Demam tifoid (typhoid fever) dikenal juga di Indonesia sebagai tifus abdominalis (dalam buku panduan pengobatan dasar Puskesmas yang diterbitkan oleh Departemen Kesehatan RI), yang mungkin istilahnya diserap dari bahasa Belanda tyfeus. Dan ini sering menjadi tumpang tindih dengan penyakit tifus/tipes yang diserap dari istilah typhus yang merujuk pada salah satu penyakit yang disebarkan oleh kutu dan lalat, atau oleh hewan lebih besar di sekitar rumah, seperti tikus dan kucing.

Karena sejumlah gejalanya agak serupa, maka saya selalu menggunakan istilah demam tifoid untuk merujuk penyakit yang disebabkan oleh Salmonella typhi ini, guna menghindari kesalahpahaman dimaknai sebagai tifus yang disebabkan oleh bakteri Rickettsia typhi dan Rickettsia prowazekii. Ada juga penyakit yang lebih ringan, para-tifoid sebutannya.

Penyebab demam tifoid atau demam enterik ini adalah kuman/bakteri yang disebut dengan Salmonella typhi, biasa ditulis S. typhi. Penyebarannya melalui makanan, minuman dan air yang terkontaminasi/tercemar oleh bakteri ini, dan bakteri masuk ke dalam tubuh. Mereka akan bergerak menuju usus lalu masuk ke peredaran darah, dari sini mereka dapat mencapai sejumlah organ anda, seperti nodus limfe, kantung empedu, hati, limpa, dan tempat-tempat lainnya di seluruh tubuh.

Beberapa orang yang terinfeksi dapat menjadi karier (pembawa) kuman S. typhi dan terus melepaskan bakteri S. typhi melalui tinja mereka selama bertahun-tahun – Kasus Typhoid Mary adalah salah satu kasus yang cukup terkenal di dunia kedokteran modern. Dan inilah mengapa, salah satu tindakan prevensi yang baik dalam higienitas sehari-hari adalah menyediakan jamban pada setiap rumah tangga.

Sertifikasi Kematian Akibat Tifoid

Demam tifoid sudah ada sejak dulu sekali. Bahkan catatan kematian resmi oleh karena demam tifoid sudah ada sejak lebih dari seabad yang lalu. Sumber: Lesmah.

Gejala demam tifoid umumnya berkembang 1-3 minggu pasca paparan, dan bisa berupa gejala ringan hingga berat. Gejalanya termasuk demam tinggi, tidak enak badan, sakit kepala, konstipasi atau diare, kadang ditemukan bintik-bintik merah pada dada hingga ke perut yang dikenal dengan “rose spots” yang muncul jika tidak mendapatkan pengobatan dengan cepat.

Beberapa gejala lain yang mungkin terjadi adalah: nyeri perut, agitasi, buang air besar dengan darah, menggigil, kebingungan, defisiensi perhatian, delirium, suasana hati yang naik turun, halusinasi, mimisan, kelelahan yang parah, kelemahan dan perasaan segala sesuatunya terasa dikerjakan dengan melambat.

Demam pada tifoid umumnya khas, meski tidak pada semua kasus demikian. Demamnya akan meninggi dari hari ke hari, namun biasanya mereda pada pagi hari, dan puncak demam hari berikutnya cenderung lebih tinggi daripada hari sebelumnya.

Sepanjang minggu pertama serangan sakit, gejala-gejala saluran pencernaan akan dominan bermanifestasi sebagai bentuk perjalanan penyakit. Ini termasuk nyeri perut (abdomen) yang difus/menyebar, atau nyeri tekan pada perut. Ada pada beberapa kasus, akan muncul nyeri tajam serupa kolik pada kuadran kanan atas perut. Peradangan pada rongga usus akan bisa menyebabkan konstipasi sepanjang perjalanan penyakit. Lalu penderita bisa terserang batuk kering, nyeri tumpul pada kepala bagian depan, disertai dengan mengigau pada kondisi badan yang tidak nyaman dan adanya penurunan kesadaran.

Pada sekitar akhir minggu pertama, demam dapat mencapai 39-40°C. Lalu bisa muncul rose spots yang berupa bintik berwarna merah agak gelap (seperti warna ikan salmon), sedikit keputihan dan berwujud makula atau papula dengan ukuran  1-4 cm, jumlahnya tidak lebih dari 5 buah. Biasanya akan menghilang dalam 2-5 hari.

Selama minggu kedua, gejala-gejala di atas memburuk. Perut yang mengembang (distensi), dan pembesaran limpa (spleenomegali) yang lunak adalah hal yang umum. Bisa juga terjadi denyut jantung yang melambat (bradikardi) secara relatif – di mana biasanya peningkatan suhu tubuh akan meningkatkan denyut jantung -, dan adanya nadi dikrotika (denyut ganda, denyut yang kedua lebih lemah daripada yang pertama).

Minggu ketiga tanpa penanganan bermakna akan membuat penderita yang tetap demam mengalami toksikasi dan anoreksia dengan kehilangan berat badan yang signifikan. Konjungtiva terinfeksi, napas menjadi cepat, demikian juga nadi, pemeriksaan oleh dokter akan menemukan ronki pada wilayah basal paru-paru. Penderita juga bisa mengalami diare yang berlendir dengan warna hijau-kuning dengan bau yang tidak sedap. Penderita dapat jatuh ke dalam kondisi tifoid yang ditandai dengan apati, bingung atau bahkan psikosis. Jika peradangan pada saluran cerna mengalami pembusukan (nekrosis), bisa jadi pecah (perforasi) dan menyebabkan peradangan seluruh perut (peritonitis). Gejala dan tanda ini bisa diselubungkan oleh penggunaan kortikosteroid. Pada kondisi ini, toksimea, myokarditis atau perdarahan usus dapat menyebabkan kematian.

Itulah mengapa, kondisi demam tifoid sangat disarankan untuk segera mendapatkan pertolongan medis.

Diagnosis untuk demam tifoid dapat ditegakkan secara klinis jika tidak ada pemeriksaan penunjang yang tersedia. Biasanya diterapkan di wilayah-wilayah atau pusat kesehatan yang jauh dari atau tidak memiliki fasilitas laboratorium yang memadai.

Standar penegakkan diagnosis untuk demam tifoid adalah pemeriksaan kultur. Jika terdapat bakteri S. typhi dapat dibiakkan dari sampel tinja, darah atau sumsum tulang, maka bisa dikatakan 100% spesifik untuk infeksi yang terjadi. Namun kultur sering kali tidak praktis, menyakitkan bagi pasien (misal kultur sumsum tulang), memerlukan ruang yang banyak, dan waktu yang tidak sedikit. Sehingga tidak dianggap praktis untuk dilakukan di daerah-daerah.

Maka pilihan lainnya adalah tes serologi, yaitu memindai jejak keberadaan bakteri S. typhi pada tubuh penderita. Tes Widal adalah salah satu tes yang merupakan patokan pengujian serologi untuk demam tifoid selama puluhan tahun. Digunakan untuk menguji penjendelan antibodi terhadap antigen O dan H milik S. typhi. Namun karena tidak sensitif dan tidak spesifik menunjukkan infeksi S. typhi, maka tes Widal kini bukanlah sebagai metode klinis yang dapat diterima.

Kini pengujian laboratorium lebih mengarah pada pendeteksian antibodi IgM dan IgG terhadap polisakarida S. typhi. Meskipun demikian, tampaknya tes Widal masih banyak diterapkan pada daerah-daerah di Indonesia. Kecuali rumah sakit besar atau laboratorium lengkap yang memiliki uji terbaru, maka tes Widal masih dimanfaatkan.

Beberapa tes non-spesifik yang bisa membantu penegakkan diagnosis demam tifoid seperti profil darah (laju endap darah, hitung jenis sel darah putih, jumlah trombosit), profil penjendalan darah, serum transaminase dan lain sebagainya menunjukkan nilai sesuai perjalanan penyakit.

Jika Anda bingung, biarkan dokter Anda yang menyarankan pemeriksaan apa saja yang akan diperlukan untuk menegakkan diagnosis deman tifoid sesuai dengan kondisi Anda saat itu.

Lalu bagaimana pengobatan atau terapi untuk penderita demam tifoid atau tifus abdominalis ini?

Pertama, Anda perlu banyak cairan, jika kondisi Anda buruk, maka rawat inap dan pemberian elektrolit via jalur intravena (infus) sangat disarankan dan diawasi secara seksama. Anda perlu banyak istirahat, pada kondisi ringan memang ada pembatasan aktivitas, namun pada kondisi berat maka tirah baring penuh sangat disarankan. Diet lunak diizinkan jika tidak ada kontraindikasi, misalnya ileus atau perforasi usus.

Faktor-faktor di atas sangat penting sebelum pengobatan, karena tanpa semua itu kadang obat-obatan akan sia-sia saja, atau penyembuhan akan tertunda.

Kedua, pengobatan demam tifoid karena disebabkan oleh bakteri, maka memerlukan antibiotik. Ada beberapa golongan antibiotik yang diberikan sebagai ujung tombak pengobatan demam tifoid lini pertama, semisalnya ampisilin, kloramfenikol atau trimetoprim-sulfametoksasol. Namun jangan menggunakan antibiotik tanpa resep dokter, karena berisiko meningkatkan resistensi bakteri terhadap antibiotik jika dosisnya tidak tepat, dan wilayah tempat tinggal Anda terancam dengan Salmonella typhi yang resisten antibiotik.

Anda mungkin pemeriksaan kultur sensitivitas untuk Salmonella typhi dengan pertimbangan wilayah-wilayah tertentu yang Anda tinggali atau pernah kunjungi memiliki catatan adanya infeksi S. typhi yang resisten antibiotik. Dokter Anda akan kemudian menyarankan terapi yang lebih sesuai untuk Anda.

Meskipun dengan pengobatan yang tepat, demam tifoid tidak bisa sembuh dengan serta merta. Gejala mungkin masih ada setelah 2-4 minggu sejak dimulainya pengobatan. Dengan pengobatan yang dini, maka hasil penyembuhannya dapat baik, kecuali terjadi komplikasi dari demam tifoid. Dan jika pengobatan tidak tuntas, maka gejala dapat kembali lagi.

Demam tifoid saat ini masih ada cukup banyak di sekitar kita, terutama daerah-daerah dengan sanitasi yang masih kurang. Hindari penyakit ini dengan selalu menjaga kebersihan dari dan lingkungan dengan sebaik-baiknya. Pastikan menu harian Anda dimasak dengan matang, dan buah-buahan dicuci dengan bersih serta ditempatkan di tempat yang terlindung.

Jika Anda menemukan ada tanda dan gejala demam tifoid, segera hubungi tenaga kesehatan terdekat. Jangan ditunda, dan jangan dianggap remeh.