Jujur saja jujur mencari judul yang tepat, kalau ingin sedikit memberikan gambaran bagaimana dokter saat ini memanfaatkan teknologi genggam seperti ponsel cerdas dan komputer tablet untuk membantu aktivitasnya sehari-hari. Namun mungkin ada sisi-sisi yang kadang menciptakan ceritanya tersendiri.

Saya pernah mendengar ada sejawat yang dipanggil oleh seniornya karena keluhan salah satu pasien bahwa dokter yang bersangkutan sibuk “bermain” ponsel ketika mengunjungi (follow-up) para pasien di bangsal. Namun apakah benar demikian?

Ponsel cerdas atau komputer tablet memiliki banyak fungsi lain di luar fungsi komunikasi. Mulai dari fungsi lawas seperti jam alarm, hingga fungsi modern seperti menyimpan dan mengelola sejumlah basis data, hingga perhitungan yang cukup rumit.

Tablet dan ponsel cerdas saya berisi sejumlah basis data yang cukup penting untuk keperluan medis, misalnya sejumlah protokol/guidelines untuk kasus-kasus medis tertentu, kalkulator medis, daftar obat, hingga aplikasi-aplikasi pihak ketiga yang bisa membantu saya di lapangan. Bahkan hal-hal kecil seperti tautan dan catatan ke situs-situs medis.

hGraph Zoom in

Jadi saya sering merasa terbantu dengan adanya aplikasi-aplikasi seperti ini, apalagi jika memang belum begitu memiliki jam terbang tinggi di lapangan. Dokter memerlukan akses panduan dan protokol dengan cepat untuk menghindari dari kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi di area kerja.

Dari apa yang saya dengar, rupanya sejawat tersebut datang ke ruang pasien untuk memastikan sejumlah administrasi obat, termasuk yang per intravena berjalan sesuai yang direncanakan. Dengan menimbang kondisi pasien dan perubahan dosis, ia perlu menghitung laju pemberian obat yang tepat, dan mungkin tampaknya salah satu aplikasi di ponsel cerdasnya digunakan untuk membantu mempercepat penghitungan. Dari sisi dokter ini tampak membantu apa yang sedang ia kerjakan, namun mungkin dari sisi pasien akan tampak seperti dokter yang tidak mengacuhkan pasien dan justru sibuk bermain ponsel (mungkin seperti asyik ber-SMS-an).

Lalu siapa yang benar dan siapa yang salah? Maka, saya dengan senang hati merujuk kembali sebuah kebijakan klasik di mana tidak ada kebenaran yang kemudian menjadi absolut disebabkan oleh pendapat manusia.

Komunikasi selalu menjadi jendela yang efektif untuk menyampaikan apa yang ada di antara kedua ruang di sisi dokter dan juga di sisi pasien. Apalagi di era ketimpangan teknologi dan informasi seperti saat ini, komunikasi menjadi sesuatu yang tidak bisa tidak diindahkan. Di sisi dokter mungkin sudah umum bahwa ponsel cerdas atau komputer tablet akan membantunya banyak dalam menjalankan profesinya sehari-hari, sebagaimana juga profesi yang lain; namun di sisi pasien, perkakas cerdas seperti ponsel mungkin dibandingkan sebagai alat hiburan atau komunikasi semata, dan tidak berhubungan langsung dengan profesi dokter.

Jika masing-masing sudut pandang ini tidak dipertemukan, maka akan mudah terjadi kesalahpahaman dalam hubungan dokter – pasien.