Berbicara Tentang Cuci Darah


Hemodialisis atau dikenal awam sebagai prosedur “cuci darah” mungkin merupakan suatu momok yang sedikit menakutkan bagi pasien maupun keluarga pasien. Karena adanya stigma bahwa begitu cuci darah dilakukan, maka umur seseorang yang menjalaninya tidak akan lama lagi. Apalagi biaya cuci darah tidaklah sedikit.

Ginjal dalam tubuh berfungsi untuk membersihkan darah dan membuang cairan berlebih dalam bentuk urin. Beberapa fungsi lainnya adalah membuat hormon yang sesuai dengan keperluan tubuh kita. Ketika terjadi gagal ginjal, maka diperlukan terapi yang bisa menggantikan fungsi ginjal, pilihannya antara lain adalah hemodialisis, peritoneal dialisis dan transplantasi ginjal.

Nah, sekarang kita akan berbicara sedikit mengenai hemodialisis ini. Apa dan bagaimana bentuknya. Sehingga ketika salah satu dari pembaca blog ini menghadapi problematika pilihan untuk cuci darah, maka setidaknya memiliki gambaran yang diperlukan untuk membantu membuat keputusan.

Ilustrasi Hemodialisis
Sebuah ilustrasi pasien yang menjalani terapi hemodialsis (cuci darah).

Kapan Anda perlu memulai terapi?

Terapi ini (hemodialisis) diperlukan ketika seseorang telah berada pada kondisi penyakit ginjal kronis (CKD) stadium 5, atau dikenal dengan gagal ginjal (RF). Dokter Anda dapat mengetahui stadium CKD melalui pemeriksaan laju filtrasi glomerulus (GFR).

Di sini, GFR diperkirakan dari hasil suatu pemeriksaan darah untuk kreatinin, suatu produk buangan dari aktivitas otot. Jika GFR Anda merosot di bawah 15, maka Anda dikatakan menderita gagal ginjal (CKD stadium 5), dan Anda akan memerlukan beberapa bentuk terapi untuk menggantikan fungsi ginjal. Jika GFR lebih sedikit dari 30, maka dokter Anda akan memberitahukan upaya terapi lain untuk gagal ginjal. Pastikan Anda mempelajari semua jenis pilihan terapi terbaik untuk diri Anda dan keluarga.

Apa yang dilakukan dialisis sehingga Anda tetap sehat?

Baik hemodialisis maupun peritoneal dialisis akan berfungsi sebagai berikut:

  • Membuang sampah, garam dan air berlebih dan mencegah mereka semua menumpuk pada darah Anda.
  • Menjaga kadar zat-zat kimia tertentu yang ada dalam darah Anda pada tingkat yang aman.
  • Membantu mengatur tekanan darah.

Bagaimana hemodialisis bekerja?

Sebuah mesin hemodialisis memiliki sawar khusus yang disebut dialiser, atau ginjal buatan, untuk membersihkan darah Anda. Untuk mengalirkan darah Anda menuju dialiser, dokter perlu membuat suatu akses, atau jalan masuk, ke dalam pembuluh darah Anda. Ini dilakukan dengan bedah minor, biasanya pada lengan Anda.

Tiga jenis tipe akses bisa dibuat, sebuah fistula, sebuah gratf atau sebuah kateter.

Fistula adalah pilihan pertama untuk membuat akses. Dibuat dengan menggabungkan sebuah arteri (pembuluh nadi) ke vena (pembuluh balik) terdekat di bawah permukaan kulit Anda untuk membuat pembuluh darah yang lebih besar. Tipe akses ini lebih disukai karena memiliki lebih sedikit masalah dan bertahan lebih lama. Anda harus diperiksa oleh dokter ahli yang disebut spesialis bedah vaskuler setidaknya enam bulan sebelum Anda memulai dialisis. Suatu fistula harus dibuat sedini mungkin (beberapa bulan sebelum memulai dialisis) sehingga memiliki cukup waktu untuk sembuh dan siap pada waktu Anda memerlukan terapi.

Fistula arteri-vena
Pembuatan fistula pada yang menyambungkan arteri dan vena. Graft juga memiliki konsep yang serupa.

Jika pembuluh darah Anda tidak sesuai untuk sebuah fistula, maka graft akan digunakan. Ini melibatkan menggabungkan sebuah arteri dan vena terdekat dengan tabung yang kecil dan lembut yang terbuat dari material sintetik dan ditempatkan di bawah permukaan kulit.

Pasca fistula atau graft sembuh dan dialisis dimulai, dua jarum suntik akan ditempatkan – satu pada sisi arteri dan satu pada sisi vena yang diakses – setiap kali Anda menjalani terapi. Jarum-jarum ini terhubung dengan tabung-tabung plastik. Satu tabung membawa darah Anda menuju dialiser di mana dia akan dibersihkan, dan satu lagi mengembalikan darah yang bersih ke Anda.

Tipe akses ketiga adalah kateter, dimasukkan ke vena besar di leher atau dada Anda. Tipe ini biasanya digunakan ketika Anda memerlukan dialisis untuk jangka waktu yang pendek. Kateter dapat digunakan sebagai akses permanen hanya jika fistula atau graft tidak bisa ditempatkan. Kateter bisa dihubungkan langsung ke tabung-tabung dialisis sehingga jarum tidak diperlukan.

Kateter
Kateter yang ditempatkan di vena besar leher atau dada, digunakan untuk dialisis jangka pendek atau ketika fistula dan graft tidak dapat diimplementasikan.

Anda akan dirujuk pada ahli bedah khusus yang akan menempatkan akses dialisis ini bagi Anda.

Bagaimana dialiser membersihkan darah Anda?

Dialiser, atau sawar, memiliki dua bagian, satu bagian untuk darah Anda dan bagian lain untuk membersihkan cairan disebut dialisata. Sebuah membran tipis memisahkan kedua sisi. Sel-sel darah, protein dan komonen penting lain tetap berada dalam darah karena mereka terlalu besar untuk melawati membran. Produk sampah yang lebih kecil seperti urea, kreatinin dan ekstra cairan melewati membran dan dibuang. Perubahan pada dialisata atau cairan pembersih bisa dibuat sesuai kebutuhan khusus Anda.

Hemodialisis

Di mana dialisis dikerjakan?

Hemodialisis dapat dikerjakan di sebuah rumah sakit yang memiliki fasilitas terkait, pada pusat dialisis yang bukan merupakan bagian dari rumah sakit atau di rumah. Anda dan dokter Anda akan menentukan tempat mana yang paling baik untuk kondisi medis Anda dan harapan Anda.

Berapa lama tiap terapi dialisis berlangsung?

Terapi hemodialisis biasanya dilakukan sekitar tiga kali dalam seminggu. Setiap terapi berlangsung sekitar empat jam, namun Anda mungkin perlu waktu lebih banyak untuk memastikan bahwa cukup sampah dan cairan yang dibuang. Banyaknya dialisis yang Anda perlukan tergantung pada:

  • Seberapa sisa ginjal Anda yang masih berkerja;
  • Seberapa banyak berat cairan yang Anda peroleh di antara terapi;
  • Berapa berat Anda;
  • Seberapa banyak sampah/kotoran yang ada dalam darah Anda;
  • Tipe ginjal buatan yang digunakan oleh pusat dialisis Anda.

Dokter Anda akan memberikan Anda sebuah resep dialisis yang menyatakan seberapa banyak terapi yang Anda perlukan. Penelitian menunjukkan bahwa mendapatkan cukup dialisis akan meningkatkan kesehatan secara keseluruhan, membuat Anda merasa lebih baik, menjaga Anda tidak selalu masuk rumah sakit dan membuat Anda hidup lebih lama.

TIPS: Tanyakan pada tim dialisis Anda, tes apa yang digunakan untuk menentukan dosis dialisis yang diberikan, dan bagaiamana hasilnya untuk Anda.

Tanyakan pada tim dialisis Anda dan pastikan: (1) Akses Anda berkerja dengan baik; (2) Dialiser Anda bekerja dengan baik; (3) Aliran darah Anda dan laju aliran cairan dialisis tidak terlalu lambat selama dialisis; (4) Sampel darah Anda diambil dengan tepat.

Pastikan Anda mendapatkan terapi mencukupi dengan: (1) Tiba tepat waktu untuk terapi penuh; (2) Tepati semua jadwal terapi.

Bisakah melindungi sisa ginjal yang masih berfungsi?

Penelitian menunjukkan bahwa sisa ginjal yang berfungsi akan memberikan hasil yang lebih baik pada dialisis. Tanyakan pada dokter Anda tentang cara-cara berikut guna melindungi sisa ginjal Anda yang masih berfungsi.

  • Jika Anda memiliki tekanan darah tinggi, minumlah obat-obatan untuk darah tinggi dari golongan penghambat enzim pengonversi angiotensin (ACEIs) atau penyekat reseptor angiotensi (ARBs). Obat-obatan ini akan membantu melindungi ginjal Anda.
  • Hindari obat-obatan yang dapat merusak ginjal Anda, seperti obat-obatan penghilang rasa sakit yang disebut obat-obatan anti-inflamasi non-steroid (NSAIDs) dan antibiotik tertentu.
  • Konsultasikan dengan dokter mengenai perlunya meminum obat-obatan diuretik untuk menghilangkan sisa garam dan cairan pada darah.
  • Pastikan kondisi-kondisi seperti tekanan darah tinggi dan diabetes terkontrol dengan baik.

Bisakah dialisis menyembuhkan penyakit ginjal Anda?

Ini mungkin pertanyaan yang cukup sering diajukan dan jawabannya mengganggu. Pada kasus tertentu di mana kegagalan ginjal terjadi secara tiba-tiba atau akut (ARF), maka dialisis akan diperlukan untuk periode waktu yang pendek hingga ginjal membaik dan berfungsi seperti sedia kala.

Namun, pada kasus CKD yang memburuk dengan perlahan-lahan menuju arah kegagalan ginjal, maka ginjal Anda tidak akan membaik. Anda akan memerlukan dialisis hingga akhir hayat Anda, terkecuali Anda mampu menerima suatu transplantasi ginjal.

Dialisis memang kadang tidak menyamankan penderita, gejala-gejala seperti kram, nyeri kepala, mual dan pusing bisa saja terjadi meski tidak sering. Jika Anda mengalaminya, sampaikan pada petugas di tempat dialisis.

Apakah diet khusus diperlukan?

Ya. Diet Anda akan berbeda dari sebulan Anda memulai dialisis. Meskipun sejumlah makanan mungkin dibatasi, adalah penting untuk mendapatkan jumlah protein dan kalori yang berkecukupan untuk mempertahankan kesehatan.

Ahli gizi Anda dapat membantu Anda membuat rencana diet yang tepat untuk kebutuhan harian Anda. Dan cukup penting Anda membatasi cairan serta garam (sodium) sehingga tubuh Anda tidak memuat terlalu banyak cairan di antara masa terapi. Karena cairan berlebih akan memerlukan pembuangan yang ekstra melalui ultrafiltrasi, dan ini bisa menimbulkan ketidaknyamanan selama terapi berlangsung. Cairan berlebih juga bisa meningkatkan tekanan darah yang berpotensi merusak sisa ginjal yang masih berfungsi.

Apakah dialisis mengubah gaya hidup?

Anda dan keluarga mungkin memerlukan cukup waktu untuk membiasakan diri dengan dialisis dan jadwal terapi Anda. Petugas kesehatan akan membantu Anda menyediakan konseling mengenai menyesuaikan diri dengan gaya hidup yang disebabkan oleh sakit Anda.

Ketika Anda terbiasa dengan terapi Anda, maka Anda diharapkan merasa jauh lebih baik. Bahkan, Anda bisa merasa lebih ingin banyak beraktivitas yang Anda gemari daripada sebelum penyakit ginjal Anda berkembang. Obat-obatan untuk mengobati anemia dan menjaga tulang Anda tetap sehat tersedia, sehingga Anda akan merasa lebih sehat dan tidak mudah lelah.

Apakah mereka yang menjalani dialisis dapat bepergian?

Ya. Jika daerah tujuan memiliki fasilitas dialisis juga. Pastikan Anda membuat janji untuk terapi dialisis di tempat tujuan jika jadwal Anda menyatakan demikian. Sehingga Anda tetap bisa menjalani perawatan dan menjaga kesehatan Anda selama bepergian.

Apakah penderita gagal ginjal dengan dialisis dapat terus bekerja?

Ya. Banyak pasien dialisis kembali bekerja atau lanjut bekerja setelah mereka terbiasa dengan dialisis. Jika pekerjaan Anda memerlukan banyak daya fisik (mengangkat berat, menggali, dan sebagainya), Anda mungkin perlu mengubah sifat pekerjaan Anda.

Tanya jawab ini saya sadurkan dari buku saku yang dikeluarkan oleh National Kidney Foundation, dan saya harap dapat memberikan sedikit jawaban tentang banyak pertanyaan mengenai prosedur cuci darah (hemodialisis) yang ada di sekitar masyarakat kita.

Jika Anda memiliki pertanyaan seputar hemodialisis dan gagal ginjal, silakan gunakan borang tanggapan di bawah tulisan ini. Hubungi dokter Anda atau pusat hemodialisis terdekat untuk informasi dan konsultasi yang lebih lengkap mengenai prosedur cuci darah.

  • Applausr

    ngebaca harus seminggu 3 kali dan selama 4 jam.. itu kondisi yang mengenaskan… sama dengan tinggal di rumah sakit kalau itu mah ya…

    ga tega merasakannya…

    • http://cahya.legawa.com Cahya

      Kalau tidak bisa terbiasa dengan prosedur hemodialisis, bisa menggunakan peritoneal dialisis. Atau melakukan dialisis di rumah. Memang awalnya mungkin tidak nyaman. Karena itu diperlukan kesadaran dan disiplin yang tinggi untuk ini.

      • Wiwik Wijayanti

        Salama kenal Dok,, saya mau tanya, kira2 jika pasien HD makan saat dialysis, apa besar pengaruhnya terhadap Intradialysis hypotention? Terutama pada pasien yang memakai dialyzer re-use.

        Terima kasih

        • http://legawa.com/ Cahya

          Wikik, makan selama dialisis dari yang pernah saya baca cukup umum di Eropa dan jarang terjadi kasus hipotensi setelah makan saat dialisis. Hanya saja di Amerika memang jarang, dan di Indonesia pada praktiknya setahu saya juga jarang, kecuali ada perubahan paradigma yang saya lewatkan.

          Kandungan makanan yang dimakan pada saat dialisis akan menjadi pertimbangan utama. Jika tidak salah akan dipilih yang rendah fosfor dan cukup protein.
          Untuk merinci apakah makan selama dialisis akan aman bagi seseorang, maka perlu dilihat lagi kondisi orang tersebut, dan makanan yang sesuai. Karena memang sering kali orang bisa lapar saat menjalani dialisis.

          Rumah sakit sebaiknya menyusun panduan dan prosedur untuk pasien yang menghendaki adanya makanan selama proses dialisis. Nanti panduan dan prosedur tersebut akan memberikan penjelasan yang lebih baik tentunya dibandingkan apa yang bisa saya sampaikan di sini.

  • Zizy Damanik

    Mudah-mudahan sih kita sehat terus ya. Kalau sampai sakit seperti itu duh…..

    • http://cahya.legawa.com Cahya

      Maka dari itu, mari kita menjaga kesehatan. :-)

  • Tina Latief

    untuk orang yang sudah mengalami gangguan ginjal seperti ilustrasi di atas mungkin salah satu cara terbaik bisa dengan homodialisis, tapi untuk yang masih sehat, lebih baik menjaganya saja Dok..
    saya ngga tahan kalau melihat atau harus ikut merasakan cuci darah. :I

    • http://cahya.legawa.com Cahya

      Ya, selama masih sehat, kita berkewajiban menjaga kedua ginjal agar tetap sehat :-).

  • http://twitter.com/indobrad indobrad

    kok santai banget itu pasiennya. emang gak sakit ya?

    • http://cahya.legawa.com Cahya

      Kalau sudah terbiasa ndak akan sakit, rasa sakit kan kadang meningkat dengan rasa khawatir atau takut dengan prosedur medis yang dilakukan.

  • http://www.facebook.com/awang.Uchiha Awang Isya

    kenapa pada waktu cuci darah pasien sering drop / tensi turun? jadi tindak bs melanjutkan selama 4 jam. adakah cara menaikan tensi?

    • http://cahya.legawa.com Cahya

      Awang Isya, maaf agak lama membalas ini karena saya sedang perjalanan ke luar kota.

      Memang saat melakukan cuci darah (hemodialisis) kadang muncul di mana tekanan darah pasien menjadi turun, yang dikenal dengan IHD – intradialysis hypotension. Bahkan hingga saat ini, kasus ini cukup sering terjadi.

      Mengapa bisa terjadi, biasanya karena pasien sudah membawa faktor risikonya masing-masing. Misalnya saja pasien diabetes dengan CKD stadium 5, pasien dengan anemia yang parah, pasien dengan malnutrisi dan kekurangan albumin (hipoalbuminemia).

      Pasien akan dinilai sebelum menjalani dialisis sehingga diketahui dan diedukasi mengenai kemungkinan timbulnya hipotensi intradialisis nantinya.

      Bagaimana tatalaksana yang baik, biasanya masing-masing pusat dialisis memiliki prosedur tetap dalam menanganinya. Silakan merujuk pada protap tersebut, atau berkonsultasi dengan konsultan ginjal dan hipertensi.

  • http://www.facebook.com/egha.pratama.39 Suryaniaga

    kenapa pasien HD sering sulit tidur ya dok?

    • http://cahya.legawa.com Cahya

      Suryaniaga, sementara pertanyaan “kenapa” belum bisa saya jawab. Namun memang pada pasien yang menjalani dialisis (termasuk hemodialisis) rentan terjadi gangguan tidur, seperti sleep apnea dan restless leg syndrome. Sehingga sering mengantuk berlebihan pada siang harinya, atau mengalami excessive daytime sleepiness.

      Ada yang menduga mungkin berhubungan dengan uremia yang tinggi pada pasien gagal ginjal itu sendiri. Atau karena gangguan pelepasan melatonin secara alami pada malam hari di dalam tubuh pasien dengan hemodialisis. Melatonin berperan dalam mengantur lingkaran harmoni waktu tidur dan bangun kita. Semakin rusak kondisi ginjal manusia, semakin turun juga ritme melatonin. Pada gagal ginjal kadar melatonin bisa sangat rendah.

  • YONO FINEMAN

    Pagi Dok,

    saya benar-benar agak bingung dan sedih Dok.

    2 bulan yang lalu Ayah saya di vonis gagal ginjal fungsi ginjal sekitar 7 % penyebabnya karena asam urat yang tidak terkontrol, tapi kami sekeluarga sepakat untuk menunda HD dulu dan dokter memperbolehkannya, sambil dikasih obat buat di rumah.
    alasan kami :

    1. mau mengobati dahulu dengan cara herbal yang pasti dengan kami selektif memilihnya.

    2. saya pernah membaca artikel tentang penelitian di Amerika dan hasilnya bahwa “pasien gagal ginjal yang fungsi ginjalnya masih di atas 5 % dan memulai HD rata-rata meninggal dengan cepat dibanding yang belum memulainya” atau bisa dikatakan HD terlalu dini tidak disarankan kecuali fungsi ginjalnya di bawah 1 %.

    yang saya mau tanyakan :

    apakah aman Dok bagi Bapak saya untuk menunda HD dulu dengan fungsi ginjal 7% itu?

    terima kasih banyak sebelumnya yaa Dok.
    Yono

    • http://cahya.legawa.com Cahya

      Yono, beberapa panduan mungkin akan saling tumpang tindih. Yang dijadikan patokan setahu saya adalah creatinine clearance yang bermanifestasi pada gejala yang ditimbulkan. Dan dilihat dari GFR – Laju filtrasi glomerulus yang merupakan penanda fungsi ginjal.
      Jika GFR sudah di bawah 30 ml/menit, kita sudah mengatakan ada gangguan. Di bawah 15 ml/menit bisa dimulai dialisis. Saya tidak tahu bagaimana konversinya. Namun bisa dibilang pada sisa 8-12% fungsi ginjal dialisis bisa dimulai.
      Ada yang memulai pada GFR 5-7 ml/menit. Namun sering kali komplikasi berlebih menyebabkan kematian. Sehingga disarankan aman memulai di sekitar GFR 10-15 ml/menit seingat saya, karena hal-hal yang tidak menguntungkan bisa ditekan.
      Hanya saja pada pasien yang mengalami gagal ginjal. Fungsi ginjal sudah tidak bisa dipulihkan. Kita hanya bisa mempertahankan atau memperlambat perburukannya. Silakan berkonsultasi dengan dokter yang merawat untuk kelanjutan terapi terbaik bagi ayahanda.
      Mohon diperhatikan, sejumlah herbal mungkin tidak aman untuk ginjal. Sama seperti obat-obatan kimia, bahan alam ada juga yang bersifat membebani ginjal.

  • bima mokoginta

    saya mau bertanya dok,

    saya mempunyai seorang teman, ia pernah keceplosan mengobrol dengan saya, bahwa teman saya tersebut pernah cuci darah. tapi sudah lama ia tidak melakukan cuci darah.

    teman saya juga pernah bilang, bahwa ia mengalami pusing, mual, hingga muntah, dan sering gatal-gatal jika memakan ikan atau udang.

    saya ingin membantu teman saya tersebut, tetapi saya tidak tega menanyakan sakit nya, saya tidak mau membuat teman saya drop karena memikirkan penyakitnya tersebut.

    yang ingin saya tanyakan.

    apakah itu disebabkan oleh gagal ginjal?

    atau apakah ada penyakit lain yang mengakibatkan teman saya tersebut melakukan cuci darah?

    dan jika teman saya memang mengalami gagal ginjal, dan tidak rutin melakukan cuci darah, bagaimana dengan kondisi fisiknya.

    Terima kasih

    • http://cahya.legawa.com Cahya

      Bima, cuci darah adalah terapi penggantian fungsi ginjal, yang berarti diberikan jika ginjal gagal berfungsi.
      Gagal ginjal ada yang permanen, sehingga terapi hemodialisis harus diberikan sepanjang hayat, atau diganti dengan cangkok ginjal.
      Gagal ginjal juga ada yang akut (acute kidney injury), beberapa kasus ini bisa sampai memerlukan hemodialisis tapi hanya sampai fungsi ginjal dipulihkan kembali (tergantung dari faktor penyebab dan kondisi ginjal itu sendiri).
      Jika memang dulu pernah diberikan, dan tidak diberikan lagi. Maka mungkin memang pada kasus yang tidak memerlukan hemodialisis lagi. Kalau gejala alergi makanan setiap kali makan udang atau ikan laut, biasanya tidak berhubungan dengan kondisi ginjal. Hanya saja makanan yang memicu hal tersebut harus dihindari.

  • Desy Nur Intan Sari

    assalamualaikum
    maaf dokter
    saya mau tnya dalam blog dokter, dokter menyampaikan kalau lama periode
    hemodialisa itu tergantung pada :
    a) Seberapa sisa ginjal yang masih berkerja, b) Seberapa banyak berat
    cairan yang Anda peroleh di antara terapi, c) Berapa berat, d) Seberapa
    banyak sampah/kotoran yang ada dalam darah dan e) Tipe ginjal buatan
    yang digunakan oleh pusat dialisis.
    nah ini kalau saya boleh tau sumber nya dri mana ya dok ?apa ada bukunya
    atau berdasarkan dari pengalaman dokter ?

    mohion jawabanya trmksh

  • http://legawa.com/ Cahya

    Angga Yulia, ureum dan kreatinin bisa dijadikan salah satu patokan untuk menghitung laju filtrasi glomerulus yang menjadi nilai seberapa baik ginjal masih berfungsi.