Belakangan ini saya menemukan banyak sekali bengkalaian yang berceceran di dalam jadwal saya. Mulai dari tulisan jurnalisme warga di salah satu media daring lokal yang berlum selesai, jatah terjemahan dokumentasi yang menumpuk, belum lagi daftar bacaan yang mesti diselesaikan. Sementara itu saya sering menemukan diri saya terdampar di banyak kesibukan lain yang kadang secara tiba-tiba menculik waktu saya sedemikian hingga tidak bisa berkata tidak.

Saya merasa seperti sebuah rumah tua yang runtuh, atapnya tak lagi mampu menaungi idealisme yang terlelap menunggu secercah mentari saat kegelapan masih mengampar merdu di sekitarnya. Dinding-dindingnya telah rubuh, memperlihatkan dunia yang senyatanya tak pelak penuh dengan tipu daya dan kepura-puraan sementara realita yang datang untuk mengetuk pintu tak dapat berbuat banyak – karena pintu itu sudah tidak di sana lagi.

Ah, saya terhimpit bengkalai, bahkan begitu sesak sehingga tidak ada ruang guna menyimpan waktu yang sewaktu-waktu dapat digadaikan demi sehirup napas yang serasa semakin mahal.

Lake Bonney Hotel Ruins, South Australia :: HDR

Duhai Gusti Ruang lan Gusti Waktu, penguasa jagad dan kala, dermakan setetes senyuman, sehingga terkuak semua yang selama ini terlantunkan dalam gulita. Meski terhimpit bengkalai, akan ada langkah yang senantiasa bergembira.