<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Bhyllabus &#187; Catatan Perjalanan</title>
	<atom:link href="http://catatan.legawa.com/category/pribadi/catatan-perjalanan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://catatan.legawa.com</link>
	<description>Our Short Pilgrims - Sebuah Catatan Kaki Cahya: Sentuhan Relung Angan dan Ungkapan</description>
	<lastBuildDate>Fri, 10 Sep 2010 12:05:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Mengunjungi Sekolah Tinggi Pariwisata Bali</title>
		<link>http://catatan.legawa.com/2010/05/mengunjungi-sekolah-tinggi-pariwisata-bali/</link>
		<comments>http://catatan.legawa.com/2010/05/mengunjungi-sekolah-tinggi-pariwisata-bali/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 May 2010 04:37:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cahya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[hotel]]></category>
		<category><![CDATA[jalan-jalan]]></category>
		<category><![CDATA[kampus]]></category>
		<category><![CDATA[kenalan]]></category>
		<category><![CDATA[kenangan]]></category>
		<category><![CDATA[narablog]]></category>
		<category><![CDATA[Nusa Dua]]></category>
		<category><![CDATA[pariwisata]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatan.legawa.com/2010/05/mengunjungi-sekolah-tinggi-pariwisata-bali/</guid>
		<description><![CDATA[Sudah lama saya ingin mengunjungi tempat Mbak Santi (senior saya sebagai alumni KMHD UGM dan sekaligus juga anggota BBC) mengajar di Sekolah Tinggi Pariwisata di Nusa Dua, Bali. Hanya saja pada awalnya saya sempat ragu, karena kendala jika saya pulang berlibur ke Bali adalah kendaraan yang memang susah didapatkan. Jangan tanyakan saya tentang angkutan umum, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah lama <a title="Cahya Legawa&#39; Homepage" href="http://www.legawa.com" rel="nofollow">saya</a> ingin mengunjungi tempat Mbak Santi (senior saya sebagai alumni <abbr title="Keluarga Mahasiswa Hindu Dharma - Universitas Gadjah Mada">KMHD UGM</abbr> dan sekaligus juga anggota <abbr title="Bali Blogger Community">BBC</abbr>) mengajar di Sekolah Tinggi Pariwisata di Nusa Dua, Bali. Hanya saja pada awalnya saya sempat ragu, karena kendala jika saya pulang berlibur ke Bali adalah kendaraan yang memang susah didapatkan. Jangan tanyakan saya tentang angkutan umum, ada alasan mengapa saya lebih suka menggunakan sepeda motor ke mana pun di Bali.</p>
<p>Saya berangkat dengan sepeda motor orang tua menuju <abbr title="Sekolah Tinggi Pariwisata">STP</abbr> ditemani oleh adik sepupu saya – Prema. Kebetulan dia baru kelas 2 <abbr title="Sekolah Menengah Atas">SMA</abbr>, ada baiknya melihat langsung kehidupan kampus sebelum dia memutuskan kuliah nanti.</p>
<p> <span id="more-908"></span>
<p>Kami berangkat dari Mengwi, sebuah kota kecil (lebih tepatnya desa yang agak besar) sekitar 10-an km di Utara Mangunpura (Ibukota Kabupaten Badung). Udara dan langit tampak cukup cerah dan kering, sehingga kami tidak mengkhawatirkan hujan.</p>
<p>Perjalanan memerlukan waktu sekitar 1,5 jam dalam kondisi lalu lintas yang normal. Saya sempat tersesat di area perhotelan Nusa Dua, karena maklum terakhir kali saya ke daerah Nusa Dua hanya ketika berusia beberapa tahun saja. Untungnya dengan perkakas Nokia E71 yang dilengkapi dengan <a title="Introduction to Google Latitude" href="http://www.google.com/intl/en_us/latitude/intro.html">Google Latitude</a> bisa memandu kami arah yang tepat dengan pemetaan <abbr title="Global Positioning System">GPS</abbr>–nya.</p>
<p>Setibanya di STP, kami disambut oleh <a title="Blog Mbak Santi Diwyarthi" href="http://santidiwyarthi.blogspot.com">Mbak Santi</a> dan kemudian diajak berkeliling. Ini mungkin kampus kedua dengan arsitektur bergaya Bali yang pernah saya kunjungi, setelah beberapa tahun lalu berkunjung ke <abbr title="Fakultas" udayana?="Udayana?" kedokteran="kedokteran" universitas="universitas">FK UNUD</abbr> yang berada di Pusat Kota Denpasar.</p>
<p>Pertama-tama, kami dipandu melihat restoran praktek bagi mahasiswa, sempat menyaksikan persiapan tata meja dan persiapan pembuatan <em>banana flambe</em> (<abbr title="please corect me if I wrong">cmiiw</abbr>). Dan begitu ke belakang restoran, kami bisa menemukan dapur praktek yang cukup besar dan lengkap, setiap mahasiswa dilengkapi dengan alat praktek dapur standar. Kami diinformasikan bahwa mahasiswa biasanya mendapatkan teori terlebih dahulu di ruang kuliah pada pagi harinya, baru kemudian praktek di dapur pada siang harinya, tentu saja mereka juga harus menyiapkan bahan-bahan praktek yang dapat diperoleh dari tempat penyimpanan sebelumnya. Saya juga menemukan keunikan (mungkin karena sifat udik saya yang masih melekat) bahwa di salah satu dapur ada ruangan kecil yang bisa dijadikan tempat kuliah mini dan dilengkapi dengan proyektor, sehingga dosen bisa mengajar dengan menggunakan salinda yang interaktif pada mahasiswa. Setidaknya kami diberi tahu terdapat 3 dapur utama dan 3 restoran di dalam bangunan berlantai 2 itu, ada yang Oriental, <em>Western</em> dan juga <em>Japanese</em>.</p>
<p>Kemudian kami diajak mengunjungi kantin yang berlokasi agak rendah dibandingkan bangunan-bangunan lainnya, membuatnya terasa lebih teduh di daerah perbukitan yang panas apalagi di dampingi oleh hutan belukar yang berada di salah satu sisinya, sehingga saat siang bisa ditemukan burung-burung kecil berdatangan untuk sekadar mencari remah makanan yang terjatuh di meja atau lantai kantin. Saya menikmati suguhan teh hangat dengan kue basah, dan sembari kemudian mengobrol ditutup dengan jus pepaya.</p>
<p>Selanjutnya kami dihantarkan menuju menengok-nengok bangunan kuliah yang ada di lahan kampus seluas 13 hektar ini. Selain bangunan kuliah dan perpustakaan, ada juga lab komputer dan jaringan Wifi (<em>Hot Spot</em>) di kampus ini. Ruang kuliah juga terasa sejuk karena fasilitas AC yang ditempatkan di masing-masing ruang, sementara walau di luar udara cukup panas saat terik maka jalan-jalan yang sudah bebas debu dan tanaman penghijau yang menyejukkan rasanya membuat kampus ini lebih mirip taman yang luas daripada pusat pembelajaran. Disertai dengan berbagai elemen tambahan seperti <em>bale bengong</em> di beberapa lokasi dan kolam-kolam hias.</p>
<p>Kami pun diberikan cendera mata berupa baju kerja mahasiswa STP. Sepanjang jalan menelusuri kampus, kami ditunjukkan berbagai bangunan yang menunjang aktivitas mahasiswa – termasuk aktivitas non pendidikan, mungkin seperti kegiatan <abbr title="Unit Kegiatan Mahasiswa">UKM</abbr> sebuah universitas, termasuk untuk olah raga dan seni.</p>
<p>Di pojok Utara kampus ada sebuah hotel berkelas tinggi, kami dipersilakan masuk dan melihat-lihat interior hotel, serta melihat bagian belakang hotel yang terdapat kolam renang cantik dan pemandangan ke bawah bukit melihat kota Denpasar dari kejauhan dan pemandangan pelabuhan Benoa.</p>
<p>Kami duduk di pinggir kolam renang cukup lama, menikmati udara perbukitan dan suasana yang tenang di pinggiran aktivitas kampus yang seakan tak hendak ingin berhenti. Burung-burung kecil meliak-liuk menyambar permukaan air kolam, mungkin hanya sekadar membasuh diri di siang yang terik itu. Kadang mereka hinggap berbaris di pinggir kolam yang lebih kecil.</p>
<p>Kolam itu tenang sekali di siang hari, pasti lebih indah lagi di malam hari jika memandang ke arah kota Denpasar yang bermandikan berbagai cahaya lampu.</p>
<p>Kami duduk di salah kursi-kursi kayu lipat yang melingkar pada salah satu meja di sudut kolam, dan meneruskan obrolan di tempat yang teduh serta berangin sepoi-sepoi itu. Sekadar obrolan ringan, kalau seperti narablog ketemuan untuk kopi darat.</p>
<p>Lalu sebelum meninggalkan hotel yang bernama Langon Bali Resort and Spa itu, saya sempatkan mengambil foto kenangan.</p>
<p><a href="http://lhagima.files.wordpress.com/2010/05/19052010028.jpg"><img title="Langon Bali Resort and Spa" alt="Langon Bali Resort and Spa" src="http://lhagima.files.wordpress.com/2010/05/19052010028.jpg" width="420" height="315" /></a> </p>
<p>Sebelum menyelesaikan kunjungan kenegaraan (walah) – karena saya merasa sangat tersanjung Mbak Santi berbaik hati dengan ramahnya memberikan kami tur privat di kampus STP – kami kembali dijamu dengan makan siang di “kantin mahasiswa”, karena lebih banyak mahasiswa yang ada di kantin itu (mengingatkan saya salah satu kantin di kampus saya).</p>
<p>Saya juga salut, karena walau sudah banyak belajar ilmu komunikasi di bangku kuliah, tetap saja belum bisa berkomunikasi sebaik Mbak Santi. Atau mungkin gaya bahasa dari bidang psikologi memang lebih santun dan tertata dengan baik ya?</p>
<p>Sebenarnya masih banyak yang ingin saya tulis mengenai STP, tapi apa daya karena ingatan ini lebih parah dari tulisan orangnya, jadi nyaris semuanya menguap dan hanya meninggalkan endapan yang berbisik luar biasa pada kampus ini. Jika ada yang berminat mengetahui lebih banyak tentang Sekolah Tinggi Pariwisata Bali, silakan mengunjungi situsnya di “<a title="Bali Tourism Institute - Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Bali" href="http://stpbali.ac.id/">Bali Tourism Institute</a>”.</p>
<p>Di akhir tulisan saya ucapkan banyak terima kasih pada Mbak Santi, senang rasanya diterima dan disambut hangat di kampusnya.</p>
<p><!--Digiprove_Start--><span style="vertical-align:middle; display:inline-table; padding:3px; line-height:normal;border:0px;" title="certified 21 May 2010 04:37:43 UTC by Digiprove certificate P17261" ><a href="http://www.digiprove.com/show_certificate.aspx?id=P17261" style="text-decoration:none" target="_blank" style="border:0px; float:none; display:inline; text-decoration: none;"><img src="http://www.digiprove.com/images/dp_seal_trans_16x16.png" style="vertical-align:middle; display:inline; border:0px; margin:0px; float:none; background-color:transparent" border="0"/><span style="font-family: Tahoma, MS Sans Serif; font-size:11px; color:#636363; border:0px; float:none; display:inline; text-decoration:none; letter-spacing:normal" onmouseover="this.style.color='#A35353';" onmouseout="this.style.color='#636363';">  Copyright secured by Digiprove © 2010 Cahya Legawa</span></a><!--AA584ADE2675208B22C52895B51ABEC7DA4E8E3B18BE5EAA9193F6024762890B--></span><!--Digiprove_End--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatan.legawa.com/2010/05/mengunjungi-sekolah-tinggi-pariwisata-bali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tikungan Layang-Layang</title>
		<link>http://catatan.legawa.com/2010/05/tikungan-layang-layang/</link>
		<comments>http://catatan.legawa.com/2010/05/tikungan-layang-layang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 May 2010 04:21:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cahya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[suara]]></category>
		<category><![CDATA[anak-anak]]></category>
		<category><![CDATA[kebersamaan]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>
		<category><![CDATA[langit]]></category>
		<category><![CDATA[layang-layang]]></category>
		<category><![CDATA[masa lalu]]></category>
		<category><![CDATA[permainan]]></category>
		<category><![CDATA[udara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatan.legawa.com/2010/05/tikungan-layang-layang/</guid>
		<description><![CDATA[Saat melewati gang-gang kecil di sekitaran dusun dengan sepeda motor tua saya, kadang saya jumpai beberapa anak yang asyik dengan gulungan benang dan layang-layangnya. Beberapa sedang berusaha menerbangkan layang-layangnya, beberapa lagi tenggelam bersama angin menerbangkan benda kecil itu meliak-liuk di udara. Saya suka bermain layang-layang saat kecil, namun kali ini ada yang berbeda. Mereka tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saat melewati gang-gang kecil di sekitaran dusun dengan sepeda motor tua <a title="Cahya Legawa&#39; Homepage" href="http://www.legawa.com" rel="nofollow">saya</a>, kadang saya jumpai beberapa anak yang asyik dengan gulungan benang dan layang-layangnya. Beberapa sedang berusaha menerbangkan layang-layangnya, beberapa lagi tenggelam bersama angin menerbangkan benda kecil itu meliak-liuk di udara.</p>
<p>Saya suka bermain layang-layang saat kecil, namun kali ini ada yang berbeda. Mereka tidak bermain di lapangan luas, namun di gang-gang kecil yang walau tak sempit namun tak bisa membuat kaki kecil mereka berlari bebas sebebas di tanah lapang. Mereka tak menerbangkan layang-layang di langit bebas, namun masih harus beradu cerdik guna menghindari kabel-kabel listrik yang bergantungan.</p>
<p> <span id="more-895"></span>
<p>Ketika saya kecil, ada musim-musim di mana langit desa-desa di Bali di hiasi berbagai layangan aneka rupa. Saat itu tidak banyak permainan berteknologi tinggi seperti sekarang, apakah itu PlayStation ™, XBOX ™ atau lain sebagainya, bahkan sebuah konsol <em>video game</em> di era itu lumayan mahal (meski saya tidak mengatakan bahwa saat ini bisa didapat dengan murah). Tidak juga ada banyak acara televisi yang menarik. Bahkan belum ada telepon seluler yang kini lebih banyak berada di genggaman orang-orang era sekarang, tidak juga ada situs jejaring sosial dan internet yang menarik minat kami di zaman itu.</p>
<p>Yang ada hanyalah langit biru yang luas, tanah yang cukup lapang seperti persawahan dan pantai, dan waktu yang berlimpah. Kami memiliki segala sesuatu yang disediakan alam kecuali teknologi tinggi.</p>
<p><em>Then, lets paint the sky with colors!</em></p>
<p>Balik ke tempo dulu, anak-anak berkreasi untuk mewarnai langit dalam berbagai warna yang indah. Mungkin zaman sekarang layang-layang bisa dibeli dengan murah, tapi bentuknya hanya itu-itu saja jika saya lihat di sekitar dusun saya.</p>
<p>Tidak ada yang berkreasi bentuk dan motif layangan yang baru. Tidak ada ada yang menghabiskan waktu bareng untuk mencari bambu, membuang rangka layang-layang hingga menciptkan motif untuk desain jadinya. Tidak ada lagi anak-anak yang ke toko untuk memilih benang/tali layangan yang cocok untuk layangan mereka. Atau berapa masih layangan yang dilengkapi alat sederhana seperti “<em>guangan</em>” untuk bernyanyi di atas langit sana.</p>
<p>Saya tidak pandai membuat layangan. Semisal ketika saya membuat layangan bermotif ikan, maka di saat layangan lain terbang dengan kepala ikan meluncur ke atas, maka layangan buatan saya justru meluncur dengan bagian ekor terlebih dahulu.</p>
<p>Walau saya tidak pandai membuat layangan, namun saya cukup sering memiliki layangan yang bagus. Bagaimana bisa? Tentu saja di masa kini mungkin agak sedikit mustahil, namun di masa dulu di mana langit adalah taman layang-layang, maka hal ini tidaklah mustahil. Jika setiap hari langit penuh akan layang-layang yang indah, maka di situ ada kemungkinan salah satu atau dua dari layang-layang tersebut akan putus, jadi tidak aneh, jika seorang anak iseng berjalan-jalan di pematang sawah, dia bisa menemukan sebuah layang-layang terdampar di tengah sawah, tersangkut di pucuk pepohonan atau lain sebagainya setelah terbawa angin entah dari mana.</p>
<p>Atau di saat yang tepat, anak-anak yang bermain di tanah lapang bisa melihat sebuah layang-layang yang putus – ah tentu saja kita bisa dengan cepat yang mana layang-layang yang putus dan mana yang diulur benangnya jika sudah terbiasa. Maka tanpa perlu dikomando lagi, semua akan ambil ancang-ancang langkah seribu untuk mengejar layang-layang putus itu. Dalam sekejap kerumulan yang tadi – misalnya – asyik bermain bola akan tampak berlari-lari kencang dengan kepala-kepala yang sesekali mendongak ke langit biru. Rasanya ada sejumlah energi yang terkumpul entah dari mana, bahkan kita dapat berlari lebih kencang daripada saat jam olah raga di sekolah, tidak peduli dengan rintangan, jangankan hanya pematang sawah atau parit-paritnya, bahkan sungai curam berbatu, padang ilalang, kandang sapi, semak berduri, tidak akan ada yang bisa menahan laju lari anak-anak yang mengejar layang-layang.</p>
<p>Seakan-akan kami saling berlomba untuk sampai di mana pun angin akan berhenti membawa layang-layang itu, namun di sisi lain saling bantu satu sama lain, semisal ketika harus melewati tanah yang cukup tinggi untuk dipanjat seorang diri. Semua itu begitu menyenangkan bagi anak-anak, tidak tahu mengapa, atau mungkin lebih tapatnya kami tidak terlalu mempermasalahkan alasan. Karena siapa pun yang tiba lebih dulu untuk mendapatkan si layang-layang belum tentu menjadi pemiliknya, karena biasanya layang-layang yang dikejar bersama akan diberikan pada yang sedang tidak punya layang-layang atau paling sedikit punya layang-layang. Pun jika layang-layang itu cukup besar untuk dipelihara satu anak (karena layang-layang berukuran jumbo juga memerlukan biaya pemeliharaan) maka, layang-layang itu akan jadi milik bersama. Ah…, rasanya hal-hal seperti kepemilikan tidak terlalu diperhitungkan, karena esok hari kami akan berkumpul lagi di tempat yang sama untuk menaikkan semua layang-layang bersama-sama.</p>
<p>Mungkin layang-layang kami akan putus, dan di kejauhan sana, akan ada kelompok anak-anak yang sama persis yang akan mengejar layang-layang kami yang putus. Walau kadang sedikit kecewa, tapi tidak rasa penyesalan yang mendalam atau berlarut-larut. Kami hanyalah bagian dari jaring-jaring kecil yang menghiasi langit, dan segala sesuatu yang terik dan berangin di atas sana adalah penghubung kami anak-anak di seluruh pulau, kisah-kisah kami terajut dan terangkai oleh langit dan layang-layang. Biarlah kisah itu terbang tanpa nama ke berbagai penjuru, dan demikianlah kami berbagi hal-hal yang tak pernah terukir dalam sejarah.</p>
<p>Hari ini saya berada kembali di negeri layang-layang masa lalu, namun dengan sedikit kekecewaan. Seharusnya ini adalah musim yang cerah, 15 atau 20 tahun yang lalu biasanya langit biru cerah dengan puluhan layang-layang menghiasi, tapi kali ini hanya ada mega-mega tebal dengan peluang hujan yang sangat besar. Sepertinya perubahan iklim banyak mengubah wajah langit negeri ini. Hmm…, mungkin selanjutnya saya akan mengunjungi negeri gajah saja ya…</p>
<p><!--Digiprove_Start--><span style="vertical-align:middle; display:inline-table; padding:3px; line-height:normal;border:0px;" title="certified 10 May 2010 04:21:22 UTC by Digiprove certificate P16202" ><a href="http://www.digiprove.com/show_certificate.aspx?id=P16202" style="text-decoration:none" target="_blank" style="border:0px; float:none; display:inline; text-decoration: none;"><img src="http://www.digiprove.com/images/dp_seal_trans_16x16.png" style="vertical-align:middle; display:inline; border:0px; margin:0px; float:none; background-color:transparent" border="0"/><span style="font-family: Tahoma, MS Sans Serif; font-size:11px; color:#636363; border:0px; float:none; display:inline; text-decoration:none; letter-spacing:normal" onmouseover="this.style.color='#A35353';" onmouseout="this.style.color='#636363';">  Copyright secured by Digiprove © 2010 Cahya Legawa</span></a><!--BD1635A0D3A6DB4572A83E94AA0EE89B388F1796C3AC45034A028A71724FCD55--></span><!--Digiprove_End--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatan.legawa.com/2010/05/tikungan-layang-layang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Buku Harian, Surat dan Tulisan</title>
		<link>http://catatan.legawa.com/2010/05/buku-harian-surat-dan-tulisan/</link>
		<comments>http://catatan.legawa.com/2010/05/buku-harian-surat-dan-tulisan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 May 2010 17:45:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cahya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[anak-anak]]></category>
		<category><![CDATA[buku harian]]></category>
		<category><![CDATA[diary]]></category>
		<category><![CDATA[kenangan]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[SD]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[surat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatan.legawa.com/2010/05/buku-harian-surat-dan-tulisan/</guid>
		<description><![CDATA[Jika melihat kembali ke belakang, sudah berapa lama ya saya menulis di internet (blog). Pada profil blogger saya, di sana saya terdaftar sejak Januari 2006. Yah, untuk seorang narablog, saya masih tergolong muda dan newbie – artinya belum banyak pengalaman. Saya mungkin memang suka menulis sebagaimana saya tulis setahun yang lalu dalam “An Interview Above [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jika melihat kembali ke belakang, sudah berapa lama ya <a title="Cahya Legawa&#39; Homepage" href="http://www.legawa.com" rel="nofollow">saya</a> menulis di internet (blog). Pada <a title="Profil Blogger Cahya Legawa" href="http://www.blogger.com/profile/16089023523169834804" rel="nofollow">profil blogger saya</a>, di sana saya terdaftar sejak Januari 2006. Yah, untuk seorang narablog, saya masih tergolong muda dan <em>newbie</em> – artinya belum banyak pengalaman. Saya mungkin memang suka menulis sebagaimana saya tulis setahun yang lalu dalam “<a href="http://catatan.legawa.com/2009/04/an-interview-above-my-paint-of-letters/">An Interview Above My Paint of Letters</a>”. Sekarang saya lebih banyak menulis di berbagai blog, dan kesemuanya memang blog personal, seperti Bhyllabus (blog ini), <a href="http://lhagima.wordpress.com">Daily Lhagima</a> (seperti jurnal harian), <a href="http://bhyllabus.blogspot.com">Cahya’s Stupid Enigma</a> (tentang pemikiran konyol, dengan versi lawas <a href="http://hardiva.tumblr.com">di sini</a>), <a href="http://lhagima.blogspot.com">Our Short Pilgrims</a> (bahasa hati yang terenkripsi dalam kata-kata sejuta makna).</p>
<p> <span id="more-894"></span>
<p>Ya, semua itu sudah tercakup dalam <a title="Lhagima of Bhyllabus&#39; Winter Project" href="http://catatan.legawa.com/2009/07/lhagima-of-bhyllabus-winter-project/">Winter Project</a> yang dikembangkan sejak musim dingin tahun lalu dengan melakukan beberapa penyesuaian terhadap pola penulisan, yang saat ini memasuki tahap penerapan (aplikatif) dan penataan perluasan (ekspansi struktural). Tapi saya sendiri tidak terlalu peduli pada proyek ini, toh hanya sekadar keisengan di dunia maya untuk hobi menulis saya.</p>
<p>Saya mungkin memang menyukai menulis sejak kecil, ah…, coba saya ingat-ingat kembali masa-masa itu.</p>
<p>Ketika masa-masa menjadi <a title="I am Bad" href="http://catatan.legawa.com/2010/05/i-am-bad/">anak desa yang nakal</a> berakhir (sementara waktu), saya dipindahkan dari pinggiran desa ke pinggiran kota, ah…, memang nasib jadi anak pinggiran ya seperti ini. Dulu saya paling tidak mau pindah ke kota, di sana tidak ada teman atau anak yang saya kenal. Entah kena bujuk apa waktu itu sampai bersedia diajak pindah, bak kerbau dicocok hidungnya saja.</p>
<p>Ketika saya di pinggiran desa, otak saya di dengkul, habisnya hanya dipakai untuk main ke sana ke mari tanpa tujuan yang jelas. Sesampainya di pinggiran kota, memasuki sekolah dasar yang baru, ternyata saya sadar saya tidak berotak sama sekali, ha ha…, alias jadi yang paling bodoh di sana. Di desa tidak ada guru yang mendikte-kan muridnya sebagai syarat agar bisa pulang sekolah, karena guru di desa juga harus mengurus ternak atau sawah mereka guna menunjang hidup. Tapi ternyata kalau di kota, masih bisa menyempatkan diri tersenyum-senyum melihat wajah murid-muridnya yang bingung mengerjakan soal yang didiktekan sebelum pulang – itu tampak seperti kesadisan dalam wacana yang berbeda.</p>
<p>Tidak perlu ditanyakan lagi, saya termasuk orang yang selalu pulang paling belakang. Dan termasuk yang selalu berkeringat dingin kalau sudah tahu sebentar lagi mendekati jam pulang sekolah, padahal kalau murid-murid biasanya selalu senang kalau sebentar lagi pulang sekolah.</p>
<p>Dan kondisi-kondisi ini membuat saya harus menambah sejumlah besar hal dalam kepala saya, saya mulai membaca lebih banyak – padahal dulu kerjaannya kelayapan, saya mulai menulis lebih banyak – padahal dulu sering buat main layangan. Tapi tetap saja, yang namanya naik sepeda untuk main hingga ke desa sebelah atau lain sebagainya sudah jadi kebiasaan yang tidak bisa hilang walau sudah pindah ke kota.</p>
<p>Ketika itu anak-anak sekolah dasar sedang demam “<em>diary</em>”, sesuatu yang tidak pernah saya jumpai di persawahan desa-desa, atau tegalan-tegalannya. Namun zaman itu, “<em>diary</em>” tidak selalu identik dengan buku harian, tapi lebih pada buku pribadi dan persahabatan. Anak-anak menulis apa yang mereka pikirkan, lalu saling bertukar “<em>diary</em>” dengan teman-teman lainnya yang sekelas, saling mengisi buku satu dengan yang lainnya, baik hanya sekadar biodata atau pun pemikiran anak-anak saat itu. Mungkin kalau para narablog bisa diidentikkan dengan membuat blog dan menerima penulis tamu.</p>
<p>Kalau anak-anak di desa biasanya berbagi opini sambil duduk-duduk di pinggiran sawah atau di <em>bale bengong</em>, maka di kota bisa ditambahkan bertukar opini melalui tulisan.</p>
<p>Mungkin ada yang lain yang memicu sistem ini bisa hidup di tempat baru saya saat itu. Yaitu adanya perpustakaan. Di sekolah desa, perpustakaan tidak terurus, koleksi terbatas, dan bahkan sudah ada yang “dibaca” oleh rayap terlebih dahulu. Namun di tempat saya yang baru, murid-murid bisa membaca banyak koleksi, dan saya menemukan banyak sekali bahan bacaan yang sangat menarik, dan itu sangat mengantusiaskan – seperti menemukan dan membuka peti harta karun di permainan bajak lautnya Spongebob.</p>
<p>Dorongan antusiasme, aliran inspirasi dari berbagai bahan bacaan, mungkin itu yang mendorong saya ketika anak-anak dulu untuk menuliskan pemikiran saya dalam sebuah lembaran-lembaran. Belum lagi di sekolah dasar dulu, berkat seorang guru, para murid berkompetisi secara tak sadar untuk menulis lebih banyak. Kami berlomba untuk menulis dalam susunan huruf-huruf yang rapi dan indah, kalau saya tidak salah, rasanya kami pun dulu punya jam untuk latihan menulis indah.</p>
<p>Anak-anak suka membandingkan tulisan satu dan yang lainnya, dan kami pun berusaha agar tulisannya harus lebih bagus dari yang lain. Biasanya kami memanfaatkan “<em>diary</em>” itu untuk saling bertukar tulisan, dan secara implisit melihat bagaimana tulisan teman-teman yang lain.</p>
<p>Sehingga kami secara tidak sadar telah belajar menulis dengan menempatkan kekuatan ide dan bentuk tulisan ke dalamnya. Kemudian berbagi dengan teman-teman yang lain, apalagi kalau tulisan kita sampai dipuji oleh teman-teman perempuan, wah…, bagaimana gitu, jadi tambah semangat lagi untuk menulis selanjutnya dan selanjutnya.</p>
<p>Adanya kesempatan dan keterbukaan dalam bertukar pendapat merupakan sesuatu yang menyenangkan bagi anak-anak, walau hanya sekadar membicarakan tentang film kartun yang baru saja tayang. Saya sangat senang, walau pun sering kali berbeda pendapat, setidaknya kami bisa tertawa bersama. Paling bilang, “<em>ya udah, kita lihat saja besok</em>”, dan melihat siapa yang benar prediksinya tentang suatu hal. Dan untungnya kami tidak sampai bertengkar sebagaimana yang ditunjukkan anggota dewan kita yang terhormat karena berbeda kata dan pandang.</p>
<p>Saya juga menyempatkan diri untuk menulis dengan orang-orang yang punya hobi menulis. Dulu kita mengenal apa yang namanya “sahabat pena”, mungkin tidak pernah berjumpa, hanya mengenal lewat tulisan. Rasanya saya punya beberapa sahabat pena, hingga ke berbagai pulau di nusantara. Ha ha…, padahal obrolannya pun hanya obrolan anak-anak, entah apa yang saya tulis waktu itu. Terang saja, dulu tidak ada yang namanya ponsel untuk mengirim pesan singkat atau pun surel untuk berkirim berita via internet. Maka surat pos adalah hal yang paling mudah yang bisa dikerjakan.</p>
<p>Mungkin sekarang, wilayah yang sudah maju (dalam pandangan orang Indonesia), sudah tidak ada lagi yang namanya “sahabat pena”, sekarangnya eranya jejaring sosial seperti <a title="Cahya Legawa on Facebook" href="http://www.facebook.com/cahya.legawa" rel="nofollow" target="_blank">facebook</a> dan teman-temannya. Mungkin tidak ada lagi anak-anak SD atau SMP yang tahu asyiknya berkirim surat dengan teman-teman yang tak pernah dilihat langsung, namun berbagi pemikiran yang orisinil. Tidak pernah merasakan bagaimana menyenangkannya menulis surat sambil menggembala itik di persawahan, atau datang pagi-pagi ke sekolah untuk melihat apakah di kotak surat ada balasan untuk surat kita – karena saya terbiasa menggunakan alamat sekolah daripada alamat rumah. Rasanya begitu nostalgia.</p>
<blockquote><p><em>Writing I was a kid, was so amazing, like dancing with the wind, so free and feel so nice without boundary</em>.</p>
</blockquote>
<p>Sekarang saya sejak memiliki blog dan teknologi internet, saya jarang sekali menulis langsung di buku harian. Saya masih punya satu buku, dan saya hanya menulisnya beberapa bulan sekali, dan buku itu pun saya simpan untuk diri saya sendiri.</p>
<p>Tentu saja sebagai dampaknya, kecepatan saya mengetik di komputer menjadi bertambah, bahkan saya bisa mengetik dengan cukup cepat tanpa melihat papan ketik. Tapi tulisan tangan saya menjadi semakin tidak terbaca. Itu adalah sebuah harga yang cukup mahal karena berhenti menulis dengan tangan ini.</p>
<p>Ah…, saya kangen sekali melihat “<em>diary</em>” tua saya dari zaman SD dulu, entah apa masih selamat atau tidak – maksudnya belum dibuang ke tempat sampah kalau ada pembersihan rumah di Bali. Atau tumpukan surat-surat yang saya dapatkan sejak zaman sekolah dulu, he he…, pingin melihat kembali, adakah surat cinta di dalamnya? Hmm…, mari kita bahas itu di lain kesempatan, tentunya jika saya ingat :D</p>
<p>p.s: saya mungkin tidak dapat membalas tanggapan untuk tulisan ini dengan segera. Karena jika jadwalnya tepat, maka saat tulisan ini terbit saya dalam perjalanan panjang menuju negeri layang-layang.</p>
<p><!--Digiprove_Start--><span style="vertical-align:middle; display:inline-table; padding:3px; line-height:normal;border:0px;" title="certified 5 May 2010 21:53:36 UTC by Digiprove certificate P15926" ><a href="http://www.digiprove.com/show_certificate.aspx?id=P15926" style="text-decoration:none" target="_blank" style="border:0px; float:none; display:inline; text-decoration: none;"><img src="http://www.digiprove.com/images/dp_seal_trans_16x16.png" style="vertical-align:middle; display:inline; border:0px; margin:0px; float:none; background-color:transparent" border="0"/><span style="font-family: Tahoma, MS Sans Serif; font-size:11px; color:#636363; border:0px; float:none; display:inline; text-decoration:none; letter-spacing:normal" onmouseover="this.style.color='#A35353';" onmouseout="this.style.color='#636363';">  Copyright secured by Digiprove © 2010 Cahya Legawa</span></a><!--1B763003E4EF7EDC7B991FED1BA112977B782F2CB3D2719985BC8ECC77243D90--></span><!--Digiprove_End--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatan.legawa.com/2010/05/buku-harian-surat-dan-tulisan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>32</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Another Night’s Faces</title>
		<link>http://catatan.legawa.com/2010/05/another-nights-faces/</link>
		<comments>http://catatan.legawa.com/2010/05/another-nights-faces/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 May 2010 17:51:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cahya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[suara]]></category>
		<category><![CDATA[aktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[alam]]></category>
		<category><![CDATA[anak-anak]]></category>
		<category><![CDATA[belut]]></category>
		<category><![CDATA[kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>
		<category><![CDATA[kunang-kunang]]></category>
		<category><![CDATA[malam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatan.legawa.com/2010/05/another-nights-faces/</guid>
		<description><![CDATA[Cuaca Yogyakarta sangat panas, saya sering kali susah mendapatkan tidur yang lelap di malam hari, mudah berkeringat di malam hari karena cuaca seperti ini bukanlah hal yang mudah. Kadang saya terbangun lagi setelah tertidur beberapa jam, dan kemudian susah tidur kembali. Tapi kali ini cerita saya bukan masalah susahnya tidur. Malam beberapa hari yang lalu, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cuaca Yogyakarta sangat panas, <a title="Cahya Legawa&#39; Homepage" href="http://www.legawa.com" rel="nofollow">saya</a> sering kali susah mendapatkan <a title="Artikel: Apa Yang Mungkin Merusak Tidur Lelap Anda?" href="http://catatan.legawa.com/2010/04/apa-yang-mungkin-merusak-tidur-lelap-anda/">tidur yang lelap</a> di malam hari, mudah berkeringat di malam hari karena cuaca seperti ini bukanlah hal yang mudah. Kadang saya terbangun lagi setelah tertidur beberapa jam, dan kemudian susah tidur kembali. Tapi kali ini cerita saya bukan masalah susahnya tidur.</p>
<p>Malam beberapa hari yang lalu, saya terbangun dari tidur. Rupanya tetangga saya juga masih asyik menonton pertandingan bola di kamar sebelah. Karena terbangun dengan perut kelaparan dan kehausan, kemudian saya pergi ke <abbr title="warung bubur kacang hijau">burjo</abbr> tidak jauh dari rumah, kebetulan <a href="http://virusprasojo.wordpress.com/">Arie</a> juga ikut serta setelah tampaknya pertandingan bola masih belum menunjukkan perkembangan yang menarik di lapangan hijau.</p>
<p> <span id="more-893"></span>
</p>
<p>Sesampainya di burjo, kami melihat bahwa di sana telah duduk sepasang muda-mudi (<em>they didn’t look like a married couple</em>) yang tampaknya hanya memesan minuman dingin. Seharusnya ini bukanlah pemandangan aneh, namun yang membuat saya tak pernah terbiasa dengan pemandangan ini adalah karena jam di dinding burjo itu menunjukkan waktu pukul satu malam. Yang gadis lumayan cantik (<em>outer beauty obviously</em>), karena duduk tepat di garis pandang saya, sedangkan yang pria tidak begitu tampak jelas (maaf, sudah gelap, tidak bawa kacamata, dan memang sengaja ga tertarik buat memandang, he he).</p>
<p>Beberapa saat kemudian mereka selesai lebih dulu, dan pergi meninggalkan burjo setelah membayar makan dan minumnya. Yang perempuan menyalakan rokok, sembari pasangan itu masuk ke dalam sebuah rumah kontrakan yang tidak jauh dari burjo. Meski sering membaca dan mendengar tentang sisi lain wajah malam kehidupan muda-mudi, tapi untuk melihatnya langsung tetap saja tidak akan pernah merasa terbiasa. Walau demikian kami sempat berkelakar tentang kapan kira-kira seremoni penggerebekan digelar oleh warga.</p>
<p>Baiklah saya rasa itu cukup untuk pendahuluan. Sepertinya masa kini sangat jauh berbeda dengan masa lalu. Lalu bagaimana dengan masa lalu? Hmm…, anak-anak tidak banyak memiliki jam malam, pun ada gelapnya malam mungkin telah menelan lebih banyak ingatan daripada yang bisa digali kembali.</p>
<p>Saya tidak sering keluar malam saat kecil. Namun di sana ada saat-saat di mana saya menemukan diri saya di tengah persawahan di malam hari, seperti ketika sedang mencari belut dengan manual berbekal lampu spiritus dan alat-alat manual. Dulu belut sangat banyak di persawahan, mungkin itu adalah masa-masa di mana tanah persawahan belum terlalu tercemar dengan pestisida atau pun bahan kimia lainnya, mendapatkan belut berukuran besar adalah hal yang menyenangkan. Biasanya memilih waktu di musim panas ketika terang bulan atau purnama, sehingga persawahan cukup terang walau pada malam hari. Ya, rembulan adalah penuntun kegiatan manusia di malam hari pada tanah terbuka.</p>
<p>Kadang melihat ke langit dan begitu banyak bintang yang sangat indah, apalagi jika malam tanpa awan. Katanya, pada masa sebelum saya lahir, didongengkan bahwa langit malam jauh tampak lebih indah lagi, karena orang-orang bisa melihat bima sakti dengan sangat jelas, legenda sungai bintang di langit sana hampir dikenal di seluruh penjuru dunia. Namun sungai cahaya malam itu kini telah banyak tercuri oleh cahaya buatan manusia di bumi, mereka mengambil indahnya langit malam dari pandangan kita. Saya dulu sangat tertarik pada mimpi-mimpi menjelajah angkasa yang gelap dan terang sekaligus, saya ingin mendalami ilmu-ilmu seperti astronomi atau-pun astrofisika (walau bukan termasuk astrologi) – sayangnya mimpi yang satu ini tak pernah terwujud karena … yah biasa-lah kalau tidak mendapat dukungan orang tua. Jadi kini saya membenamkan diri dalam cahaya buatan manusia pada malam di sebuah planet bernama bumi.</p>
<p>Tapi tak apa, di bumi pada malam hari juga ada cahaya di bumi yang tidak pernah diciptakan manusia. Dulu bisa ditemukan sangat banyak di persawahan kami, mereka adalah kunang-kunang, kelompok mereka yang bisa mencapai puluhan atau ratusan bertebaran dalam hamparan luas persawahan di kala malam, mereka adalah pemikat hati di malam hari. Anak-anak kecil semasa saya bisa menangkap dengan mudah satu atau dua ekor saat mereka hingga dengan anggun di ujung-ujung rumput ilalang atau daun padi. Dan melihat bagaimana mereka bercahaya dengan indah di telapak tangan. Di mata seorang anak seperti saya, serangga kecil yang bersinar itu adalah sebuah kekaguman tersendiri, cahayanya membuat mata seorang anak bercahaya dan berbinar dengan penuh rasa suka dan kagum. Walau kini kembali, pemandangan itu sangat langka, menemukan seekor-pun di persawahan modern yang telah banyak terkontaminasi adalah sebuah keajaiban. Saya tidak tahu, mungkin kita telah merusak habitat dan ekosistem yang menunjang kehidupan mereka.</p>
<p>Atau kadang sisi lain dari malam adalah sebuah festival. Di Bali, berbagai rangkaian upacara agama dan adat bisa berlangsung berhari-hari, baik siang mau-pun malam, rasanya itu seperti festival saja. Ada kalanya anak-anak tidak bisa ditinggal begitu saja di rumah, sehingga turut serta dalam acara-acara tersebut hingga larut malam.</p>
<p>Namun malam hari tidak selalu meriah, tidak selalu hal-hal yang menyenangkan atau menggembirakan, walau kita cenderung menyimpan ingatan yang menyenangkan dan membuang yang tidak menyenangkan. Ada kekelaman yang lebih pekat daripada malam itu sendiri, hal ini bisa ditemukan dalam berbagai perjalanan, termasuk pada masa kanak-kanak.</p>
<p><!--Digiprove_Start--><span style="vertical-align:middle; display:inline-table; padding:3px; line-height:normal;border:0px;" title="certified 4 May 2010 17:51:58 UTC by Digiprove certificate P15826" ><a href="http://www.digiprove.com/show_certificate.aspx?id=P15826" style="text-decoration:none" target="_blank" style="border:0px; float:none; display:inline; text-decoration: none;"><img src="http://www.digiprove.com/images/dp_seal_trans_16x16.png" style="vertical-align:middle; display:inline; border:0px; margin:0px; float:none; background-color:transparent" border="0"/><span style="font-family: Tahoma, MS Sans Serif; font-size:11px; color:#636363; border:0px; float:none; display:inline; text-decoration:none; letter-spacing:normal" onmouseover="this.style.color='#A35353';" onmouseout="this.style.color='#636363';">  Copyright secured by Digiprove © 2010 Cahya Legawa</span></a><!--A85B8FC1B6BE6DED1B2F400F3FE813B4ECAD6168EF97A44272CA9EEB49747C71--></span><!--Digiprove_End--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatan.legawa.com/2010/05/another-nights-faces/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>36</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketinggalan Rapat</title>
		<link>http://catatan.legawa.com/2010/04/ketinggalan-rapat/</link>
		<comments>http://catatan.legawa.com/2010/04/ketinggalan-rapat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Apr 2010 23:27:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cahya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[rapat]]></category>
		<category><![CDATA[sifat]]></category>
		<category><![CDATA[teledor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatan.legawa.com/2010/04/ketinggalan-rapat/</guid>
		<description><![CDATA[Karena sering kali teledor dengan jadwal, saya bisa saja berakhir dengan menyaksikan diri saya yang terburu-buru terjebak macet di perjalanan. Entah kenapa saya memiliki sifat teledor ini, pergi ke suatu pertemuan, eh… bisa-bisanya notulen (buku notes) ketinggalan, pulang ke rumah, eh…, kunci kamar ketinggalan di dalam tas di tempat pertemuan. Selalu saja ada yang membuat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Karena sering kali teledor dengan jadwal, <a title="Cahya Legawa&#39; Homepage" href="http://catatan.legawa.com" rel="nofollow">saya</a> bisa saja berakhir dengan menyaksikan diri saya yang terburu-buru terjebak macet di perjalanan. Entah kenapa saya memiliki sifat teledor ini, pergi ke suatu pertemuan, eh… bisa-bisanya notulen (buku notes) ketinggalan, pulang ke rumah, eh…, kunci kamar ketinggalan di dalam tas di tempat pertemuan.</p>
<p>Selalu saja ada yang membuat kepala saya pening, sampai membuat kaki saya pegal lari ke sana-sini karena keteledoran saya sendiri. Manggut-manggut di depan senior/atasan, minta maaf sambil keringat capek dan keringat dingin campur aduk jadi satu, aih…, entah apa rasanya. Namun begitulah sebagian besar hari-hari saya. Orang bilang terlalu memperhatikan kerikil di jalan sampai tidak sadar menabrak tiang listrik.</p>
<p> <span id="more-869"></span>
<p>Tapi yang paling parah lagi, saya selalu menonaktifkan nada dering ponsel saya. Lha, di rumah sakit kan tidak boleh berisik, atau lebih tepatnya tidak etis. Kalau di rumah malah karena sudah capek dan tidak ingin gangguan, nada dering ponsel pun masih tetap bergoyang sunyi. Jadinya saya sering kali melewatkan pemberitahuan penting.</p>
<p>Namun jika pemberitahuan itu sendiri datang terlambat bagaimana? Dapatkah Anda datang rapat yang sudah berlangsung lusa ketika pemberitahuannya baru datang hari ini.</p>
<p>Nah itulah yang lucu yang saya terima via surel pagi ini, coba lihat gambar ini…</p>
<p><img src="http://lh3.ggpht.com/_Hd5imL9eh-8/S8Oq0_-oeoI/AAAAAAAAA3k/T7TFTbA2d_k/s400/Ketinggalan Rapat.JPG" /> </p>
<p>Tapi tidak salah sih, karena di sini pagi sih tanggal 13, namun di sana masih tanggal 12 April, kita kan pakai GMT(+) sedangkan di lokasi itu menggunakan GMT(-).</p>
<p>Tapi sudahlah…, kok saya yang pusing.</p>
<p><!--Digiprove_Start--><span style="vertical-align:middle; display:inline-table; padding:3px; line-height:normal;border:0px;" title="certified 13 April 2010 00:12:22 UTC by Digiprove certificate P14184" ><a href="http://www.digiprove.com/show_certificate.aspx?id=P14184" style="text-decoration:none" target="_blank" style="border:0px; float:none; display:inline; text-decoration: none;"><img src="http://www.digiprove.com/images/dp_seal_trans_16x16.png" style="vertical-align:middle; display:inline; border:0px; margin:0px; float:none; background-color:transparent" border="0"/><span style="font-family: Tahoma, MS Sans Serif; font-size:11px; color:#636363; border:0px; float:none; display:inline; text-decoration:none; letter-spacing:normal" onmouseover="this.style.color='#A35353';" onmouseout="this.style.color='#636363';">  Copyright secured by Digiprove © 2010 Cahya Legawa</span></a><!--96C7D5E9A4FE725CC54D850AFAF68DAA6012DB5FE1D2E9EECA0AE51EE4266E75--></span><!--Digiprove_End--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatan.legawa.com/2010/04/ketinggalan-rapat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ubi Bakar Cilembu</title>
		<link>http://catatan.legawa.com/2010/03/ubi-bakar-cilembu/</link>
		<comments>http://catatan.legawa.com/2010/03/ubi-bakar-cilembu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Mar 2010 17:16:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cahya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[bakar]]></category>
		<category><![CDATA[kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[lokal]]></category>
		<category><![CDATA[makanan]]></category>
		<category><![CDATA[ubi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatan.legawa.com/2010/03/ubi-bakar-cilembu/</guid>
		<description><![CDATA[Sekitar seminggu yang lalu saya berjalan-jalan ke Plaza Ambarukmo, kebetulan karena diminta mencari sejenis sayuran impor yang jika tidak salah bernama Gobo – katanya sih diimpor dari Jepang. Saya berjalan ke tempat di mana berbagai sayuran bisa ditemukan, nah ternyata setelah dicari ke mana-mana ternyata tidak ada. Rupanya di sini sayuran ini tidak dikenal sama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sekitar seminggu yang lalu <a title="Cahya Legawa&#39; Homepage" href="http://www.legawa.com" rel="nofollow">saya</a> berjalan-jalan ke Plaza Ambarukmo, kebetulan karena diminta mencari sejenis sayuran impor yang jika tidak salah bernama <em>Gobo</em> – katanya sih diimpor dari Jepang. Saya berjalan ke tempat di mana berbagai sayuran bisa ditemukan, nah ternyata setelah dicari ke mana-mana ternyata tidak ada. Rupanya di sini sayuran ini tidak dikenal sama sekali, apa hanya di Bali saja kebetulan terkenal ya? Jadi aku mengurungkan niatku membeli sayuran yang konon katanya punya sifat anti kanker ini.</p>
<p>Saya berjalan-jalan di sekitar tempat sayur dan buah, masa bayar parkir mahal-mahal pulang dengan tangan kosong? Ini sih sebenarnya pemikiran orang pelit yang tidak bagus dicontoh.</p>
<p> <span id="more-739"></span>
<p>Tertarik melihat sesuatu yang beruap di kejauhan, saya mendekat. Saya melihat ubi-ubi yang bertumpuk dengan dengan diberi keterangan “<em>Ubi Bakar Cilembu</em>”. Karena tertarik, diputuskan untuk membeli beberapa batang.</p>
<p>Sampai di rumah, aku mencoba satu. Hmm…, rasanya gurih dan manis sangat alami. Seperti berisi madu (atau apa memang ditambahkan madu?) di dalamnya pun empuk dan nikmat sekali saat masih hangat.</p>
<p>Beberapa saat kemudian, yang tersisa mulai dingin. Aku pun tak tahan mencicipinya lagi, wah…, bahkan ketika sudah dingin pun masih enak. Dan akhirnya ubi-ubi itu habis, padahal belum sempat kuambil gambarnya untuk diabadikan di blog, malah sudah masuk perut semua.</p>
<p>Makanan lokal memang masih menang bersaing dengan makanan impor kalau di lidahku, he he <img alt="" src="http://www.zu14.cn/coolemotion/emotions/zz_9.gif" /></p>
<p><!--Digiprove_Start--><span style="vertical-align:middle; display:inline-table; padding:3px; line-height:normal;border:0px;" title="certified 1 March 2010 09:21:58 UTC by Digiprove certificate P10080" ><a href="http://www.digiprove.com/show_certificate.aspx?id=P10080" style="text-decoration:none" target="_blank" style="border:0px; float:none; display:inline; text-decoration: none;"><img src="http://www.digiprove.com/images/dp_seal_trans_16x16.png" style="vertical-align:middle; display:inline; border:0px; margin:0px; float:none; background-color:transparent" border="0"/><span style="font-family: Tahoma, MS Sans Serif; font-size:11px; color:#636363; border:0px; float:none; display:inline; text-decoration:none; letter-spacing:normal" onmouseover="this.style.color='#A35353';" onmouseout="this.style.color='#636363';">  Copyright secured by Digiprove © 2010 Cahya Legawa</span></a><!--B4059ED135E0817980B9C989D550A3C0DB7D02FCD6F8657051E71825D2796E28--></span><!--Digiprove_End--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatan.legawa.com/2010/03/ubi-bakar-cilembu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>43</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengalaman Operasi Impacted Molar III</title>
		<link>http://catatan.legawa.com/2009/12/pengalaman-operasi-impacted-molar-iii-2/</link>
		<comments>http://catatan.legawa.com/2009/12/pengalaman-operasi-impacted-molar-iii-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Dec 2009 18:41:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cahya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[bedah mulut]]></category>
		<category><![CDATA[gigi]]></category>
		<category><![CDATA[GMC]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[operasi]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[RSGM Prof. Soedomo]]></category>
		<category><![CDATA[rumah sakit]]></category>
		<category><![CDATA[sakit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatan.legawa.com/?p=559</guid>
		<description><![CDATA[Kali ini saya hendak berbagi sedikit cerita, mungkin masih terkait dengan tulisan saya sebelumnya yang berjudul “Oh No…, My Teeth…, My Not Extra Wisdom Teeth” beberapa waktu yang lalu. Senin, 21 Desember 2009 saya memutuskan untuk mulai menyelesaikan masalah tersebut. Paginya, pertama kali saya mengurus asuransi GMC (Gama Medical Center), sebuah badan nirlaba milik UGM [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a title="Gigiku" rel="nofollow" href="http://picasaweb.google.com/lh/photo/gqTARBQjk-BrWIL_E-V-PQ?authkey=Gv1sRgCJDukvavr-XuCA&amp;feat=directlink"><img src="http://lh4.ggpht.com/_Hd5imL9eh-8/SzD6LLCjh2I/AAAAAAAAAaY/T9cUJhRASeo/s144/22122009120.jpg" alt="" /></a></p>
<p>Kali ini saya hendak berbagi sedikit cerita, mungkin masih terkait dengan tulisan saya sebelumnya yang berjudul “<a href="http://catatan.legawa.com/2009/12/oh-no-my-teeth-may-not-extra-wisdom-teeth/">Oh No…, My Teeth…, My Not Extra Wisdom Teeth</a>” beberapa waktu yang lalu.</p>
<p><span id="more-559"></span></p>
<p>Senin, 21 Desember 2009 saya memutuskan untuk mulai menyelesaikan masalah tersebut. Paginya, pertama kali saya mengurus asuransi GMC (Gama Medical Center), sebuah badan nirlaba milik UGM guna memberikan layanan dan asuransi kesehatan bagi warga Universitas Gadjah Mada. Saya menyerahkan kartu anggota saya di bagian pemeriksaan, dan beberapa menit kemudian saya dipanggil masuk. Menemui seorang dokter di salah satu ruang periksa, saya menjelaskan keluhan saya, dia memeriksa dan dengan segera bisa memastikan sebuah <em>impacted molar</em>. Lalu saya disarankan untuk segera mencabutnya dan memberi rujukan ke RSGM (Rumah Sakit Gigi dan Mulut) Prof. Soedomo yang kebetulan bangunannya menjadi satu dengan Fakultas Kedokteran Gigi UGM.</p>
<p>Tanpa menunggu siang, <a title="Cahya Legawa' Homepage" href="http://www.legawa.com" target="_blank">saya</a> pun berangkat ke RSGM dan melakukan pendaftaran pasien seperti biasa. Saya jadi ingat, RSGM sangat mirip dengan gedung Radiopeotro di FK UGM. Prosesnya cukup cepat, dan ruang tunggu pasien di dalam-pun cukup nyaman dengan AC dan televisi. Beberapa saat kemudian saya dipanggil oleh petugas dan menemui dokter gigi di meja kerjanya. Dengan sopan dokter mempersilakan saja duduk di kursi periksa (hmm…, kalian pasti tidak asing dengan kursi periksa di klinik gigi). Setelah melakukan inspeksi menyarankan untuk melakukan foto rontgen untuk melihat struktur gigi. Dari hasil foto itu, saya bisa melihat baik molar (geraham) ketiga kiri dan kanan mengalami impaksi. Hanya saja yang baru muncul ke permukaan adalah yang kanan. Dokter meminta saya datang besok untuk operasi jam 8 pagi. Saya juga mendapatkan resep antibiotik dan penghilang nyeri untuk digunakan kemudian. Setelah dari RSGM saya kembali ke GMC untuk mengambil rujukan yang akan dipakai keesokan harinya.</p>
<p>Selasa, 22 Desember 2009. Aku datang pagi-pagi ke RSGM – tentunya setelah sarapan nasi kuning (nyammy…, pikirku selagi bisa menikmatinya – ga tahu deh nanti gimana jadinya). Aku mendaftar seperti biasa, dan agak lama (mungkin karena antre) aku diminta langsung naik ke lantai 3 ke bagian Bedah Mulut. Tak lama kemudian drg. Irfan – residen di bagian bedah mulut – memanggilku untuk memulai tindakan.</p>
<p>Setelah memberikan <em>informed consent</em> – sebagaimana setiap prosedur medis yang invasif, dan setelah kutandatangani tentunya – prosedur operasi siap dimulai. Sementara residen gigi dibantu dengan dokter gigi muda mempersiapkan alat, aku kembali terbayang saat-saat dulu. Sewaktu kecil kadang aku mencabut sendiri gigi susuku yang memang sudah saatnya tanggal, hanya sekali atau dua kali aku tiba di poliklinik gigi untuk mencabut gigi – itu sudah lama sekali, bahkan aku tidak begitu ingat. Setelah itu aku hampir tidak punya masalah dengan gigi, walau aku tidak termasuk orang yang cukup telaten merawat gigi – asal bersih dan berfungsi dengan baik sudah cukup bagiku. Kini masalahnya agak beda, karena secara anatomis mengganggu, <em>the removing of wisdom teeth is a must</em>.</p>
<p>Dokter berkata bahwa mungkin akan perlu waktu antara 30 menit hingga 1 jam, itu jika tanpa penyulit untuk operasi seperti ini.</p>
<p>Apa aku khawatir? Entahlah, tampaknya dari kemarin aku begitu santai. Banyak orang yang tidak suka mengunjungi dokter atau dokter gigi karena tindakan invasifnya yang “tampak” menyakitkan. Namun sedari kecil aku sudah terbiasa keluar masuk rumah sakit, menjalani berbagai pemeriksaan kesehatan, mungkin tertusuk jarum suntik untuk memasukkan obat atau mengambil sampel darah – rasanya sudah terbiasa bagiku. Walau beberapa yang lebih invasif seperti pungsi lumbal mungkin hanya sekali. Sedari dulu ada hal-hal yang memang kuhindari untuk didatangi, pertama meja operasi, kedua klinik gigi – aku tak ingin bermasalah dengan salah satu atau pun keduanya.</p>
<p>Tapi sekarang – pikirku – kurasa tidak ada waktu untuk khawatir, rasanya aku bisa berjalan dengan tanpa beban ke ruang tindakan. Meski beberapa hari sebelumnya aku sudah mencari berbagai bahan dan literatur mengenai dampak dan efek yang mungkin timbul dari tindakan yang akan kujalani – ah…, sudahlah – kataku dalam hati. Kita lihat saja nanti.</p>
<p>Operasi dimulai dengan tindakan aseptik, kemudian melakukan anestesi baik secara blok dan lokal (apa ya istilah yang mereka pakai tadi?). Satu spuit dengan cairan anestesi disuntikkan beberapa kali di beberapa lokasi, termasuk di sekitar area yang akan dioperasi. Aku bisa merasakan jarum itu berulang kali menusuk masuk ke dalam gusi dan beberapa daerah lainnya, sehingga anestesi bisa diberikan secara merata – jadi mengingatkan pada diriku sendiri jika melakukan tindakan <em>minor surgery</em>, tekniknya tidak jauh beda (hanya saja ini di dalam rongga mulut). Sakit? Hmm…, itu sih relatif, bagiku tidak sakit, jika dimasukkan ke dalam sistem analogi nyeri dari angka 0 sampai 10, mungkin sakit yang ditimbulkan oleh anestesi itu hanya ada di kisaran 1 hingga 2. <em>Yup</em>, bisa dibilang nyeri bisa juga tidak.</p>
<p>Dengan <em>scapel</em> (pisau bedah), dokter-pun mulai bekerja – <em>ups</em>, jangan tanya aku, karena aku tidak tahu apa yang terjadi di dalam rongga mulutku. Mungkin karena posisinya yang horizontal, jadi gigi itu harus dibelah dulu menjadi dua, dan untuk membelah diperlukan area kerja yang bebas dari jaringan tubuh lainnya selain gigi. Kemudian pisau bor (atau mungkin cuma disebut bor), mulai memotong ke dalam. Aku tidak tahu apa yang sedang dipotong tulang atau gigi, karena untuk mencabut gigi – tulang yang menyangganya mesti dihilangkan dulu (bukan berarti sekalian tulang dan giginya dicabut lho). Beberapa dokter muda ikut membantu, ada yang bagian irigasi (memasukkan air ke dalam mulut dengan selang kecil sehingga area kerja bisa dibersihkan), dan ada yang menangani <em>suction</em> (pipa kecil yang berfungsi menyedot apa pun di yang terlepas ke dalam cairan irigasi ke luar dari mulut, termasuk darah, mukus, saliva, bahkan pecahan gigi yang kecil).</p>
<p>Prosesnya agak lama, dan perlu beberapa kali anestesi ulang, karena biusnya hanya bersifat sementara. Hmm…, aku jadi teringat suasana rileks di tengah ruang operasi, meski pun kasus sulit, namun ketegangan tidak akan menambah manfaat apa pun, dengan tetap rileks namun serius – suasana kerja dapat diperhatikan dengan baik. Kadang di suasana itu kami sempat bersenda gurau, sehingga tidak terlalu menegangkan. Aku harus akui, operasi <em>impacted molar</em> memang tidak seram – tapi rasanya memang tidak nyaman, kadang geli atau sedikit ngilu karena getaran pisau bor. Beberapa kali harus menahan napas, dan beberapa hal yang bikin <em>sport</em> jantung.</p>
<p>Operasi itu berlangsung selama kira-kira 90 menit, dokter sendiri berkata, bahwa gigiku itu tampaknya “bandel” dan melekat kuat. Sebelum akhirnya ditutup dengan beberapa jahitan, maka tidak ada hal lain yang bisa dikerjakan lagi – nah, itu artinya operasi selesai. Rasanya memang ngilu, tapi itu bukan suatu rasa sakit yang bisa membuatku berguling-guling di atas lantai. Setelah memberikan beberapa pesan perawatan, dokter meresepkan obat untuk menahan rasa sakit.</p>
<p>Aku ke kassa untuk melakukan pembayaran, karena sudah ditanggung asuransi (GMC), maka dua hari ini – termasuk rontgen, obat, dan tindakan – aku tidak mengeluarkan lebih dari seratus ribu rupiah, padahal ada yang bilang bisa mencapai lima ratus ribu rupiah untuk tindakan per gigi.</p>
<p>Kepalaku agak sedikit pening, namun aku masih bisa mengendarai sepeda motorku untuk kembali pulang. Rasanya agak aneh juga, mungkin karena proses inflamasi masih berlangsung dan belum mencapai puncaknya. Tadi sih tidak sakit, sekarang baru mulai terasa.</p>
<p>Aku tiba di rumah sebelum jam 12 siang, entah kenapa aku tidak berminat makan. Rasanya semakin sakit di daerah yang tadi giginya dilepaskan. Aku kemudian bisa merasakan kelenjar limfe leherku yang sebelah kanan mulai membesar dan sakit, menelan liur pun terasa sakit. Nah…, datang juga deh peradangan dan pembengkakan itu, suhu tubuhku mulai bertambah dan naik, ingin minum air, tapi rasanya sangat susah. Aku tergeletak lemas di atas ranjang.</p>
<p>Beberapa jam berselang, Ana datang membawakanku nasi lembek – mungkin tahu jika aku pasti ogah makan kalau lagi sakit. Tapi sebelum nasi, aku lebih mengambil dulu Jus Avokado yang juga dibawakan – ah…, rasanya sejuk – walau sakit. Aku memaksakan diri memakan nasi lauk dan sayurnya (dipaksa sih sebenarnya, dia galak banget kalau sampai marah – itu bisa lebih mengerikan dari sakit dan bengkakku). Aku kesulitan mengunyah, karena setiap kunyahan rasanya sakit sekali, apalagi kemudian menelan – waduh, ini sudah masuk analogi nyeri dengan skor 6–7. Aku berpikir, kalau begini terus aku tidak yakin bakal bisa sembuh dengan cepat, lah<em>… masa bodo</em>, kukunyah dan kutelan saja makannya walau sambil menahan sakit.</p>
<p>Eh…, ternyata habis juga seporsi. Lumayan-lumayan, ternyata aku rakus juga walau lagi kesakitan.</p>
<p>Menjelang sore. Aku hendak mandi, tapi rasanya tubuhku merinding, hmm…, tampaknya demamku meninggi lagi. Ya, sudah tunda dulu mandinya. Dan tanpa sadar pun aku terlelap kembali di atas ranjang, baru bangun dua jam kemudian malah aku sadar bawah aku tidur miring kanan ke arah pipi yang bengkak. Waduh – aku berteriak kecil dalam hati – kok tidak nyadar sakit malah ditimpa. Yah, tambah sakit deh. Segera saja aku sambar sebutir telur rebus, dan kupaksakan makan, bahkan mulutku rasanya tidak bisa dibuka penuh, jempolku saja rasanya tak akan muat masuk. Setelah perutku terisi, aku pun minum obat-obat untuk menahan nyeri dan antibiotik. Kuharap kondisinya membaik.</p>
<p>Rasanya tetap ada yang tidak nyaman – selain dari rasa sakit karena bertambah bengkak. Ya ampun, dari tadi sejak operasi dan makan siang, aku belum gosok gigi. Tapi khawatir juga kalau nanti terjadi sesuatu yang tidak baik, karena malas harus <em>browsing internet</em> untuk menemukan jurnal yang membahas kaitan antara gosok gigi dan pasca bedah mulut, aku sms nomor drg, Irfan dan menanyakannya – untung saja boleh sikat gigi katanya.</p>
<p>Malam larut, Arie tetangga sebelah datang membawakan bubur ayam – <em>nyammy</em>…, rasanya enak banget – hangat-hangat tambah kerupuk – plus ditraktir lagi (ya ampun berarti hari ini aku dua kali makan gratis). Ha ha, <em>lha wong</em> lagi sakit, <em>koq</em> makan terus yang <em>dipikirin</em>. Setelah makan aku mandi tak lupa gosok gigi, aduh segarnya… :)</p>
<p>Berarti jadwal berikutnya minggu depan untuk kontrol dan angkat jahitan. Sekarang sudah tidak begitu terasa sakit lagi, tapi entahlah kalau efek obatnya sudah habis.</p>
<p>Rabu, 23 Desember 2009. Sudah selesai menulis blog ini, ga tahu mau <em>ngapain</em> lagi. Dini hari, enaknya tidur saja, nanti biar bisa bangun pagi. Sepertinya hari ini ulang tahunku, sepertinya juga tidak – duh…, gara-gara akta kelahiran yang bikin bingung itu.</p>
<p><!--Digiprove_Start--><span style="vertical-align:middle; display:inline-table; padding:3px; line-height:normal;border:0px;" title="certified 22 December 2009 18:36:22 UTC by Digiprove certificate P4899" ><a href="http://www.digiprove.com/show_certificate.aspx?id=P4899" style="text-decoration:none" target="_blank" style="border:0px; float:none; display:inline; text-decoration: none;"><img src="http://www.digiprove.com/images/dp_seal_trans_16x16.png" style="vertical-align:middle; display:inline; border:0px; margin:0px; float:none; background-color:transparent" border="0"/><span style="font-family: Tahoma, MS Sans Serif; font-size:11px; color:#636363; border:0px; float:none; display:inline; text-decoration:none; letter-spacing:normal" onmouseover="this.style.color='#A35353';" onmouseout="this.style.color='#636363';">  This blog post has been Digiproved © 2009</span></a><!--5830EBDB508A210CBED94A778E0589F90C8728B3772B1DA6AAFBBE9E51FE8E9E--></span><!--Digiprove_End--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatan.legawa.com/2009/12/pengalaman-operasi-impacted-molar-iii-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Oh no … My Teeth … May Not Extra Wisdom Teeth</title>
		<link>http://catatan.legawa.com/2009/12/oh-no-my-teeth-may-not-extra-wisdom-teeth/</link>
		<comments>http://catatan.legawa.com/2009/12/oh-no-my-teeth-may-not-extra-wisdom-teeth/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Dec 2009 14:07:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cahya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[diary]]></category>
		<category><![CDATA[extra wisdom teeth]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[masalah gigi]]></category>
		<category><![CDATA[molar keempat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatan.legawa.com/2009/12/oh-no-my-teeth-may-not-extra-wisdom-teeth/</guid>
		<description><![CDATA[Aku baru menyadari beberapa hari ini, rasanya ada yang aneh di deretan gigi bagian rahang bawah sebelah kanan. Rasanya ada sesuatu yang tidak nyaman.  Aku berusaha mencari tahu dengan cara-cara manual (ya maklum, bukan dokter gigi sih).  Aku ingin tahu ada apa dengan perasaan ini, namun tidak kutemukan apa pun pada awalnya. Di kamarku tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku baru menyadari beberapa hari ini, rasanya ada yang aneh di deretan gigi bagian rahang bawah sebelah kanan. Rasanya ada sesuatu yang tidak nyaman.  Aku berusaha mencari tahu dengan cara-cara manual (ya maklum, bukan dokter gigi sih).  Aku ingin tahu ada apa dengan perasaan ini, namun tidak kutemukan apa pun pada awalnya. Di kamarku tidak ada cermin, jadi hampir tidak bisa bercermin untuk melihat ada apa. Aku berpikir, mungkin hanya perasaanku saja.</p>
<p> <span id="more-553"></span>
<p>Sampai akhirnya sehari yang lalu aku benar-benar penasaran. Aku memanfaatkan cermin besar di dekat kamar mandi – menunggu sampai siang hingga cahaya matahari cukup masuk dan menembus genting kaca yang ada di atas koridor. Aku membuka mulutku lebar-lebar, dan “<em>arghhh</em>…” seperti saat diminta seorang dokter untuk membuka mulut. Memang agak sulit jika harus melakukan inspeksi pada diri sendiri.</p>
<p>Kemudian setelah beberapa menit aku perhatikan ke arah poin yang tidak nyaman itu, aku mulai melihat adanya kejanggalan, kurasa ada yang aneh dengan mahkota molar terakhir yang ada di mandibula dekstra. Molar ketiga di bagian lebih belakang justru pinggir mahkotanya licin. Setelah kuperhatikan dengan lebih seksama, oh tidak, itu bukan molar ketiga – wajahku mulai pucat dengan sendirinya.</p>
<p>Itu sebuah gigi, setelah molar ketiga – karena posisinya tertidur (mahkota horizontal menghadap ke molar ketiga), jadi hampir terlihat menyatu (merupakan satu gigi) dengan molar ketiga jika dilihat sepintas dari depan (tentu saja dengan becermin sendiri).</p>
<p>Aku berkata pada diriku sendiri — “<em>celakah dah aku</em>…” – sambil bingung sendiri.</p>
<p>Sembari duduk di Cafe Internet Genesis dengan Bli <a title="Dani Iswara .Net" href="http://daniiswara.net" rel="nofollow" target="_blank">Dani Iswara</a>, aku menjelajah internet guna mencari solusi dengan apa yang disebut sebagai <a href="http://cyberdentist.blogspot.com/2007/05/extra-wisdom-teeth-fourth-molars.html">Extra Wisdom Teeth</a> ini, atau si molar keempat (karena seharusnya dia tidak ada di sana). Solusi cabut…, he he, tapi mengerikan juga, <a title="Cahya Legawa&#39; Homepage" href="http://www.legawa.com" target="_blank">saya</a> jadi ingat tulisan Bli Made Wira “<a href="http://imadewira.com/tersugesti-oleh-dokter-gigi/">Tersugesti oleh Dokter Gigi</a>”, namun rasanya rasa lebih mengerikan, karena kasusnya berbeda.</p>
<p>Aku jujur masih berharap jika ini bukanlah <em>Extra Wisdom Teeth</em> (hiks…, kurasa aku sudah cukup bijaksana, he he), jika tidak aku harus bersiap untuk operasi yang tidak kecil, dengan konsekuensi yang tidak ringan. Yah, tapi yang namanya kondisi tidak bisa dihindari – hadapi saja :)</p>
<p>Besok harus bersiap menemui dokter gigi, kemudian siapkan asuransi, hmm…, semoga ter–<em>cover</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatan.legawa.com/2009/12/oh-no-my-teeth-may-not-extra-wisdom-teeth/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengunjungi Pantai Depok</title>
		<link>http://catatan.legawa.com/2009/12/mengunjungi-pantai-depok/</link>
		<comments>http://catatan.legawa.com/2009/12/mengunjungi-pantai-depok/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Dec 2009 02:04:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cahya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[Depok]]></category>
		<category><![CDATA[jalan-jalan]]></category>
		<category><![CDATA[kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[pantai]]></category>
		<category><![CDATA[wisata]]></category>
		<category><![CDATA[yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatan.legawa.com/2009/12/mengunjungi-pantai-depok/</guid>
		<description><![CDATA[From Pantai Desember 2009 Belakangan ini banyak hal-hal yang menekan pikiran menggangguku, rasanya menyegarkan diri adalah pilihan yang baik. Aku tidak tahu hendak ke mana, rencana awalku adalah mengunjungi Borobudur, namun itu terlalu sering, setidaknya beberapa tahun sekali bagiku termasuk sering. Aku sangat ingin pergi ke tempat yang hijau sejuk. Namun sayang di Yogja hampir [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
<table style="width: auto">
<tbody>
<tr>
<td><a href="http://picasaweb.google.co.id/lh/photo/BIZNUBZtWISU44lOh08p2g?feat=embedwebsite"><img src="http://lh3.ggpht.com/_Hd5imL9eh-8/SyMB6fZ2JpI/AAAAAAAAAYc/nioMX57820A/s400/100_4160.JPG" /></a></td>
</tr>
<tr>
<td style="text-align: right; font-family: arial,sans-serif; font-size: 11px">From <a href="http://picasaweb.google.co.id/haridiva/PantaiDesember2009?feat=embedwebsite">Pantai Desember 2009</a></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Belakangan ini banyak hal-hal yang menekan pikiran menggangguku, rasanya menyegarkan diri adalah pilihan yang baik. Aku tidak tahu hendak ke mana, rencana awalku adalah mengunjungi Borobudur, namun itu terlalu sering, setidaknya beberapa tahun sekali bagiku termasuk sering.</p>
<p>Aku sangat ingin pergi ke tempat yang hijau sejuk. Namun sayang di Yogja hampir tidak ada tempat seperti Kebun Raya Bedugul di Baturiti – Bali, di mana hawanya sejuk dan segar. Kalau ke Daerah Wisata Kaliurang, aku berpikir itu akan sangat melelahkan, aku tidak kuat berjalan menanjak dan tidak mendapatkan banyak hal di puncak. Atau mau pergi ke Dieng, wah, itu sih gila namanya, bukan waktunya, ini mau <em>vacation</em> atau mau nambah stres.</p>
<p> <span id="more-537"></span>
</p>
<p>Sekali lagi aku berkonsultasi, dengan cara yang sama sebagaimana saat mengunjungi <a href="http://catatan.legawa.com/2009/07/pesona-pantai-ngobaran/" rel="dofollow">Pesona Pantai Ngobaran</a>. Kali ini rekomendasinya kembali ke pantai – waduh, mau gimana lagi, Jogja ada di Selatan Pulau Jawa memang berbatasan langsung dengan Samudra Indonesia, mau tidak mau mengunjungi pantai mungkin sarana rekreasi yang murah meriah.</p>
<p>Pagi itu suasana sangat cerah, kami berangkat menuju jalan utama ke Pantai Parangtritis – salah satu pantai yang paling terkenal di Jogja – <em>ups</em>…, namun jangan salah, <a title="Cahya Legawa&#39; Homepage" href="http://www.legawa.com" target="_blank">saya</a> sama sekali belum pernah ke pantai Parangtritis sebelumnya – dan kali ini tidak juga menuju Parangtritis, namun sedikit ke arah Barat, yaitu Pantai Depok.</p>
<p>Pantai Depok salah satu tujuan wisata pantai <em>kuliner</em>, karena turis biasanya dapat berkunjung langsung dan membeli ikan dari nelayan. Kurasa sudah lama sekali aku tidak menikmati masakan laut, ini mengingatkanku ketika dapat traktiran masakan laut di Pantai Lebih di dekat kota tempat tinggal keluargaku di Bali, sekitar beberapa bulan yang lalu saat <em>Naresvari</em> mentraktir makan di tepi pantai.</p>
<p>Perjalanan dari tempatku ke pos pertama sekitar 30 menit, dan perjalanan selanjutnya hingga sampai ke pantai memakan waktu sekitar 1 jam. Cukup jauh memang, meninggalkan perkotaan dan memasuki pedesaan yang masih sederhana ketika sudah mendekati pantai, namun jika boleh jujur, aku lebih menikmati perjalanan saat ke Pantai Ngobaran – alamnya lebih memesona – walau medan yang ditempuh untuk ke pantai Depok lebih ramah, sehingga aku tidak perlu mengganti sepeda motor tuaku untuk perjalanan kali ini.</p>
<p>Kami tiba di pantai sekitar pukul delapan pagi waktu lokal, aku bisa melihat pantai ini sudah mengalami relokasi dan nyaris sudah tidak alami lagi – namun sebagai pengganti – seharusnya ada suasana pasar yang cukup ramai – tapi kembali pagi itu tampak lengang, mungkin karena memang masih terlalu pagi. Hanya beberapa orang yang terlihat hilir mudik di bibir pantai dengan gulungan ombak yang tidak terlalu besar.</p>
<p>Aku bisa melihat begitu banyak jejeran rumah makan di tepian pantai yang paling tinggi – bangunan-bangunan yang tegak semi permanen. Kami berjalan menyusuri pantai, sementara mentari semakin meninggi. Aku jadi “<em>plaindre qn</em>” melihat banyaknya sampah yang mengotori pantai. Mungkin memang kebanyakan sampah alam, tapi rasanya tetap tidak nyaman – tepi pantai Ngobaran mungkin tidak sepenuhnya bersih, tapi aku yakin suasananya lebih asri dan memanjakan ketenangan.</p>
<p>Agak lama barulah warung-warung mulai membuka tirai-nya dan menawarkan menu-menu enak untuk para pengunjung yang sudah mulai agak ramai. Aku memutuskan mencoba menu udang goreng tepung dan cumi saus tiram – ha ha, aku jadi ingat banyak yang sering menertawakanku dan bertanya mengapa aku selalu memilih menu yang umum dan tidak mencoba yang baru? – setidaknya sementara hanya itu menu-menu yang kutahu, dan kurasa sudah cukup nikmat.</p>
<p>Baiknya di sana ada tempat cuci tangan dengan air mengalir, jadi lebih praktis – namun aku tidak yakin jika semua tempat menyediakannya –, buruknya kita mesti lomba makan dengan lalat-lalat yang berduyun-duyun segera berdatangan setelah menu disajikan – aku tidak heran dengan hal ini, karena hanya beberapa ratus meter dari tempat kami makan ada pasar ikan yang ramai. Makan dengan lalat tidak selalu buruk, selama kita tahu apa yang harus dilakukan. Hmm…, mungkin bagi yang ingin main atau berwisata kuliner ke pantai Depok, aku bisa sarankan untuk membawa lilin – setidaknya itu bisa mengusir lalat, <em>plus</em>, sarapan, makan siang atau santap malam yang romantis. Namun jangan membawa perangkap lalat, karena biasanya akan dibuang begitu saja – jangan lagi mengotori pantai.</p>
<p>Menunya cukup enak untukku, dan aku pun pulang dengan membawa oleh-oleh 2 kg ikan bakar dan goreng (agar awet di jalan) untuk pemilik wisma yang kutempati (he he, kata wisma lebih keren saat ini). Jangan lupa, karena matahari siang begitu terik, lindungilah kulit/tubuh anda dengan baik dari sengatan matahari jika hendak mengunjungi berbagai wisata alam terbuka di daerah tropis.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatan.legawa.com/2009/12/mengunjungi-pantai-depok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mentari Pagi</title>
		<link>http://catatan.legawa.com/2009/11/mentari-pagi/</link>
		<comments>http://catatan.legawa.com/2009/11/mentari-pagi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Nov 2009 23:41:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cahya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[matahari]]></category>
		<category><![CDATA[pagi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatan.legawa.com/2009/11/mentari-pagi/</guid>
		<description><![CDATA[Sebagaimana yang kuceritakan di Broken Sheel Broken Mirror, aku tidak akan berpura-pura bahwa segalanya telah lebih baik saat ini. Setidaknya, tidak secepat itu. Perasaanku tidak dapat mudah menjadi tenang, bahkan tanganku tak dapat menuliskan apa yang kurasakan sehingga aku dapat bercermin darinya.

Selama aku berlayar di kehidupan ini, mungkin inilah pertama kali si nahkoda melihat badai yang demikian besarnya, walau jauh hari sebelumnya ia telah memprediksi, namun badai tetaplah badai, ia tak sama dengan apa yang ada di dalam angannya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagaimana yang kuceritakan di <a href="http://blog.legawa.com/2009/10/30/the-broken-shell-the-broken-mirror/" rel="tag" target="_blank">Broken Sheel Broken Mirror</a>, aku tidak akan berpura-pura bahwa segalanya telah lebih baik saat ini. Setidaknya, tidak secepat itu. Perasaanku tidak dapat mudah menjadi tenang, bahkan tanganku tak dapat menuliskan apa yang kurasakan sehingga aku dapat bercermin darinya.</p>
<p>Selama aku berlayar di kehidupan ini, mungkin inilah pertama kali si nahkoda melihat badai yang demikian besarnya, walau jauh hari sebelumnya ia telah memprediksi, namun badai tetaplah badai, ia tak sama dengan apa yang ada di dalam angannya.</p>
<p>Semalam aku terbangun di tengah waktu yang tidak tepat. Aku mencoba keluar dan melihat di sekitarku. Rasanya seperti menyentuh sesuatu yang tidak nyata. Walau aku dengan senang biasanya dapat memandang bintang-bintang yang bertaburan, namun malam itu awan-awan putih menutupi sebagian besar langit di atasku. Aku tidak tahu bagaimana perasaan ini dapat terpengaruh, mungkin karena ia begitu rentan dan lemahnya.</p>
<p>Waktuku seakan tergulung bersama badai, walau malam begitu tenang dan menentramkan. Gelisahku seolah berpacu dengan ketidaktahuan, sementara aku hanya diam terpatung. Ya, tubuhku lunglai, mungkin karena sehari sebelumnya tidak ada nutrisi yang masuk ke dalam tubuhku kecuali dari dua potong apel dan dua potong roti tawar, dan seteko air putih.</p>
<p>Paginya aku kembali terbangun begitu sinar matahari pagi menerobos ke dalam kamarku. Aku tahu aku tak dapat lagi beristirahat. Setelah mencuci muka aku pun berjalan ke luar, aku tahu betapa lama sekali aku telah melewatkan sinar yang selalu menghangatkan setiap pagi ini.</p>
<p><img src="http://i220.photobucket.com/albums/dd301/haridiva/MentariPagi.jpg" width="510" height="384" /> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p>Suasana tenang pedusunan di pagi hari mengingatkanku suasana di desa. Hal yang selalu menentramkan hatiku. Mungkin itulah yang membuatku berkeinginan untuk tetap berada di pedesaan untuk saat-saat kemudian, daripada berada di perkotaan.</p>
<p>Sinar matahari pagi mengingatkanku akan banyak hal, mungkin karena itulah aku selalu merindukannya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatan.legawa.com/2009/11/mentari-pagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apa Penyebab Jantung Bocor pada Anak?</title>
		<link>http://catatan.legawa.com/2009/09/apa-penyebab-jantung-bocor-pada-anak/</link>
		<comments>http://catatan.legawa.com/2009/09/apa-penyebab-jantung-bocor-pada-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Sep 2009 22:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cahya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[Pediatric]]></category>
		<category><![CDATA[informasi]]></category>
		<category><![CDATA[jantung]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatan.legawa.com/?p=158</guid>
		<description><![CDATA[Mungkin sebuah pertanyaan kadang datang pada seorang dokter menanyakan apa yang menyebabkan jantung anaknya mengalami kebocoran. Pertanyaan itulah yang kuhadapi pada suatu waktu di hadapan layar monitor notebook–ku. Bahkan sebelum aku menjadi seorang dokter. Apakah mungkin Anda merasa seram? Ya, pertama kali dulu saya mendengarnya juga menyeramkan. Jika jantung bocor, akankah darahnya melimpah ke mana-mana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mungkin sebuah pertanyaan kadang datang pada seorang dokter menanyakan apa yang menyebabkan jantung anaknya mengalami kebocoran.</p>
<p>Pertanyaan itulah yang kuhadapi pada suatu waktu di hadapan layar monitor <em>notebook</em>–ku. Bahkan sebelum aku menjadi seorang dokter.</p>
<p>Apakah mungkin Anda merasa seram? Ya, pertama kali dulu saya mendengarnya juga menyeramkan. Jika jantung bocor, akankah darahnya melimpah ke mana-mana keluar jantung seperti saat kita menonton film yang orangnya tertusuk atau tertembak di bagian jantung?</p>
<p>Oh…, mungkin ternyata dimaksud adalah kebocoran pada sekat-sekat yang ada di antara bilik atau serambi jantung. Hal-hal tersebut merupakan bagian dari <a title="PJB" href="http://www.totalkesehatananda.com/congenital1.html" rel="nofollow" target="_blank">Penyakit Jantung Bawaan</a> atau <em>Congenital Heart Diseases</em>.</p>
<p>Biasanya ada dua jenis yang paling umum: PDA (Pentensi duktus arteriouses) dan VSD (defek septum ventrikel).</p>
<p>Jika PDA, <a href="http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/001560.htm" target="_blank">artikel</a> berikut mungkin dapat menjelaskan:</p>
<p>“Sebelum lahir, <em>ductus arteriosus</em> memungkinkan darah untuk melewati paru-paru bayi dengan menghubungkan arteri paru-paru (yang memasok darah ke paru-paru) dengan aorta (yang memasok darah ke tubuh). Segera setelah bayi lahir dan paru-paru diisi dengan udara, pembuluh darah ini tidak lagi diperlukan. Biasanya akan menutup dalam beberapa hari. Jika <em>duktus arteriosus</em> tidak menutup, akan ada abnormal sirkulasi darah antara jantung dan paru-paru.</p>
<p>PDA jarang. Ini mempengaruhi anak perempuan lebih sering daripada anak laki-laki. Kondisi ini lebih sering terjadi pada bayi prematur dan mereka yang bayi sindrom gangguan pernapasan. Bayi dengan kelainan genetik, seperti <em>sindrom Down</em>, dan yang ibunya campak Jerman (<em>rubella</em>) selama kehamilan berada pada risiko yang lebih tinggi untuk PDA.</p>
<p>PDA umum terjadi pada bayi dengan masalah jantung bawaan, seperti jantung kiri <em>hypoplastic syndrome</em>, transposisi pembuluh darah besar, dan <em>pulmonal stenosis</em>.”</p>
<p><img src="http://www.web-books.com/eLibrary/Medicine/Cardiovascular/Images/Patent.jpg" width="377" height="239"> </p>
<p>Kemudian untuk VSD, <a href="http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/001099.htm" target="_blank">artikel</a> berikut mungkin dapat menjelaskan:</p>
<p>“Sebelum bayi lahir, ventrikel jantung kanan dan kiri tidak terpisah. Ketika janin berkembang,terbentuklah sekat-sekat untuk memisahkan kedua ventrikel. Jika dinding tidak sepenuhnya terbentuk, sebuah lubang akan tetap ada. Lubang ini dikenal sebagai cacat septum ventrikel, atau VSD.</p>
<p>Cacat septum ventrikel adalah yang paling umum cacat jantung bawaan. Bayi mungkin tidak menunjukkan gejala, dan akhirnya dapat menutup lubang sebagai dinding terus tumbuh setelah lahir. </p>
<p>Jika lubang besar, terlalu banyak darah akan dipompa ke paru-paru, menyebabkan gagal jantung. Bayi ini sering mengalami gejala yang berkaitan dengan gagal jantung dan mungkin perlu obat untuk mengontrol gejala dan pembedahan untuk menutup lubang. Lubang juga bisa ditutup tanpa operasi, melalui kateterisasi jantung. <br />Penyebab VSD belum diketahui. Cacat ini sering terjadi bersama dengan cacat jantung bawaan lainnya. </p>
<p>Pada orang dewasa, cacat septum ventrikel adalah komplikasi yang jarang tetapi serius serangan jantung. Lubang ini terkait dengan serangan jantung dan tidak hasil dari cacat lahir.”</p>
<p><img src="http://www.web-books.com/eLibrary/Medicine/Cardiovascular/Images/VSD.jpg" width="364" height="318"></p>
<p>Gambar ditautkan dari <a href="http://www.web-books.com/eLibrary/Medicine/Cardiovascular/" target="_blank">Web-Books</a>, bisa diperbesar dengan mengklik pada gambar tersebut. </p>
<div style="padding-bottom: 0px; margin: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; display: inline; float: none; padding-top: 0px" id="scid:0767317B-992E-4b12-91E0-4F059A8CECA8:ef82bd19-d490-473b-a95c-e5dbdee42db4" class="wlWriterEditableSmartContent">Tag Technorati: {grup-tag}<a href="http://technorati.com/tags/penyakit+jantung+bawaan" rel="tag">penyakit jantung bawaan</a>,<a href="http://technorati.com/tags/penyebab" rel="tag">penyebab</a>,<a href="http://technorati.com/tags/patensi+duktus+arterious" rel="tag">patensi duktus arterious</a>,<a href="http://technorati.com/tags/defek+septum+ventrikel" rel="tag">defek septum ventrikel</a></div>
<div class="blogger-post-footer">Artikel oleh <a href="http://legawa.com">Cahya</a></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatan.legawa.com/2009/09/apa-penyebab-jantung-bocor-pada-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mencari Palangkiran</title>
		<link>http://catatan.legawa.com/2009/08/mencari-palangkiran/</link>
		<comments>http://catatan.legawa.com/2009/08/mencari-palangkiran/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 02:25:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cahya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[buku harian]]></category>
		<category><![CDATA[Hindu]]></category>
		<category><![CDATA[kegiatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatan.legawa.com/?p=151</guid>
		<description><![CDATA[Hari Minggu kemarin ketika di tengah-tengah kegiatanku bersih-bersih kamar sebagaimana yang kuceritakan pada “Make Over The Room”, aku menerima telepon dari adik kelas yang baru saja mulai menetap di Yogyakarta gua menjalani hari-hari sebagai mahasiswa. Saat kuangkat dia berbicara sopan, menanyakan apakah aku sedang sibuk atau tidak. Sepertinya dia perlu bantuan, jadi kuminta agar dia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari Minggu kemarin ketika di tengah-tengah kegiatanku bersih-bersih kamar sebagaimana yang kuceritakan pada “<a title="Hari Bersih-Bersih Kamar Kost" href="http://haridivanandha.blogspot.com/2009/08/make-over-room.html" rel="nofollow" target="_blank">Make Over The Room</a>”, aku menerima telepon dari adik kelas yang baru saja mulai menetap di Yogyakarta gua menjalani hari-hari sebagai mahasiswa.</p>
<p>Saat kuangkat dia berbicara sopan, menanyakan apakah aku sedang sibuk atau tidak. Sepertinya dia perlu bantuan, jadi kuminta agar dia tidak segan. Kemudian bertanya, apakah aku tahu di mana di Yogya seseorang bisa mendapatkan “<a title="Klik untuk tahu penjelasan tentang &quot;Palangkiran&quot;" href="http://pasektangkas.blogspot.com/2007/11/pelangkiran.html" rel="nofollow" target="_blank">Palangkiran</a>”? (Baca pelangkiran, “e” seperti pada kata peta).</p>
<p>Hah…!? Aku pun terhenyak dan kaget, seumur-umur aku di Jogja tidak pernah berurusan dengan hal-hal seperti itu. Hah…, maklum kalau atheis jadi ga pedulian dengan detail-detail seperti itu. Aku memintanya segera menunggu dan bertanya pada tetangga sebelahnya. Dia tersentak sama kagetnya, dan bertanya untuk apa mencari yang gituan, aih…aih…, aku lupa ternyata dia tak kalah atheisnya dibandingkan diriku.</p>
<p>Dari pada membuat menunggu, aku bicara kembali pada adik kelas itu. Mungkin aku tahu beberapa tempat, namun tidak yakin apakah bisa ditemukan di tempat-tempat itu. Namun sepertinya adik kelas yang ini, tidak mudah putus asa, dia ingin mencoba mencarinya, namun karena belum tahu arah di Yogya, aku pun diminta tolong untuk mengantarnya. Setelah kusanggupi, ia pun berangkat menuju rumahku (baca: kost). Aku hanya bisa menduga beberapa tempat yang ada.</p>
<p>Segera setelah itu aku menuju kamar senior-ku di bangunan seberang, sudah dua kali dia menetap di Yogya, setidaknya tidak mungkin tahu. Aku pun bertanya padanya. Dia pun kaget mendengar aku menanyakannya, koq tumbennya aku mengurus hal-hal seperti itu, dia bilang membawa Palangkiran sendiri dari Bali, dan tidak tahu harus mencari ke mana.</p>
<p>Hah…, namun sepertinya aku tahu harus bertanya ke mana. Aku pun menelepon salah satu kolegaku yang ada di Bali. Kini gilirannya yang terkaget, seperti sebuah syok, mungkin aku adalah orang terakhir di planet yang mungkin meneleponnya dan menanyakan di mana bisa mencari Palangkiran. Dia bilang mengapa tidak menggunakan yang ia tinggalkan di kamarnya, wah…! Kini giliranku yang kaget, ngapain dia meninggalkan benda itu di kamarnya saat sudah tidak ditempati lagi, tanyaku padanya.</p>
<p>Namun dia memberiku beberapa refrensi seperti Warung Bu Komang dan Warung Dewata yang kebetulan memang tidak jauh dari Pura di Bangutapan. Lha, tapi itu semua kan nama rumah makan, ga salah apa. Ya, tapi dia bilang coba saja untuk ditemukan. Weleh-weleh, itu kan separuh mengitari Yogya, satu di lingkar Utara yang lain di lingkar Selatan.</p>
<p>Setelah adik kelas pada datang, aku mengantarnya ke Warung Bali di dekat Fakultas Kedokteran Gigi UGM, karena di sanalah tebakan pertama-ku tempat yang paling dekat yang mungkin ada. Ada angin baik berhembus, mereka sepertinya juga mendapatkan refrensi yang sama.</p>
<p>Kami pun menuju Warung Bali, seperti tidak aneh mereka tidak dapat menemukan lokasinya sendiri walau sudah mendapatkan refrensinya, bagaimana tidak, di depannya cukup sering menjadi tempat mojok bus-bus kota milik pemilik warung (begitulah yang kudengar).</p>
<p>Untungnya di sana ada dua buah yang tersisa, dan mereka pun mengambil keduanya. Pas sekali, aku sendiri lega tidak perlu berputar jauh untuk menemani mencari, karena kamarku menunggu untuk dibereskan.</p>
<p>Saat membayar mereka bertanya padaku, “Bli kalau mencari <a title="Klik di sini untuk melihat penjelasan tentang Banten" href="http://hindudibali.blogspot.com/2009/03/sejarah-banten-di-bali-dan-aspek.html" rel="nofollow" target="_blank">banten</a> di mana ya?”<br />Gubrag…, sekali lagi aku syok berat. Di mana ya orang mencari banten? Aku tidak pernah berususan dengan yang kaya gituan. Dengan jujur aku minta maaf, aku tidak tahu hal yang seperti itu, biasanya kalau pun ada, dibuatkan oleh temen-temen yang lain (padahal itu pun jumlahnya masih bisa dihitung jari sebelah tangan selama enam tahun di Yogya).</p>
<p>Mereka terlihat kaget, kemudian menunjuk ke motorku, “Itu motor yang dari Bali kan Bli?”, aku mengiyakannya, “Kalau gitu ga pernah dibantenin…”<br />Gubrag lagi…, tiga kali syok dalam sehari. Ha ha, aku pun menjawab paling hanya kucuci saja. Ternyata sehari sebelumnya adalah <a title="Klik di sini untuk penjelasan tentang Tumpek Landep" href="http://www.iloveblue.com/bali_gaul_funky/artikel_bali/detail/1822.htm" rel="nofollow" target="_blank">Tumpek Landep</a>, pantas saja mereka mencoba mencari banten untuk motor baru mereka.</p>
<p>Kemudian mereka bertanya padaku lagi, mungkin mereka sudah curiga, “Jangan-jangan Bli jarang ke Pura ya?”<br />Ziiinggg…., lengkap sudah <em>catur panyupatan suksm</em>a hari ini pikirku, aku tertawa sembari menjawab, “Bukan jarang tapi memang tidak pernah.”</p>
<p>Mereka hanya senyum-senyum saja. Akhirnya selesai juga membantu orang mencari Palangkiran, ha ha, ada-ada saja hari ini. Saat aku pulang kuceritakan pada tetanggaku, dia pun tertawa terbahak-bahak.</p>
<div style="padding-bottom: 0px; margin: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; display: inline; float: none; padding-top: 0px" id="scid:0767317B-992E-4b12-91E0-4F059A8CECA8:034b08fa-2ad4-4a11-bd82-0992bcda8b81" class="wlWriterEditableSmartContent">Tag Technorati: {grup-tag}<a href="http://technorati.com/tags/Palangkiran" rel="tag">Palangkiran</a>,<a href="http://technorati.com/tags/Yogyakarta" rel="tag">Yogyakarta</a>,<a href="http://technorati.com/tags/Tumpek+Landep" rel="tag">Tumpek Landep</a>,<a href="http://technorati.com/tags/Warung." rel="tag">Warung.</a></div>
<div class="blogger-post-footer">Artikel oleh <a href="http://legawa.com">Cahya</a></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatan.legawa.com/2009/08/mencari-palangkiran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Make Over The Room</title>
		<link>http://catatan.legawa.com/2009/08/make-over-the-room/</link>
		<comments>http://catatan.legawa.com/2009/08/make-over-the-room/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Aug 2009 09:09:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cahya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[buku harian]]></category>
		<category><![CDATA[kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[kost]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatan.legawa.com/?p=150</guid>
		<description><![CDATA[Aku memerhatikan belakangan ini semakin banyak debu dan kertas-kertas yang menumpuk di kamarku, seakan-akan menjadi sebuah kantor kecil yang lusuh oleh waktu. Sudah lama sekali rasanya agak enggan membersihkan kamar ini, namun kurasa sudah saatnya untuk menata kembali kamar kos-ku ini. Hari Minggu kali ini kuberikan waktu luang penuh untuk menata kamarku. Berkas-berkas tua dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku memerhatikan belakangan ini semakin banyak debu dan kertas-kertas yang menumpuk di kamarku, seakan-akan menjadi sebuah kantor kecil yang lusuh oleh waktu. Sudah lama sekali rasanya agak enggan membersihkan kamar ini, namun kurasa sudah saatnya untuk menata kembali kamar kos-ku ini.</p>
<p>Hari Minggu kali ini kuberikan waktu luang penuh untuk menata kamarku. Berkas-berkas tua dan beberapa barang-barang sudah tidak begitu kuperlukan lagi, sehingga dapat kusingkirkan. Aku pun mengepak tiga kardus besar buku-buku kedokteran-ku untuk dikirim pulang ke Bali. Di sini sudah tidak cukup tempat lagi.</p>
<p><a href="http://lh5.ggpht.com/_Hd5imL9eh-8/SpFpI_iAA5I/AAAAAAAAAUQ/za68zqsIW04/s1600-h/Photo02663.jpg"><img style="border-right-width: 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="Photo0266" border="0" alt="Photo0266" src="http://lh3.ggpht.com/_Hd5imL9eh-8/SpFpPerw-uI/AAAAAAAAAUU/PFb5j1hGEDw/Photo0266_thumb1.jpg?imgmax=800" width="386" height="312"></a> </p>
<p>Lihatlah gambar kamarku yang begitu berantakan ketika kubongkar, memilah antara mana yang masih kuperlukan, dan yang mana sudah dapat kusingkirkan. Tentu saja hal ini tidak mudah, karena aku mesti meneliti per item, kertas ini apa saja isinya, kotak ini kupakai menyimpan apa? Apa yang ini masih akan diperlukan, apa itu masih bisa dimanfaatkan, kira-kira ini bisa dimusnahkan atau tidak. Mempertimbangkan hal-hal yang ringan terkadang bisa menjadi rumit.</p>
<p>Bayangkan karena setelahnya, aku mendapatkan belasan kantong plastik “sampah” yang bisa segera kumusnahkan. Kebanyakan dari mereka adalah berkas-berkas dalam bentuk lembaran kertas. Ha ha, sayangnya kertas-kertas yang tidak kugunakan ini tidak boleh dijual, namun harus dimusnahkan. Beberapa mengandung data-data legal kedokteran yang tidak boleh tersebar-luaskan, meski saat pendidikan data-data itu berperan dalam proses, namun kini harus segera dimusnahkan, jika tidak bisa berakibat tidak baik jika sampai jatuh ke tangan pihak luar.</p>
<p>Selain membereskan barang-barang, yang berarti juga menciutkan isi kamarku. Aku juga menata ulang susunannya, sehingga menjadi “terasa” lebih lapang. Hal yang menyusahkanku adalah banyaknya debu pada karpet yang kugunakan. Padahal tidak mungkin kucuci saat ini, karena tidak akan kering pada waktu. Debu-debu di pojok kamar-pun menjadi tempat yang sulit terjangkau.</p>
<p>Akhirnya kuputuskan untuk meminjam penyedot debu bertenaga besar untuk membantuku, wah… ini lebih cepat daripada menyapu dan mengumpulkan debu. Sekali sedot dengan tenaga maksimal, bahkan uang receh-pun bisa disambar masuk ke dalam kantong debunya.</p>
<p>Untung tetanggaku pada tepa salira karena kegaduhan yang kubuat selama bersih-bersih, bahkan mereka bersedia membantu angkat-angkat sampah, wah enaknya… bahkan sampai membelikan makan segala.</p>
<p>Beberapa hal yang kuperbaiki adalah tempat tidur lipatku yang sudah jebol, jadi kulipat saja dan kutaruh di belakang, serta menggantinya dengan kasur busa biasa untuk langsung di bawah.</p>
<p>Mengatur ulang tata letak Home Theater dengan Suround 5.1 (padahal ga pernah dipakai, walau lumayan buat dengerin instrumental musik klasik dari piringan audio).</p>
<p>Tidak kusangka, ternyata perlu dua belas jam non-stop guna membenahi semua itu, dimulai dari pukul sembilan pagi, hingga pukul sembilan malam. Walau tentunya ada rehat di sela-selanya barang sepuluh hingga lima belas menit, sekarang punggungku terasa agak kaku (ha… ha…, sudah seperti kakek-kakek saja).</p>
<p>Hmmm…, selain itu radio tape mini Simba-ku sudah dipesan sama tetanggaku, nah…, barang-barang bisa agak berkurang.</p>
<p><a href="http://lh5.ggpht.com/_Hd5imL9eh-8/SpFpbAP7itI/AAAAAAAAAUY/eadxvuMvrjA/s1600-h/Photo0267%5B3%5D.jpg"><img style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; display: inline; border-top: 0px; border-right: 0px" title="Photo0267" border="0" alt="Photo0267" src="http://lh6.ggpht.com/_Hd5imL9eh-8/SpFprIj4azI/AAAAAAAAAUc/WYJvngKeUdY/Photo0267_thumb%5B1%5D.jpg?imgmax=800" width="385" height="311"></a> </p>
<p>Walau jadinya tidak lebih baik, dan masih terkesan kumuh, nah…, lumayan lah untuk tempat bernaung dari panas mentari, angin yang menerpa, dan guyuran hujan, serta dinginnya malam.</p>
<p>Mungkin besok kalau ada waktu bisa sedikit ngepel, kurasa belum semua debu terangkat oleh penyedot debu.</p>
<p><em>Well, home sweet home</em> <img alt="" src="http://www.zu14.cn/coolemotion/emotions/zz_0.gif"> </p>
<div style="padding-bottom: 0px; margin: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; display: inline; float: none; padding-top: 0px" id="scid:0767317B-992E-4b12-91E0-4F059A8CECA8:6af27f97-017d-4674-aa5c-c8948d600284" class="wlWriterEditableSmartContent">Tag Technorati: {grup-tag}<a href="http://technorati.com/tags/Bersih-bersih" rel="tag">Bersih-bersih</a>,<a href="http://technorati.com/tags/tata+ruang" rel="tag">tata ruang</a>,<a href="http://technorati.com/tags/kamar+kos" rel="tag">kamar kos</a>,<a href="http://technorati.com/tags/hari+libur" rel="tag">hari libur</a></div>
<div class="blogger-post-footer">Artikel oleh <a href="http://legawa.com">Cahya</a></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatan.legawa.com/2009/08/make-over-the-room/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membuat Website Personal – Sebuah Pengalaman</title>
		<link>http://catatan.legawa.com/2009/07/membuat-website-personal-%e2%80%93-sebuah-pengalaman/</link>
		<comments>http://catatan.legawa.com/2009/07/membuat-website-personal-%e2%80%93-sebuah-pengalaman/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Jul 2009 04:06:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cahya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[Cyber Newbies]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[desain web]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[Pribadi]]></category>
		<category><![CDATA[situs]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatan.legawa.com/?p=140</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah sebuah kisah yang cukup melelahkan namun menarik untuk diceritakan kembali. Bagaimana tidak, kurasa ini adalah salah satu pengalaman dalam dua puluh empat jam non-stop, mulai dari pertimbangan dan sebagai macam jenisnya. Selama ini saya belum pernah membangun website sendiri, satu-satunya dulu adalah yang terletak di geocities (this link may be broken now), namun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://lh6.ggpht.com/_Hd5imL9eh-8/SmhEHVqc0eI/AAAAAAAAAS8/6UcXfqZ_IfA/s1600-h/Capture_MyWeb%5B11%5D.jpg"><img style="border: 0px none ; display: inline;" title="Capture_MyWeb" alt="Capture_MyWeb" src="http://lh5.ggpht.com/_Hd5imL9eh-8/SmhEJrLqYFI/AAAAAAAAATA/hOzcIY4ZvQQ/Capture_MyWeb_thumb%5B9%5D.jpg?imgmax=800" border="0" height="280" width="389" /></a> </p>
<p>Ini adalah sebuah kisah yang cukup melelahkan namun menarik untuk diceritakan kembali. Bagaimana tidak, kurasa ini adalah salah satu pengalaman dalam dua puluh empat jam non-stop, mulai dari pertimbangan dan sebagai macam jenisnya.</p>
<p>Selama ini saya belum pernah membangun <em>website</em> sendiri, satu-satunya dulu adalah yang terletak di <a title="Personal Page of Cahya Legawa" href="http://www.geocities.com/hari_diva/CahyaLegawa.html" target="_blank">geocities</a> (<em>this link may be broken now</em>), namun Yahoo Inc., telah menutup geocities dengan beberapa pertimbangan per Juli tahun ini. Pengumuman resminya sudah diberikan pada masing-masing pemegang akun geocities. Ah…, padahal berkas-ku lumayan banyak di sana, cuma malas juga sih mengunduhnya kembali. Artinya saya sama sekali tidak memiliki <em>website</em> saat ini.</p>
<p>Sebenarnya sih hanya untuk keperluan formalitas, sekalian untuk belajar. Saya sendiri tidak yakin bisa membuatnya dengan baik, karena tidak memiliki pengalaman sama sekali. Namun setidaknya saya tahu beberapa langkah yang diperlukan.</p>
<p>Pertama setidaknya saya berpikir harus mencoba secara <em>offline</em> dahulu, ada beberapa cara seperti menggunakan perangkat CMS semisal Joomla atau WordPress, beberapa software tambahan seperti IIS7, MySQL, PHP, dan phpMyAdmin. Silakan baca tulisan saya sebelumnya mengenai <a href="http://haridivanandha.blogspot.com/2009/03/instalasi-apache-sql-php-joomla-di.html" target="_blank">Instalasi Apache, SQL, PHP &amp; Joomla di Vista</a>. Sedangkan untuk desain dasar saya kali ini menggunakan <em>template</em> bebas yang bisa di dapat dari <a href="http://www.freecsstemplates.org/" target="_blank">Free CSS Templates</a> tentunya dengan modifikasi dan sentuhan personal selanjutnya. Perangkat lain pun diperlukan, menggunakan <a href="http://notepad-plus.sourceforge.net/" target="_blank">Notepad++</a> menjadi tak terhindarkan sama sekali, karena saya termasuk orang yang buta <em>script editing</em>. Serta beberapa software untuk mengedit foto atau gambar yang akan ditempatkan di <em>website</em>, Gimp atau Ink mungkin akan sangat berguna, namun beberapa <em>freeware</em> ada yang sangat ringan.</p>
<p>Desain awal selesai dengan pengeditan manual manual, saya sendiri tidak sempat menggunakan CMS editor.</p>
<p>Kemudian saatnya mendapatkan sebuah domain dan tempat <em>hosting</em>. Aku mengirimkan email pada beberapa penyedia jasa dalam bidang ini. Kemudian saya memilih mereka yang memberikan respon paling cepat dan paling detail dari email yang saya kirimkan. Saya memilih membeli domain dan <em>hosting</em> melalui <a title="Rumah Web: Domain &amp; Hosting" href="http://www.rumahweb.com/idev/idevaffiliate.php?id=3567" target="_blank">RumahWeb</a>, salah satu penyedia jasa di Yogyakarta. Alasannya klasik ya? Seperti orang yang sedang berburu lamaran kerja saja.</p>
<p>Saya sempat tersesat di beberapa wilayah desa wisata di Utara, melalui Jln. Tentara Pelajar (bahkan saya tidak ingat kalau jalan ini merupakan kelanjutan Jln. Monjali – Monumen Jogja Kembali, ke arah Utara). Ternyata mencapai kantor <a title="Rumah Web: Domain &amp; Hosting" href="http://www.rumahweb.com/idev/idevaffiliate.php?id=3567" target="_blank">RumahWeb</a> agak pelik juga, kuharap lain kali mereka akan menempatkan peta di situsnya.</p>
<p>Setelah semua keperluan transaksi usia, selanjutnya adalah menunggu hingga <em>space</em> siap digunakan.</p>
<p>Pertama kali saya mencoba menggunakan cPanel, kemudian melakukan <a href="http://www.rumahweb.com/journal/install-wordpress-melalui-cpanel.htm" target="_blank">instalasi wordpress melalui cPanel</a> menggunakan Fantastico De Luxe. Semuanya berjalan lancar pada tahap awal. Karena saya juga memiliki sebuah blog di wordpress (baca: <a title="Celoteh di Ranting Sastra" href="http://lhagima.wordpress.com/" target="_blank">lhagima</a>). Kemudian masukkan <em>theme</em> yang sudah saya edit sebelumnya ke dalamnya. Tiba-tiba muncul tulisan “<em>theme is broken</em>”… eh!, yang bener saja. Terpaksan deh kemudian, sembari duduk di DOJO, saya terpaksa menduplikasi beberapa halaman <u>index.html</u> awal untuk dijadikan halaman-halaman berikut, menambahkan isi halaman lain secara manual, setelahnya melakukan upload menggunakan FTP Client (<a title="FileZilla FTP Client" href="http://filezilla-project.org/" target="_blank">FileZilla</a>). Baca panduannya <a title="Cara Upload Dengan FTP" href="http://www.rumahweb.com/journal/bagaimana-cara-mengupload-website-ke-rumahweb-dengan-ftp.htm" target="_blank">di sini</a>.</p>
<p>Setelah itu selesai-lah pembuatan legawa.com yang melelahkan, namun inilah yang bisa saya kerjakan. Mereka mengatakan mimpi memiliki sebuah sayap-sayap yang indah, dan langkah serta upaya kitalah yang akan membantunya terbang ke langit yang ia impikan. He he…</p>
<p>Walau masih banyak yang belum saya tambahkan, seperti rencana saya memasukkan dan menyatukan <em>account wordpress</em> di sana, mungkin karena masih ada jatah satu <u>subdomain</u> lagi. Buku tamu yang belum ada, dan masih banyak lagi. Yah, kurasa itu tidak bisa dirampungkan dengan segera. Menunggu beberapa waktu lebih lama mungkin akan memberikan kesempatan selanjutnya. Yang baru selesai pun setelah diperiksa dengan Markup Validation (W3C) masih banyak terjadi galat (buta script sih), mungkin nanti harus minta bimbingan ke <a href="http://daniiswara.net">Bli Dani</a> lagi.</p>
<p>Ingin melihat bagaimana website saya, silakan kunjungi <a title="A Cahya Legawa's Homepage" href="http://www.legawa.com/" target="_blank">Legawa.Com</a> ^_^</p>
<div style="margin: 0px; padding: 0px; display: inline; float: none;" id="scid:0767317B-992E-4b12-91E0-4F059A8CECA8:f07c0845-7cbe-4f3a-ae7b-0cbf3455d5a0" class="wlWriterEditableSmartContent">Tag Technorati: {grup-tag}<a href="http://technorati.com/tags/Personal+Website" rel="tag">Personal Website</a>,<a href="http://technorati.com/tags/Web+Design" rel="tag">Web Design</a>,<a href="http://technorati.com/tags/Hosting" rel="tag">Hosting</a>,<a href="http://technorati.com/tags/Domain." rel="tag">Domain.</a></div>
<div class="blogger-post-footer">Artikel oleh <a href="http://legawa.com">Cahya</a></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatan.legawa.com/2009/07/membuat-website-personal-%e2%80%93-sebuah-pengalaman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pesona Pantai Ngobaran</title>
		<link>http://catatan.legawa.com/2009/07/pesona-pantai-ngobaran/</link>
		<comments>http://catatan.legawa.com/2009/07/pesona-pantai-ngobaran/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Jul 2009 10:41:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cahya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[alam]]></category>
		<category><![CDATA[featured]]></category>
		<category><![CDATA[Ngobaran]]></category>
		<category><![CDATA[pantai]]></category>
		<category><![CDATA[wisata]]></category>
		<category><![CDATA[yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatan.legawa.com/?p=131</guid>
		<description><![CDATA[Setelah menimbang-nimbang berulang kali, akhirnya mungkin kali ini aku meminta panduan wisata ke daerah pantai saja. Aku baru saja teringat, hampir enam tahun di Yogyakarta, namun belum sekali pun aku mengunjungi pantainya, termasuk Parangtritis yang terkenal itu. Aku pun berangkat dengan pandu-ku menuju ke pantai di sebaran daerah Gunung Kidul, belum pasti pantai yang mana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah menimbang-nimbang berulang kali, akhirnya mungkin kali ini aku meminta panduan wisata ke daerah pantai saja. Aku baru saja teringat, hampir enam tahun di Yogyakarta, namun belum sekali pun aku mengunjungi pantainya, termasuk Parangtritis yang terkenal itu.</p>
<p>Aku pun berangkat dengan pandu-ku menuju ke pantai di sebaran daerah Gunung Kidul, belum pasti pantai yang mana akan dikunjungi. Persiapan dimulai pukul 04.00, genderang weker-pun berbunyi, mataku yang masih mengantuk setelah semalam menghabiskan waktu dengan nonton acara debat capres putaran ketiga serta berbagai tafsir setelahnya membuat sedikit rasa enggan untuk bergerak. Sayangnya pilihanku tidak banyak, hari ini atau tidak sama sekali.</p>
<p>Aku melihat bahwa semua camilan dan minuman yang dibeli dari Swalayan Mirota sudah jadi satu dalam plastik, perlengkapan komunikasi dan dokumentasi pun telah melewati cek kelayakan. Selesai mandi pukul 04.45 membuat badanku sedikit bergetar kedinginan. Setelah mengecek tidak ada surat elektronik mendesak pagi itu, aku pun berangkat dengan semua persiapan yang sederhana itu.</p>
<p>Perjalanan tahap awalku membuatku tiba di daerah RSU Kota Yogyakarta pada pukul 05.30. Oleh karena motor tuaku yang bersilinder 105cc sedang kuragukan kebersediaannya mengantarku melewati punggung-punggung perbukitan dengan kondisi jalan yang kutahu tak mudah (mengingatkan kenangan kerja di Sungapan 2, Kokap dahulu), maka aku berganti dengan motor yang lebih baru bersilinder 125cc. Segera perjalanan kulanjutkan dengan mengambil rute melalui Imogiri. Sebenarnya aku diberi tahu bahwa jika melalui tempat tinggalku di Jalan Lingkar Utara (<em>Ring Road</em> Utara), maka akan lebih dekat/cepat dicapai melalui jalur Prambanan. <em>Well</em>, karena aku buta jalur wilayah Selatan Yogyakarta-lah mengapa aku membawa pemandu (ah…, inilah akibatnya kalau setiap kali perjalanan ke Selatan selalu menumpang dan tertidur sepanjang perjalanan).</p>
<p>Di perjalanan tampak matahari mulai mencercahkan sinarnya ke langit dan membuat alam menyambut pagi yang baru. Setelah beberapa kali diskusi, kami memutuskan untuk mengunjungi <a href="http://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-object/beach/ngobaran/" target="_blank">Pantai Ngobaran</a> sebagai pilihan awal.</p>
<p>Pantai Ngobaran adalah sebuah panti kecil di antara kekokohan perbukitan batu yang keras, hamparan pasir putihnya adalah hal yang menarik bukan? Setidaknya itulah yang kudengar sebelum aku tiba di sana setelah sejam lebih sedikit perjalanan yang menyenangkan.</p>
<p><a href="http://lh6.ggpht.com/_Hd5imL9eh-8/Sk5BwFZDWxI/AAAAAAAAAQo/hk7pDfWcsNY/s1600-h/The%20Bottom%20and%20the%20Top%5B17%5D.jpg"><img style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; display: block; float: none; border-top: 0px; border-right: 0px" title="The Bottom and the Top" border="0" alt="The Bottom and the Top" src="http://lh3.ggpht.com/_Hd5imL9eh-8/Sk5B1tRKS_I/AAAAAAAAAQs/TGSNMgpICFY/The%20Bottom%20and%20the%20Top_thumb%5B15%5D.jpg?imgmax=800" width="383" height="296"></a> </p>
<p>Ketika memasuki dari sebuah jalan beraspal yang sudah layak guna. Tampak bukit bebatuan yang keras, sepertinya tumbuhan pun harus berjuang guna merekatkan akarnya di sana. Akan tampak sebuah pura kecil. Kudengar Pantai Ngobaran biasanya digunakan dalam upacara <a href="http://gudeg.net/directory/72/604/Upacara-Melasti.html" target="_blank">Melasti</a> oleh umat Hindu di Yogyakarta sebagai suatu rangkaian Hari Raya Nyepi.</p>
<p><a href="http://lh3.ggpht.com/_Hd5imL9eh-8/Sk5B6Ewc-1I/AAAAAAAAAQw/Y3V_uUxn5KI/s1600-h/Far%20South%20Rock%5B19%5D.jpg"><img style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; display: inline; margin-left: 0px; border-top: 0px; margin-right: 0px; border-right: 0px" title="Far South Rock" border="0" alt="Far South Rock" align="left" src="http://lh3.ggpht.com/_Hd5imL9eh-8/Sk5B9puSF2I/AAAAAAAAAQ0/XNHtyVuaMTA/Far%20South%20Rock_thumb%5B17%5D.jpg?imgmax=800" width="277" height="331"></a> </p>
<p>Ternyata memang pasir putih yang lembut-lah kemudian kujumpai di pantai kecil itu. Sebagian besar pantai, tepinya adalah karang-karang yang langsung menyentuh deru ombak yang tak pernah berhenti. Aku senang sekali karena melihat kondisi yang masih lumayan alami, dan pantai yang cukup bersih.</p>
<p>Aku agak kesulitan mengambil beberapa dokumentasi pada awalnya, maklum amatir dengan kamera tipe Easy Share tidaklah mudah menggapai pencahayaan pantai yang kurang ramah, walau aku suka cahaya pagi di pantai.</p>
<p>Misalnya salah satu pojok pantai yang kuambil gambarnya ini konon merupakan salah satu karang-karang yang paling menjorok ke wilayah Laut Selatan. Entah-lah, setidaknya begitu yang diungkap-kan warga di sekitar sana.</p>
<p><a href="http://lh6.ggpht.com/_Hd5imL9eh-8/Sk5CFrQZPoI/AAAAAAAAAQ4/4RSagG3_wEA/s1600-h/Last%20Past%20Conflict%5B12%5D.jpg"><img style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; display: block; float: none; margin-left: auto; border-top: 0px; margin-right: auto; border-right: 0px" title="Last Past Conflict" border="0" alt="Last Past Conflict" src="http://lh3.ggpht.com/_Hd5imL9eh-8/Sk5CLA7AlzI/AAAAAAAAAQ8/_EnGzwTdKyQ/Last%20Past%20Conflict_thumb%5B10%5D.jpg?imgmax=800" width="390" height="303"></a> </p>
<p>Pojokan pantai itu bisa dijangkau setelah menuruni tangga beton (yang mungkin dibenahi belakangan ini) dari Selatan sisi Padmasana (simbol pemujaan terhadap Tuhan oleh umat Hindu) yang juga terdapat sebuah Masjid kecil tepat di hadapannya. Aku pun masih ingat beberapa bahasan beberapa tahun lalu tentang konflik yang muncul di lokasi ini. Entah itu masih ada atau tidak. Kuharap tidak mengganggu ketenangan pantai yang nyaman ini.</p>
<p><a href="http://lh4.ggpht.com/_Hd5imL9eh-8/Sk5CQDYN8eI/AAAAAAAAARA/Ng6gI1f5j48/s1600-h/Kajawan%20Site%5B19%5D.jpg"><img style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; display: block; float: none; margin-left: auto; border-top: 0px; margin-right: auto; border-right: 0px" title="Kajawan Site" border="0" alt="Kajawan Site" src="http://lh4.ggpht.com/_Hd5imL9eh-8/Sk5CU9ZygKI/AAAAAAAAARE/29vRqO6SZQ4/Kajawan%20Site_thumb%5B17%5D.jpg?imgmax=800" width="340" height="405"></a>Di sana juga bisa ditemukan sebuah situs Kejawan yang konon berhubungan dengan Raja Brawijaya V, Raja dari Kerajaan Majapahit di masa lalu. Di sini terdapat banyak arca dengan berbagai karakteristik yang menawan, situs ini pun secara langsung menghadap ke laut lepas. Dari beberapa teman, ada yang menyampaikan padaku bahwa situs ini masih digunakan sebagai tempat laku tapa atau meditasi di waktu-waktu tertentu.</p>
<p><a href="http://lh6.ggpht.com/_Hd5imL9eh-8/Sk5CZN-3lkI/AAAAAAAAARI/mwXbusDlVDU/s1600-h/Looking%20for%20Nature%20Work%5B9%5D.jpg"><img style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; display: block; float: none; margin-left: auto; border-top: 0px; margin-right: auto; border-right: 0px" title="Looking for Nature Work" border="0" alt="Looking for Nature Work" src="http://lh4.ggpht.com/_Hd5imL9eh-8/Sk5CboArzwI/AAAAAAAAARM/ZlEDYt_p-iw/Looking%20for%20Nature%20Work_thumb%5B7%5D.jpg?imgmax=800" width="380" height="294"></a> </p>
</p>
<p>Melewati sebuah bukit batu kapur ke arah Barat, bagian pantai lain yang lebih luas ditemukan. Pasirnya masih merupakan pasir putih yang menawan. Di pagi hari pasir-pasir ini masih berwarna agak gelap karena bagian atasnya belum sempat terkeringkan oleh matahari.</p>
<p>Kesan karang yang kokoh dan ombak yang tipis merupakan keunikan tersendiri dari pantai ini. Hamparan ke dalam tampaknya tidak dilanjutkan oleh pasir juga, namun sebuah hamparan permadani karang yang landai dengan rumput laut menghijau yang meliuk-liuk dipermainkan arus tepian. Memang banyak yang mengatakan bahwa ketika air cukup surut, kita bisa mendapati padang rumput laut yang hijau dan indah, namun sayang tampaknya saat ini aku belum cukup berjodoh untuk menyaksikan itu. Tapi bersentuhan langsung dengan lukisan alam seperti sungguh meletupkan kebahagiaan yang unik.</p>
<p><a href="http://lh6.ggpht.com/_Hd5imL9eh-8/Sk5CiKzz1xI/AAAAAAAAARQ/S5cJ1zttq-E/s1600-h/Little%20Friend%5B8%5D.jpg"><img style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; display: block; float: none; margin-left: auto; border-top: 0px; margin-right: auto; border-right: 0px" title="Little Friend" border="0" alt="Little Friend" src="http://lh3.ggpht.com/_Hd5imL9eh-8/Sk5ClV1_QWI/AAAAAAAAARU/dvRKcXZebjU/Little%20Friend_thumb%5B6%5D.jpg?imgmax=800" width="383" height="251"></a> </p>
<p>Ketika mentari cukup tinggi menyapa kami, aku bisa merasakan kesegaran dengan sedikit menjemur punggung-ku di bawah sinarnya yang lembut. Sementara aku asyik berjemur, tampaknya ke kehangatan baru yang menghampiri pantai di pagi itu telah menjadi tanda dari berbagai penghuninya untuk memulai aktivitas. Burung-burung kecil mulai beterbangan, demikian juga dengan kepiting kecil yang berhasil kutanamkan senyumnya ke dalam memori kamera kecilku. Lihatlah bagaimana ia melakukan kamuflase sembari tersenyum dalam warna-warni yang cerah.</p>
<p><a href="http://lh3.ggpht.com/_Hd5imL9eh-8/Sk5Cp1EZ75I/AAAAAAAAARY/ojsYRuj0JTo/s1600-h/Hidden%20Beauty%5B11%5D.jpg"><img style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; display: block; float: none; margin-left: auto; border-top: 0px; margin-right: auto; border-right: 0px" title="Hidden Beauty" border="0" alt="Hidden Beauty" src="http://lh4.ggpht.com/_Hd5imL9eh-8/Sk5Cr-FKYQI/AAAAAAAAARc/rGaZG0fvTA0/Hidden%20Beauty_thumb%5B7%5D.jpg?imgmax=800" width="391" height="303"></a> </p>
<p>Matahari telah menyingsing cukup tinggi guna mengingatkanku untuk kembali dan membiarkan pantai ini mendapatkan privasinya dalam kealamian. Telah cukup kusentuh sesuatu yang indah di pagi ini, dan kekaguman dari kedekatan tanpa jarak ini adalah sesuatu yang luar biasa bagiku.</p>
<p>Aku pun kembali ke rumah tempatku berteduh, dan biarlah kedamaian selalu ada dan hidup di pantai ini, sebuah sentuhan dan pesona yang luar biasa.</p>
<p>p.s: oh…, jangan lupa berhati-hati dengan landak laut (demikianlah nasihat bagi mereka yang berkunjung ke pantai ini).</p>
<p>Catatan 3 Juli 2009</p>
<div style="padding-bottom: 0px; margin: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; display: inline; float: none; padding-top: 0px" id="scid:0767317B-992E-4b12-91E0-4F059A8CECA8:bf95ab70-1742-411c-8934-731e467c1720" class="wlWriterEditableSmartContent">Tag Technorati: {grup-tag}<a href="http://technorati.com/tags/Pantai+Ngobaran" rel="tag">Pantai Ngobaran</a>,<a href="http://technorati.com/tags/Yogyakarta" rel="tag">Yogyakarta</a>,<a href="http://technorati.com/tags/Wisata+Alam" rel="tag">Wisata Alam</a>,<a href="http://technorati.com/tags/Jalan-Jalan" rel="tag">Jalan-Jalan</a>,<a href="http://technorati.com/tags/Gunung+Kidul" rel="tag">Gunung Kidul</a></div>
<div class="blogger-post-footer">Artikel oleh <a href="http://legawa.com">Cahya</a></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatan.legawa.com/2009/07/pesona-pantai-ngobaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>An Interview Above My Paint of Letters</title>
		<link>http://catatan.legawa.com/2009/04/an-interview-above-my-paint-of-letters/</link>
		<comments>http://catatan.legawa.com/2009/04/an-interview-above-my-paint-of-letters/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Apr 2009 03:48:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cahya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[Mozaik]]></category>
		<category><![CDATA[suara]]></category>
		<category><![CDATA[featured]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatan.legawa.com/?p=108</guid>
		<description><![CDATA[Akhirnya…, setelah dua hari menunggu, embargo “internet” yang kuhadapi dicabut juga tanpa banyak upaya diplomasi yang bermakna. Jadi hibernasi blog ini dapat dicabut juga. Nah, kugunakan kesempatan ini untuk menulis kembali sebuah perbincangan dengan orang yang telah menulis banyak di blog ini (ah…, kurasa agak aneh juga menulis ini, tapi tak apalah) sekaligus menjawab beberapa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Akhirnya…, setelah dua hari menunggu, embargo “internet” yang kuhadapi dicabut juga tanpa banyak upaya diplomasi yang bermakna. Jadi hibernasi blog ini dapat dicabut juga. Nah, kugunakan kesempatan ini untuk menulis kembali sebuah perbincangan dengan orang yang telah menulis banyak di blog ini (ah…, kurasa agak aneh juga menulis ini, tapi tak apalah) sekaligus menjawab beberapa pertanyaan yang <a href="http://www.blogger.com/profile/13653917353986672000">Mas Dani</a> di tulisanku yang sebelumnya tentang <a href="http://haridivanandha.blogspot.com/2008/06/writing-is-about-feeling.html">tulisan &amp; perasaan</a>.<span id="more-108"></span><br />
Sore ini suasana di sepanjang lingkungan “GAMA” masih diliputi mendung yang agak tebal, baru saja usai hujan yang lumayan deras walau tak lebih dari sejam rintiknya membasahi bumi, sementara aku masih asyik dengan manisnya permen gula dan segelas air putih yang segar. Hingga beberapa pertanyaan mendatangi saya dengan sopan dan mengememukakan bahwa beberapa dari mereka hendak mendapatkan sesuatu yang bisa melegakan, rasanya mereka akan menolak jikalau kutawarkan segelas air putih di atas mejaku. Jadi kumulailah perbincangan dengan beberapa di antara mereka, dan inilah percakapan antara aku (A) dan mereka (M).…<span>M: Kami ingin tahu, seberapa lama kamu sudah menulis?<br />
A: Menulis…? Maksudnya…? Mohon lebih spesifik.<br />
M: Ya, menulis, seperti menulis catatan jaringan ini (<em>translate to weblog/blog ~ed.</em>) yang sudah penuh dengan berbagai tulisan…<br />
A: Ee…, sebenarnya aku tidak ingat pasti, mungkin sekitar tiga tahun yang lalu (aku menunjuk sambil meminta mereka melihat tanggal publikasi awal di blog pertamaku di <a href="http://haridiva.blogspot.com/">http://haridiva.blogspot.com</a>)<br />
M: Apakah sebelum kamu sudah biasa menulis…, di media lain mungkin?<br />
A: Media lain…? Maksudnya seperti buku atau <em>note</em>?<br />
M: Bisa… dikatakan demikian (mereka mengangguk sambil tersenyum lebar)<br />
A: Aku biasa menulis sejak kelas lima sekolah dasar, aku masih ingat punya <em>diary</em>–ku sendiri yang tak pernah berisi catatan harian…, hmm… mungkin sekarang sudah tidak ada lagi, rasanya sudah dimusnahkan ke dalam sumur tua di rumahku.<br />
M: Hi… (mereka tampak merinding)…, lalu yang barusan, apa maksudnya tidak berisi catatan harian…, <em>well</em>… bukankah itu sebuah buku harian (<em>diary </em>~ed.)?<br />
A: Aku orang yang paling “buruk” kemampuannya dalam hal mendokumentasikan sesuatu, termasuk kegiatan harianku, jadi mungkin isinya ~ jika dapat kulihat kembali, hanyalah catatan tentang pemikiran seorang anak kecil, beberapa terkadang terkesan konyol jika kubaca kembali saat aku bertambah usia… He he…<br />
M: Bisakah diberikan contoh-contohnya…?<br />
A: Ah…, sayangnya aku tidak bisa ingat pasti…, sebenarnya sih sudah lupa, mungkin beberapa dalam bentuk esai pendek, puisi atau prosa…<br />
M: Itu terdengar berat untuk anak sekolah dasar…, tidakkah demikian?<br />
A: Ya.. ya…, mungkin begitu, tapi aku ingat waktu kelas empat sekolah dasar, saat aku masih tinggal di kampung halamanku, di sana banyak catatan keluargaku dari berbagai pihak dalam berbagai buku yang berisi coretan dan goresan dalam bentuk-bentuk serupa, mungkin secara tidak langsung aku menirunya ketika aku pindah ke kotaku hingga sebelum perkuliahan.…<br />
M: Lalu itu berarti kamu dan keluargamu menyukai hal-hal semacam itu…? Sepertinya terkasan ada kaitannya…?<br />
A: Tidak juga, atau mungkinkah…? Aku tinggal di keluarga ibuku…, yang sebagian besar memang menyukai seni, mulai dari melukis, menyanyi, musik, menulis walau mungkin tidak menari…, sedangkan aku tidak memiliki satu pun dari semua itu saat ini.…<br />
M: Baiklah…, kembali ke yang sebelumnya, apa Anda menulis sepanjang waktu…?<br />
A: Tidak sepanjang waktu…, mungkin untuk menghabiskan waktu tepatnya…<br />
M: Menghabiskan waktu…? Tidakkah ada kegiatan lain…, bukankah banyak kegiatan <em>outdoor </em>yang menarik?<br />
A: Ha ha…, tentu saja banyak kegiatan seperti itu yang menarik. Namun sejak kelas dua sekolah menengah pertama, karena alasan kesehatan, aku tidak bisa beraktivitas di luar sebagaimana anak dan remaja lainnya ~ kata dokterku aku bisa saja kehilangan kedua kakiku ~ huih…, itu sangat menyeramkan saat itu, lagi pula rasa sakitnya memang mematikan semua keinginanku untuk berkegiatan di luar, namun terkadang aku bandel dan melarikan sepedaku walau hanya di sekitar pematang persawahan…, ah… ya aku ingat sekarang, bersepeda mungkin memang salah satu kegiatan yang paling kusukai, selain berenang yang merupakan satu-satunya aktivitas yang diizinkan oleh dokterku saat itu. Yah…, karena itulah sebagian besar waktuku di rumah, selain dengan hewan peliharaanku aku akan menghabiskan waktuku dengan menulis dan beberapa waktu kemudian dengan ketikan-ketikanku setelah sebuah mesin tik sederhana dibelikan untukku oleh keberhasilan rengekanku waktu kecil dulu.<br />
M: Wow…, tidak tahu apa yang harus kami ungkapan…<br />
A: Tidak perlu … <span><span> :-D </span></span><br />
M: Apa kamu selalu menulis di rumah…?<br />
A: Tidak juga…, aku rutin menulis di bagian “sastra” untuk majalah dinding ketika SMA dulu, itu karena aku salah pilih, ternyata ekstrakulikuler sastra, bahasa dan jurnalistik digabung menjadi satu…, tapi sebagian besar karena mereka memerlukan orang yang bisa mengetik dengan cepat untuk mengejar <em>deadline </em>atau mengikuti lomba mading antar SMA.<br />
M: Jadi kamu biasa mengetik…?<br />
A: Ya…, itulah yang kusampaikan…, karena terbiasa.…<br />
M: Catatan jaringanmu sekarang berisi tulisan-tulisan yang lumayan panjang, bagaimana bisa begitu, setahu kami kebanyakan catatan jaringan hanya memuat tulisan pendek dan padat…?<br />
A: Hmm…, benarkan demikian…? Aku punya catatan yang pendek di <em><a href="http://haridiva.blogspot.com/">A Journey</a></em> yang diperbaharui sebulan sekali, atau tulisan semi panjang di <em><a href="http://haridiva-indonesia.blogspot.com/">The Voices</a></em>…, mungkin yang kalian maksud yang di blog <a href="http://haridivanandha.blogspot.com/"><em>catatan</em></a> ini ya…? Soalnya aku masih memiliki <em>mikroblog </em>di <a href="http://haridiva.spaces.live.com/"><em>Diary </em></a>tentunya…<br />
M: Ha ha…, ternyata banyak sekali tempat <em>nongkrong</em>–nya…<br />
A: Ha ha…, begitulah…<br />
M: Jadi…<br />
A: Ya…?<br />
M: Ah…, maaf, maksud kami, sedemikian banyaknya tulisan yang sudah dibuat, adakah hal khusus yang “membuat”-mu menulis …?<br />
A: Hal khusus yang “membuat”…? Apa itu seperti inspirasi…?<br />
M: Tentu saja, ya “inspirasi” adalah kata yang tepat…<br />
A: <em>I would like to say if this inspiration thing is so simple and yet not so easy to provoke one to act</em>…<br />
M: Maksudnya…?<br />
A: Inspirasi bagiku beragam, bukan satu hal, namun sesuatu yang bisa menghubungkan sesuatu di dalam sini dan di luar sana menjadi satu sehingga tiada lagi luar dan dalam itu. Namun menemukan itu pun belum tentu membuatku menulis…; contohnya, aku melihat seekor kupu-kupu yang dengan elok terbang rendah mengitari pancuran sebuah kolam tua, mungkin seketika aku akan “jatuh cinta”, namun ketika semuanya hanya menjadi itu, adakah aku akan menulisnya? He he bisa jadi kemudian aku menulis apa yang tersisa, atau membiarkannya hilang begitu saja. Objek inspirasi bisa jadi beragam bagiku, namun hakekat inspirasi itu tak akan berbeda sama sekali.<br />
M: <em>Thats sound deep</em>…<br />
A: <em>Nope</em>…, kurasa biasa saja…, dan kuharap bukan karena aku telah terbiasa, karena inspirasi selalulah kesegaran yang terbatas, bukan sesuatu yang lama yang kita telah menjadi terbiasa akannya. Mungkin aku harus berterima kasih pada Jiddu Krishnamurti, karena tulisan beliau membuatku belajar untuk memahami sebuah inspirasi, sebagaimana mungkin juga membuat seorang Eckhart Tolle menulis “<em>The Power of Now</em>”.<br />
M: Jadi tidak ada yang khusus…<br />
A: Tidak ada…<br />
M: Ataukah mungkin topik yang paling disukai…?<br />
A: Ha ha…, setiap orang memiliki kecenderungan sebagaimana ia telah tumbuh, aku memiliki beberapa hal yang menarik untuk dibaca, aku suka membaca ensiklopedia, komik anima, karya sastra klasik dan mungkin novel misteri, namun aku tidak begitu menyukai topik politik, ekonomi dan sosial…, mungkin aku tidak akan menulis topik yang tidak kusuka, karena aku jarang menyentuhnya…, bagaimana bisa kuungkapkan, walau tidak berarti aku tidak menulisnya…, sedangkan yang kusuka pun jarang kutulis…, jadi adakah itu menjadi khusus atau paling disuka… &amp; berpengaruh?<br />
M: Sulit dikatakan demikian…<br />
A: Ya…, aku pun tak ingin terlalu memikirkannya…, karena dalam tulisan, aku adalah sang amatir…<br />
M: Amatir…?<br />
A: Dari bahasa kuno “<em>amote</em>” atau “<em>amore</em>” yang secara kasar berarti “cinta” atau “amat menyukai”, aku menulis karena rasa suka cita…, karena gemar…, karena kurang kerjaan…, ha ha…, katakanlah apapun itu.…<br />
M: Di mana kamu paling sering menulis…?<br />
A: Belakangan ini…, ya di <em>blog </em>sih…, ini yang paling sering menjadi bahan coretanku… sebuah dunia maya…<br />
M: Langsung begitu saja…?<br />
A: Dulunya iya, aku suka langsung menulis…, namun karena selama kegiatan kepaniteraan aku menjadi sering berpindah-pindah, sehingga biasanya kutulis secara daring (<em>offline </em>~ed.) baru kemudian kukirim secara luring (<em>online </em>~ed.).…<br />
M: Oh ya…, bagaimana …?<br />
A: Lewat email tentunya…, menggunakan fasilitas yang mendukung, sekarang kugunakan <a href="http://www.spreadthunderbird.com/aff/975/13"><em>Mozila Thunderbird</em></a>, beberapa kali dulu menggunakan <em>Windows Mail</em> atau <em>Microsoft Outlook</em>, namun karena <em>propriarty </em>jadi tidak kupakai lagi…, pernah waktu yang lalu mencoba <em>Windows Live Mail</em> dan <em>Windows Live Writter</em>, namun resource yang dihabiskan luar biasa boros, jadi tidak kugunakan lagi…, eh… koq jadi ngomongin ini sih…?<br />
M: Ha ha…, ketahuan suka ceplas-ceplos…<br />
A: Dasar…, kalian ini…<br />
M: Apakah tulisan ini biasanya langsung ditulis setelah inspirasi tiba…?<br />
A: Mungkin ya…, mungkin tidak…, ada yang langsung tertuang…, ada yang menunggu kesempatan.…, ada yang beruang-ulang diedit hingga terasa pas…, ada yang begitu saja jadi…, aku tidak memiliki pola tetap, karena aku tidak memiliki tujuan dalam menulis…, tidak spesifik tentunya…, bagaimana pun sekali lagi aku adalah sang amatir.<br />
M: Apakah ada yang dipublikasikan di ruang publik…?<br />
A: Blog adalah ruang publik…<br />
M: Maksud kami, mungkin media cetak atau elektronik dari sebuah lembaga…?<br />
A: Entahlah…, tulisanku dari dulu hanya dipublikasikan di mading SMA, dan itu sudah mungkin usang sekali…, pernah ada tawaran dari para sastrawan di majalah sastra Horizon melaui sebuah acara sastra di sekolahku, mungkin itu setelah aku ikut dengan beberapa sastrawan lokal dan nasional saat diadakan bengkel sastra 2002 di Bali yang kuikuti…, aku kenal beberapa di antaranya…, aku sempat berpikir untuk mencoba menulis dan siapa tahu dimuat di majalah berskala nasional itu…, ha ha…, namun dasarnya aku memang malas…, aku hanya suka menulis tidak tertarik dengan hal-hal yang lain.<br />
M: Itu kesempatan yang baik…<br />
A: Sastra memiliki kekuatan yang luar biasa, aku hanya merasa tidak cukup memiliki hasrat untuk melimpahkan minatku guna menulis sebuah sastra yang layak dibaca oleh orang-orang.…<br />
M: Berarti tanpa publikasi…<br />
A: Ha ha…, aku tidak tahu jika ada yang mempublikasikannya tanpa sepengetahuanku…, karena kadang blog saja ada yang <em>copy-paste</em> begitu saja, aku bisa secara mudah menemukannya dengan menggunakan <a href="http://www.copyscape.com/">Copyscape </a>di internet. He he…, inilah yang juga tampaknya membuat banyak penulis blog jengkel, karena tulisan mereka dijiplak begitu saja, apalagi beberapa untuk kepentingan komersial oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab…, ah…, namun aku sendiri enggan terlalu mencampuri urusan seperti itu. Jadi kalau aku sendiri, seingatku tidak memiliki riwayat mempublikasikan tulisan tertentu…<br />
M: Atau ada rencana untuk publikasi sesuatu…?<br />
A: Ya.., mungkin…, tujuh tahun yang lalu aku menyelesaikan rancang biru sebuah “novel” yang kubuat sejak sepuluh atau sebelas tahun yang lalu…, kini aku hanya asyik menambah beberapa polesan yang di antaranya…, mungkin inilah <a href="http://haridivanandha.blogspot.com/2008/10/manuskrip-yang-tak-pernah-usai.html">manuskrip </a>yang kuceritakan dulu…, apakah akan dipublikasikan…? Aku tak tahu…, mungkin iya, mungkin akan menjadi kenangang yang tertumpuk debu di masa tuaku nanti…<br />
M: Ha ha…, ternyata begitu…, ya sepertinya lebih baik membiarkan waktu yang menjawab…<br />
A: Ya…, biarkan waktu yang menyampaikan jawaban atas semua yang masih menjadi misteri…</p>
<p></span></div>
<div>Artikel oleh <a href="http://legawa.com">Cahya</a></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatan.legawa.com/2009/04/an-interview-above-my-paint-of-letters/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Forensic in A Couple Week</title>
		<link>http://catatan.legawa.com/2009/04/forensic-in-a-couple-week/</link>
		<comments>http://catatan.legawa.com/2009/04/forensic-in-a-couple-week/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Apr 2009 08:50:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cahya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Kedokteran]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[Forensik]]></category>
		<category><![CDATA[koas]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[UGM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatan.legawa.com/?p=103</guid>
		<description><![CDATA[Akhirnya kembali ke siklus tidur yang tenang, kurasa sementara ini tidak akan ada lagi telepon dadakan karena kapten tim forensik sudah dialihtugaskan ke “minggu” berikutnya. Namun walau hanya melewati dua minggu di bagian forensik, banyak hal yang dapat dikenang, tentu saja itu termasuk kesibukan dan lain-lainnya. Dalam kedokteran forensik terdapat beberapa hal yang begitu menonjol, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="mobile-photo"><a href="http://1.bp.blogspot.com/_Hd5imL9eh-8/SeNfnT2KInI/AAAAAAAAAM0/lfEjkY9g_Dw/s1600-h/CaptureForensik-717698.JPG"><img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5324204313429025394" src="http://1.bp.blogspot.com/_Hd5imL9eh-8/SeNfnT2KInI/AAAAAAAAAM0/lfEjkY9g_Dw/s320/CaptureForensik-717698.JPG" /></a></div>
<div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: left;"><span style="font-size: small;">Akhirnya kembali ke siklus tidur yang tenang, kurasa sementara ini tidak akan ada lagi telepon dadakan karena kapten tim forensik sudah dialihtugaskan ke “minggu” berikutnya. Namun walau hanya melewati dua minggu di bagian forensik, banyak hal yang dapat dikenang, tentu saja itu termasuk kesibukan dan lain-lainnya. Dalam kedokteran forensik terdapat beberapa hal yang begitu menonjol, pertama aspek medikolegal sehingga forensik juga dikenal sebagai ilmu kedokteran kehakiman (mungkin inilah bentuk perkembangan ilmu forensik pada awalnya di negara kita, sehingga disebutkan bahwa forensik didefinisikan sebagai <u>suatu ilmu yang mempergunakan pengetahuan kedokteran untuk membantu menyelesaikan perkara peradilan</u><b>Soetomo Tjokronegoro</b>} dan setiap ilmu kedokteran yang menyangkut hukum dinamakan ilmu kedokteran kehakiman yang dalam bahasa luar sana disebut <i>legal medicine</i> ~ mohon koreksi jika salah). Dalam hal ini tentunya status kedokteran forensik di bidang hukum adalah membantu secara profesional dan ilmiah.</span><br /><span style="font-size: small;"><br />Aspek legal merupakan landasan hukum dalam setiap tindakan medis, demikian hal juga dalam kedokteran forensik. Sehingga jangan terkejut jika seorang mahasiswa kedokteran mempelajari kedokteran forensik maka akan ada tumpukan bahan mengenai KUHP, KUHAP, KUHPerdata, beberapa lembar peraturan pemerintah mengenai bedah mayat, sumpah dokter dan wajib simpan rahasia, lembar negara tentang <i>visum et repertum</i>, undang-undang negara, dan setumpuk landasan hukum lainnya. Dengan dapat berubahnya aturan pemerintah, maka apa yang dipelajari juga dapat berubah dari masa ke masa; sebagai contoh adalah peraturan tentang persetujuan tindakan kedokteran, saat ini berlaku Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Permenkes) Nomor: 290/Menkes/Per/III/2008 tentang Persetujuan Tindakan Kedokteran (<i>untuk permenkes tersebut, saya sementara ini hanya memiliki berkas scan dari berkas tercetaknya, silakan unduh di</i> <a href="http://www.ziddu.com/download/6818306/Permenkes290-2008.zip.html">Ziddu</a>), pada BAB VIII Ketentuan Penutup Pasal 20 disebutkan “<i>Pasal saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku, maka Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 585/Menkes/Per/IX/1989 tentang Persetujuan Tindakan Medik dicabut dan dinyatakan tidak berlaku lagi</i>”. Tentunya ketentuan ini berarti bahwa peraturan lama digantikan oleh peraturan baru, sehingga mahasiswa kedokteran akan berpatokan pada aturan yang baru dengan tidak mengesampingkan kesempatan untuk meninjau aturan yang lama. Setiap putusan dan tindakan kedokteran memiliki standarnya, walau bukan baku emas, karena rangkaian ilmu kedokteran ~ menurut saya pribadi ~ memiliki banyak kecenderungan pada aspek seni yang tak dapat dibakukan sebagai ilmunya yang selalu berkembang.</span><br /><span style="font-size: small;"><br />Bahwa terdapat aspek seni dalam forensik tepat di tengah ilmu itu sendiri tentunya bergantung pada kecenderungan masing-masing individu. Jika Anda pernah membaca-baca novel-novel detektif seperti Sherlock Holmes atau komik anak-anak seperti Detective Conan atau serial TV CSI, tentunya Anda sedikit banyak memiliki gambaran ~ walau tak utuh ~ sedikit banyaknya apa sih yang dikerjakan oleh tim forensik. Forensik menyimpan banyak ilmu dan seni yang berpilin menjadi tunggal, seperti tanatologi, yaitu cabang ilmu forensik kedokteran yang mempelajari kematian, perubahan-perubahan yang terjadi pasca kematian dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Tanatologi membantu tim forensik menentukan atau memperkirakan saat kematian, menentukan cara dan sebab kematian. Sehingga kita akan diajak menyelami tanda-tanda kematian, baik yang primer (tanda sistem respirasi, kardiovaskuler dan saraf pusat) atau pun yang sekunder seperti hilangnya gerakan (sel-sel), perubahan suhu tubuh (algor mortis), lebam jenazah (livor mortis), kaku jenzah (rigor mortis), pembusukan (dekomposisi), kerusakan jenazah (destruksi) dan lain sebagainya. Tentunya nanti juga ada seni penyelidikan di tempat kejadian perkara, pengumpulan barang bukti dan sebagainya (mungkin ini tidak akan banyak terjamah oleh karena kita menggunakan sistem kontinental).</p>
<p>Banyak hal lain yang walau singkat namun cukup tentunya. Salah satu hasil dari setiap tindakan medis adalah catatan medis yang merupakan rahasia kedokteran, terdapat beberapa aturan yang secara fundamental menjamin kerahasiaan suatu catatan medis seorang pasien yang menjadi haknya, dan legalitas serta tata caranya dalam pendokumentasian serta penyimpanannya. Dan penyampaiannya dalam bentuk visum et repertum pun untuk kepentingan hukum memiliki aturan tersendiri. Hal inilah yang benar-benar harus dipahami oleh seorang dokter dalam konteks legalitas dan kerahasiaan data medis. Sementara ilmu-ilmu kedokteran yang menunjang hal ini merupakan aplikasi dari seluruh ilmu kedokteran yang ada, karena di sinilah pengkodean dari dunia medis ke dunia non-medis dilakukan, artinya secara hukum haruslah jelas apa yang disampaikan ke hadapan hukum sesuai apa yang diminta dan apa yang telah dikerjakan.</p>
<p>Kesan-kesan saya selama di forensik sungguh banyak, seperti pada awal tulisan ini, mulai dari tidur yang tidak tenang… mengapa? Forensik tidak seperti bagian Mata atau THT, di mana poliklinik disediakan bagi mereka yang membutuhkan sesuai jadwal, namun setiap kejadian yang menyebabkan kematian dan memerlukan pemeriksaan forensik bisa terjadi setiap saat. Hmm…, jadi teringat cerita para senior dulu bahwa mereka bisa dipanggil tengah malam atau dini hari untuk mengerjakan otopsi. Karenanya aku menjadi agak gelisah juga, namun sampai stase ini berakhir nampaknya belum ada kasus yang memerlukan penangan seperti itu.</span><br /><span style="font-size: small;"><br />Beberapa hal menjadi perhatian saya selama di forensik adalah budaya kita atau paradigma masyarakat tentang kedokteran forensik itu sendiri. Sebagai contoh, jika ada sebuah kasus kematian (yang tidak diketahui penyebab pastinya), maka biasanya pihak keluarga yang telah merelakan hal ini tidak berharap tim forensik melakukan bedah mayat guna memeriksa sebab atau cara kematian si korban, biarkanlah jenazah dalam keadaan utuh pinta mereka. Sehingga dengan tidak dilakukannya otopsi (pemeriksaan dalam) sebab dan cara kematian tak akan pernah diketahui, tak pernah tahu (semisalnya) apakah korban meninggal tenggelam ataukah meninggal duluan sebelum tenggelam sebagaimana ketika ditemukan di perairan oleh saksi, dan sehingga pihak penyidik mungkin tak akan kesulitan menduga faktor-faktor kecelakaan ataukah kesengajaan (pidana). Karena bagaimana pun tim forensik hanya akan melaporkan apa adanya. Nah sehingga ketika suatu saat kemudian dicurigai bahwa penyebab kematian tidak sewajar pendapat dahulu, maka sebab dan cara kematian akan semakin sulit ditentukan, apalagi jika harus bongkar makam (<i>ekhsumasi </i>~ KUHP pasal 135 &amp; 136) wah tambah sulit lagi dan biaya yang dikeluarkan jauh lebih besar dari pada otopsi di saat korban ditemukan. Yah…, inilah sedikit banyak kepelikan di negeri kita, namun sebagai dokter adalah profesionalitas yang pegangan dalam setiap situasi.</span><br /><span style="font-size: small;"><br />Setidaknya masih ada bekal seperti tanatologi, antropologi, odontologi, toksikologi, parasitologi walau nanti belum tentu menjangkau secanggih <i>DNA fingger print</i>, namun bekal-bekal mendasar cukup membantu menunjang tugas yang berhubungan dengan legal medicine dalam keseharian seorang dokter.  ;-)</span> </div>
<div class="moz-signature">
<div class="Section1">
<div class="MsoNoSpacing"><span lang="EN-US"><o:p></o:p></span></div>
</div>
</div>
<div class="blogger-post-footer">Artikel oleh <a href="http://legawa.com">Cahya</a></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatan.legawa.com/2009/04/forensic-in-a-couple-week/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>A Day In Forensics</title>
		<link>http://catatan.legawa.com/2009/03/a-day-in-forensics/</link>
		<comments>http://catatan.legawa.com/2009/03/a-day-in-forensics/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Mar 2009 09:16:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cahya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Kedokteran]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[Forensik]]></category>
		<category><![CDATA[koas]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[UGM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatan.legawa.com/?p=99</guid>
		<description><![CDATA[Jika ada bertanya-tanya apa sih itu forensik? Mungkin bayangannya sudah mengarah ke berbagai tindak kriminal dan kejahatan, yang melibatkan korban-korban bersimbahan darah. Hmm…, benarkah demikian? Kurasa kurang lebihnya bisa juga sih, namun tidak harus digambarkan semengerikan itu. Kalau ditilik, bukankah ilmu forensik itu luas sekali, karena itu mencakup semua ilmu pengetahuan yang mendukung sistem hukum [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="mobile-photo"><a href="http://4.bp.blogspot.com/_Hd5imL9eh-8/SdDwl83SGCI/AAAAAAAAAMk/Qxx4nn1Hki0/s1600-h/CaptureForensic-747156.JPG"><img src="http://4.bp.blogspot.com/_Hd5imL9eh-8/SdDwl83SGCI/AAAAAAAAAMk/Qxx4nn1Hki0/s320/CaptureForensic-747156.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5319015694708381730" border="0" /></a></p>
<p><img src="cid:image001.gif@01C9B18D.32481660" shapes="_x0000_Mail" class="shape" style="display: none; width: 0pt; height: 0pt;" width="0" height="0" /><!--[if gte mso 9]><xml>  <v:background id="_x0000_s1025" bwmode="white" targetscreensize="800,600">   <v:fill src="cid:image001.gif@01C9B18D.32481660" title="background_compass" type="frame">  </v:background></xml><![endif]-->
<div class="Section1">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Jika ada bertanya-tanya apa sih itu forensik? Mungkin bayangannya sudah mengarah ke berbagai tindak kriminal dan kejahatan, yang melibatkan korban-korban bersimbahan darah. Hmm…, benarkah demikian? Kurasa kurang lebihnya bisa juga sih, namun tidak harus digambarkan semengerikan itu. Kalau ditilik, bukankah ilmu forensik itu luas sekali, karena itu mencakup semua ilmu pengetahuan yang mendukung sistem hukum legal. Nah kedokteran sendiri memiliki bagiannya, yaitu kedokteran forensik atau kedokteran kehakiman.<span class="fullpost"><o:p></o:p></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Apa yang dipelajari seorang calon dokter di bagian kedokteran kehakiman/forensik ini? Hemm…, tentunya banyak hal, namun secara garis besar bisa dikelompokkan ke dalam empat bagian. Pertama adalah aspek medikolegal, di sini dituntut kemampuan untuk melakukan komunikasi medikolegal kepada pihak-pihak yang terkait, seperti pihak keluarga, pasien/klien, dan pihak ketiga (misal penegak hukum atau pihak asuransi). Kemudian juga dituntut kemampuan penguasaan dokumen forensik (seperti <i>informed consent</i> dan rekam medis), membuat laporan medis (seperti SKM dan V et R klinis dan kasus mati), nah yang tidak kalah penting adalah kemampuan menjadi saksi ahli, karena inilah yang biasanya melibatkan kita secara langsung dengan persidangan.<o:p></o:p></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Kemudian bagian patologi forensik yang berisikan sejumlah cara dan teknik pemeriksaan baik pada korban kasus meninggal maupun V et R pada kasus hidup, keahlian memeriksa di TKP (tempat kejadian perkara juga dituntut untuk dikenali). Ketiga, bagian identifikasi forensik, di sini dilibatkan kemampuan identifikasi kasus forensik yang meliputi anamnesis data antemortem, pemeriksaan fisik, pemeriksaan odontologi, pemeriksaan DNA dan serologi, serta pemeriksaan antropologi. Terakhir bagian toksikologi forensik, di sini melibatkan pemilihan sampel untuk pemeriksaan patologi anatomi atau toksikologi, pengenalan terhadap pemeriksaan laboratorium penunjang, serta kemampuan menginterpretasikan hasil pemeriksaan penunjang.<o:p></o:p></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Sekali lagi, seperti stase radiologi yang sudah (belum seluruhnya) berlalu, forensik kedokteran hanya tersedia waktu belajar dua minggu, singkat memang, sehingga hari pertama sendiri penuh dengan penjadwalan yang diatur sedemikian ketat. Kami jadi sibuk dengan semua yang harus dikejar, sementara forensik tampaknya belum melepas semua teknik pengajaran jangka panjangnya, kami harus menyesuaikan dengan yang jangka pendek. Dan forensik adalah satu-satunya stase yang siap untuk panggilan kasus 24 jam non-stop, wah…, ini seperti tugas siaga satu alias red allert. Belum lagi ditambah dengan suasana pemilu yang akan datang, pertimbangan kami menjadi semakin rumit saja. <i>Yap, the firts day in forensik, what a surprise</i>.<o:p></o:p></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size:78%;"><i>Picture captured from <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Forensic_anthropology">Wikipedia</a></i>.</span></span><o:p></o:p></p>
</p></div>
<div class="blogger-post-footer">Artikel oleh <a href="http://legawa.com">Cahya</a></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatan.legawa.com/2009/03/a-day-in-forensics/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Tragis Koas Narsis</title>
		<link>http://catatan.legawa.com/2009/03/kisah-tragis-koas-narsis/</link>
		<comments>http://catatan.legawa.com/2009/03/kisah-tragis-koas-narsis/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Mar 2009 19:05:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cahya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[koas]]></category>
		<category><![CDATA[luar kota]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatan.legawa.com/?p=91</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah si Adjie, mari kuceritakan kembali hari-hari terakhir stase mata di RSUD Cilacap seminggu yang lalu. Walau hari itu hari pendek, seperti biasa kami ikut dalam apel pagi sekitar jam 7.20 pagi, dan ini apel terakhir yang kami ikuti, kami tidak tahu kalau hari Sabtu ternyata apel pagi dimulai pukul 07.00. Selesai apel pagi, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="mobile-photo"><a href="http://3.bp.blogspot.com/_Hd5imL9eh-8/SbMpOwp2cBI/AAAAAAAAALs/vV482fVNs2U/s1600-h/27022009034-767441.jpg"><img src="http://3.bp.blogspot.com/_Hd5imL9eh-8/SbMpOwp2cBI/AAAAAAAAALs/vV482fVNs2U/s320/27022009034-767441.jpg"  border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5310633719155290130" /></a></p>
<p><img src="cid:image001.gif@01C99FCC.CCA8D050" v:src="cid:image001.gif@01C99FCC.CCA8D050" v:shapes="_x0000_Mail" width=0 height=0 class=shape style='display:none;width:0;height:0'><!--[if gte mso 9]><xml>  <v:background id="_x0000_s1025" o:bwmode="white" o:targetscreensize="800,600">   <v:fill src="cid:image001.gif@01C99FCC.CCA8D050" o:title="background_compass"     type="frame" />  </v:background></xml><![endif]-->
<div class=Section1>
<p class=MsoNormal style='text-align:justify'>Ini adalah si Adjie, mari kuceritakan kembali hari-hari terakhir stase mata di RSUD Cilacap seminggu yang lalu. Walau hari itu hari pendek, seperti biasa kami ikut dalam apel pagi sekitar jam 7.20 pagi, dan ini apel terakhir yang kami ikuti, kami tidak tahu kalau hari Sabtu ternyata apel pagi dimulai pukul 07.00. Selesai apel pagi, ternyata poliklinik sudah lumayan ada beberapa pasien yang mengantre lengkap dengan rekam medisnya. Kami memutuskan menunda sarapan dan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu, sehingga nanti bisa langsung diteruskan pada staf (yang pada saat itu dr. Sutama Sp.M). Hmm…, ternyata pasien bertambah banyak, akhirnya berlanjut bersama kegiatan poliklinik hingga selesai sekitar tengah hari. Kemudian kami bercakap-cakap dengan para perawat senior yang memang belum meninggalkan poliklinik karena mereka harus menyelesaikan administrasi terkait kegiatan poliklinik hari tersebut. Mereka berbincang tentang berbagai karakter dokter muda yang pernah bertugas di RSUD Cilacap sebelumnya, tentu beberapa aku kenal di antara mereka, seperti si Inu yang unik. Kemudian kulihat si Adjie sedang membuka-buka komputer di meja kerja, kuperhatikan ia sedang membuka <i>Google Earth</i> dan mencari-cari sesuatu di dalam peta kota Cilacap. Aku tahu yang ia cari adalah sebuah rumah mewah menyerupai <i>Capitol House</i> di negeri paman sam sana. Mungkin ia dengar dari si Niar tentang lokasi aneh itu, sehingga ia menjadi begitu antusias melihatnya, hah…, namun aku yang ga begitu pedulian sih nyantai saja. Karena saking lelahnya, aku tidak berpikir lagi untuk pergi makan siang, aku pulang ke “paviliun” yang disediakan dan dengan begitu cepatnya sudah…<o:p></o:p></p>
<p class=MsoNormal style='text-align:justify'>Tiba-tiba ada suara memanggilku, dan mengajakku jalan keluar mencari makan. Aku terbangun dan melihat jam di arlojiku, wah sudah jam 6 sore lebih. Sepertinya daerah sekitar pun sudah gelap. Bergegas mandi karena hari sudah larut, dalam pikiranku aku merasa lebih baik karena tidak makan semenjak pagi dan setelah istirahat, mungkin sudah terjadi detoksifikasi dalam tubuhku, makanan di sini terlalu yang kebanyakan lauk membuatku agak “korosi”, walau aku tak tahu pasti bagaimana hal itu terjadi. Sejam kemudian, kami berdua meninggalkan rumah, tampaknya dokter muda yang sedang stase bedah belum juga pulang. Kami memutuskan untuk makan kakap saus tiram di warung Pak Evi di depan seberang rumah sakit, mungkin satu kakap akan cukup untuk berdua (ini juga menghemat dana karena harganya yang mahal). Gila…! kami menunggu 45 menit dan pesanan kami belum juga datang, padahal hanya memasak satu ekor kakap, wah… lelah juga nih menunggu, kalau begini aku sih ingin pindah tempat makan saja, ini lebih baik, pemilik warung juga tidak memberitahu apapun, entah dia lupa atau bagaimana, sementara tamu juga tidak begitu banyak, selain kami ada 6 orang lagi, itu pun sudah hampir selesai dengan santap malam mereka. Si Adjie sudah tampak sangat kesal. Dia kuminta mengecek ke dapur, dan kembali dengan mengatakan bahwa menu kami baru saja disiapkan… (ha..ha.., dalam pikirku terus hampir sejam dari tadi ngapain saja?) Anehnya si Adjie juga ga membatalkan pesanan, kalau aku sih sudah kubatalkan. Aku tidak bisa berkompromi menghadapi hal-hal yang tidak becus macam ini, tidak peduli jika rumah makan memiliki menu yang lezat, namun pelayanan tamu sungguh sangat mengecewakan. Saat kuprotes pun mereka tidak menunjukkan wajah bersalah atau menyesal atau pun meminta maaf, wah-wah, ini benar-benar sisi lain yang buruk dari orang-orang Cilacap kupikir. Jika kuberikan <i>rating</i> warung makan <i>seafood</i> Pak Evi di depan RSUD Cilacap mendapat nilai E minus.<o:p></o:p></p>
<p class=MsoNormal style='text-align:justify'>Kamudian, jam 21.30, selesai makan malam, si Adjie masih terlihat kesal. Ia mau jalan-jalan katanya, karena aku merasa tidak enak hati (he he sudah menyarankan tempat makan yang tidak berkualitas), oke…, aku pun mau menemaninya jalan-jalan. Namun sudah malam, kota kecil Cilacap tidak tampak berbeda dengan Yogyakarta di malam hari, namun entah mengapa aku merasakan kehidupan yang “mati” di kota ini. Aku bertanya pada si Adjie ia hendak ke mana, kemudian ia mengeluarkan <i>handphone</i> barunya.  Aku melihat sebuah map kecil, oh…, rupanya ia menggunakan GPS untuk jalan-jalan malam (wong edan). Aku membuntutinya dari belakang, ia senang sekali karena sudah masukkan koordinat bujur dan lintang rumah mewah yang mau ia kunjungi dari <i>GoogleEarth</i>. Sesekali ia memastikan sambil tersenyum-senyum kecil ke dalam GPS di mana posisi kami sekarang (wuih…), akhirnya setelah dua puluh menitan berjalan kaki di negeri yang asing, kami berbelok di Jalan Sawo, belokan terakhir (sebenarnya aku lebih menduga itu sebuah gang – kok maksa sekali ya dibilang jalan – seperti Gang Kinanti dan Sitisonya di daerah Barek – Kampus UGM). Si Adjie sudah mulai tanpa sadar langkah kakinya menjinjit kesenangan, ia melihat bangunan besar yang megah (walau dalam kegelapan cuma hitam legam), ia akhirnya dapat mewujudkan mimpinya berfoto di depan rumah yang mewah itu, ia segera melirik ke <i>handphone</i> canggihnya, heh…, dia tampaknya terperanjat, rupanya benda yang sudah terseok-seok karena menggunakan GPS dari tadi sudah kehabisan baterainya…, dengan wajah lesu ia beranjak… akhirnya ia tak bisa memperoleh foto dirinya di depan Capitol House versi kecil, he he…, malangnya nasibmu. Seharusnya foto itu menjadi seperti <a href="http://ridhaniar.blogspot.com/2009/02/stase-mata-rsud-cilacap.html">ini</a> jika ia berhasil. Yup, berkuranglah satu kesempatannya menambah foto yang bisa dipandanginya di hadapan monitor komputer.<o:p></o:p></p>
</p></div>
<div class="blogger-post-footer">Artikel oleh <a href="http://legawa.com">Cahya</a></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatan.legawa.com/2009/03/kisah-tragis-koas-narsis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>From Neurology To Ophthalmology</title>
		<link>http://catatan.legawa.com/2009/02/from-neurology-to-ophthalmology/</link>
		<comments>http://catatan.legawa.com/2009/02/from-neurology-to-ophthalmology/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Feb 2009 20:47:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cahya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[koas]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[UGM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatan.legawa.com/?p=85</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa lama bergulat di ilmu penyakit saraf, berbekal beberapa teksbook tua, mungkin aku bisa mengambil beberapa manfaat, karena sungguh empat Minggu bukanlah waktu yang cukup untuk memanggil kembali apa yang keseluruhannya dipelajari di bangku kuliah dan menerapkannya di area kerja yang sesungguhnya. Pertama dari semuanya, Neurologi sangat kompleks namun merupakan sebuah sistem yang berkesatuan, bagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="cid:image001.gif@01C98F56.9BD2E960" v:src="cid:image001.gif@01C98F56.9BD2E960" v:shapes="_x0000_Mail" width=0 height=0 class=shape style='display:none;width:0;height:0'><!--[if gte mso 9]><xml>  <v:background id="_x0000_s1025" o:bwmode="white" o:targetscreensize="800,600">   <v:fill src="cid:image001.gif@01C98F56.9BD2E960" o:title="background_compass"     type="frame" />  </v:background></xml><![endif]-->
<div class=Section1>
<p class=MsoNormal style='text-align:justify'>Beberapa lama bergulat di ilmu penyakit saraf, berbekal beberapa <i>teksbook</i> tua, mungkin aku bisa mengambil beberapa manfaat, karena sungguh empat Minggu bukanlah waktu yang cukup untuk memanggil kembali apa yang keseluruhannya dipelajari di bangku kuliah dan menerapkannya di area kerja yang sesungguhnya. Pertama dari semuanya, Neurologi sangat kompleks namun merupakan sebuah sistem yang berkesatuan, bagi mereka yang memiliki daya ingat kuat, dan daya hapal yang baik, tentunya memahami secara satu per satu bagian adalah cara yang ampuh untuk kemudian digabungkan. Namun bagiku yang belajar dari analogi deduksi dengan daya ingat yang terbatas, tentunya harus mencari solusi yang berbeda, karenanya aku menyiapkan dua buku yang berbeda untuk solusi ini, buku pertama adalah buku dasar tentang perjalanan penyakit, konsep-konsep praktis di bidang neurologi terapan, dan pilihanku adalah <i>Lectures Note on Neurology</i> yang sudah memasuki edisi ke delapan, tentunya ada banyak buku serupa yang ditulis oleh para pakar negeri ini sendiri, hanya saja aku mempertimbangkan kesederhanaan bahasa dan pembacaan, dan buku ini terdiri dari 21 bab, jika sehari dapat kuselesaikan satu bab dan pemahamannya, maka dalam tiga minggu aku sudah mendapatkan target belajarku, tentu saja aplikasinya juga. Buku kedua yang kusiapkan adalah ketika, aku menemukan bahwa praktis yang mendasar tidak cukup membantuku memahami apa yang sebenarnya terjadi dalam sebuah proses klinis dari kondisi neurologis, maka kupilih <i>Basic Clinical Neurology</i> tulisan Young, yang berisi semua panduan Neurologi dasar dan korelasinya terhadap suatu kondisi klinis.<o:p></o:p></p>
<p class=MsoNormal style='text-align:justify'>Perbedaan mendasar yang kudapatkan adalah, jika sebuah buku ajar Neurologi Klinis berkata, bahwa metastase tumor ke otak berasal paling banyak dari trungkus dan ekstremitas atas, maka buku neurologi dasar akan menjelaskan bahwa sistem vena di sepanjang medula spinalis tidak berkatup dan merupakan drainase dari vena-vena kepala, toraks dan ekstremitas atas sehingga memudahkan metastase dari area-area drainase tersebut menuju otak. Namun neurologi sebuah ilmu yang padat, memulai dari gangguan ingatan hingga penurunan kesadaran merupakan ranah luas yang tidak mudah terjangkau hanya dalam empat minggu. Namun setidaknya bekal yang ada cukup untuk mengembangkan ke batas-batas yang lebih luar yang masih dapat dijangkau.<o:p></o:p></p>
<p class=MsoNormal style='text-align:justify'>Kini berpindah ke bagian ilmu penyakit mata, entah kebingungan apa yang akan menyapa, namun kukira beberapa hal bisa lebih disederhanakan. Mungkin dengan menambah jam belajarku, he he, padahal hari minggu pun tetap jaga dari pagi sampai menjelang sore, ah…, tapi rasanya lapar karena tidak sempat sarapan, dan lelah ini menyebalkan seolah membisikan untuk menunda jam belajarku. Padahal masih ada bab-bab yang belum terbaca. Aku tidak menyiapkan banyak buku untuk di bagian mata, karena anggaranku sedang tidak bagus. Buku Ilmu Kesehatan Mata yang diterbitkan oleh Bagian I.P. Mata FK UGM yang menjadi pegangganku, namun buku yang ber”<i>frame</i>” narasi ini mungkin akan sedikit menyulitkanku yang bertipe struktural dan keseluruhan.<o:p></o:p></p>
</p></div>
<div class="blogger-post-footer">Artikel oleh <a href="http://legawa.com">Cahya</a></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatan.legawa.com/2009/02/from-neurology-to-ophthalmology/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
