Siapa yang tidak tahu kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis), salah satu bunga yang cukup sering kita temukan di mana-mana. Namun mungkin sekarang sudah semakin jarang seiring banyaknya bangunan modern. Di desa saya dulu, dan termasuk rumah saya, kami memagari pekarangan tidak dengan tembok namun dengan menggunakan kembang sepatu – mereka dapat tumbuh lebat dan mudah diatur. Jika perawatannya bagus, justru akan tampak seperti pagar vila mewah.

Sehingga jamak banyak orang menggunakan kembang sepatu sebagai tanaman hias pembatas. Daunnya yang hijau pekat namun terang, memberikan kesan asri, dan bunganya yang indah – meski tidak harum – memberikan kesan kenyamanan yang meneduhkan.

Mungkin kembang sepatu bukanlah bunga favorit saya, namun karena kedekatan tamanan ini dengan kami anak-anak desa tempo dulu, saya memiliki kesan mendalam akannya. Di luar konteks bahwa kembang sepatu adalah bunga nasionalnya negara Malaysia, saya rasa saya masih bisa bernostalgia menemukan banyak kembang sepatu di sekitar lingkungan saya.

Kembang Sepatu

Sebuah kembang sepatu, aslinya berwaran peralihan dengan pinggiran putih dan tengah merah muda.

Saat kecil, kami sering menggunakan daun kembang sepatu sebagai salah satu bahan ramuan tradisional untuk membuat gelembung tiup. Setiap orang memiliki komposisi rahasianya, sebuah formula yang dicampurkan dari sabun colek yang masih populer di masa itu.

Kembang sepatu, meski mungkin dinamakan demikian karena bisa digunakan untuk menyemir sepatu. Juga dikenal sebagai salah satu tanaman obat di nusantara. Anda bisa menemukan banyak tulisan tentang hal ini. Saya dengar daunnya secara tradisional digunakan sebagai obat demam, batuk bahkan sariawan. Ekstrak etanolik bunga kembang sepatu dapat menurunkan kolesterol total dan trigliserida, termasuk menurunkan gula darah – ahli farmasi di bidang obat-obatan herbal mungkin dapat membantu menjelaskan ini lebih terinci.

Di sisi budaya, terutama di daerah saya, bunganya digunakan sebagai aksesori dalam banyak sisi. Disebut sebagai pucuk bang, kembang sepatu biasanya diletakkan sebagai penghias mahkota (gelung). Termasuk sebagai hiasan pada pelbagai tempat suci seperti Pura, namun tidak digunakan sebagai bunga persembahan – seingat saya ada ketentuan yang sebaiknya menghindari bunga dengan tangkai putik yang tampak untuk dijadikan bunga persembahan pada masyarakat Hindu di Bali.