Cahaya dalam panjang gelombang tertentu memiliki efek-efek yang berbeda tehadap kesehatan manusia. Anda mungkin pernah mendengarkan saran untuk berjemur rutin di pagi hari untuk mendapatkan sejumlah vitamin D bagi tubuh, atau bagaimana paparan ultraviolet menyebabkan para penduduk di negeri atap dunia lebih rentan terhadap serangan katarak.

Pagi ini, koran kesehatan rutin saya menawarkan sebuah abstrak jurnal publikasi “Photochemistry and Photobiology” yang mengambil judul “The Effects of UV Emission from Compact Fluorescent Light Exposure on Human Dermal Fibroblasts and Keratinocytes In Vitro“. Penelitian yang dimaksud berusaha menemukan apakah lampu floresen yang umum kita kenal sebagai lampu hemat energi memiliki dampak pada kesehatan kulit (spesifik pada fibroblas dan keratinosit secara in vitro).

Penelitian ini melihat paparan CFL (compact flourescent light) yang sampelnya diambil secara acak terhadap jaringan sel kulit yang sehat.

… Cells exposed to CFLs exhibited a decrease in the proliferation rate, a significant increase in the production of reactive oxygen species, and a decrease in their ability to contract collagen…

Sel-sel yang terpapar CFL menunjukkan penuruan laju proliferasi, peningkatan produksi spesies oksigen reaktif yang signifikan, dan menurunnya kemampuan mereka untuk mengikat kolagen.

Hasil lain juga menunjukkan adanya emisi sinar ultra ungu yang bermakna dari CFL, yaitu UVA dan UVC yang bermakna. Penelitian ini juga menemukan kerusakan yang lebih jauh pasca pemberian dosis rendah nanopartikel TiO2 (Titanium Dioksida) yang biasanya digunakan pada produk harian yang berfungsi menyerap radiasi UV.

Ilustrasi

Karena saya tidak memiliki akses langsung pada jurnal penelitian asli/penuh, maka tidak bisa melihat langsung apakah ada faktor-faktor lain dalam penelitian ini yang cukup bermakna. Misalnya, seberapa lama paparan dilakukan sehingga memunculkan hasil-hasil di atas, dan bagaimana kondisi in vitro yang diberlakukan.

Saran sementara dari tim peneliti adalah menghindari paparan dari CFL, meskipun lampu jenis ini menghemat energi dan anggaran yang cukup besar dan berkontribusi besar dalam menekan laju pemanasan global. Sebisa mungkin jika menggunakan lampur CFL, maka paparannya tidak bersifat langsung, misalnya melalui sejenis kaca pelapis.

Saya rasa ini bisa menjadi kasus buah simalakama, di satu sisi kampanye penghematan energi memerlukan CFL, sementara di sisi lain penemuan menyatakan potensi bahaya CFL terhadap kesehatan kulit.