Dalam buku kedokteran modern, ada dua terminologi yang terkait atau dialihbahasakan sebagai kejang, kejang dikenal sebagai seizures dan convulsion. Perbedaannya adalah seizures merujuk pada temuan-temuan fisik atau perubahan pola laku yang terjadi pasca aktivitas kelistrikan yang abnormal pada otak. Sedangkan convulsion merujuk pada keadaan ketika tubuh seseorang bergetar secara cepat dan tidak terkontrol, hal ini terbentuk dari otot-otot yang berkontraksi dan berelaksasi bergilir dengan cepatnya.

Di Indonesia, kejang digunakan sebagai terminologi yang umum untuk kedua hal tersebut, selain itu dikenal juga sebagai di beberapa daerah sebagai step/stuip. Ada beberapa jenis kejang. Beberapa mungkin dengan gejala yang ringan atau tanpa tubuh yang bergetar.

Pertimbangan

Kadang sulit mengetahui seseorang sedang mengalami kejang. Beberapa orang mungkin hanya mengalami apa yang disebut “staring spells” – kadang hanya muncul ke permukaan sebagai tatapan yang kosong, pingsan, gerak tubuh atau bola mata yang tidak wajar; sehingga sering disebut atypical absence – tampak tidak ada tanda. Hal ini membuat kejang sering lewat tanpa disadari.

Gejala-gejala spesifik yang muncul umumnya bergantung pada bagian otak mana yang terlibat. Mereka dapat muncul secara tiba-tiba dan dapat termasuk:

  • Hilang kesadaran diikuti oleh periode kebingungan (orang tidak dapat mengingat jangka waktu tertentu)
  • Perubahan tingkah laku, misalnya saat mengambil pakaiannya
  • Berliur atau berbusa dari mulut
  • Gerakan bola mata
  • Mendengkur dan mendengus
  • Kehilangan kontrol kandung kemih dan usus
  • Perubahan gairah seperti mendadak marah, takut yang tidak terjelaskan, panik, atau tertawa
  • Bergetar seluruh badan
  • Tiba-tiba terjatuh
  • Mengecap rasa pahit atau seperti logam
  • Menggertakkan geligi
  • Napas tertahan sementara
  • Kejang otot yang tidak terkontrol dengan mengedutkan atau menyentakkan anggota badan.

Gejala dapat berhenti setelah beberapa detik atau menit, namun masih dapat bertahan hingga 15 menit. Dan sangat jarang berlangsung lebih lama.

Seseorang mungkin mendapatkan beberapa gejala peringatan sebelum serangan, seperti:

  • Takut atau cemas
  • Mual
  • Pusing berputar (vertigo)
  • Gejala visual (seperti ada paparan cahaya yang terang, bintik, atau garis-garis berombak di depan mata).

Penyebab

Kejang diakibatkan oleh semua jenis aktivitas listrik yang tiba-tiba atau tidak teratur pada otak.

Beberapa penyebab kejang termasuk:

  • Kadar sodium atau glukosa yang tidak normal pada darah
  • Infeksi otak, termasuk meningitis
  • Cedera otak yang terjadi pada bayi ketika kelahirannya
  • Masalah-masalah otak yang terjadi sebelum kelahiran (kondisi abnormalitas otak secara kongenital)
  • Tumor otak (jarang)
  • Tersedak
  • Penyalahgunaan obat
  • Narkotika, seperti PCP, kokain, amfetamin
  • Sengatan listrik
  • Epilepsi
  • Demam (umumnya pada anak yang kecil)
  • Demam tinggi
  • Cedera kepala
  • Penyakit jantung
  • Kepanasan (tidak tahan panas)
  • Kegagalan ginjal atau hati
  • Gula darah rendah
  • Fenilketonuria (PKU), biasanya menyebabkan kejang pada anak.
  • Keracunan
  • Stroke
  • Toxemia Kehamilan
  • Uremia (biasanya karena gagal ginjal)
  • Tekanan darah yang sangat tinggi
  • Sengatan atau patukan berbisa (misalnya bisa ular).

Kadang sejumlah kejang tidak dapat diidentifikasi penyebabnya. Ini disebut sebagai idiopathic seizure. Mereka biasanya tampak pada anak dan dewasa muda, namun bisa terjadi pada setiap usia. Mungkin juga terdapat riwayat keluarga akan epilepsi atau kejang.

Jika kejang tetap berlangsung berulang setelah penyebab yang mendasari terobati, maka ini disebut dengan epilepsi.

Perawatan Rumah

Kebanyakan kejang berhenti dengan sendirinya. Namun, penderita masih dapat terluka atau cedera selama terjadinya kejang. Sehingga ketika terjadi kejang maka prioritasnya adalah mencegah penderita dari terluka dan cedera.

  • Untuk mencegah jatuh, baringkan penderita pada tempat datar yang aman; jauhkan dari berbagai perabot rumah tangga dan benda tajam.
  • Beri bantalan pada kepala penderita.
  • Longgarkan pakaian yang ketat, terutama di sekitar leher penderita.
  • Rebahkan penderita ke salah satu sisi tubuhnya. Jika terjadi muntah, ini membantu agar muntahan tidak membuat tersedak dan masuk ke paru.
  • Dampingi sampai penderita pulih atau bantuan medis tiba.

Ada baiknya jika penderita kejang disertakan gelang penanda medis bahwa dia adalah penderita kejang. Jika bayi atau anak mengalami kejang karena demam tinggi, turunkan suhu badangnya menggunakan air hangat secara perlahan-lahan. Jangan kompres atau rendam anak dengan air dingin. Anda bisa memberikan anak acetaminofen setelah sadar, khususnya ketika anak memiliki riwayat kejang demam sebelumnya.

Kapan Menghubungi Petugas Medis

Anda perlu menghubungi petugas medis atau membawa penderita kejang ke instalasi pertolongan medis jika:

  • Ini adalah kali pertama seseorang menderita kejang.
  • Kejang yang bertahan 2 – 5 menit.
  • Penderita tidak tersadar atau memiliki perilaku normal kembali pasca kejang.
  • Kejang lain muncul segera setelah kejang awal berhenti.
  • Penderita mengalami kejang di dalam air.
  • Penderita sedang hamil, mengalami perlukaan, atau menderita diabetes.
  • Penderita tidak memiliki pengenal medis (berisi instruksi apa yang harus dilakukan seseorang jika menemukan penderita sedang mengalami kejang).
  • Ada yang berbeda dengan kejang yang dialami penderita daripada kejang-kejang yang biasa dialaminya.

Laporkan semua kejang pada petugas medis di pusat layanan kesehatan. Dokter mungkin perlu melakukan penyesuaian terhadap pengobatan.

Ketika Berkunjung Ke Pusat Kesehatan

Penderita yang mengalami kejang baru atau parah biasanya ada di ruang gawat darurat. Penyedia layanan kesehatan akan berusaha mendiagnosis jenis kejang berdasarkan gejalanya.

Sejumlah tes akan dilakukan untuk menentukan kondisi medis yang menyebabkan kejang atau gejala serupa. Ini termasuk pingsan, serangan iskemia transien (TIA) atau stroke, serangan panik, nyeri kepala migrain, gangguan tidur, dan lainnya.

Tes bisa saja termasuk:

  • Tes darah
  • Radiologi kepala (CT-Scan dan/atau MRI)
  • EEG (biasanya tidak di ruang gawat darurat)
  • Pungsi lumbal

Lebih banyak tes akan diperlukan jika merupakan kejang yang baru tanpa penyebab jelas. Epilepsi (memastikan apakah penderita mendapatkan pengobatan yang berkecukupan).

Kejang tunggal yang diakibatkan oleh sebab yang jelas (misalnya obat tertentu) diobati dengan cara menghilangkan dan menghindari pemicunya.

Pencegahan

Tidak ada cara spesifik untuk mencegah semua jenis kejang. Namun tips berikut mungkin akan membantu mengontrol beberapa di antaranya:

Selalu meminum obat sesuai anjuran dokter. Anggota keluarga turut mengamati dan mencatat informasi kejang untuk memastikan penderita mendapatkan perawatan yang layak.

Istirahat yang cukup, tidur yang berkualitas, kurangi stres, berolahraga yang teratur, dan makan makanan dengan nutrisi seimbang. Kurangnya kebiasaan hidup sehat akan cenderung membuat serangan kejang lebih banyak terjadi.

Bagi mereka yang belum pernah mengalami kejang, hindari penggunaan obat-obatan terlarang, kurangi konsumsi alkohol, dan selalu lindungi diri dengan helm standar saat berkendara. Ini akan melindungi diri dari potensi timbulnya kejang.

Jika Anda ingin menyaksikan video tentang penjelasan kejang dari ahli neurologi anak, silakan menyimak runutan video “Seizures and Epilepsy in Children“. Tulisan ini saya adaptasikan dari MedlinePlus, silakan menelusuri sumber aslinya untuk mendapatkan pembaruan informasi.