Indung telur (ovarium) adalah dua (sepasang) organ kecil yang terletak pada tiap sisi rahim (uterus) pada tubuh perempuan. Mereka menghasilkan hormon, termasuk estrogen, yang memicu terjadinya menstruasi. Setiap bulan, ovarium melepaskan sebuah sel telur yang kecil. Dan telur ini bergerak menuju tuba fallopi di mana merupakan area yang baik untuk terjadinya pembuahan (fertilisasi). Siklus pelepasan sel telur ini dikenal sebagai ovulasi.

Apa Penyebab Kista Indung Telur?

Kista adalah kantung berisi cairan yang dapat terbentuk di dalam ovarium. Mereka cukup umum, dan sangat umum terutama pada masa tahun-tahun melahirkan.

Terdapat sejumlah jenis kista indung telur. Yang paling umum adalah kista fungsional. Di mana kista terbentuk pada masa ovulasi karena telur tidak dilepaskan, atau kantung telur (folikel) tidak terserap kembali setelah telur dilepaskan.

Beberapa tipe kista lainnya termasuk:

  • Ovarium polikistik. Disebut sebagai PCOS (sindroma ovari polikistik), di mana folikel yang seharusnya menjadi tempat pematangan telur gagal untuk membuka dan terbentuklah kista.
  • Endometrioma. Pada wanita dengan endometriosis, jaringan yang menjadi pembatas rahim (uterus) tumbuh pada daerah lain pada tubuh. Ini termasuk juga di dalam ovarium. Endometriosis bisa jadi menimbulkan nyeri yang teramat sangat dan mempengaruhi kesuburan.
  • Kistadenoma. Kista-kista ini terbentuk dari sel-sel di permukaan ovarium. Mereka seringkali terisi cairan.
  • Kista dermoid. Kista ini berisi jaringan yang serupa dengan jaringan lain di dalam tubuh, misalnya terdapat kulit, rambut dan gigi di dalamnya.

Apa Penyebab Tumor Indung Telur?

Tumor dapat terbentuk di dalam indung telur, sebagaimana mereka terbentuk pada bagian tubuh yang lainnya. Jika tumor bersifat non-kanserosa (tidak ganas), maka disebut sebagai tumor benigna (jinak). Jika mereka kanserosa, mereka disebut maligna (ganas). Terdapat tiga jenis tumor ovarium:

  • Tumor-tumor sel epitelial bermula dari sel-sel pada permukaan ovarium. Ini adalah tipe tumor ovarium yang paling umum.
  • Tumor-tumor sel germ bermula pada sel-sel yang menghasilkan telur. Mereka bisa jadi benigna ataupun maligna. Namun kebanyakan bersifat benigna.
  • Tumor-tumor stroma berasal dari sel-sel yang menghasilkan hormon-hormon wanita.

Ahli kesehatan tidak yakin apa penyebab kanker indung telur. Namun mereka telah mengidentifikasi sejumlah faktor risiko yang terkait dengan kanker, di antaranya:

  • Usia – khususnya pada wanita yang telah mengalami masa menopause.
  • Merokok.
  • Obesitas.
  • Tidak memiliki anak atau tidak menyusui (namun, menggunakan pil KB tampaknya memiliki efek untuk menurunkan risiko).
  • Obat-obatan fertilitas/kesuburan (seperti clomifene).
  • Terapi pengganti hormonal.
  • Riwayat keluarga ada pribadi memiliki kanker ovarium, payudara atau kolorektal (memiliki gen BRCA dapat meningkatkan risiko).

Apa Saja Gejala Kista dan Tumor Indung Telur?

Kista ovarium seringkali tidak menunjukkan gejala apapun. Anda mungkin tidak akan menyadari bahwa Anda memilikinya hingga Anda mengunjungi dokter ahli kandungan dan kebidanan untuk pemeriksaan rutin. Kista-kista ovarium dapat menimbulkan masalah jika mereka, terpelintir, sobek/pecah atau berdarah.

Jika Anda memiliki salah satu atau beberapa gejala di bawah, maka sangat penting untuk segera memeriksakannya. Ini karena mereka bisa jadi merupakan gejala tumor indung telur. Sementara, kanker ovarium sering sudah menyebar sebelum sempat dideteksi.

Gejala kista dan tumor ovarium meliputi:

  • Nyeri atau sesak (rasa penuh) pada abdomen (perut).
  • Kesulitan miksi (buang air kecil), atau terdesak untuk selalu ingin buang air kecil.
  • Nyeri tumpul pada punggung bawah.
  • Nyeri selama hubungan seksual.
  • Menstruasi yang nyeri dan perdarahan yang tidak wajar.
  • Berat badan bertambah.
  • Mual atau muntah.
  • Kehilangan nafsu makan, cepat merasa kenyang.

Bagaimana Dokter Mendiagnosa Kista dan Tumor Indung Telur?

Dokter kebidanan dan kandungan atau dokter umum yang memeriksa mungkin akan merasakan adanya benjolan pada pemeriksaan pelvis rutin. Kebanyakan pertumbuhan pada indung telur bersifat jinak, namun sejumlah kecil dapat bersifat ganas. Itulah mengapa penting untuk memeriksa setiap pertumbuhan yang dinilai tidak normal, terutama bagi wanita postmenopause – karena mereka menghadapi risiko kanker ovarium yang lebih besar.

Tes untuk menemukan kista atau tumor ovarium di antaranya:

  • Ultrasonografi. Tes ini menggunakan gelombang suara untuk mencitrakan kondisi indung telur. Citra yang dihasilkan membantu dokter menentukan ukuran dan lokasi kista atau tumor.
  • Tes citra lainnya. CT (tomografi terkomputerisasi), MRI (pencitraan resonansi magnetik), dan PET (tomografi emisi positron) merupakan metode pemindaian yang memberikan detil citra yang tinggi. Dokter dapat menggunakan mereka untuk menemukan tumor-tumor indung telur dan melihat apakah dan sebarapa jauh mereka telah menyebar.
  • Kadar hormonal. Dokter mungkin mengambil sejumlah tes darah untuk memeriksa kadar beberapa hormon. Ini termasuk LH, FSH, estradiol dan testosteron.
  • Laparoskopi. Ini adalah sebuah prosedur bedah. Juga digunakan untuk menangani kista ovarium. Selama pembedahan, dokter bedah dapat menemuka kista atau tumor dan mengambil sebagian kecil jaringannya (biopsi) untuk menguji sifat keganasannya (melihat apakah terdapat sel-sel kanker).
  • CA-125. Jika dokter berpikir bahwa pertumbuhan yang terjadi mungkin merupakan kanker, dokter dapat meminta dilakukan tes darah untuk menemukan protein yang disebut CA-125. Kadar protein ini cenderung tinggi pada sejumlah – namun tidak semua – wanita dengan kanker ovarium. Tes ini umumnya digunakan pada wanita usia di atas 35 tahun, yang memiliki risiko kanker sedikit lebih tinggi.

Jika diagnosis yang dihasilkan adalah kanker indung telur, maka dokter akan menggunakan hasil tes diagnosis untuk menentukan apakah kanker sudah menyebar ke luar ovarium. Jika demikian, dokter juga akan menentukan melalui tes seberapa jauh penyebaran telah terjadi. Prosedur diagnosis ini dikenal sebagai stagging (menentukan stadium). Ini membantu dokter merencanakan terapi bagi pasien.

Bagaimana Kista dan Tumor Indung Telur Diobati?

Kebanyakan kista ovarium akan menghilang dengan sendirinya (dalam pengertian tidak memerlukan pengobatan baik secara medis ataupun alternatif). Jika Anda tidak memiliki gejala-gejala yang mengganggu, khususnya jika Anda belum melewati masa menopause, dokter anda mungkin akan menyarankan “menunggu dan mengawasi”. Dokter tidak akan memberikan pengobatan/obat. Namun dokter akan memeriksa kondisi anda setiap satu hingga tiga bulan untuk melihat apakah terdapat perubahan pada kista.

Pil KB dapat mengurangi nyeri yang dihasilkan kista ovarium. Pil KB mencegah terjadi ovulasi, yang mengurangi kemungkinan terbentuknya kista-kista baru.

Pembedahan adalah pilihan jika kista tidak menghilang dengan sendiri, semakin tumbuh besar atau menyebabkan nyeri luar biasa bagi anda. Terdapat dua tipe pembedahan:

  • Laparoskopi menggunakan irisan yang kecil dan instrumen kecil menyerupai teleskop. Instrumen ini akan dimasukkan ke dalam perut untuk mengambil kista. Teknik ini bekerja untuk kista ukuran kecil.
  • Laparotomi melibatkan irisan yang lebih besar pada perut. Dokter akan lebih memilih teknik untuk kasus kista atau tumor berukuran besar. Jika pertumbuhannya bersifat ganas, dokter bedah akan mengambil jaringan kanker sebanyak mungkin yang bisa diambil. Ini disebut dengan debulking. Bergantung pada sebarapa jauh tumor telah menyebar, dokter bedah juga dapat mengambil indung telur, rahim, tuba fallopi, omentum – jaringan lemak yang melapisi usus kecil – dan juga nodus limfa terdekat.

Beberapa terapi lain untuk kasus keganasan (kanker) ovarium termasuk:

  • Kemoterapi – obat-obat diberikan melalui vena (IV), melalui mulut (diminum) atau secara langsung ke dalam perut untuk membunuh sel-sel kanker. Karena mereka juga dapat membunuh sel normal selain sel kanker, maka kemoterapi juga dapat memiliki efek-efek samping, termasuk mual dan muntah, rambut rontok, kerusakan ginjal, dan peningkatan risiko infeksi. Efek samping ini akan berkurang/menghilang setelah terapi usai.
  • Radiasi – sinar-X berenergi tinggi dapat membunuh atau mengecilkan sel kanker. Radiasi dapat dihantarkan melalui luar tubuh atau ditempatkan di dalam tubuh di dekat jaringan tumor. Terapi ini juga dapat menimbulkan efek samping seperti kulit kemerahan, mual, diare dan kelelahan. Radiasi tidak cukup sering digunakan untuk menangani kanker indung telur.

Bedah, kemoterapi, dan radiasi bisa diberikan secara tersendiri atau bersamaan. Dan terdapat kemungkinan kekambuhan pada kasus kanker ovarium. Jika itu terjadi, Anda mungkin akan memerlukan pembedahan lagi, terkadang dipadukan dengan kemoterapi dan radiasi.

 

Video edukasi Kista Ovari (dalam bahasa Inggris)

Diadaptasi dari Ovarian Cyst and Tumor oleh WebMD.