Ini bukanlah sebuah ulasan (review) untuk tablet android, namun sedikit komentar saja. Saya baru saja menggantikan BlackBerry Odin dengan Tablet Android ZTE Light Tab 2 V9A. Dengan ini berarti semua layanan BlackBerry, terutama BlackBerry Messenger saya dihentikan.

Sebenarnya bukan komputer tablet yang satu ini yang hendak saya beli. Namun Tabulet Troy 2, karena saya mencari fiturnya. Sayang, di daerah saya tampaknya susah sekali mendapatkan Tabulet Troy 2 ini, bahkan setelah mengunjungi dua toko agen penjual resminya di dua kabupaten – tetap saja sia-sia. Akhirnya, saya memutuskan membeli yang satu ini.

ZTE memang bukan pemain baru di bidang teknologi informasi, khususnya untuk periferal. Saya punya modem ZTE (dulu), ponsel ZTE (dulu), dan semuanya termasuk dalam kategori awet. Jadi saya mencoba saja sebuah tablet Android yang memang berada dalam batas anggaran saya.

Tampilan layar depan tablet Android: ZTE Light Tab 2 V9A. Gambar diambil dengan kamera BlackBerry Odin – resolusi sedang.

Pertimbangan saya untuk tablet Android adalah digunakan saat kerja, jadi aksesoris mungkin tidak akan terlalu dipentingankan di sini.

ZTE Light Tab 2 V9A menggunakan sistem operasi Android 2.3.5 GingerBread (dikatakan dapat ditingkatnya menjadi Android 4.0 Ice Cream Sandwich), dengan prosesor Scorpion (Adreno 205) pada chipset Qualcomm Snapdragon MSM8255 berkecepatan 1,4 GHz dan RAM 512 MB. ROM-nya sebesar 4 GB, bonus bawaan microSDHC 4 GB (bisa diganti dengan kapasitas hingga 32 GB).

Layar sentuh kapitatif 7 inci beresolusi 1024×600 piksel, lumayan jernih, namun tanpa anti-glare sulit membuat kita melihat di bawah pencahayaan. Dan saya rasa layar sentuhnya tidak anti gores, sebagaimana yang dimiliki tablet atau ponsel layar sentuh kelas tinggi.

Saya menggunakannya untuk kartu IM3 saya, karena mendukung GSM/GPRS (850/900/1800/1900MHz) dan 3G/HSPA (850/900/2100/1900 Mhz; kecepatan HSDPA: 14.4Mbps HSUPA: 5.76Mbps). Meskipun belum mendukung teknologi 4G, ini sudah tampak menggiurkan, hanya saja jika mau digunakan semua – tentu saja akan sangat mahal. Saya rasa tidak ada layanan data 3G yang cukup murah saat ini untuk paket unlimited-nya.

Jika saat ini ingin layanan yang murah untuk Internet sepanjang waktu-nya, maka CDMA/EVDO seperti milik Smartfren masih menjadi pilihan saya. Sehingga peluncuran Smartfren Andro Tab kemarin cukup menarik minat saya, hanya saja sayang – tidak ada di Bali sementara ini. Pun demikian, saya masih menggunakan Smartfren untuk sebagian besar layanan Internet pada tablet Android ini, tentunya dengan memanfaatkan jaringan WiFi yang saya bangun dengan modem router. Dan ZTE Light Tab 2 V9A ini juga dilengkapi dengan konektitivitas WiFi 802.11b/g/n.

Fitur multimedia yang dibawa termasuk standar. kecuali Dolby Surround yang dibawanya. Ini pun belum sempat saya uji, karena belum ada berkas untuk mengujinya. Kameranya 3 MP (dengan WebCam 0,3 MP), cukuplah, meskipun tanpa auto-focus dan tanpa lampu kilat. Perlu pencahayaan yang baik untuk memanfaatkan kameranya.

Hasil foto luar ruangan dengan kamera 3 MP.

Selain porta untuk miniUSB (daya dan sambungan ke komputer) serta porta untuk earphone, saya tidak melihat lagi ada fungsi untuk yang lainnya. Jadi tidak ada pembaca kandar eksternal ataupun penampil ke layar luar.

Karena perangkat ini sudah tersertifikasi, jadi legal digunakan. Termasuk aplikasi Google Play yang ada di dalamnya. Mendapatkan aplikasi lainnya lumayan mudah, apalagi dengan ROM 4GB, cukuplah saya rasa untuk menuntaskan aktivitas sehari-hari.

Yang tidak begitu saya suka dari tablet Android ini adalah kadang suka “lag”, tapi secara umum lumayan lancar dan responsif. Keyboard XT9-nya yang membawa predictive text tidak menyenangkan, saya harus menggantinya dengan aplikasi keyboard lain yang lebih nyaman.

Saya mencoba sejumlah aplikasi standar seperti Email (Yahoo, Hotmail, Gmail dan bawaan), GPS (Latitude, Foursquare), Kamera (Instagram), Peramban (Opera Mini, bawaan + Adobe Flash), SMS, Telepon, Jejaring Sosial (Blogger, Facebook, Twitter, WordPress), Permainan (Angry Birds Space, Ninja Fruit). Semua aplikasi tersebut dapat berjalan dengan sangat baik.

Untuk sebuah komputer tablet buatan Cina, ini bisa dikatakan cukup bagus. Fiturnya memang minimal, namun pas untuk digunakan mengerjakan hal-hal sederhana dan tidak terlampau mahal. Kinerja keseluruhannya tidak berani saya katakan bagus, karena jika memandingkan dengan tablet kelas atas keluaran Apple, Samsung, Asus, atau Dell, mungkin rasanya akan jauh sekali kualitasnya. Baterainya cukup tahan lama, namun tidak berarti menjamin kualitasnya baik.

Jika Anda tidak menuntut banyak, ZTE V9A Light Tab 2 bisa saya rekomendasikan sejajar dengan Tabulet Octa (series). Namun jika tidak memerlukan fitur telepon dan SMS (pesan pendek), mungkin sekelas Tabulet Beat 2 bisa dipertimbangkan.

Beberapa temuan saya untuk penggunaan tablet ini bisa dirangkum sebagai berikut:

  • Meski dikatakan memiliki prosesor 1,4 GHz dan RAM 512 MB, namun Go Task Manager menunjukkan 1 GHz dan 333 MB. Saya tidak tahu apakah ini wajar pada sistem Android. Karena pada Linux secara umum bisa saja demikian, tapi masih bisa terlacak seharusnya.
  • Waktu pengisian baterai lumayan cepat 1 – 2 jam, dan pada kondisi 100% bisa bertahan untuk jangka waktu 15 jam. Sedangkan jika digunakan terus menerus secara aktif, maka bisa bertahan hingga 5 jam. Saya rasa ponsel cerdas pun memiliki daya tahan baterai yang setara.
  • Tombol power lokasinya di sudut kanan atas (portrait), kadang tertutup oleh pelindung. Dan saat membangunkan sistem yang lama tidak digunakan (idle), perlu waktu cukup lama untuk menampilkan layar kunci, ini menyebabkan saya sering merasa bahwa saya menekan tombol power tidak cukup kuat.