Arsip Kategori: Ekologi

Bali Hijau Kembali

Belasan tahun yang lalu, saya menemukan sebuah buku bacaan yang lusuh di rumah nenek saya, dalam tutup ber­warna abu-abu muda yang kusam – ter­tutup debu dari rak-rak tua di rumah yang tua, ter­tulis jelas kata “Bali” seba­gai judul­nya. Dan saya masih samar-samar ingat, di bagian awal buku itu diceritakan sejarah penemuan pulau Bali oleh orang-orang

Sungaiku Dulu dan Kini

Jika anak ting­gal di desa yang memiliki DAS, ten­tunya sungai merupakan salah satu tem­pat per­mainan­nya. Baik sungai yang kecil maupun yang besar, anak-anak selalu menemukan kesenangan­nya dengan ber­main di sungai, apakah hanya dengan sekadar ber­enang, ber­main lum­pur, menang­kap ikan atau udang, atau banyak per­mainan yang bisa dicip­takan dengan kreativitas mereka di alam. Sungai juga merupakan sum­ber

Bhyllabus on Silent World

Remem­ber today I would let you to know, if Bhyllabus takes a part in World Silent Day cam­paign. In many times we have heard the three basic ideas about act to save our planet earth from human cor­rup­tion of its’ resour­ces. They are to reduce, to reuse, and to recycle. Today we as the part

Sedotan, Saya dan Ekologi

Ketika kemarin saya menuliskan meng­enai “Nasi Setengah Porsi”, kini ada lagi yang bisa mem­buat saya berpikir-pikir (walau tidak lama) ketika masuk ke rumah makan untuk beberapa men­dapatkan sesuap nasi – mak­sud saya tentu untuk men­dapatkan sejum­lah nutrisi yang diper­lukan oleh tubuh saya ini. Jika kita memesan sesuatu di rumah makan, pas­tilah secara umum atau sering­nya, pesanan

Haruskah Diaspal?

Malam itu Nang Lecir ber­suara lan­tang di forum rem­buk desa, dia adalah yang mewakili sedikit dari segelin­tir orang yang menyatakan tidak pada wacana bahwa jalan per­sawahan mereka akan dias­pal. Sedikit aneh memang, karena umum­nya sudah banyak sawah di desa-desa tetangga yang memiliki jalan utama yang sudah dias­pal, dan hal ini memudahkan trans­por­tasi keluar masuk per­sawahan.

Dikalahkan Lebah

Siapa yang tidak kenal serangga kecil yang satu ini, bisa kita jum­pai di mana-mana, ter­utama saat musim ber­bunga. Mulai dari sengatan­nya yang menyakitkan hingga madu manis yang dihasil­kan­nya, mem­buat lebah begitu dekat dengan kehidupan manusia. Beberapa waktu yang lalu saya menon­ton sebuah acara menarik di salah satu stasiun televisi swasta, sebuah acara kuis yang melibatkan

Campaign of World Silent Day 2009

Aku rasa mung­kin perlu kuber­bagi dalam hal ini. Per­tama melihat kem­bali apa-apa yang ter­jadi di planet yang kita huni ini, yang ber­nama bumi ten­tunya, kecuali eng­kau ting­gal di dimen­simu sen­diri…, aku tak akan berpanjang-lebar menuturkan ini. Jika kita melihat dalam keseharian ke sekitar kita, lingkungan-lingkungan ter­dekat kita, jika eng­kau ber­sen­tuhan dengan sebuah tek­nologi hingga bisa

Permainan Amankan Bumi Kita

Jika kamu punya banyak pengetahuan ten­tang bumi, bahkan hingga ke isu hangat seperti pemanasan global belakangan ini, mung­kin kamu akan ter­tarik dengan per­mainan ini. Sebenar­nya sih aku hanya men­caritem­pat, karena tidak tahu di mana harus menaruh­nya.…, Semoga Enjoy ^_^ Get the Save the Earth Quiz! Add to it & Share it! widget and many other great

Go ‘Vege’ & Save The Earth

Hari ini baru memasuki tugas baru di bagian ICCU, dan akan ber­lang­sung selama seminggu, ah… entah karena apa walau sudah ber­bekal ber­ba­gai hal tetap saja kami sekolom­pok merasa kurang, mung­kin beginilah pola hidup deselerasi (saat semua orang sedang sibuk dengan kam­panye akselerasi). Aku sem­pat bingung karena aku belum sem­pat mem­per­baiki stetoskop-ku yang masih rusak, karet

Katakan Tidak Pada Kantong Plastik

Belakangan ini kulihat kam­panye melawan plas­tik seper­tinya mulai merebak. Di salah satu toko per­alatan tulis/kantor mereka memam­pang tulisan kecil di dekat meja kasir, isinya kurang lebih “Tahukah Anda bahwa plas­tik memer­lukan waktu lebih dari 200 tahun untuk dapat dihan­curkan oleh bumi, dan steroform sama sekali tidak dapat dihan­curkan oleh bumi. Jika Anda tidak memer­lukan kan­tong