Ini adalah seri keempat film “Ice Age” sejak perdana mengocok perut saya sepuluh tahun yang lalu. Mengambil judul “Ice Age: Continental Drift“. Dan sebagaimana film-film sebelumnya, secara klasik petualangan Manny dan kawan-kawan dimulai oleh bencana yang disebabkan oleh Scrat, dan memang bisa dibilang semua bencana memang dialah berang keroknya dalam film Ice Age, kecuali beberapa bencana kecil oleh Sid.

Pada film “Ice Age: Continental Drift” ini, Scrat membuat bencana luar biasa yang dikenal dengan “Scrat’s Continental Crack-Up”, bahkan saya tertawa menyaksikan cuplikannya yang sudah dirilis sejak setahun lalu. Ya, ini nostalgia pelajaran ilmu bumi dalam lelucon animasi 3D yang apik. Hanya saja jika terjadi sebenarnya seperti itu, mungkin tidak akan lucu lagi,

Pada bocoran iklan awal, dikatakan kisah ini mengambil latar 2 juta tahun yang lalu. Namun Pangaea sendiri jika tidak salah ada sekitar 300 juta tahun yang lalu, dan terpisah 200 juta tahun yang lalu; sementara zaman es ada sekitar 20.000 tahun yang lalu ketika kelima benua sudah ada.

Dengan mengesampingkan itu, kita mendapatkan tontonan animasi komedi yang sangat menghibur, khas gaya “Ice Age” oleh Blue Sky Studios. Tapi seperti biasanya, karena beberapa unsur komedi tidak hanya berpatokan pada situasi, namun juga bahasa – nah, mungkin tidak semua orang yang menonton bisa menikmati sepenuhnya.

Ice Age 4

Pun demikian, ruangan teater tetap riuh dengan tawa penonton di hari perdana tayangnya di Indonesia.

Scrat’s nutty pursuit of the cursed acorn, which he’s been after since the dawn of time, has world-changing consequences – a continental cataclysm that triggers the greatest adventure of all for Manny, Diego and Sid. In the wake of these upheavals, Sid reunites with his cantankerous Granny, and the herd encounters a ragtag menagerie of seafaring pirates determined to stop them from returning home.

Animasi tiga dimensi yang dihasilkan pada Ice Age 4 yang berdurasi sekitar satu setengah jam (94 menit) ini cukup apik, jalan cerita yang bergerak cepat membuat film ini terkesan begitu padat dengan banyak sajian yang menarik. Meskipun menurut saya animasi yang dihasilkan tidak seapik film “Brave” dari Pixar/Disney yang saya saksikan beberapa hari yang lalu, namun cukup untuk mendukung seluruh cerita yang disampaikan.

Jangan khawatir, berbeda dengan sebelumnya, kali ini latar cerita banyak mengambil wilayah lautan daripada daratan – dan animasi lautannya juga sangat apik, meski beberapa mungkin sulit dinilai karena berlangsung dengan cepat, seperti saat badai tornado menghantam para petualang kita dalam film ini.

Secara keseluruhan saya cukup puas dengan film ini. 8,5/10 adalah nilai yang baik. Jadi bagi penggemar film animasi komedi, yang satu ini tidak bisa dilewatkan begitu saja. Ada juga kertas dinding yang mungkin Anda inginkan sebagai koleksi mengenang film ini, bisa didapatkan di sini. Saya tidak menyaksikan Madagascar 3, jadi tidak bisa membandingkan mana yang lebih kocak. Namun tentu saja tidak bisa disandingkan dengan Brave yang memang mengambil kelas yang berbeda.

Setelah semua animasi tersebut (Madagascar 3, Brave dan Ice Age 4), manakah film animasi favorit Anda untuk musim panas tahun ini? Apa Anda melewatkan semuanya tahun ini? Jangan khawatir, musim panas tahun depan masih ada yang cukup menarik untuk dinantikan. Maka saya berikan cuplikannya sebagai penutup tulisan kali ini.