Semalam saya sedikit terlibat tentang infeksi Helicobacter pylori pasca menghadiri acara resepsi salah seorang sahabat saya ketika SMP & SMA. Saya jadi teringat kembali tentang tulisan saya sebelumnya, yaitu “Mengenal Urea Breath Test” yang merupakan salah satu tes uji untuk mendeteksi adanya infeksi oleh bakteri ini.

Saya tidak tahu persis insidensi H. pylori di Indonesia, namun sepertinya cukup sering dibahas di forum-forum kesehatan dalam negeri. Jika Anda tidak tahu mengenai H. pylori, maka saya bisa sampaikan bahwa H. pylori adalah bakteri yang bertanggung jawab atas sebagian besar kasus ulkus (tukak) & peradangan pada lambung (gastritis kronis).

Seperti yang kita ketahui, lambung menghasilkan asam yang bisa merusak sel-sel normal. Karenanya lambung memiliki lapisan perlindungan khusus tersendiri yang melindunginya dari asam yang ia hasilkan sendiri. H. pylori menyebabkan kerusakan/melemahnya lapisan pertahanan lambung, sehingga lambung “terlukai” oleh asam lambungnya sendiri.

Di seluruh dunia diperkirakan sekitar separuh populasi dunia terinfeksi dengan H. pylori. Biasanya mereka yang hidup di negara-negara berkembang, area-area pemukiman yang padat dan kumuh dengan sanitasi yang buruk memberikan kondisi-kondisi yang memungkinkan untuk terkena bakteri ini. Biasanya infeksi pertama kali terjadi pada masa kanak-kanak, dan bakteri tumbuh dan berkembang di dalam lambung.

Namun hal menarik yang bisa ditemukan adalah meskipun banyak orang memiliki bakteri ini di dalam lambungnya, namun mereka tidak (jadi) menderita tukak lambung atau gastritis. Beberapa hal bisa meningkatkan kemungkinan H. pylori menyebabkan tukak lambung, misalnya konsumsi kopi berlebih, merokok dan konsumsi alkohol.

Sedemikian hingga meskipun Anda adalah pembawa (carrier) H. pylori, Anda bisa jadi tidak menunjukkan gejala apapun untuk dikeluhkan. Namun jika berkembang menyebabkan ulkus atau gastritis, maka beberapa dapat muncul seperti:

  • Nyeri perut (daerah lambung atau ulu hati);
  • Perut kembung atau perut serasa penuh;
  • Dispepsia (lambung terasa perih) atau gangguan pencernaan;
  • Merasa cepat lapar setelah 1 – 3 jam pasca makan;
  • Mual-mual ringan (bisa terasa membaik jika muntah).

Helicobacter pylori

Untuk menemukan apakah terjadi gejala yang muncul disebabkan oleh adanya ulkus lambung karena H. pylori, maka kita dapat melakukan beberapa pemeriksaan tambahan selain melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik yang mengarah pada kecurigaan infeksi ini.

Beberapa tes seperti tes antibodi dalam darah, tes antigen dalam tinja/feses, atau tentunya dengan UBT seperti yang saya sebutkan di awal tulisan ini. Namun tes yang paling bisa dihandalkan saat ini adalah pemeriksaan biopsi melalui (bersamaan dengan) pemeriksaan endoskopi dengan rapid urea test, pemeriksaan histologik serta kultur mikrobial.

Pemeriksaan darah atau feses dilakukan secara berkala selama terapi berlangsung, untuk membantu memantau perkembangan keberhasilan terapi.

Tidak ada pencegahan unik yang disepakati secara universal sampai sejauh ini, kecuali secara umum menjaga kebersihan – baik diri maupun lingkungan – dengan baik, hidup sehat dan makan-makanan yang bergizi serta tidak merokok, mengonsumsi alkohol dan mengurangi asupan kopi. Jika orang terinfeksi H. pylori maka guna mencegah dapat buruknya yaitu ulkus yang berlanjut dan kanker lambung, maka administrasi antibiotik yang tepat sangat dianjurkan.

Namun karena berkembangnya resistensi terhadap antibiotik, cara-cara lain tetap ditelusuri. Vaksin untuk H. pylori tampaknya sedang dikembangkan. Penelitian-penelitian awal lainnya menunjukkan faktor diet mungkin dapat menekan aktivitas H. pylori, seperti misalnya dengan mengonsumsi (pucuk) brokoli, atau konsumsi teh hijau (green tea) misalnya sebagaimana yang disebut dalam jurnal Antimikrobial Internasional per Mei 2009 (abstrak). Konsumsi Yogurt yang mengandung Lactobacillus dan Bifidobacterium secara teratur dikatakan cukup efektif menekan infeksi H. pylori menurut jurnal Nutrisi Klinis Amerika (abstrak).

Saat keberadaan H. pylori pada penderita ulkus peptikum terdeteksi, maka tindakan wajar yang dianjurkan adalah menghilangkan bakteri dan membiarkan ulkus sembuh. Terapi standar yang diberikan umumnya terdiri dari : penyekat pompa proton (proton pump inhibitors), dan dua antibiotik yang berbeda seperti clarithromycin, amoxicillin, tetracycline atau metronidazole.

H. pylori yang berkolonisasi di lambung dapat menyebabkan peradangan secara kronis. Koloni bakteri dapat bertahan di dalam lambung manusia selama beberapa dekade. Kebanyakan individu yang terinfeksi H. pylori tidak memiliki gejala klinis spesifik kecuali gastritis kronis. Sekitar 10-20% dari area koloni mungkin akan berkembang menjadi  tukak lambung atau usus dua belas jari. Dan terdapatkan kemungkinan 1-2% memberikan risiko kanker lambung.

Beberapa keberadaan bakteri H. pylori bisa hilang dengan sendirinya dari tubuh manusia pada kondisi infeksi akut. Dan pasca terapi berhasil, umumnya kemungkinan infeksi kembali oleh H. pylori sangat kecil.

Kunjungi pusat kesehatan terdekat jika Anda menemukan gejala-gejala seperti darah pada tinja anda, nyeri perut, pencernaan tidak lancar, atau adanya sensasi perih pada daerah perut atau ulu hati. Dan jangan tunda mencari bantuan medis jika Anda mengalami muntah darah.