkan fakta-fakta yang ada, yah…, perdebatan akan sangat panjang.

Pertama-tama, Hindu sendiri adalah nama yang diberikan oleh masyarakat dunia pada sebuah kultur religius yang begitu beragam namun harmonis. Menurut sejarah, karena pertama kali dikenal oleh dunia Barat sebagai bagian dari peradaban di lembah sungai Sindu di India. Dan tidak semua masyarakat dalam Hindu itu sendiri, menyebut dirinya sebagai Hindu. Umumnya ini terjadi pada perbedaan ‘sekolah’ atau ‘aliran’ filosofis dalam Hindu itu sendiri.

Ada pertanyaan sederhana yang sering muncul, “so how is God look like?” – Tuhan itu seperti apa? Hal yang paling sederhana untuk mendeskripsikannya dalam Hindu adalah satu kata, yaitu acintya atau atintya – yang bermakna tidak terpikirkan, atau tidak terjangkau oleh imajinasi. Jika di alam semesta ini ada sesuatu yang tak terbatas (infinite), maka itu adalah Brahman, dan jika ada sesuatu yang terbatas, maka itu adalah pikiran manusia. Pikiran manusia yang terbatas ini tidak akan mampu mencapai yang tak terbatas.

Namun manusia selalu diliputi rasa ingin tahu, bagaimanakah Tuhan itu, apa saja yang bisa saya lakukan untuk menuju pada-Nya, bagaimana Ia melihat saya? Karena kata acintya tidak akan memuaskan rasa ingin tahu manusia.

Untuk memandu ke dalam pertanyaan tak terjawab ini, pelbagai Guru menerapkan titik tolak filosofis yang berbeda-beda sesuai dengan kemampuan orang. Sehingga dalam Hindu, bisa ditemukan filsafat-filsafat lebih lanjut yang menjelaskan sifat Brahman. Beberapa menyampaikan bahwa Tuhan itu adalah persona, beberapa transeden, dan lain sebagainya. Beberapa sudut pandang filosofis yang banyak digunakan dalam Hindu untuk menjelaskan hal ini adalah dari Advaita Vedanta, Visishtadvaita, dan Dvaita Vedanta. Pengertian istilah-istilah ini dapat ditelusuri lebih lanjut di pelbagai kepustakaan jika berminat, namun saya rasa tidak perlu menuliskannya di sini.

Ini adalah konsep-konsep tentang bagaimana pelbagai filsafat memandang Tuhan. Indera manusia tidak bisa ‘menangkap’ Tuhan, namun keinginan untuk memahami Tuhan selalu ada. Jika kemudian dilihat ada banyak penjelasan tentang Brahman yang saling bertentangan bagi banyak logika secara umumnya – ya itulah acintya dalam makna sesungguhnya, jika ini terlihat bagi logika sebagai politeisme karena ada banyak wujud Tuhan yang berbeda-beda, ya jangan paksakan itu sebagai monoteisme. Yang membuat kebenaran berbeda, hanyalah sudut pandang manusia.

Ada juga alasan lain mengapa Hindu disebut sebagai agama yang menganut paham politeisme. Karena orang bisa menemukan di Bali – misalnya – tempat-tempat untuk memuja dewa, atau roh leluhur yang didewakan. Tidakkah seharusnya orang Hindu memuja Tuhan yang tunggal, dan bukannya malah memuja dewa dan roh leluhur?

Mungkin akan terdengar aneh dalam pandangan pandangan agama lain, karena sepanjang pengetahuan saya, dalam Hindu tidak ada kewajiban menyembah atau memuja Tuhan, dan tidak ada larangan memuja sesuatu yang lain selain Tuhan. Tentu saja dalam pelbagai filsafat terdapat tata cara pemujaan terhadap berbagai aspek Brahman, tapi tidak pernah ditekankan sebagai kewajiban. Lebih pada pengetahuan, ajakan atau anjuran.

Dalam Hindu ada penekanan terhadap suatu aware consciousness, bagaimana seseorang menyatu dalam kehidupan sepenuhnya. Jika orang hanya memikirkan harta, kemudian menumpuk harta, mencintai harta, dan pada akhirnya memuja harta – maka seluruh kehidupannya jatuh dan melekat pada harta. Jika ada yang menyindir hartanya dia tersinggung, jika ada yang mencuri atau merusak hartanya dia marah, jika hartanya hilang – dia sedih. Tentu saja harta bisa berarti makna yang sesungguhnya atau makna kiasan.

Kemelekatan membutakan seseorang, kemelekatan adalah awal dari konflik di seluruh permukaan bumi, kemelekatan adalah yang melahirkan laut suka-duka dalam dualitas dunia yang berkesinambungan, dalam Hindu disebut sebagai samsara. Inti dalam ajaran Hindu adalah akhir dari samsara ini, terbebas dari segala bentuk kemelekatan, sesuatu yang disebut pembebasan sepenuhnya atau moksha.

Tuhan – saya rasa – tidak perlu turun langsung dan memberikan perintah pada manusia untuk menjauhi kemelekatan, dan berkata bahwa itu bisa membuat dunia jadi gila. Manusia dengan aware consciousness-nya akan mampu melihat bahwa kemelekatan adalah sumber kerusakan dan korupsi dunia ini. Jika mereka tetap memilih kemelekatan, maka samsara adalah kepastian, itu adalah bagaimana alaminya hal itu terjadi pada masing-masing kita, kita mengalami ketakutan berpisah dari kemelekatan kita, kita mengalami kesedihan dan duka yang mendalam ketika kehilangannya, ya – maka itulah samsara, dan itulah bagaimana (hukum) karma berkerja.

Pemujaan pada Tuhan tidak diwajibkan, namun lebih seperti pilihan bagi orang-orang. Seseorang bisa bebas memilih jalan hidupnya, dan demikianlah hukum sebab-akibat akan juga berjalan padanya sesuai dengan pilihan yang diambilnya. Juga tidak ada artinya, jika seseorang dengan berkata bahwa ia mencintai Tuhan, maka demikianlah ia bisa membenci orang lain. Ia bisa membenci, menyakiti hingga membunuh orang lain untuk membela Tuhan. Maka itu bukan cinta sama sekali, ia hanya memuja Tuhan yang diciptakan pikirannya sendiri, dan kemelekatan pikiran itu juga yang dengan sendirinya melahirnya kebencian.

Kembali pada wacana politeisme sebelumnya, Hindu di nusantara mengalami berbagai akulturasi budaya menurut kajian historisnya. Beberapa aspek dalam budaya ini ada perhatian terhadap keselarasan kehidupan manusia dengan alamnya, bukan hanya dengan Tuhan dan dengan manusia semata. Di Bali ini dikenal dengan konsep Tri Hita Karana, dan aplikasi praktis dari konsep ini masih berhubung dengan doktrin tua tentang sistem alam semesta dalam pandangan yang diatur (atau tepatnya dijaga) oleh elemen-elemen tertentu. Sedemikian hingga dalam Hindu dikenal banyak sekali dewa-dewi yang bisa menjadi simbol keselarasan masing-masing elemen. Dalam tradisi Hindu, setidaknya ada lebih dari 300 juta dewa dan dewi dikenal. Inilah yang menjadi dasar ditemukannya pemujaan terhadap dewa dan dewi dalam Hindu, atau dalam istilah di Bali dikenal sebagai bhatara.

Tentunya tetap saja dewa dan dewi ini bukanlah Brahman dalam konsep ketuhanan Hindu. Tidakkah Tuhan marah jika umat justru memuja dewa dan dewi? Ha ha…, saya tidak bisa membayangkan bagaimana jika Tuhan datang pada seseorang dan memarahinya karena salah memuja objek yang tepat. Saya tidak begitu paham masalah pemujaan pada dewa dan dewi, namun analogi sederhananya begini….: Jika sebuah negara memerlukan sistem komunikasi yang baik, setidaknya pos harus berjalan lancar. Dan suatu hari seseorang berterima kasih pada tukang pos karena sudah mengantarkan surat padanya sampai daerah terpencil. Lalu, haruskah seorang presiden marah pada rakyat itu, karena bukannya berterima kasih pada pimpinan tertinggi negara itu dan malah berterima kasih pada tukang pos yang jabatannya tidak seberapa? Nah, kurang lebih demikian analoginya, walau saya tidak yakin selalu bisa dianalogikan demikian. Anda harus bertanya pada seseorang yang lebih memahami konsep pemujaan dewa dan dewi untuk penjelasan yang lebih baik.

Pun pemujaan dewa dan dewi ini kemudian dipandang sebagai bentuk politeisme, ya silakan saja. Saya enggan mendebatkan hal-hal semacam ini.

Lalu pertanyaan klasik berikutnya, apakah dalam Hindu itu konsepnya panteisme? Karena sedikit-dikit ada saja terdengar bahwa Tuhan dalam pandangan Hindu ada di mana-mana, dan semuanya adalah Tuhan, sedemikian hingga orang-orang Hindu sering terlihat menyembah batu dan pohon-pohon angker sebagai (aspek) Tuhan.

Saya sendiri pernah mendapatkan pertanyaan ini dengan nada yang begitu polos, sehingga saya hampir tidak bisa menahan tawa (mungkin karena saya tipe orang yang mudah meluapkan emosinya). Sebagian pernyataan dari pertanyaan itu mungkin ada benarnya.

Memang ada konsep bahwa Brahman meresapi segala sesuatu di dunia ini, dalam pemahaman bahwa tiada tempat yang tidak terjangkau oleh-Nya. Tuhan dalam konsep Hindu bukanlah sosok yang tinggal di surga dan memerintah para dewa dan dewi. Jika memang demikian, maka dewa dan dewi dalam banyak kisah Hindu pasti bisa tidak hanya mengenal Tuhan, namun memahami-Nya dengan baik – namun di banyak kisah justru para dewa sering tidak memahami Tuhan, bahkan kesulitan mencerna maksud-maksud yang disampaikan oleh Trimurti (Brahma, Wisnu dan Siwa) yang merupakan aspek terdekat dengan Ilahi.

Saya ingat dalam yagna mantra (doa sebelum makan) yang diambil bait awalnya dari Bhagavad Gita IV.24.

Om Brahmarpanam Brahma havir
Brahmagnau Brahmana Hutam
Brahmaiva Tena Gantavyam
Brahma-Karma-Samadhina

(The whole creation being a gross projection of Brahman, the Cosmic Consciousness itself) so the food too is Brahman, the process of offering it is Brahman, it is being offered to the fire of Brahman. He who thus sees Brahman in action, alone reaches Brahman.

Dalam konsep Hindu, Tuhan ada di seluruh semesta, dan dalam setiap bentuk keberadaan. Dalam cahaya matahari, dalam kegelapan malam, dalam bulir padi yang menguning, dalam saya, Anda dan mereka. Dan dalam pengertian dua arah bisa menjadi, cahaya matahari itulah Tuhan, kegelapan malam itulah Tuhan, saya, Anda dan mereka adalah Tuhan.

Jika sekilas dilihat, tentu saja konsep ketuhanan seperti ini tampak sangat angkuh, menyamakan diri seseorang dengan Yang Maha Kuasa. Namun filosofinya tidak terletak di sana. Dalam konsep ketuhanan, ada yang disebut sebagai core of existence – atau intisari keberadaan.

Konon manusia dibentuk oleh berbagai lapisan, badan yang terluar yang tampak dengan kasat mata adalah bagian yang paling mudah dikenali sebagai suatu entitas. Kemudian ada konsep tentang badan yang lebih halus, bisa saja disebut sebagai roh, atau jiwa atau batin – kalau dalam banyak kisah, inilah bagian manusia yang mengalami reinkarnasi, mengalami sorga dan neraka. Ada yang menjadi sumber keberadaan sebuah jiwa, dan itu disebut sebagai ‘self’, sang diri, aku, atau atman.

Dan inilah ‘self’ atau atman yang identik dengan ‘higher self’ atau Brahman itu sendiri. So, while Brahman is the very core of existence, then atman is the core of existence itself. Jadi atman bisa dikatakan sebagai prinsip kehidupan yang universal, pencipta dari setiap bentuk keberadaan. Menurut sumber-sumber tertentu, ini lebih mirip prinsip panenteisme daripada panteisme.

Jadi Brahman dan atman adalah sama pada hakekatnya, namun pembedaan dapat tercipta jika terdapat jarak di antara keduanya. Jarak menciptakan ruang dan waktu yang melahirkan perbedaan (ini mungkin lebih mudah dipahami dengan teori fisika kuantum). Jika sang diri tidak menyadari dirinya sendiri, maka kesadaran akan atman sebagai entitas tidak akan muncul. Jika kesadaran tidak muncul, maka ia akan memandang setiap manusia dan bentuk keberadaan yang lainnya adalah sesuatu yang berbeda-beda pada intinya. Ketidaksadaran ini disebut gelapan, atau kabut kebodohan – avidya. Dan dalam avidya inilah lahir kemelekatan.

Dalam kisah Mahabharata, Arjuna yang kebingungan menolak maju ke medan perang. Sehingga Krishna terpaksa mewejangkan Bhagavad Gita kepada putra Kunti tersebut, sehingga ia memahami hakikat atman dan Brahman.

Tentu saja memahami di sini tidak dalam artian memahami secara konseptual. Jika saya menulis ini, dan membaca ulang, kemudian mengerti isinya, ya itu pemahaman secara konseptual. Namun apa itu dapat membuat saya menyadari atman sebagai sebuah kesejatian?

Pemahaman yang muncul, adalah pemahaman yang aktual, bukan konseptual. Konsepsi tidak berbeda dengan buah pikiran manusia, yang terbatas dan sempit. Jika dalam kesempitan itu manusia berpikir bahwa dirinya adalah atman, yang dalam tanda petik juga acintya dan tak terbatas – ya, kita bisa mengatakan itu keangkuhan, atau lebih tepatnya selaras dengan ketidakacuhan.

Jika seseorang dapat menyadari atman, atau dalam artian “when self realize itself”, itu akan menghadirkan sebuah ledakan batin yang religius. Dalam kesadaran yang baru itu, di sana ada kebebasan yang luar biasa, karena segala kemelekatan telah luluh dengan sendirinya. Ia ‘terlahir kembali’ sesuatu yang sepenuhnya baru dan penuh akan kehidupan, dalam istilah lama di Bali digunakan kata ‘dwijati’.

Kesadaran ini memberikan bukan pemahaman, namun realita bahwa segala sesuatunya memiliki esensi yang sama. Ia akan mampu melihat dirinya juga merupakan pada orang lain, dan orang lain juga adalah dirinya. Karena kesadarannya memandang ‘core of existence’ pada segalanya.

Pada keadaan ini, ia melihat, bahwa segala sesuatu adalah dirinya, dan segala sesuatu itu adalah Brahman jua. Jika ia berkata melihat Tuhan dalam sekuntum bunga, itu bukan berarti bermakna kiasan atau sekadar pemahaman akan ajaran kitab suci, namun itulah realita baginya. Sehingga tidak ada tempat bagi kebencian, atau pun amarah hadir dalam dirinya, karena kemanapun ia memandang, hanya wajah Ilahi yang tampak, apapun yang terdengar hanyalah suara Ilahi.

Ini adalah pemahaman sejati dalam ‘tat tvam asi’ yang dikatakan sebagai salah satu ajaran tertinggi dalam agama Hindu (merujuk Mahavakya pada kisah Uddalaka dalam Chandogya Upanishad 6.8.7 – Sama Veda). Jadi makna “aku adalah kamu, dan kamu adalah aku” – bukanlah mengembangan empati dan toleransi terhadap sesama manusia, namun sebuah bentuk kesadaran bahwa “aku adalah itu” – itu yang merujuk pada keberadaan yang sejati. Karena dalam kesadaran ‘tat tvam asi’, sudah tidak ada lagi ‘aku’ dan ‘kamu’ – karena semuanya adalah satu kesejatian. Hal yang sama juga dimaknai dalam Mahavakya yang lainnya, seperti ‘Aham Brahmasmi’ – “aku adalah Brahman” (Brhadaranyaka Upanishad 1.4.10 – Yajur Veda); ‘Prajnanam Brahma’ – “Kesadaran adalah Brahman” (Aitareya Upanishad 3.3 – Rig Veda); ‘Ayam Atma Brahma’ – “Sang Diri adalah Brahman” (Mandukya Upanishad 1.2 – Atharva Veda).

Namun dengan penyebab satu dan lain hal, tidak semua orang berada dalam kesadaran ini. Maka para Guru umumnya memberikan bimbingan yang lebih ringan, membuat manusia menghargai alam sekitarnya, baik dalam bentuk kehidupan maupun unsur alam lainnya. Menanamkan rasa kepedulian terhadap segala sesuatu yang ada di alam ini. Bagi mereka yang berada dalam dualitas, maka menghargai kehidupan dan keberadaannya di dunia adalah adalah pilihan yang dapat diberikan. Namun bukan berarti itu menyembah dan mendewa-dewakan segala sesuatunya. Jika dalam ranah ritual praktis, ya, kembalikan lagi pada budaya yang melingkupi – dan kembali saya bukanlah orang yang tepat untuk menjelaskan hal tersebut.

Dan untuk pertanyaan klasik yang terakhir, apakah dalam Hindu juga ada ateisme? Bukankah bertentangan sekali konsep teisme dan ateisme itu?

Saya tidak tahu apa hal-hal yang sering dipertanyakan itu bisa digolongkan ke dalam ateisme, yah…, kalau dipaksakan sedikit mungkin juga bisa.

Pertanyaan umumnya selalu dikaitkan dengan tokoh Siddhartha Gautama, atau Sang Buddha. Saya sebenarnya tidak jelas benar dari mana akar permasalahannya, namun tampaknya ada beberapa argumentasi yang menyatakan bahwa Buddha menyebarkan ajaran yang bersifat ateisme. Dan tentu saja setelah disangkutpautkan terhadap konsep avatar dalam Hindu, sehingga Hindu menjadi mengajarkan ateisme.

Dalam tradisi Veda, ketika dunia dilanda kekacauan, ketika adharma merajalela dan mereka yang hidup sesuai dharma mengalami penindasan, maka kesadaran Ilahi akan turun ke dunia dan mengambil bentuk kehidupan tertentu guna menyelamatkan dharma. Dan persona Ilahi yang turun ke dunia disebut sebagai avatar. Bisa dikatakan ketika kekuatan kesadaran Ilahi mengambil wujud di dunia, maka itu adalah avatar.

Avatar biasanya bersumber dari Trimurti (menurut Purana seperti Garuda Purana, Shiva Purana dan Bhagavata Purana), dan juga Paramadewa Ganesha (Ganesha Purana). Biasanya Shiva dan Vishnu turun ke dunia sebagai kesadaran Ilahi yang saling membantu dan menyeimbangkan, karena konon jika Mahavishnu sendiri yang turun ke dunia maka kekuatannya dapat meluluhlantahkan dunia, sebagaimana dikisahkan dalam dalam avatar Shiva – Virabhadra atau Sharabha yang muncul pada masa munculnya avatar Vishnu – Narasimha.

Tentu saja ada avatar-avatar yang lebih dikenal oleh masyarakat Indonesia secara luas. Dalam kisah Ramayana, di sana ada Rama sebagai avatar Vishnu yang turun ketika dharma disalahgunakan oleh Raja Rahwana, dan situ ada Hanoman – avatar Shiva yang membantu Rama. Hanoman juga hadir dalam kisah Mahabharata, membantu Pandawa dalam perang keluarga Bharata, dan tentu saja ada Krishna – avatar Vishnu.

Dan avatar terakhir yang cukup dikenal adalah Buddha – avatar Vishnu, dalam tradisi Veda (Garuda Purana), Buddha merupakan avatar Vishnu kesembilan. Dan kini masih banyak filosofi dan sekolah-sekolah Hindu yang mengakui keberadaan Buddha sebagai persona Ilahi.

Mungkin debat tentang hal ini sudah dimulai sejak zaman Buddha itu sendiri. Kehadiran Buddha Gautama yang tercerahkan, membuat efek yang luar biasa di tanah India, nyaris-nyaris agama Hindu lenyap dari sana saking kuatnya pengaruh Buddhisme.

Konon Buddha mengkritisi keras praktik tradisi Veda yang melakukan pelbagai korban persembahan untuk upacara keagamaan. Di zaman itu konon ada banyak kaum brahmana menyalahgunakan wewenangnya, dan membuat pelbagai upacara keagamaan yang tidak pada tempatnya. Tradisi Veda ketika itu mengalami zaman kegelapannya, dan untuk menyelamatkan dharma, maka Vishnu turun ke dunia sebagai Buddha.

Setelah melalui pencerahan, Sang Buddha berkeliling negeri menyampaikan tentang kehidupan, tentang dukha, tentang ketidakabadian, dan tentang berakhirnya dukha. Ajarannya tentang cinta kasih dan ahimsa, menjadi pukulan keras bagi praktik tradisi Veda ketika itu yang menggunakan banyak hewan persembahan pada Tuhan dan para dewa.

Buddha menekankan bahwa kesadaran akan kehidupan jauh lebih bernilai daripada praktik yang kejam dan semena-mena. Ajaran Buddha pada tecermin pada Buddhisme dan Zen. Konon, Buddha sama sekali tidak menitikberatkan tentang pemujaan atau ketuhanan, Buddha memperkenalkan apa yang disebut sebagai jalan tengah. Adalah sebuah jalan untuk ‘menemukan’ self realization.

Lalu sebenarnya apakah ada Tuhan dalam Buddhisme? Saya tidak begitu memahami dengan benar, beberapa doktrin tua – dalam Buddhisme terdapat esensi supreme being, sekarang tergantung sudut pandangnya, apakah dengan doktrin Theravada atau dengan doktrin Mahayana dan Vajrayana.

Pun demikian, tampaknya pada era Buddha, memang sama sekali tidak menyentuh tentang ketuhanan, bahkan Buddha sering dikatakan mempertanyakan tentang ketuhanan itu sendiri. Dalam pelbagai Nikaya, sosok Buddha lebih ditangkap sebagai anti-spekulatif daripada ateistik.

Tuhan merupakan salah satu objek pencarian bagi orang-orang yang katanya religius, di sana-sini ada perdebatan tentang bagaimana Tuhan itu. Bahkan dalam Hindu, sejak dulu ada perdebatan antara kaum Advaita dan Dvaita yang tidak ada habisnya – sesuatu seperti memperbincangkan yang mana ada lebih dahulu “telur atau ayam”. Tuhan menjadi hanya sekadar spekulasi pikiran manusia, dan Tuhan yang hadir dari spekulasi itulah yang sering kali menjadi kemelekatan atau keterikatan bagi manusia. Jika ada yang memuja Tuhan-nya, dia akan senang sekali, jika ada yang berbicara buruk tentang Tuhan-nya dia benci sekali, jika ada yang mengheni Tuhan-nya dia bahkan siap mengangkat senjata, jika pimpinan kelompoknya mengatakan bahwa Tuhan-nya perlu ini dan itu, maka ia segera menyiapkannya tak peduli berapa hewan harus dikorbankan dan berapa hutan harus dibabat. Inilah lautan sukha – dukha kehidupan, inilah samsara.

Memupus dukha dan mengakhiri samsara adalah apa yang disampaikan oleh Buddha, bahkan jika itu berarti mengakhiri kemelekatan terhadap Tuhan sendiri. Saya rasa mungkin ini adalah yang menyebabkan pembicaraan tentang Tuhan menjadi tidak esensial dalam Buddhisme, karena ketika kebanyakan orang berbicara Tuhan dalam tataran konsepsi, maka Buddha telah menyampaikan fakta riil tentang kehidupan.

Mencapai pembebasan sepenuhnya, maka Buddha tidak terikat dengan tradisi atau konsep apapun. Kondisi bebas dari pelbagai belenggu ini tercapai dalam nirvana atau nibbana yang secara harfiah bermakna ‘padam’ – yaitu padamnya sang diri yang menciptakan belenggu dan melahirkan samsara. Kata yang serupa dalam tradisi Veda tentang moksha atau mukti, yang secara harfiah bermakna ‘lepas’ – lepasnya sang diri dari belenggu samsara.

Demikianlah, banyak orang suci dalam Hindu sendiri menghormati sosok Buddha, Dia yang sudah tercerahkan – Dia yang membimbing orang-orang menuju pembebasan sejati.

Ketika manusia terperangkap dalam dualitas – ia cenderung melahirkan pelbagai konflik di dunia, ia berada dalam samsara. Dalam Hindu, Veda termasuk segala tradisi dan filosofi ketuhanan di dalamnya hanya sebagai alat untuk menyeberangi lautan samsara, dan melahirkan kebebasan yang sejati. Ketika seseorang sudah terbebaskan, maka ia tidak akan memerlukan lagi semua alat itu, semua konsep, tradisi dan filosofi itu.

Selama berada dalam dualitas, manusia hanya melihat hitam, putih dan abu-abu dalam pikirannya, Tuhan bukan sesuatu yang dapat dijangkau oleh pikiran yang terbatas dan terbelenggu. Kebenaran hanya menjadi sebatas nalar, pemikiran, warisan, tradisi, argumentasi, budaya, atau agama. Karena kebenaran itu adalah hasil pikiran manusia yang terbatas, maka ia memiliki sisi-sisi yang dapat bersinggungan dengan kebenaran-kebenaran lainnya, sehingga setiap gesekan potensial menghadirkan konflik. Konflik menghadirkan dukha dan samsara.

Berakhirnya dualitas adalah pembebasan dari semua belenggu, apa yang ada setelah itu, tidak bisa disampaikan dengan kata-kata. Karena kata-kata hanya akan melahirkan pemikiran yang lainnya, dan kata-kata bukanlah ‘itu’ – apa yang ada ketika berakhirnya dualitas. Kata-kata hanya menyebut ‘itu’ sebagai kebebesan, kesejatian, kebenaran, Tuhan, atau bahkan ‘itu’ adalah kamu dan juga aku.

Ini bukanlah sesuatu yang dapat ditangkap pikiran manusia, karenanya, jauh-jauh sebelum masuk ke dalam konsep ketuhanan, tradisi Veda mengingatkan, bahwa ‘itu’ adalah acintya – tak terjamah oleh pikiran. Karena jika seseorang berusaha menjamah ‘itu’ dengan pikiran, maka ia akan terperangkap dalam belenggu, dan ini adalah sebentuk ketidacuhannya, ini berbahaya, maka sering juga disebutkan sebagai avidya – sesuatu yang sangat ditakuti oleh Veda itu sendiri. Seluruh cara pencapaian ‘itu’ terangkum dalam intisari Veda, yang disebut Vedanta – secara harfiah berarti berakhirnya seluruh Veda. Ketika dualitas berakhir, maka ‘itu’ ada dan nyata baginya – bukan sekadar konsep dan kepercayaan, dan secara sendirinya Veda akan runtuh, karena ia tak lagi diperlukan, karena ia hanyalah kumpulan konsep dan tradisi, ia hanya menggambarkan ‘itu; dan menunjukkan jalan menuju ‘itu’ – namun dia bukanlah ‘itu’.

Konsep ketuhanan dalam Veda bisa ditemukan dalam lebih banyak lagi sumber yang valid, tulisan ini saya buat bukan sebagai seorang yang ahli dalam agama Hindu. Saya sama sekali tidak memahami apa-apa tentang agama Hindu, saya hanya seorang pejalan yang pandangan matanya terlalu sempit untuk memandang dunia yang luas.

Saya hanya tidak menyukai perdebatan yang terlalu panjang, bahkan entah di mana ujung pangkalnya. Jika ada yang bertanya lagi pada saya, “bagaimana sih Tuhan-nya orang Hindu itu?” – ya semoga tulisan pendek ini bisa memberikan gambaran ringkas secara konseptual sederhana, tapi secara faktual, saya akan angkat bendera putih – well, I never sightseeing to heaven and meet the Lord itself while saying ‘Hi’, so I can’t describe how is God look like.

Digiprove sealCopyright secured by Digiprove © 2010 Cahya Legawa