Terkisahlah seorang saudagar yang dinasihati oleh guru rohaninya agar selalu ingat dan mengucapkan nama Tuhan. Namun sang saudagar menyampaikan keluhannya, bahwa ia kesulitan menemukan waktu yang tepat, ia terlalu sibuk dengan urusan niaganya, tidak memiliki waktu untuk duduk dan mengucapkan nama Tuhan. Semua tenaga dan waktunya telah terkuras habis untuk tokonya.

Lalu gurunya bertanya, kapan dia memiliki waktu di luar urusan dagangnya. Ia berkata saat istirahat untuk makan, namun itu pun tidak cukup untuk mengucapkan nama Tuhan, ia mesti makan dengan cepat dan kembali ke toko, tidak mungkin baginya untuk mengucapkan nama Tuhan saat makan.

Ketika ditanya waktu lainnya, saudagar berkata bahwa ia mesti pergi agak jauh dari desanya setiap pagi guna memenuhi panggilan alam, setidaknya selama setengah jam. Maka gurunya meminta sang saudagar untuk memanfaatkan waktu ini untuk smarana (mengucapkan nama Tuhan) harian.

Saudagar itu pun mengikuti saran gurunya untuk memanfaatkan waktu tersebut setiap pagi. Hingga suatu ketika Hanuman – Putra Vayu melintas di udara, ia melihat saudagar tersebut mengucapkan nama “Ram, Ram, Ram…” sambil buang air besar. Hanuman begitu marah karena perbuatan saudagar ini yang tidak pada tempatnya. Hanuman marah karena saudagar tersebut telah mencemari nama Rama, karena ia telah mengucapkannya pada waktu yang tidak bersih. Dengan serta merta Hanuman melesat turun dan menampar saudagar tersebut hingga terjungkal.

Hanuman kemudian melanjutkan perjalanannya kembali ke Ayodhya. Ketika sampai di hadapan junjungannya, Hanuman sangat gembira memandang wajah Rama yang penuh dengan kelembutan cahaya Ilahi, namun ketika ia seksama memerhatikan kembali, ada lebam kemerahan di pipi-Nya yang berbentuk seperti telapak tangan.

Hanuman terkejut, namun tetap terdiam, ia begitu sedih sehingga kehilangan kata-kata.

Rama tersenyum dan berkata lembut padanya, “Hanuman, jangan tanyakan pada-Ku, nama yang telah memberikan tamparan ini. Aku selalu mengetahui sejak awal sebelum bhakta-Ku akan tertimpa malapetaka. Sehingga tepat pada waktunya, Aku dapat menggantikan tempat mereka untuk menyelamatkan mereka.

Saudagar yang malang tersebut” lanjut Rama, “yang sedang berjongkok di luar desanya dengan mengucapkan nama-Ku ketika engkau tengah dalam perjalananmu kemari. Sanggupkah ia menahan amarahmu yang datang melalui tamparanmu? Pastilah ia tidak berdaya. Maka Aku menengahi amarahmu dan menerimanya dengan pipi-Ku ini, Hanuman yang Kukasihi.

Diadaptasi dari Chinna Katha III, h. 18-19.