Ranah perang paten antara para vendor ponsel cerdas dan teknologi yang menyertainya semakin memanas. Bahkan saking panasnya perang ini, PBB sendiri sampai turun tangan. Bagaimana tidak, karena yang perang bukan hanya vendor besar seperti Google/Motorola vs Microsoft, atau Samsung vs Apple, namun juga para pengguna fanatiknya di bawah, termasuk yang berkoar-koar di media sosial.

Satu pihak menuduh yang lain meniru desain patennya, sementara sebaliknya menjadi tertuduh peniru teknologi juga. Ini tidak akan ada habisnya, dunia inovasi sepertinya terhenti ketika orang-orang berebut hak atas nama inovasi lawas mereka.

Apple sempat terhenti langkahnya di Jerman untuk menjual iPhone dan iPad, karena Motorola Mobility menjegal mereka – perusahaan yang kini di bawah Google itu melarang Apple membuka lapak lantaran tidak membayar lisensi teknologi komunikasi standar transimis data komunikasi GPRS milik Motorola/Google.

Sementara ternyata tidak Apple yang sempat tersandung di Jerman, Microsoft pun sempat jadi terancam karena produk XBox mereka dilarang dijual di Jerman oleh Google yang telah mendapatkan izin pengadilan. Kenapa? Ya, karena Microsoft menggunakan teknologi yang menjadi paten Google.

Samsung juga berusaha melucuti Apple dari penjualan di Eropa, Jepang dan Amerika Serikat karena Apple dituduh mencuri teknologi 3G yang dikembangkan oleh Samsung.

Namun sebaliknya, saat ini ada perang besar di mana Apple menuduh lewat pengadilan bahwa Samsung mencuri desai iPad untuk produk tablet Galaxy Tab mereka. Bahkan Microsoft tengah berusaha menuntut Samsung untuk sejumlah teknologi yang digunakan pada Android.

Faktanya, ini tidak menjadikan dunia persaingan menjadi sehat. Paten menjadi perang yang menghentikan inovasi. Hal ini membuat International Telecommunication Union yang berada di bawah PBB mengajak seluruh vendor untuk duduk bersama membahas ini. Dan berharap ditemukan titik pandang di mana semua pihak dapat mengembangkan teknologi secara adil, kreatif dan inovatif.

Perang Paten

Ilustrasi campur tangan PBB dalam perang paten.

Saya sendiri berharap, kedamaian bisa kembali. Tidak banyak, hanya saja agar berita perang paten tidak terlalu sering menyinggahi time-line, jika bisa hilang sama sekali, Saya tidak terlalu paham paten, karena mungkin budaya imperialisme itu tidak pernah ada di budaya Timur. Lha, kita tidak mengenal paten terhadap tembang macepat atau reog ponorogo misalnya.