Dalam kondisi kegawatdaruratan, penyelanggara sistem kesehatan menerapkan prinsip triage atau memisahkan perlakuan dan prioritas layanan sesuai dengan kondisi yang dihadapi. Jadi jika kondisi Anda tidak dalam keadaan gawat dan/atau darurat, sebaiknya tidak mengunjungi IGD (instalasi gawat darurat) atau IRD (instalasi rawat darurat) untuk mendapatkan bantuan medis.

Selama saya berada di lapangan, saya menemukan banyak orang datang berobat ke IGD atau IRD dengan kondisi yang tidak gawat dan/atau tidak darurat. Memang tidak ada larangan untuk ini, namun ada beberapa kondisi yang sebaiknya perlu diketahui terlebih dahulu. Karena Anda mungkin tidak akan merasa nyaman jika mengunjungi IGD.

Saya tidak jarang menemukan pasien atau keluarga pasien yang “protes sopan” melalui keluhan ringan bahwa mereka cukup lama menunggu (dan mungkin mengapa pasien yang datang belakangan justru dilayani lebih dahulu). Dan tentunya menjelaskan bahwa IGD memiliki sistem layanan prioritas adalah penjelasan yang cukup sering saya berikan.

Konsep triage dikembangkan pertama kali pada masa era perang dunia I. Di mana para tenaga medis di medan perang mencoba mengklasifikan para korban perang yang ditolong ke dalam 3 katogeri sederhana.

  1. Mereka yang akan bertahan hidup, tanpa memandang tindakan apapun yang diberikan.
  2. Mereka yang tidak akan bertahan hidup, tanpa memandang tindakan apapun yang diberikan.
  3. Mereka yang bisa bertahan hidup, jika suatu tindakan spesifik secepatnya diberikan.

Namun di era yang lebih modern saat ini, IGD menganut sistem pembagian yang lebih sistematis, dibandingkan era perang dunia di mana tenaga medis lebih mengandalkan insting dari ratusan dan ribuan kasus yang pernah ditangani sebelumnya. Sistem triage mungkin bisa berbeda-beda di masing negara, termasuk di masing-masing daerah di Indonesia. Namun esensinya tetap sama.

Triage

Contoh pembagian triage sederhana, dan bagaimana mengkategorikan pasien anak-anak (pediatri) yang harus didahulukan.

Biasanya mereka yang diberikan label hijau akan mendapatkan prioritas bantuan paling akhir, yang label merah paling awal, dan label kuning berada di antaranya. Dan yang label hitam adalah yang memang sudah tidak dapat tertolong lagi.

Jika Anda datang dengan hanya batuk, pilek dan demam ringan ke IGD. Maka Anda masuk ke dalam label hijau, dan bisa jadi jika ada banyak pasien label merah datang sebelum dan setelah Anda, maka Anda bisa dilayani paling belakang dan harus menunggu lama. Namun jika kebetulan IGD sedang tidak melayani yang lain, tentu Anda adalah skala prioritas, jika tidak terdapat layanan poliklinik.

Jika Anda datang ke IGD sebuah rumah sakit dengan label hijau (kecuali untuk kecelakaan dan luka-luka), maka biasanya disarankan untuk memeriksakan diri ke poliklinik jika tersedia (masih buka), karena IGD harus selalu disiapkan untuk pasien kondisi gawat darurat yang bisa datang setiap saat.

Untuk pasien-pasien dengan label hijau sebenarnya lebih tepat/disarankan mengunjungi poliklinik (di rumah sakit, balai pengobatan, puskesmas dan sejenisnya) atau praktek dokter umum. Jika gangguan kesehatan hanya bersifat simptomatis seperti flu atau batuk pilek, maka obat yang dijual bebas untuk meringankan gejala dan memperbaiki kondisi umum bisa langsung dibeli di apotek.

Jadi jika Anda tidak dalam kondisi gawat darurat, maka ada potensi Anda tidak akan diprioritaskan jika memilih berobat ke IGD/IRD. Namun jika Anda atau yang Anda antarkan memiliki kondisi gawat darurat, jangan menunda waktu untuk datang ke layanan unit gawat darurat.