Katya LXDE – Ringan dan Cepat


Linux Mint 11 Katya edisi LXDE telah dirilis, saya sempat mencobanya sore ini. Memasangnya di mesin virtualisasi tidak lama, tidak dengan update otomatis saat proses instalasi berlangsung, mungkin hanya perlu satu jam saja. Sebagai turunan Ubuntu, saya menemukan proses instalasi Katya sangat mirip dengan Natty Narwhal, nah bahkan saking miripnya mungkin mereka tidak tampak berbeda sama sekali, kecuali warna dasar Linux Mint adalah hijau.

Pada pengumuman rilis Katya LXDE, distro ini dirilis sehari sebelum rilis BlankOn Pattimura yang saya tulis kemarin. Namun apa boleh buat, karena keterbatasan pita bulanan dan kesempatan, serta kemalasan saya, maka baru sore ini saya sempat mencobanya.

Sebagaimana standar uji coba Linux, saya menggunakan VM VirtualBox dari Oracle (versi 4.0.12), dengan rincian sistemnya:

  • Base memory: 512 MB.
  • Acceleration: VT-x/AMD-V, Nested Paging, PAE/NX.
  • Video memory: 64 MB.
  • Display Acceleration: 3D.
  • Storage: Normal (8 GB).

Mengingat Linuxt Mint 11 LXDE sendiri memerlukan prosesor x86 dengan minimal 256 MB RAM dan ruang 3 GB, dengan kartu grafis yang mendukung resolusi 800×600. Jadi jika melihat spesifikasi ini, komputer yang cukup lawas-pun masih mampu menjalankan distro ini dengan baik.

Saat boot pertama kali dari berkas instalasi, maka tidak akan ada opsi boot tambahan, hanya ada menunggu proses langsung masuk ke live desktop. Jadi saya tidak tahu efeknya jika menggunakannya Katya ini untuk dual-boot, karena minimnya informasi awal yang disediakan. Namun saya rasa ini memang tepat, karena dari awalnya, LXDE hanya bertujuan untuk memberikan dekstop tunggal yang ringan namun tetap tangguh, terutama untuk komputer-komputer lawas.

Booting
Tidak ada disediakan opsi boot tambahan saat memulai.

Tidak lama setelahnya, sistem akan masuk secara otomatis ke live desktop, di sini pengguna bisa mencicipi Linux Mint 11 LXDE tanpa perlu memasangnya ke komputer. Tidak perlu khawatir sistem operasi yang sudah ada menjadi rusak, karena ini kesempatan baik untuk mencoba dulu sebelum memasangnya.

Jika hendak memasang Katya LXDE ini, di live-dekstop telah tersedia ikon untuk langsung menginstalnya, tinggal klik (dan mungkin mesti menunggu beberapa saat), maka panduan pemasangan akan langsung dimulai. Tidak banyak pilihan saya lihat, hampir sama seperti saat memasang Natty Narwhal, jika hendak melakukan dual-boot, mungkin di sinilah tempat paling berhati-hati pada setiap langkahnya, karena Ubuntu dan turunannya tidak memberikan informasi spesifik tentang proses pembentukan partisi yang akan dibuat (inilah salah satu poin yang tidak saya sukai dari distro-distro ini). Namun jika Anda cukup paham tentang apa yang sedang terjadi, maka semuanya akan aman-aman saja.

Sedangkan bagi mereka yang memang ingin sepenuhnya menggunakan satu distribusi Linux saja, yaitu Linux Mint 11 LXDE ini, maka bernapaslah lega, karena semuanya akan berjalan lancar.

Instalasi
Proses instalasi plus update sistem.

Bila saat memasang terhubung dengan koneksi Internet, maka update sistem dan software akan berlangsung secara otomatis. Namun tentu saja pengguna dapat melewatkan (skip) proses ini, sehingga pemasangan menjadi lebih cepat.

Setelah selesai, saya bisa melihat desktop LXDE khas Linux Mint yang ringan dengan koleksi ikon-ikon dari Faenza. Aplikasi yang disediakan mungkin terbatas dan minimalis, sesuai dengan konsepnya, namun mencukupi untuk keperluan perkantoran dan rumahan sehari-hari.

Desktop
Tampilan Desktop LXDE Linux Mint 11.

Ada beberapa isu dengan Moonlight (versi silvermoon untuk Linux) dan chipset Intel 855gm, untuk menangani isu-isu ini jika ditemukan, silakan membaca catatan rilis Katya.

  • iskandaria

    Numpang nyimak aja kali ini mas ;) Tapi karena masih turunan Ubuntu, tampilan list menu navigasinya tampak sama dengan Ubuntu klasik. Kecuali pada posisinya yang di bawah :)

    • http://me.legawa.com Cahya

      Sekilas memang mirip Gnome lama, kecuali saya memang tidak pernah pakai Gnome yang lama, karena openSUSE sendiri kan Gnome-nya sudah menggunakan custom app launcher :). Kalau yang memiliki netbook minimalis, mungkin sistem operasi ini akan pas.

      • http://gadgetboi.wordpress.com gadgetboi

        menurut saya malahan lebih mirip KDE miskin :D

        • http://me.legawa.com Cahya

          Mas Rangga, ndak apa-apa miskin, yang penting bisa dimakan :D – saya mau masang Gentoo dengan KDE 4.7-nya, sayang ndak ada pemasangan GUI, jadi malas benar kalau mesti pakai perintah panjang lebar :(.

          • http://gadgetboi.wordpress.com gadgetboi

            mending menggunakan sebayon dengan KDE dulu nanti bisa diubah menjadi gentoo seperti opensuse dengan tumbleweed-nya :lol:

            • http://me.legawa.com Cahya

              Sebayon ya…, sepertinya belum sempat saya coba, tapi Gentoo karena masih manual, saya belum “berani” menyentuhnya.

  • http://tomipurba.net tomi

    sama mas.. saya juga pakai ini.. di dual boot ma jendela 7..
    memang lebih terasa ringan dan dibandingkan versi sebelumnya..
    dan penggunaan baterai jg tidak seboros yg versi 10

    • http://me.legawa.com Cahya

      Terima kasih tambahannya Mas Tomi, Linux memang terkesan boros baterai, Ubuntu dan openSUSE rata-rata begitu, apalagi kalau akselerasi 3D-nya kebablasan. Buat notebook atau netbook, sistem operasi yang hemat baterai layak jadi pertimbangan :).

  • http://gadgetboi.wordpress.com gadgetboi

    waw … banyak benwit nih … :lol: kenapa yah kokdesktop ringan pake ikon dari faenza? saya juga di XFCE-nya PCLINUXOS menggunakan ikon faenza …

    • http://me.legawa.com Cahya

      Bukan banyak bandwidth, karena saya sibuk, jadi saya biarkan komputer menyala sambil mengunduh beberapa distro baru :D.

      Mungkin nanti Faenza bakal jadi trademark-nya desktop minimalis :lol:.

  • Melvin

    untuk LXDE, apakah desktopnya tergolong GTK ?
    untuk xfce, masih tergolong GTK. jadi masih support softwarenya GNOME :)

    • http://me.legawa.com Cahya

      Melvin, saya kurang tahu ya, tapi rasanya sih pakai GTK 2, masa mau pakai FLTK atau FOX, yang meskipun lebih ringan tapi kan tidak se-mendunia GTK 2 :).

  • Melvin

    di wikipedia, GNOME,LXDE, dan xfce menggunakan bahasa pemograman GTK. kecuali KDE (dia pakai qt) :D

    • http://me.legawa.com Cahya

      Melvin, ha ha…, jadi ingat kasus KDE dulu dianggap pengkhianat konsep GNU/Linux karena menggunakan aplikasi Qt yang proprietary untuk pengembangannya, tapi toh kemudian Qt sepertinya masuk ke ranah open source juga.