Gula darah atau kadar glukosa darah adalah salah satu tes laboratorium yang paling banyak dikerjakan ataupun diinstruksikan dalam dunia kedokteran, selain pemeriksaan darah rutin. Bahkan karena cukup banyak digunakan, tersedia juga alat genggam yang bisa digunakan untuk memeriksa kadar gula darah secara mandiri.

Ada banyak kasus yang memerlukan pemeriksaan gula darah, mulai dari pemantauan kondisi gula darah pada pasien diabetes, hingga bayi yang mengalami kejang atau pasien asing yang kehilangan kesadaran. Sehingga tes gula darah bisa ditemukan pada kondisi harian di banyak ruangan, mulai dari rumah pribadi hingga ruang triase unit gawat darurat dan ambulans.

Tes ini memang lebih banyak menggunakan sampel darah, sehingga lumarah disebut “gula darah” oleh masyarakat kita, namun tidak jarang menggunakan sampel urine (air seni) juga.

Mengapa dites?

Tujuan tes ini sederhana, untuk mengetahui/menentukan apakah kadar glukosa darah berada dalam rentang normal, serta memantau kadar glukosa darah yang tinggi (hiperglikemia) atau sebaliknya yang rendah (hipoglikemia). Berguna bagi mereka yang memiliki diabetes, ataupun rentan terserang diabetes.

Apa yang dites?

Ada dua jenis sampel yang dites, pertama adalah glukosa darah, di mana bisa dilakukan secara rutin pada penderita diabetes, atau pada mereka yang menunjukkan gejala hiperglikemia ataupun hipoglikemia. Jika Anda penderita diabetes, biasanya akan melakukan beberapa kali pemeriksaan dalam satu harinya secara mandiri.

Glukosa urine biasanya dicek ketika pemeriksaan urine rutin (urinalisis).

Sampel yang diperlukan?

Biasanya sampel darah diambil dari lengan Anda, atau setetes darah dari tusukan pada ujung jari, kadang sampel acak dari urine digunakan. Beberapa penderita diabetes mungkin akan memerlukan pemantauan glukosa berkelanjutan, dengan memasangkan sensor kecil berkabel di bawah permukaan kulit perut yang memantau kadar gula darah setiap 5 menit.

Persiapan tesnya?

Secara umum, Anda disarankan untuk berpuasa, tidak makan atau minum apapun – kecuali air putih selama 8 jam sebelum tes kadar glukosa darah. Pada pasien diabetes, atau dicurigai memiliki diabetes, tes biasanya dilakukan baik pasca puasa dan setelah makan. Untuk tes dengan waktu tertentu, setelah makan ataupun acak, silakan ikuti instruksi dokter Anda.

Apa yang sebenarnya diuji?

Tes ini untuk memeriksa kadar glukosa pada darah (dan juga urine). Glukosa adalah sumber energi primer (utama) bagi sel-sel tubuh dan satu-satunya sumber energi bagi otak dan sistem saraf. Suplai glukosa yang tetap harus tersedia untuk digunakan, dan kadar glukosa yang relatif konstan harus dipertahankan dalam darah.

Selama pencernaan, buah-buahan, sayur-sayuran, roti, nasi, dan sumber karbohidrat lainnya dipecah menjadi glukosa (dan nutrisi lainnya); mereka diserap oleh usus kecil dan bersirkulasi ke seluruh tubuh. Penggunaan glukosa menjadi energi bagi tubuh bergantung pada insulin, suatu hormon yang dihasilkan oleh pankreas. Insulin memfasilitasi transpor glukosa ke dalam sel-sel tubuh dan ke hati untuk disimpan energi selebihnya sebagai glikogen untuk penyimpanan jangka pendek, dan/atau sebagai trigliserida dalam sel-sel adiposa (lemak).

Normalnya, glukosa darah sedikit meningkat pasca makan, dan insulin dipelaskan oleh pankreas ke dalam darah sebagai respons, dengan jumlah yang disesuaikan dengan porsi dan isi makanan kita. Saat glukosa dipindahkan ke dalam sel-sel dan dimetabolisme, kadarnya di dalam darah akan turun dan pankreas akan merespons dengan melambatkan lalu menghentikan pelepasan insulin.

Jika kadar gula darah jatuh terlalu rendah, sebagaimana yang bisa terjadi ketika waktu antara makan, berpuasa atau bekerja keras, glukagon (hormon pankreas lainnya) akan dilepaskan untuk membuat hati mengubah sejumlah glikogen menjadi glukosa lagi, dan meningkatkan kadar glukosa darah, lalu tubuh akan berusaha memulihkan kesetimbangannya, baik dengan meningkatkan produksi insulin ataupun mengeluarkan glukosa berlebih melalui urine.

Ada sejumlah kecil kondisi-kondisi yang berlainan yang dapat merusakan keseimbangan antara glukosa dan hormon-hormon pankreas, menghasilkan glukosa darah yang tinggi atau rendah. Salah satu penyebab yang paling umum adalah diabetes. Diabetes adalah sekelompok kelainan yang dihubungkan dengan ketidakcukupan produksi insulin dan/atau resistensi (kekebalan) terhadap insulin. Orang-orang dengan diabetes yang tidak diterapi tidak akan mampu memproses dan menggunakan glukosa secara normal. Mereka yang tidak sanggup menghasilkan cukup insulin untuk memproses glukosa didiagnosis memiliki diabetes tipe 1, sementara yang memiliki resistensi terhadap insulin dikatakan memiliki diabetes tipe 2. Kedua tipe diabetes ini bisa meningkatkan kadar glukosa darah secara akut dan/atau kronis.

Hipoglikemia atau hiperglikemia yang akut dan parah bisa jadi mengancam jiwa, menyebabkan kegagalan organ, kerusakan otak, koma, dan, pada kasus yang ekstrem, kematian. Kadar gula darah yang tinggi secara kronis dapat menyebabkan kerusakan yang progresif terhadap organ-organ tubuh, seperti ginjal, mata, jantung, pembuluh-pembuluh darah, dan sel-sel saraf.

Beberapa wanita mungkin menjadi hiperglimia ketika hamil, yang dikenal sebagai diabetes gestasional. Jika tidak diobati, ini dapat menyebabkan ibu melahirkan bayi besar yang akan terancam oleh kadar glukosa yang rendah setelah dilahirkan. Wanita yang pernah mengalami diabetes gestasional bisa atau juga mungkin tidak akan berkembang menjadi diabetes.

Bagaimana sampel didapatkan?

Sampel darah didapatkan dengan memasukkan jarum suntik ke dalam vena (pembuluh darah balik) pada tangan atau dari setetes darah yang didapat dengan menusuk kulit, biasanya pada ujung jari, dengan lanset yang berujung tajam. Kadang, sampel urin yang acak dikumpulkan. Dan beberapa penderita diabetes mungkin akan menggunakan alat pemantau kadar glukosa berkelanjutan, dengan sensor kecil yang tertanam di bawah kulit perut dan dilekatkan pada posisinya menggunakan plaster. Sensor ini akan mengukur kadar glukosa darah setiap 5 menit dan mengirimkan hasilnya pada perkakas elektronik yang dilekatkan pada baju penderita. Pembacaan digital akan menunjukkan nilai glukosa secara tepat waktu.

Apakah persiapan diperlukan untuk menjaga kualitas sampel?

Jika tujuannya hanya penaspihan (screening), maka biasanya disarankan pemeriksaan dengan puasa, tidak makan dan minum apapun kecuali air putih selama 8 jam sebelum tes glukosa darah. Mereka yang telah atau pernah didiagnosis dengan diabetes biasanya dilakukan tes dengan puasa, dan setelah makan. Untuk tes gula darah sewaktu, atau acak silakan ikuti instruksi dokter. Tes toleransi glukosa mungkin memerlukan Anda puasa untuk tes darah yang pertama dan kemudia minum cairan yang mengandung sejumlah glukosa, dan tes selanjutnya akan diambil pada waktu yang telah ditentukan.

Bagaimana tes ini digunakan?

Tes ini biasanya digunakan untuk:

  • Memeriksa apakah ada kondisi hiperglikemia atau hipoglikemia.
  • Membantu mendiagnosis diabetes.
  • Memantau kadar glukosa darah pada penderita diabetes.

Tergantung pada tujuan tesnya, glukosa dapat diukur setelah puasa, setiap saat, atau setelah makan (post prandial), dan/atau sebagai bagian dari tes toleransi glukosa.

Pemeriksaan

Glukosa biasanya diperiksa sebagai bagian dari tes rutin saat pemeriksaan kesehatan menyeluruh. Karena diabetes tidak menunjukkan gejala spesifik saat awal kemunculannya, maka tes rutin seperti ini diperlukan untuk menjaring penderita diabetes yang tidak kentara atau mereka yang berisiko terkena diabetes nantinya. Biasanya digunakan tes glukosa darah sewaktu.

Ibu hamil juga disarankan melakukan pemeriksaan gula darah, biasanya dengan tes toleransi glukosa (oral glucose chalenge test). Biasanya dilakukan pada usia kehamilan 24 hingga 28 minggu. Pemeriksaan akan bermanfaat mengetahui kondisi kesehatan umum ibu, dan kemungkinan munculnya diabetes gestasional yang bisa menghasilkan bayi besar yang akan mempersulit proses persalinan dan mengancam kesehatan bayi setelah lahir.

Jika Anda sedang hamil dan hendak mengetahui lebih banyak tentang tes ini, silakan berkonsultasi dengan dokter atau ahli kandungan dan kebidanan.

Diagnosis

Pemeriksaan glukosa darah dapat digunakan untuk mendiagnosis diabetes, termasuk mungkin dengan bantuan pemeriksaan tambahan hemoglobin A1c. Ada sejumlah prosedur dan tes, termasuk tes glukosa setidaknya dua kali dalam jangka waktu yang berlainan untuk memastikan diagnosis dapat ditegakkan.

Kapan diminta untuk tes?

Tes glukosa bisa dilakukan pada orang yang sehat, tanpa gejala apapun untuk melihat kemungkinan adanya diabetes atau pra diabetes karena pada awalnya memang tidak memiliki gejala yang tampak. Pemeriksaan glukosa darah juga bisa disyaratkan pada keperluan umum, misalnya saat melamar kerja, atau pemeriksaan kesehatan rutin yang disyarakatkan bagi tenaga kerja suatu instansi atau perusahaan. Atau disarankan pada orang-orang dengan risiko yang lebih tinggi untuk terkena diabetes, misalnya pada mereka yang kegemukan atau pada yang sudah melewati usia 40-45 tahun.

Tes glukosa juga disarankan pada seseorang yang memiliki gejala glukosa darah tinggi (hiperglikemia), seperti:

  • Sering haus, biasanya diikuti dengan sering buang air kecil.
  • Kelelahan.
  • Pandangan kabur.
  • Infeksi yang lambat sembuh.

Atau gejala-gejala glukosa darah rendah (hipoglikemia), seperti:

  • Berkeringat
  • Lapar
  • Gemetar
  • Cemas
  • Bingung
  • Pandangan kabur

Tes glukosa darah juga dilakukan pada kondisi kegawatdaruratan untuk menentukan apakah glukosa darah yang tinggi atau rendah yang menyebabkan pingsan atau penurunan kesadaran.

Orang-orang dengan pra diabetes biasanya memiliki kadar glukosa yang tingginya lebih tinggi daripada batas tinggi kadar normal, namun lebih rendah daripada mereka yang ditetapkan sebagai kondisi diabetes. Biasanya pada orang-orang ini disarankan pemeriksaan gula darah secara berkala.

Penderita diabetes biasanya disarankan melalukan pemeriksaan glukosa darah secara mandiri dan periodik sepanjang hari untuk membantu mengontrol kadar gula darah mereka. Demikian juga pada ibu hamil, pemeriksaan disarankan untuk mendeteksi dini kemungkinan adanya diabetes gestasional.

Bagaimana makna hasil tes ini?

Kadar glukosa tinggi biasanya selalu mengarahkan kecurigaan pada diabetes, namun banyak kondisi dan penyakit lain yang juga dapat meningkatkan kadar glukosa darah. Informasi berikut akan menyarikan makna dari hasil tes glukosa darah yang diperoleh. Tes ini didasarkan pada Asosiasi Diabetes Amerika (ADA).

Glukosa Darah Puasa

Kadar Glukosa Indikasi
Dari 70 hingga 99 mg/dL (3.9 to 5.5 mmol/L) Glukosa puasa normal
Dari 100 hingga 125 mg/dL (5.6 to 6.9 mmol/L) Glukosa puasa terganggu (pra diabetes)
126 mg/dL (7.0 mmol/L) ke atas pada lebih dari sekali tes acak Diabetes

Oral Glucose Tolerance Test (OGTT)

Kadar dapat diterapkan kecuali saat kehamilan. Sampel diambil 2 jam pasca minum larutan dengan 75 gram glukosa.
Kadar Glukosa Indikasi
Kurang dari 140 mg/dL (7.8 mmol/L) Toleransi glukosa normal
Dari 140 hingga 200 mg/dL (7.8 to 11.1 mmol/L) Toleransi glukosa terganggu (pra diabetes)
Lebih dari 200 mg/dL (11.1 mmol/L) pada lebih dari sekali tes acak Diabetes

Pemeriksaan Diabetes Gestasional: Glucose Challenge Test

Sampel diambil 1 jam pasca minum 50 gram glukosa.
Kadar Glukosa Indikasi
Kurang dari 140* mg/dL (7.8 mmol/L) Permeriksaan normal
140* mg/dL (7.8 mmol/L) dan lebih Abnormal, perlu OGTT (lihat dibawah)
* Beberapa menggunakan nilai batas 130 mg/dL (7.2 mmol/L) karena itu mengidentifikasikan 90% perempuan dengan diabetes gestasional, dibandingkan dengan 80% yang terindentifikasi menggunakan batas 140 mg/dL (7.8 mmol/L).

Diagnosis Diabetes Gestasional: OGTT

Pada 2011, American Diabetes Association (ADA) mengadopsi rekomendasi baru yang merekomendasikan tes toleransi glukosa 2 jam dibandingkan 3 jam OGTT sebagaimana masih direkomendasikan oleh American Congress of Obstetricians and Gynecologists (ACOG). Detil dari kedua asosiasi dicantumkan sebagai berikut.
Waktu Pengambilan Sampel Kadar Target ACOG saat ini Kadar Target ADA
Sampel diambil setelah minum 100 gram glukosa Sampel diambil setelah minum 75 gram glukosa
Puasa (sebelum minum larutan glukosa) 95 mg/dL (5.3 mmol/L) 92 mg/dL (5.1 mmol/L)
1 jam pasca minum 180 mg/dL (10.0 mmol/L) 180 mg/dL (10.0 mmol/L)
2 jam pasca minum 155 mg/dL (8.6 mmol/L) 153 mg/dL (8.5 mmol/L)
3 jam pasca minum 140 mg/dL (7.8 mmol/L) Not applicable
Interpretasi hasil Jika DUA atau lebih target dicapai atau dilewati, maka diabetes gestasional terdiagnosis. Jika SATU atau lebih target tercapai atau dilewati, maka diabetes gestasional terdiagnosis.

Peningkatan kadar glukosa yang sedang, mengindikasikan pra diabetes, jika dibiarkan bisa berkembang menjadi diabetes tipe 2.

Beberapa penyakit dan kondisi lain yang menyebabkan peningkatan kadar glukosa darah termasuk:

  • Akromegali
  • Stres akut (respons terhadap trauma, serangan jantung, dan stroke)
  • Gagal ginjal kronis
  • Sindrom Chusing
  • Banyak makan (konsumsi karbohidrat berlebih)
  • Hipertiroidisme
  • Kanker pankreas
  • Pankreatitis

Kadar glukosa rendah mengindikasikan hipoglikemia, kondisi di mana kadar glukosa darah turun di mana pertama-tama menyebabkan gejala sistem saraf (berkeringat, gemetar, palpitasi/berdebar, dan cemas/gelisah), lalu mulai mempengaruhi otak (menyebabkan kebingungan, halusinasi, pandangan kabur, dan kadang hingga jatuh koma atau mengakibatkan kematian).

Kondisi yang bisa menyebabkan hipoglikemia antara lain:

  • Insufisiensi adrenal
  • Konsumsi alkohol berlebih
  • Penyakit hati yang parah
  • Hipopituitarisme
  • Hipotiroidisme
  • Overdosis insulin (baik karena obat oral ataupun tambahan insulin)
  • Insulinoma
  • Kelaparan

Jika Anda ingin tahu lebih banyak tentang pemeriksaan glukosa/gula darah, silakan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan di sekitar Anda.

Diadaptasi dari Lab Test Online: Glucose.