Brave adalah film animasi terbaru dari Disney dan Pixar yang mengambil latar di era Skotlandia tempo dulu, saat mitos dan legenda dimulai. Karena sejumlah masukkan dari teman-teman di Facebook, saya memilih menonton Brave, sebelumnya ada juga pertimbangan menonton Madagaskar 3. Namun karya Pixar tidak ingin dilewatkan jika bisa.

Sore itu saya datang ke Empire XXI dan memesan tiket 30 menit sebelum pertunjukkan terakhir, rupanya banyak kursi yang kosong. Brave diawali dengan film pendek dari Pixar, dan ini adalah bonus yang tidak ternilai. Kali ini adalah “La Luna” yang saat munculnya perahu kecil itu saya sudah tebersit pemikiran akan “Sang Rembulan”. Film pendek karya Enrico Carsarosa ini memenuhi layar selama hampir 7 menit dengan keajaiban-keajaiban imiganiasinya.

Film ini diawali dengan sederhana, kisah keluarga kerajaan dan Putri Merida kecil yang menjadi tokoh utama sedang berada di tengah hutan ketika hari ulang tahunnya, dan sesuatu yang tidak terduga terjadi di sana. Adegannya lumayan berefek, setidaknya satu orang anak kecil yang duduk di deratan depan berteriak ketakutan.

Poster "Brave" oleh Disney dan Pixar

Cerita kemudian bergerak cepat ke depan ke masa remaja sang Putri yang tampak tumbuh tidak ingin menjadi “seperti Putri”, namun lebih keras kepala dan gemar berpetualang. Terutama memanah dari atas kuda kesayangannya dengan busur yang dihadiahkan sang Raja ketika ia masih kecil dulu. Sisipan musikalitas kualitas Disney sangat terasa di sini, saya jadi begitu menikmatinya, seperti menyaksikan film “Spirit” dulu.

Semua kecerian sang Putri tiba-tiba berubah ketika ia tahu sang Ratu mengadakan perjodohan baginya. Kedua pihak merasa dirinya tidak ada mau didengarkan oleh pihak lainnya. Merida yang begitu marah akhirnya kabur dari istina, dan menemukan dirinya menemukan sebuah “solusi” untuk mengatasi kehidupannya yang ia rasa begitu terkurung tanpa kebebasan. Solusi tersebut adalah “sihir” yang kemudian ia temukan berubah menjadi bencana yang mampu mengancam seluruh kerajaan dan klan yang ada.

Di sinilah Merida harus berpacu dengan waktu dan kesalahpahaman yang bertubi-tubi menjerat pikirannya untuk menyelamatkan semuanya yang ia coba ubah sebelumnya.

Secara keseluruhan, film ini tidak mengambil tema yang baru. Yang agak berbeda mungkin pengambilan karakter wanita sebagai tokoh utama tanpa adanya karakter pria sebagai penyeimbang. Jadi ini bukanlah kisah romantis. Namun demikian, kombinasi antara karakter, latar belakang, musik, jalan cerita, detil semuanya membuat film ini luar biasa. Sebuah kisah monarki yang penuh kekonyolan dengan Putri petualang dan semua aspek yang nyaris tidak bisa lepas satu sama lainnya.

Saya tidak tahu bagaimana mereka membuatnya menjadi mungkin, namun Brave adalah kisah petualangan yang padat, beralur cepat, dan sangat nyaman ditonton – tentu saja mampu memancing emosi dengan sangat baik.

Menurut saya ini adalah film “all-in-one” yang sangat komplit dan menghibur. Tidak kalah lagi unsur pesan moral yang disampaikan pada kisah-kisah ini, membuatnya cukup bermakna untuk tidak dilewatkan.

Set in Scotland in a rugged and mythical time, “Brave” features Merida, an aspiring archer and impetuous daughter of royalty. Merida makes a reckless choice that unleashes unintended peril and forces her to spring into action to set things right.

Tulisan ini mungkin terlambat karena film ini telah diluncurkan sejak 22 Juni yang lalu di Indonesia, namun jika Anda belum menontonnya, saya cukup dapat merekomendasikan petualangan Putri Merida ini. 8/10 adalah nilai yang terlalu sedikit untuk film animasi Brave.