Hari ini saya berkesempatan menghadari “Workshop Open Source IGOS Nusantara 2012″ yang memberikan pengenalan dasar salah satu sistem operasi yang dikembangkan di Indonesia, IGOS Nusantara (yang berbasis Fedora), hasil kerja sama antara JIS dan LIPI/IGN. Terima kasih pada Pak Choriul Anam dari JIS, serta Pak Nana Surayana berserta Radith dan rekan-rekan dari tim IGN, acara ini menjadi begitu menarik bagi saya.

Sebenarnya sosialisasi kali ini ditujukan pada anggota JIS (Komunitas Jaringan Informasi Sekolah Daerah Istimewa Yogyakarta) – sebuah kelompok para pendidik yang menaruh minat pada sistem dan teknologi informasi di masa ini. Namun saya diizinkan untuk “menyusup” ke dalam, dan duduk manis di ruangan lantai 3 Plasa Telkom Yogyakarta.

Anda masih ingat obrolan kita tentang Mandat Penggunaan Data Format Terbuka dan Open Source Software? Semua penggiat open source di nusantara tengah bergiat mempromosikan dan mengampanyekan migrasi dari peranti lunak proprietary ke open source. Dan pertemuan seperti hari ini adalah wujud nyata itikad baik itu, untuk menularkan semangat “kemerdekaan” dalam menggunakan teknologi informasi. Hemat saya tidak perlu semua, mengenai sepertiga peserta pun sudah merupakan penggerak berarti bagi rentetatan efek domino selanjutnya.

Tidak semua orang bisa tertarik pada Linux ketika pertama kali melihat, namun tentunya tidak semua orang tahu bagaimana nyaman dan enaknya menggunakan Linux sampai terasa begitu dimanjakan, sementara di sisi lain ada tantangan yang selalu menggoda untuk dicoba.

Pak Nana Memperkenalkan IGOS Nusantara

Workshop “Open Source” oleh Tim IGN, Pembicara Pak Nana Suryana sedang menjelaskan seputar open source dan IGOS Nusantara kepada para peserta Workshop.

IGOS Nusantara memiliki itu. Meski saya bisa bilang semua Linux memiliki hal tersebut, tergantung seberapa cerdas dan kreatif penggunanya. Dan kedua hal itu sangat dipengaruhi oleh minat dan kesadaran penggunaan FOSS tentunya. Pada akhirnya semua itu tidak akan terwujud secara menyeluruh tanpa adanya sosialisasi dan pendampingan bagi mereka yang memiliki potensi untuk berkarya lebih baik lagi dengan menggunakan peranti lunak terbuka.

Salah satu masalah yang cukup mendasar saat ini, adalah lemahnya kesadaran birokrasi dalam mendukung penerapan open source di Indonesia. Misalnya dalam acara ini terungkap beberapa gambaran di dunia pendidikan tentang isu ini. Misalkan saja tidak (katanya) tidak terdapat kurikulum resmi yang mendukung pendidikan berbasis atau berobjek open source. Hal ini tentu membuat pihak penyelenggara pendidikan akan ragu menginvestasikan pendidikan open source pada anak didiknya, apa iya akan berguna nantinya setelah siswa lulus dan dibekali itu (mengingat juga peranti lunak proprietary masih menguasai pasaran komputer desktop dan notebook). Dan lebih sial lagi saat anak didik belajar berbasis open source, soal ujian dikeluarkan dinas pendidikan setempat malah merujuk pada penggunaan produk proprietary, habislah sudah birokrasi “tutup mata dan tutup hati” ini.

Dapatkah kita, para penggiat, para pengguna, para pengembang dan komunitas terkait open source di tanah air membuat pemegang birokrasi membuka matanya? Entahlah.

Memang mungkin investasi awal migrasi ke open source tidaklah mudah dan tidaklah juga murah. Pak Nana menyampaikan bahwa meskipun modal awal migrasi mungkin bisa lebih mahal dibandingkan penggunaan produk proprietary, namun ada yang namanya intensif lokal, di mana dana tersebut kembali pada masyarakat sekitar dan para pengembang atau komunitas lokal, kembali digunakan untuk mendukung pengembangan sistem yang lebih baik lagi, bukannya diboyong oleh perusahaan pemegang hak paten di luar negeri sana. Sehingga proses migrasi ke open source sesungguh menciptakan “lingkaran malaikat” di lingkungan kita.

Pemegang birokrasi seharusnya menyediakan payung hukum yang jelas terhadap penggunaan open source di negera kita. Misalnya saja, kita memiliki undang-undang yang mengatur transaksi dan mata uang (saya lupa yang mana), yang melindungi warga negara Indonesia untuk bertransaksi dalam mata uang rupiah yang tidak boleh ditolak oleh pihak yang diajak bertransaksi di wilayah kedaulatan NKRI. Demikian juga, ketika ODF (dokumen format terbuka) telah menjadi standar nasional (SNI) sejak tahun lalu juga semestinya mendapat payung hukum yang lebih jelas, bahwa tidak boleh ada yang menolak transaksi dokumen atau penggunaan dokumen format terbuka di negara ini. Kasihan kan jika ada seorang siswa menyerahkan tugas menulis dalam salinan lunak ODT kemudian ditolak oleh gurunya karena gurunya tidak bisa mengakses dari program Microsoft Office-nya yang biasanya menghasilkan salinan lunak DOC atau DOCX. Ketika seseorang sudah menggunakan standar nasional (bahkan juga Internasional), namun ditolak diterima oleh mereka yang tidak paham atau meremahkan hal ini. Payung hukum yang jelas akan memberikan perlindungan terhadap isu-isu seperti ini.

Nah, kembali ke Workshop IGOS Nusantara 7.2. Saya cukup suka konsep acaranya, sederhana namun mengena, di luar mungkin pertanyaan-pertanyaan yang cukup teknis dan memerlukan situasi tersendiri untuk mendapatkan jawaban yang pas. Dengan biaya administrasi yang cukup ringan, saya mendapatkan satu keping Live CD IGN 7.2 beserta 1 DVD repositorinya, kudapan dan makan siang, plus sertifikat yang kebetulan saya lupa mengambilnya.

Kegiatan dimulai dengan pengenalan konsep open source dan potensi bagi semua kalangan, serta IGOS Nusantara sebagai bagian dari opsi FOSS yang ramah yang dapat dipilih oleh masyarakat Indonesia, khususnya bagi para pengajar yang hadir saat itu. Saya mungkin tidak banyak menyampaikan kembali, karena selengkapnya telah ada situs resmi IGOS Nusantara itu sendiri.

Sesi selanjutnya adalah kegiatan bengkel, mencoba mengenal IGOS Nusantara dan memasangnya sebagai pendamping (dual-boot) sistem operasi Windows yang rerata dimiliki oleh para peserta. Mungkin cuma saya saja yang senyum-senyum dengan green geeko di pinggiran, karena optik ROM saya sudah terlalu tua untuk membaca Live CD, dan saya sudah lama tidak punya UFD (untuk USB Boot) sejak menggunakan Dropbox dan HDD eksternal.

Bagi yang baru pertama kali mencoba IGOS Nusantara mungkin agak susah juga, namun beberapa menunjukkan minat (saya pernah mencoba, tapi dulu). Seperti komunitas JIS beberapa sudah ada yang mencicipi Linux sejak bantuan beberapa ratus perangkat komputer yang berisi openSUSE 11.3 dari proyek EQEP Depkominfo. Yang juga sepertinya mendapatkan keluhan masalah ekstensi ke proyektor melalui porta USB, masalah yang pernah diajukan Om Medwinz pada tahun 2010 di milis openSUSE.

Selama uji coba pemasangan IGN 7.2 pada beberapa notebook/netbook peserta dengan Live USB tampaknya tidak ada masalah, namun saya tidak tahu apakah ada yang mencoba menggunakan Live CD. Hanya memang diingatkan melalui sedikit tanya jawab yang saya tangkap, mungkin akan ada kendala, terutama periferal yang tidak mendukung, seperti modem atau pencetak/printer.

Perlu diingat bahwa masalah periferal adalah sesuatu yang umum di Linux, dan ini bukanlah kesalahan Linux. Biasanya vendor yang membuat produk periferal tersebut enggan membuka kode sumber pengandar untuk publik (sebagai kode terbuka) dan spesifikasi perangkat keras yang digunakan, sehingga para pengembang Linux dan open source kesulitan membuat atau mengembangkan peranti lunak pengandar yang tepat untuknya. Jadi jika Anda mencolokkan modem atau pencetak tidak terdeteksi, jangan salahkan Linux, salahkan-lah orang-orang pelit yang menciptakan periferal tersebut.

Untuk itu bagi mereka yang akan bermigrasi ke Linux, pastikan Anda memiliki peranti keras dan periferal yang ramah Linux/UNIX yang dihasilkan dari produsen yang memang paham bahwa teknologi bukan masalah keuntungan dan prestise semata, namun untuk kebaikan umat manusia secara umum – karena inilah prinsip lahirnya konsep GNU yang menjadi roh semua Linux – ya, kita sedang berbicara tentang “The Four Freedoms” yang terkenal itu.

Terakhir, RadithTux mengisi sesi penutup dengan sedikit mengenalkan aplikasi media grafis ala open source. Anda bisa menemukan tentang ini lebih banyak lagi di blognya. Dan terkait dengan tanya jawab soal IGOS Nusantara bisa didapatkan di halaman WIKI IGN, atau bertanya langsung ke yahoo group dan facebook group IGOS Nusantara. Atau Anda juga (saya rasa) bisa bertanya pada komunitas pengguna Fedora, karena IGN berbasis Fedora.

Para Panitia dan Peserta Workshop IGN

Para peserta bersama panitia dan narasumber foto bersama saat acara “bengkel sumber terbuka IGOS Nusantara 2012″.

Acara berakhir, dan mungkin masih banyak sebenarnya yang ingin bertanya. Apa boleh buat, di mana-mana waktu itu selalu terbatas. Dan semoga banyak kegiatan seperti ini kembali ke depannya.