Sudah lama sekali saya tidak menulis di sini, dan memang kebetulan banyak sekali yang terjadi – termasuk notebook saya yang mesti rawat inap selama beberapa minggu karena memang sudah jadwal rutinnya untuk masuk bengkel. Untung saja kualitas servisnya memuaskan, jika tidak pasti bakal kecewa sudah berpisah sekian lama.

Nah, saya cuma mau “nongol” sebentar saja, karena masih cukup sibuk mengurus perpindahan ke Tuban akhir bulan ini. Tampaknya batal di Banyuwangi. Jadi dari tadi siang sudah mengirim barang dan kendaraan via Elteha, karena sementara itu yang paling murah biaya pengiriman yang saya tahu untuk area angkut Yogyakarta – Tuban.

Banyak yang terjadi bulan ini, dan entah mengapa bahkan rasanya terlalu banyak. Mulai dari ramai-ramainya topik Pilkada Ibu Kota, hingga berita duka meninggalnya tokoh pekarya komik nasional R.A. Kosasih yang saya lihat di berita di televisi ketika menyervis sepeda motor tua saya (maklum, sekarang tidak ada televisi di kamar kost, dan memang tidak begitu berminat menonton). Karya-karya Beliau adalah salah satu dari sejumlah yang saya suka dari pekarya seni di dalam negeri.

Lalu ada kisah sedih dari perang paten antara Samsung dan Apple, di mana Apple menang telak di Amerika, namun kalah separuh di Korea Selatan.  Lalu mata dunia beralih bagaimana Motorola akan menjegal Apple dalam perang paten selanjutnya. Yah, inilah dunia, di mana-mana terjadi persaingan.

Minggu lalu (kalau tidak salah ingat memang Minggu yang lalu), saya juga sempat mengunjungi salah satu tempat religius di Yogyakarta, di mana nuansa khas masyarakat dan kebudayaan Jawa sangat melekat. Saya sempat tweet kunjungan saya saat itu seperti kutipan di bawah ini:

Kemudian datanglah Lebaran, saya mengucapkan selamat bagi para sahabat umat Muslim, selamat Hari Raya Idul Fitri – dan mohon maaf lahir dan batin. Memang terlambat, tapi apa boleh buat.

Dan beberapa hari yang lalu saya juga sempat dimintai pendapat saat membeli sebuah netbook dengan harga terjangkau. Pilihannya jatuh pada Samsung NC108, karena harganya relatif murah, sudah memiliki banyak fungsi dan ternyata meski dengan prosesor Intel Atom berkecepatan 1,66 GHz – cukup mumpuni mengerjakan tugas kantoran dengan empat inti prosesor yang tertanam di dalamnya. Baterainya pun cukup awet, dapat digunakan selama 6 – 8 jam pasca pengisian penuh. Sayangnya, netbook ini belum mendapat dukungan Linux, saya sudah coba memasang JoliOS, SolusOS hingga openSUSE KDE, namun tetap tanpa hasil yang memuaskan. Rupanya yang menjadi soal adalah grafis Intel GMA 3600/3650 yang tertanam di dalamnya belum terdapat pada kandarnya pada Linux yang terbit hingga saat ini, karena kandar open source-nya baru dirilis oleh Intel beberapa hari yang lalu. Jadi jika ingin mencoba menggunakan Linux sehingga tampak cantik pada netbook ini, mungkin harus menunggu hingga pengandar yang tepat sudah ditanamkan pada Linux edisi mendatang.

Pasca sebulan mencoba Smartfren Connex EVO di Yogyakarta, saya memutaskan untuk menghentikan berlangganannya. Kecepatannya memang tinggi, bisa mengunduh hingga di atas 200 KB/s, dibandingkan dengan Groovia paket 1 Mbps yang hanya bisa mengunduh rerata di kecepatan 100 KB/s di tempat saya. Namun kuotanya yang terbatas, termasuk mahal menurut saya. Sekitar seratus ribu rupiah untuk 12 GB terlalu mahal per bulannya, sementara paket Smartfren Connex Unlimited yang dengan harga serupa bisa memberikan kuota yang sedikit lebih banyak meski dengan kecepatan 44 KB/s rata-ratanya, saya rasa itu mencukupi, bisa diatur, jika meramban saya bisa memanfaatkan fitur Opera Turbo untuk menghindari lambatnya arus data. Lalu yang agak tidak masuk akal, saya melihat paket Flexi Unlimited 153 kbps, yang paketnya sekitar lima puluh ribu sebulan, namun mampu mencapai kecepatan unduh 100 KB/s, bahkan kadang di atasnya. Bagi yang ingin mencari sambungan data/internet seluler yang murah di Yogyakarta, mungkin kini tawaran Telkom Flexi bisa dilirik kembali.

Lalu, meskipun saya belum menggantinya di Facebook dan jejaring sosial lainnya. Status saya tidak lagi “lajang”. Ha ha…, tapi saya masih memerlukan perjalanan jauh untuk bisa mensahkannya. Saat ini masih sibuk berkonsultasi dengan sejumlah rekan-rekan pakar hukum administrasi dan hukum konstitusi di seluruh pelosok nusantara. Jika memang saatnya tiba, maka saatnya akan tiba.

Apa lagi yang belum saya sampaikan ya? Mungkin banyak, namun waktu saya juga terbatas. Saya mungkin tidak mengunjungi semua blog para sahabat secara lengkap, tapi semoga saya dapat membaca setidaknya sepersepuluh dari ribuan daftar tulisan yang sudah mengantre untuk diungkap.

Sampai berjumpa di lain kesempatan.