Salah satu pelayanan kesehatan yang disediakan sebuah rumah sakit adalah pelayanan rawat inap, di mana pasien dapat dipantau kondisi kesehatannya dan ditempatkan sesuai kepentingan terapi. Jika pasien berada jauh dari lingkungan di mana biasanya dia berada, maka tidak bisa dielakkan lagi akan ada kunjungan dari orang-orang yang dekat dengannya, baik keluarga, teman maupun kolega.

Kunjungan ke rumah sakit dapat memberikan dukungan moral yang baik bagi proses penyembuhan/pemulihan pasien, namun di sisi lain bisa menjadi salah satu faktor yang memperburuk kondisi pasien. Sehingga, jika Anda menjadi pengunjung atau hendak berkunjung ke rumah sakit guna menjenguk seseorang yang Anda kenal, maka tulisan di bawah bisa jadi pertimbangan Anda.

Setiap pasien memiliki karakter yang berbeda-beda, bahkan mungkin tidak seperti yang Anda kenal dalam kesehariannya ketika ia sedang sehat. Ada bijaknya sebelum berkunjung, bertanya terlebih dahulu, apakah dia bersedia untuk dikunjungi atau tidak. Banyak orang suka untuk dikunjungi ketika sakit, namun ada yang tidak ingin menerima kunjungan.

Jika yang hendak Anda kunjungi tidak berkenan menerima kunjungan, tanyakan kapan dia bisa menerima kunjungan. Atau apakah si pasien lebih suka dikunjungi pasca rawat inap selesai, dan berkunjung langsung di rumahnya. Masing-masing pasien memiliki prefensinya masing-masing. Mengunjungi pasien yang tidak dikunjungi bukanlah tindakan bijak.

Ketika Anda menuju rumah sakit, sepanjang perjalanan Anda mungkin adalah pembawa “kuman” yang potensial dapat menyebabkan bahaya bagi kesehatan pasien. Salah satu masalah sanitasi dan higienitas yang paling sulit ditangani oleh banyak rumah sakit di tanah air adalah pengunjung. Pengunjung yang “bedol desa”, tumpah ruah, dan hilir mudik adalah sumber penyebaran “kuman” di rumah sakit.

Namun ini tidak berarti sebaiknya Anda membatalkan niat berkunjung. Sarannya adalah berkunjunglah dalam jumlah yang sedikit, satu atau dua pengunjung per sesi kunjungan adalah jumlah yang ideal. Pastikan diri dan pakian yang Anda gunakan cukup bersih. Dan selalu cuci tangan saat berkunjung. Rumah sakit biasanya selalu menyediakan tempat cuci tangan bagi pengunjung. Telapak tangan kita adalah penyebar “kuman” yang efektif, jadi sebelum masuk ruangan, cuci tangan terlebih dahulu, sehingga aman untuk berjabat tangan, memberikan buah-buahan dan sebagainya. Kita tidak ingin kan membuat pasien yang kita kunjungi justru bertambah sakit karena kuman yang kita bawa. Demikian juga pasca berkunjung, cuci tangan Anda kembali.

Silakan bawa balon atau karangan bunga hanya ketika Anda tahu bahwa pasien tidak memiliki alergi pada hal-hal tersebut dan berada sendiri di ruangan. Hindari membawa hal-hal seperti ini jika pasien alergi atau berada satu ruangan dengan pasien lainnya, atau Anda tidak yakin bahwa pasien memiliki alergi terhadap polen (serbuk sari) atau lateks. Alternatif lain seperti buku, kartu ucapan semoga lekas sembuh, buah, atau bahkan sepasang sendal untuk di rumah sakit akan sangat baik. Tidak perlu sesuatu yang mahal, yang bernilai adalah menunjukkan bahwa kita beperhatian.

Matikan ponsel Anda atau setidaknya matikan nada deringnya. Tiap rumah sakit memiliki aturan yang berbeda-beda tentang penggunaan telepon seluler di area rumah sakit. Pada sejumlah kasus, telepon seluler dapat mengganggu kinerja alat-alat medis tertentu. Sehingga mengaktifkan telepon seluler dapat membahayakan pasien. Pastikan Anda mengindahkan aturan penggunaan telepon seluler pada rumah sakit tempat Anda akan menjenguk. Pasien yang memerlukan istirahat dapat merasa terganggu dengan dering telepon.

Tinggalah untuk waktu yang sebentar. Ketika Anda menjenguk, pasien bisa merasa termotivasi untuk segera sembuh, memberikan dampak psikologi yang bermakna. Namun jika kunjungan Anda terlalu lama, pasien justru dapat kelelahan dan ini tidaklah baik. Setiap rumah sakit biasanya memiliki jam kunjungan yang sudah diatur. Taati jam kunjungan ini, sehingga memberi kebaikan bagi para pasien. Berkunjung sering namun tidak lebih dari satu atau setengah jam setiap kali kunjungan akan jauh lebih baik dibandingkan berkunjung hanya sekali namun berjam-jam.

Silakan tinggalkan ruangan ketika dokter atau petugas medis lainnya memeriksa atau visitasi pada pasien. Apa yang diperiksa dan dibicarakan antara dokter dan pasien adalah rahasia medis, kecuali Anda adalah orang yang bertanggung jawab terhadap pasien (orang tua, pasangan atau wali), maka silakan tinggalkan ruangan. Ini sudah menjadi etika yang tidak tertulis, jangan sampai petugas medis yang mempersilakan Anda meninggalkan ruangan, karena nanti kesannya seperti mengusir jika terjadi mispersepsi. Anda bisa kembali masuk ke ruangan ketika dokter atau petugas medis telah meninggalkan ruangan, atau mempersilakan Anda masuk kembali.

Jangan mengunjungi rumah sakit jika Anda memiliki gejala dari suatu penyakit yang dapat menular. Pasien dan petugas kesehatan tidak akan bisa terhindari dari tertular apapun yang sedang menjangkiti Anda. Jika Anda memiliki batuk, pilek, ruam atau diare, sebaiknya jangan berkunjung ke rumah sakit guna menjenguk pasien, kirimkan pesan singkat, surel atau kartu sebagai penggantinya.

Hal yang sama juga bermakna jangan berkunjung ke rumah sakit saat kondisi tubuh Anda tidak baik. Rumah sakit bisa menjadi potensi penularan bibit penyakit terhadap tubuh Anda. Jika Anda tidak berada dalam kondisi yang fit, maka memasuki areal rumah sakit bisa menjadi bom waktu bagi kesehatan Anda.

Sedemikian hingga juga tidak dianjurkan membawa balita dan anak-anak untuk berkunjung ke rumah sakit. Mereka dapat tertular bibit penyakit jika tidak hati-hati. Sebagian besar rumah sakit juga telah memberikan aturan jelas tentang batas usia boleh berkunjung ke rumah sakit. Namun jika kunjungan anak bisa bermakna positif bagi kesembuhan pasien, maka siapkan tindakan pencegahan untuk melindungi anak. Misalnya pastikan imunisasinya telah lengkap sesuai usia, gunakan masker, baju lengan panjang dan sepatu. Pastikan anak selalu dalam pengawasan.

Berhati-hati membawa makanan untuk pasien dari luar. Beberapa pasien memerlukan diet khusus, misalnya pasien dengan infeksi berat, pasca operasi/anestesi, gagal jantung dan sebagainya. Makanan yang tidak tepat bisa memperburuk kondisi pasien. Namun kadang tidak ada salahnya membawa makanan untuk keluarga yang menunggu pasien di rumah sakit.

Jangan mengunjungi pasien jika kehadiran Anda justru memunculkan cemas atau stres pada pasien. Misalnya jika hubungan Anda sedang buruk atau kedatangan Anda mungkin dianggap membawa berita buruk. Tunggu hingga kondisi pasien cukup baik atau pulih seperti sedia kala.

Namun di sisi lain, jangan tidak berkunjung karena Anda berpikir pasien tidak memerlukan kunjungan Anda. Sebelum Anda tahu pasti apakah pasien ingin Anda berkunjung atau tidak, jangan pernah berasumsi bahwa Anda tidak diperlukan. Kedatangan Anda mungkin adalah sesuatu yang dinantikan.

Jangan berharap pasien untuk menghibur Anda. Jika Anda datang untuk berbincang banyak hal atau bercerita banyak hal, maka urungkanlah dahulu niat tersebut. Pasien memerlukan banyak istirahat, dan mungkin terlalu sopan untuk tidak memotong pembicaraan Anda yang panjang lebar. Biarkan pasien beristirahat, kadang kedatangan Anda sendiri sudah sangat bermakna.

Dan yang tidak kalah pentingnya adalah jangan merokok, baik sebelum Anda berkunjung ataupun pada saat Anda berkunjung. Jangan juga permisi sesaat untuk merokok. Beberapa pasien mengalami penajaman indera penciuman oleh karena efek obat-obatan tertentu atau berada di area rumah sakit yang steril. Beberapa pasien mungkin menjadi tidak nyaman, dan jika pasien yang Anda kunjungi juga adalah seorang perokok, Anda akan membuatnya ketagihan untuk merokok lagi.

Terakhir, jagalah ketenangan dan kebersihan areal rumah sakit. Tidak jarang saya menemui oknum personal yang merasa telah membayar untuk dapat datang ke rumah sakit atau menunggu sanak keluarga yang sakit dengan seenaknya membuang sampah sembarangan, karena merasa sudah membayar rumah sakit sehingga sampah-sampah berserakan akan menjadi tanggung jawab rumah sakit melalui petugas kebersihannya.