Petang tadi saya mendapatkan sebuah pertanyaan di salah satu jejaring sosial tentang balita yang mengalami step (kejang), kemudian kehilangan kemampuan bicaranya hingga saat ini setelah beberapa tahun berlalu. Apa yang sebenarnya terjadi pada anak tersebut?

Saya tahu bahwa kejang bisa cukup umum terjadi pada anak, apalagi balita – meski bisa jadi bukan sesuatu yang selalu berakhir dengan baik. Namun kejang yang kemudian menimbulkan kehilangan kemampuan berbicara (afasia) permanen, tentulah bukan kondisi yang umum. Saya sendiri tidak pernah menemukannya secara langsung sampai saat ini.

Dalam referensi saya, jika tidak banyak keterangan lain, maka ada sebuah kondisi yang menggambarkan ini, disebut dengan afasia epilektikus yang didapat, atau lebih dikenal sebagai Sindrom Landau-Kleffner.

Kondisi ini cukup langka. Dan tidak banyak saya temukan penjelasan tentangnya.

Acquired epileptic aphasia (AEA) typically develops in healthy children who acutely or progressively lose receptive and expressive language ability coincident with the appearance of paroxysmal electroencephalographic (EEG) changes. In 1957, Landau and Kleffner initially described acquired epileptic aphasia and subsequently reluctantly agreed to the attachment of their names to the syndrome. In this article, acquired epileptic aphasia is used as a synonym for Landau-Kleffner syndrome (LKS). [Emedicine].

Jadi jika merujuk pada deskripsi tersebut, kejadian ini muncul pada anak yang awalnya sehat lalu kehilangan kemampuan bahasa reseptif dan ekspresifnya baik secara akut ataupun bertahap, dan secara bersamaan tampak perubahaan rekam gelombang otak paroksismal.

Tidak jelas sampai saat ini apa yang menyebabkan timbulnya Sindrom Landau-Kleffnel ini, beberapa teori terkait penyakit tertentu seperti tumor ringan, neurosistiserkosis, penyakit demielinisasi, dan sebagainya telah diajukan atau ditemukana ada bersamaan dengan afasia ini, namun tetap saja belum menjelaskan dengan baik.

Jumlah kasusnya sendiri tidak banyak, mungkin sekitar 100 kasus yang tercatat dalam 10 tahun.

Oleh karena belum adanya keseragaman diagnosis di pelbagai instalasi kesehatan, kasus seperti juga cukup sulit terlacak. Umumnya terjadi pada anak-anak usia antara 3 hingga 8 tahun. Anak biasanya telah belajar berbicara dan berkomunikasi secara normal sesuai usianya, namun kemampuan itu mengalami regresi dan bisa jadi permanen. Kehilangan pemahaman akan bahasa dan kemampuan mereka berbicara menjadi sesuatu yang kentara. Karena belum ada penelitian yang menyeluruh, sulit menjelaskan kasus ini lebih lengkap lagi.

Permasalahan yang dominan dihadapi umumnya jika munculnya kondisi epilepsi kembali, dan kemampuan komunikasi yang sulit.

Saran yang dapat diberikan saat ini adalah, jika Anda menemukan kasus seperti ini di mana anak kecil/balita mengalami kejang, kemudian setelah sadar kehilangan kemampuan berbicara/berbahasa, maka segera bawa ke dokter terdekat, dokter ahli anak, atau ahli neurologi (saraf) anak, dan jika terjangkau dari daerah Anda – bawa langsung ke pusat neurologi anak.