Pertama kali mendengar hal itu sudah sangat lama, mungkin di era-era senang-senangnya menelaah fisika kuantum, Higgs Boson dan Dark Matter adalah contoh yang cukup populer. Karena manusia mencari sesuatu yang diyakini ada namun sulit ditemukan, bahkan teramat sulit dibuktikan keberadaan selain melalui teori dan hipotesa. Namun ini adalah hasrat yang menarik yang dimiliki oleh manusia yang menyatukan kemampuan di pelbagai bidang untuk menemukan apa yang begitu menggairahkan mereka.

Untuk saya sendiri, saya kira memperbarui selalu pengetahuan saya di bidang fisika kuantum memberikan keasyikan tersendiri. Selain tidak akan terlalu ketinggalan dan tampak bodoh saat menyaksikan film fiksi ilmiah, saya bisa melihat sejauh mana perkembangan manusia mengenali semesta dari sudut pandang ilmu pengetahuan yang dibangunnya.

Dan baru-baru ini euforia partikel tuhan kembali melanda dunia, setidaknya terakhir pasca karya fiksi ilmiah “Angel and Demon“. Empat hari yang lalu, ketika saya sibuk dengan panggilan darurat, dua laporan terbaru penelitian High boson diumumkan.

Dan ini membuat kumpulan pengetahuan kita semakin mendekati terungkapnya apa dan bagaimana sebenarnya karakteristik mendasar yang menandai sebuah keberadaan di alam semesta ini – yaitu massa, akan terjawab.

The Higgs Boson Explained from PHD Comics on Vimeo.

Saya kira ketika bersekolah dulu kita semua pernah mendengar massa, dan bagaimana menghubungkannya dengan gravitasi yang kemudian menghasilkan satuan turunan yang kita kenal sebagai berat.

Segala sesuatu memiliki massa, termasuk cahaya yang memiliki sifat dualisme gelombang dan partikel, sedemikian hingga dia bisa dilengkungkan oleh medan gravitasi yang ekstrem – misalnya oleh gravitasinya si lubang hitam, demikian juga materi gelap yang selama ini menjadi misteri di alam semesta. Mungkin ruang dan waktu juga berhubungan dengan massa.

Anggap saja kita memiliki sebuah apel di tangan (nah, buah yang satu ini memang identik dengan pengetahuan), kita merasakan beratnya, yang bermakna dia memiliki massa. Namun bagaimana massa ini bisa ada? Kita membelahnya dan memecahnya hingga menjadi kecil, lebih kecil, dan kecil lagi – kita menemukan banyak senyawa di dalamnya, vitamin, fruktosa (gula buah), serat, air dan banyak lagi. Lalu kita kembali memecah senyawa ini dan menemukan molekul yang membentuknya, seperti karbon, karbohidrat dan lain sebagainya. Molekul ini adalah atom, yang konon dulu tidak dapat dibagi lagi.

Dan kini kita mengetahui bahwa atom masih bisa dibagi lagi, dan bagiannya seperti proton dan neutron masih bisa dibagi lagi. Namun tetap saja apa yang mendasari keberadaan massa masih sulit dipecahkan.

Standard Model

Model standar bagi fisika partikel saat ini.

Di sinilah model standar partikel (gambar di atas) memprediksikan adanya medan Higgs, dan keberadaan Higgs boson yang merupakan god particle, partikel yang memberikan alasan keberadaan dari semua yang terbentuk di alam semesta, mulai dari yang terkecil hingga yang terbesar. Dan inilah upaya manusia untuk memecahkan konsep massa partikel (video di atas).

Teorinya rumit, bahkan saya mungkin saja salah menginterpretasikannya seperti di atas. Saya tidak ingin sampai sejauh itu mempelajarinya, dan di sisi lain saya juga tidak antipati akan isu-isu ini, apalagi memang ternyata ada yang tidak suka dengan perkembangan penelitian seperti ini terutama karena dianggap menyalahi kodrat insani. Saya bukan fisikiwan, pun bukan rohaniawan, tidak tertarik jika semuanya mengarah pada perdebatan semu. Apa yang menjadi kontribusi bagi kemanusiaan, itulah yang kemudian akan bermakna.

Catatan Pinggir:

Saya lebih suka menggunakan istilah Higgs boson daripada “god particle” atau Partikel Tuhan. Jika menalaah kembali, istilah “God Particle” hanyalah sebuah budaya ilmiah populer, yang mulai melejit dari sebuah buku ” The God Particle: If the Universe Is the Answer, What Is the Question?” karya Leon Lederman. Sementara Peter Higgs yang pertama kali mengusulkan adanya Higgs boson yang membentuk Medan Higgs sendiri seorang atheis (jika saya tidak keliru), dan mungkin agak tidak sependapat dengan pemberian nama pendek itu. Dan pada akhirnya, tidak ada maksud memasukkan unsur religius ke dalam pencarian akan Higgs boson ini.

Pun demikian, saya kadang tetap tersenyum geli melihat banyak sekali yang berdebat tentang nama “Partikel Tuhan” ini ketika tidak banyak yang mengetahui bagaimana awal mulanya Higgs boson menjadi populer disebut demikian.

Saya jadi teringat dialog, “What’s in a name? That which we call a rose. By any other name would smell as sweet.” Tahu kan kata-kata ini berasal dari mana.