Anda mungkin pernah mendengar tentang tes sperma atau analisis cairan semen yang merupakan  sebuah tes untuk menguji/mengukur kuantitas (jumlah) dan kualitas sperma dan cairan semen seorang laki-laki. Semen yang dimaksud di sini adalah cairan putih, kental dan mengandung sperma yang dikeluarkan ketika ejakulasi.

Tes ini memiliki banyak nama seperti hitung sperma, analisis sperma, tes sperma, analisis cairan seminalis, dan lain sebagainya. Namun pada prinsipnya adalah tes yang serupa. Jadi mari kita lihat sekilas tentang pemeriksaan yang satu ini, apa dan bagaimana tes ini bermanfaat bagi kita.

Anda mungkin bertanya-tanya, mengapa seseorang menjalani pemeriksaan cairan semen? Hal ini biasanya ditujukan untuk mempelajari tentang kondisi kesehatan organ-organ reproduksi, khususnya jika pasangan/istri Anda mengalami kesulitan untuk hamil. Atau setelah Anda menjalani vasektomi dan ingin melihat apakah operasi tersebut berhasil atau tidak.

Jadi biasanya Anda akan mengikuti tes sperma jika mengeluhkan kesulitan mendapatkan momongan atau pasca menjalani vasektomi.

Biasanya contoh cairan semen yang diperlukan harus steril, sehingga penting bagi Anda untuk mengikuti petunjuk yang diberikan oleh pihak laboratorium sebelum menyerahkan sampel cairan semen Anda.

Semen yang dihasilkan oleh sejumlah kelenjar, umumnya kental saat ejakulasi dan mulai menjadi lebih encer dalam 10 hingga 30 menit. Sperma adalah sel reproduksi yang terdapat di dalam semen yang memiliki kepala dan ekor.

Setiap sperma mengandung satu salinan dari setiap kromosom (semua dari gen laki-laki). Sperma dapat berpindah tempat (memiliki motilitas), normalnya bergerak maju di dalam cairan semen. Di dalam rahim perempuan, sifat ini memungkinkan mereka bergerak maju dan membuahi sel telur. Dalam setiap sampel semen, terdapat jutaan sperma dengan karakteristik jumlah garam penyangga, fruktosa, substansi penjendalan, pelumas, dan enzim yang ditujukan untuk mendukung sperma dalam upaya pembuahan.

Sejumlah tes yang diujikan pada cairan semen adalah:

  • Volume semen, biasa 1,0 – 6,5 mL adalah normal, namun WHO mewanti bahwa nilai 1,5 mL adalah batas bawah. Volume rendah dapat bermakna adalah sumbatan (sebagian ataupun total) pada vesika seminalis, atau seseorang lahir tanpa memiliki vesika seminalis.
  • Konsistensi (kekentalan) semen.
  • Densitas (konsentrasi) sperma, sekitar di atas 15 juta sperma untuk setiap mililiter semen akan dianggap normal.
  • Jumlah total sperma, dikenal juga sebagai total sperm count, adalah jumlah total sperma yang dikeluarkan dalam sekali ejakulasi, nilai terendahnya adalah 39 juta per ejakulasi (persentil ke-2,5).
  • Motalitas sperma, adalah nilai pergerakan sperma, dan 60% ke atas harus memiliki motilitas yang baik (nilai A) dengan bergerak progresif/maju, motilitas kurang baik dilihat jika bergerak namun cenderung membentuk kurva/melingkar (nilai B), tidak progresif meski ekor tampak bergerak (nilai C), dan tidak motil sama sekali (nilai D).
  • Jumlah sperma yang normal dan terganggu, atau morfologi sperma, sudah dianggap baik jika 4% atau lebih dari sperma yang diamati memiliki morfologi yang normal.
  • Koagulasi dan likuifaksi, cairan semen umumnya menjadi lebih encer sekitar 20 menit pasca ejakulasi, beberapa memberi batasan hingga 60 menit dalam suhu ruangan. Namun jika tidak terjadi, maka kemungkinan kecurigaan adanya infeksi bisa ditelusuri.
  • Fruktosa, kadar fruktosa (zat gula) pada semen normalnya sekitarnya 13 mikromol per liter.
  • Keasaman (pH), menurut kriteria WHO adalah sekitar 7,2-7,8.
  • Tambahan pemeriksaan lainnya termasuk jumlah sperma yang belum dewasa, atau ada tidaknya darah pada semen.

Tes-tes lebih rumit mungkin diperlukan untuk keperluan yang lebih spesifik. Misalnya pasangan yang hendak hamil kemudian dari sel sperma yang ada saat ini bisa melakukan tes yang disebut cyrosurvival untuk melihat apakah semen dapat bertahan hidup jika disimpan dalam jangka waktu yang cukup lama. Tes fungsi sperma mungkin dilakukan jika hendak menjalani kehamilan yang dibantu dengan teknologi pembuahan in vitro.

Analisis Sperma

Secara umum pengambilan sampel semen biasanya dilakukan di laboratorium karena sampel harus diperiksa dalam kurun waktu kurang dari satu jam. Biasanya tempat khusus yang privat disediakan untuk klien mengumpulkan sampel semen pada wadah terbuka yang steril dengan masturbasi, jika tidak tersedia, toilet yang bersih dapat digunakan sebagai ruangan pengambilan sampel.

Jika Anda memiliki pandangan sendiri atau permintaan lain akan teknik pengambilan sampel, dapat berkonsultasi dengan dokter di laboratorium untuk teknik alternatif yang sesuai bagi Anda. Misalnya dikarenakan pandangan religius/agama, maka tidak dimungkinkan bagi Anda melakukan masturbasi dan sebagainya – maka silakan konsultasikan dengan dokter Anda.

Sebaiknya sebelum memberikan sampel semen untuk diperiksa, tubuh diberikan kesempatan untuk membuat kembali sel-sel sperma, sehingga disarankan untuk abstein atau puasa ejakulasi (baik dari masturbasi ataupun hubungan seksual) dua hingga empat hari sebelum pengambilan sampel.

Ketika dokter mengevaluasi kesuburan seorang laki-laki, setiap aspek dari analisis semen dipertimbangkan, sebagaimana juga melihat seluruh aspek tersebut sebagai sebuah kesatuan. Setiap aspek analisis dapat menyumbang pada penilaian kesuburan, namun hasilnya tidak selalu penting untuk menentukan hasil sesungguhnya. Dalam makna lain, pasangan yang memiliki hasil buruk dalam analisis semen masih dapat melakukan pembuahan, dengan ataupun tanpa bantuan, dan mereka yang memiliki hasil yang baik dapat juga mengalami kesulitan.

Sejumlah faktor dapat mempengaruhi hitung sperma dan nilai analisis cairan semen yang lainnya. Seorang laki-laki dapat memiliki hitung jumlah sperma yang rendah jika mengalami kerusakan fisik pada testikelnya, misalnya pasca menjalani terapi radiasi pada testikel, atau terpapar obat-obatan tertentu (seperti azathioperine atau cimetidine). Laki-laki yang memiliki kadar estrogen tinggi juga dapat memiliki hitung sperma yang rendah.

Beberapa penyebab umum infertilias (ketidaksuburan) pada laki-laki adalah demam tinggi yang ekstrim, kegagalan testikel, hambatan/obstruksi pada saluran semen, dan jumlah sperma yang rendah saat ejakulasi (oligospermia). Alkohol dan tembakau (rokok) juga dapat mempengaruhi kesuburan seorang laki-laki.

Jika Anda dan pasangan Anda sulit memiliki keturanan, maka tes kesuburan yang pertama disarankan adalah tes sperma ini. Karena lebih mudah, cepat, tidak invasif, tanpa risiko dan murah. Jika tes menunjukkan hasil baik, maka tes pada pasangan perempuan bisa dipertimbangkan kemudian.