Songbird 2 Masih Pilihan

Untuk pemutar musik, saya masih menggunakan Songbird yang sekarang sudah memasuki versi 2. Tentu saja dalam hal ini adalah menggunakan Windows, untuk Linux saya belum mencoba percabangan Nightingale-nya, sudah cukup puas dengan Banshee saat ini.

Saya merasa cocok saja menggunakan Songbird 2 saat ini, hanya saja warnanya sistemnya yang mengandung unsur abu-abu lembut dan merah nila itu membuat serasa berhadapan dengan sistem indigo. Saya memang tidak memanfaatkan tampilan, mau mendesain sendiri dengan GIMP, tapi yang terbentur kemampuan juga.

Benar-benar nyaman untuk mendengarkan lagu-lagu kualitas tinggi dengan bentuk FLAC atau WMA yang masih dienkripsi keamanannya. He he…, mungkin karena saya pelit membagi lagu pada orang lain, apalagi beli CD Audio aslinya tidak pernah mendapatkan harga murah.

Songbird 2.0 – Pemutar Musik untuk Windows.

Dukungan bahasa Indonesia juga cukup baik, dan tentu saja yang saya perlukan adalah sinkronisasi dengan Last.fm. Beberapa hal mempermudah saya menggunakan Songbird, meski tidak semua saya manfaatkan, misalnya mengunduh MP3 – saya tidak gunakan.

Tidak hanya pada Windows, saya juga menggunakan Songbird pada tablet Android, dan cukup memuaskan. Hanya saja bedanya pada Android 2.3, belum ada dukungan untuk berkas FLAC, sehingga kualitas suara harus diturunkan ke tingkat OGG atau MP3.

Songbird sebagaimana halnya dengan sejumlah pemutar musik lain seperti Winamp, bisa diunduh secara gratis. Anda bisa mendapatkannya di Filehippo – Songbird. Sebagai pemutar musik dan pengelola berkas musikal, saya kira aplikasi ini cukup memenuhi syarat penggunaan sehari-hari. Jika memerlukan fungsi tambahan, bisa menggunakan pengaya (plugin) yang disediakan, misalnya untuk mengunduh lirik lagu atau gambar album – tentu saja koneksi Internet diperlukan guna memasang dan/atau menggunakan pengaya.

  • Applaus Romanus

    layoutnya mirip iTunes ya…. bagus…

    • http://cahya.legawa.com Cahya

      Sepertinya antarmuka grafis yang digunakan pemutar media saat ini memang mirip semua, kecuali yang ditambahkan “kulit”.

  • alief

    saya sdah terlalu lama tidak make song bird bli. terakhir make bebebrapa tan yang lalu

    • http://cahya.legawa.com Cahya

      Sekarang pakai apa Mas Alief? Winamp atau Windows Media Player?

  • http://jarwadi.wordpress.com/ jarwadi

    kalau saya kok seneng ya dengan tampilan dan warna song bird, meski saya tidak memakai song bird untuk pemutar lagu saya :)

    • http://cahya.legawa.com Cahya

      Karena Pak Jarwadi penggemar Chromium, warna dan antarmuka-nya memang sesuai dengan turunan Chromium :).

  • MelvinAM

    ngomong-ngomong tentang songbird, katanya songbird bisa di jadikan web browser. kalau saya masih senang dengan clementine (di windows). memang agak sedikit aneh mengingat clementine itu audio player yang cukup terkenal di kalangan pengguna linux (bukan windows).

    • http://cahya.legawa.com Cahya

      Bisa Melvin, Songbird punya peramban sendiri di dalamnya, tapi ya paling untuk keperluan di dalam Songbird itu sendiri – kalau mau berselancar di Internet, peramban independen lebih enak di-pakai. Saya tidak tahu mesinnya pakai apa, tapi mengingatkan saya dengan Sea Monkey dari komunitas Mozilla.

      Hmm…, Clementine saya jarang sekali mencobanya, mungkin dulu sih bersama dengan XMMS atau sejenisnya. Kalau memang sudah betah, mau digunakan di Linux atau di Windows akan tetap nyaman, soalnya kita terbiasa dengan antarmuka grafisnya.

  • Andrean Saputro

    Dari dulu kenal AIMP, saya tak mau beranjak. Selain itu, terkadang saya memakai iTunes untuk memutar file MP3 dan synching iPod. Di Ubuntu memang saat ini sudah merasa nyaman dengan Banshee. Tapi disayangkan, iTunes tidak bisa berjalan di Ubuntu jadi harus bolak-balik OS hanya untuk menyematkan MP3 baru ke dalam iPod :(

    • http://cahya.legawa.com Cahya

      Bukannya Banshee bisa untuk iPod ya? Saya memang tidak pernah mencoba sih. Karena pilihan Linux kan lebih pada berkas format terbuka, jadi daripada MP3, lebih disarankan menggunakan OGG vorbis di Linux – CMIIW.