<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Bhyllabus &#187; Kisah Kecil</title>
	<atom:link href="http://catatan.legawa.com/category/pribadi/kisah-kecil/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://catatan.legawa.com</link>
	<description>Our Short Pilgrims - Sebuah Catatan Kaki Cahya: Sentuhan Relung Angan dan Ungkapan</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Sep 2010 03:08:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Percakapan Si Bodoh (Bag. III)</title>
		<link>http://catatan.legawa.com/2010/06/percakapan-si-bodoh-bag-iii/</link>
		<comments>http://catatan.legawa.com/2010/06/percakapan-si-bodoh-bag-iii/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Jun 2010 01:56:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cahya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[hati]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[kekasih]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[persahabatan]]></category>
		<category><![CDATA[ungkapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatan.legawa.com/?p=1056</guid>
		<description><![CDATA[Saat itu pertengahan musim gugur, sore dengan suhu udara dan kelembaban yang seakan bersaing menuju tangga terbawah, matahari tampak meninggalkan singgasana keemasannya nan jauh di Barat Daya. Daun maple pun sudah tidak lagi menyisakan kecerahan di awal musim. Dua orang pemuda sedang berjalan menyusuri trotoar kecil di kota kecil mereka. Pemuda pertama berbadan lebih tinggi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saat itu pertengahan musim gugur, sore dengan suhu udara dan kelembaban yang seakan bersaing menuju tangga terbawah, matahari tampak meninggalkan singgasana keemasannya nan jauh di Barat Daya. Daun <em>maple</em> pun sudah tidak lagi menyisakan kecerahan di awal musim.</p>
<p>Dua orang pemuda sedang berjalan menyusuri trotoar kecil di kota kecil mereka. Pemuda pertama berbadan lebih tinggi dan tegap, mengenakan jaket dan kelengkapan olahraga sambil menuntun sepeda sport-nya, sementara punggungnya menyandang tas ransel yang tampak cukup berat, dengan sepasang <em>dumbell</em> masing-masing setidaknya 3 atau 4 kilogram terikat menggantung rapi satu sama lainnya.</p>
<p>Pemuda satunya lagi berpakaian kemeja yang agak lusuh dengan warna cokelat keabu-abuan, seandainya matahari terbenam, mungkin saja ia langsung tidak tampak dalam temaramnya suasana senja. Tangan kirinya menenteng dua buku besar yang jauh lebih lusuh dan tua dibandingkan kemejanya, sebuah helaian kertas menjuntai disambut angin, sekilas tampak stempel perpustakaan setempat, namun ia tidak tampak kesulitan memegang dua buku yang cukup besar bagi tangannya yang mungil. Sementara tangan kanannya memegang lembaran kertas yang asyik ditatapnya melalui kacamata berbingkai persegi panjang yang agak melorot hingga ke separuh lapang pandangnya, tampaknya itu adalah manuskrip dialog untuk sebuah acara, karena sesekali ia terlihat bergumam sendiri namun menatap tajam seolah ada lawan bicara di hadapannya, pun sesekali memperhatikan lembaran kertas di tangannya.</p>
<p>“<em>Jadi kapan pementasan akan berlangsung?</em>” Tanya pemuda pertama pada orang yang berjalan di sampingnya.</p>
<p>Pemuda kedua berhenti sejenak, “<em>Direktur –</em> merujuk pada sutradara, ed<em>. – lusa berkata pada kami, kemungkinan dua minggu lagi</em>” lalu ia kembali berjalan… “<em>mungkin sekitar akhir minggu di saat semua pemeran mendapatkan waktu luang untuk tampil. Dan karena ini bukan bertunjukan besar jadinya tidak perlu mengorbankan waktu aktivitas yang lainnya</em>.”</p>
<p>“<em>Kurasa kamu terlalu fokus dengan semua itu, setidaknya bersosialisasilah sedikit</em>.”</p>
<p>“<em>Maksudnya…</em>?”</p>
<p>“<em>Kamu baru datang ke sini seminggu yang lalu – dalam sebuah pertukaran pelajaran yang sangat aneh – hanya untuk mengikuti kelas teater. Tapi bukan berarti teman-teman di kelas belajar sendiri mesti tidak diacuhkan bukan, walau kami semua tahu kamu sibuk dengan teater itu</em>.”</p>
<p>“<em>Tapi aku tidak tak mengacuhkanmu</em>…”</p>
<p>“<em>Arghhh</em>…” Si pemuda yang pertama tampak kesal dan mengacak-acak rambutnya sendiri. “<em>Itulah mengapa orang bilang kamu tidak sensitif terhadap lingkungan sekitar</em>.”</p>
<p>“<em>Benarkah</em>…?” Si pemuda kedua memandang ke depan sembari sekali lagi membenahi posisi kacamatanya yang melorot.</p>
<p>Mendengar pertanyaan sederhana itu, helaan napas panjang pun rasanya tanda menyerah bagi si pemuda pertama. Mungkin hanya dia yang terlalu mengkhawatirkan suasananya, tapi jika dipikirkan kembali, dia rasa tidak ada yang perlu untuk terlalu dicemaskan.</p>
<p>Daun-daun kering yang berguguran kadang terangkat sekejap oleh angin, kemudian terhempas kembali ke jalanan. Kelembaban udara yang rendah bisa membuat orang baru di sini merasa cepat haus, sehingga cenderung minum lebih banyak sebagai langkah awal dalam beradaptasi.</p>
<p>Tiba di sebuah persimpangan jalan, si pemuda pertama berkata dengan heran. “<em>Lho, kamu tidak ke kafe itu lagi. Biasanya kamu setiap sore selalu ke sana untuk menghabiskan waktu membaca semua naskah itu</em>?” Sambil telunjuknya</p>
<p>“<em>Ah ya, kemarin ada tetangga baru di apartemenku. Malam ini aku diminta membantu menyiapkan makan malam, jadi aku ingin kembali lebih awal, siapa tahu ada bahan-bahan yang perlu dipersiapkan terlebih dahulu</em>.”</p>
<p>Si pemuda pertama dengan setengah kaget dan tidak percaya kalau orang yang tampak seperti kutu teater di depannya bisa memasak. Tapi ia merasa bahwa ia hampir terbiasa dengan setiap kejutan yang dibawa teman barunya itu. Lalu ia bertanya sekali lagi sambil mengalihkan pandangan ke kafe di mana temannya biasa duduk setiap senja.</p>
<div class="wp-caption alignnone" style="width: 530px"><img title="Auttumn Cafe" src="http://lh4.ggpht.com/_Hd5imL9eh-8/TBabTpTr7qI/AAAAAAAAA5Y/APFpxbXNd0g/s800/autumn-cafe_1280x800.jpg" alt="Auttumn Cafe" width="520" height="325" /><p class="wp-caption-text">Aku teringat saat engkau duduk di sana…</p></div>
<blockquote><p>Mereka berkata bahwa musim gugur adalah musim yang romantis, karena ketika seseorang dapat menemukan bunga yang masih bertahan mekar setelah musim semi dan panas berlalu. Maka itu tanda ada keindahan yang mampu menahan hati seseorang untuk tetap berada di sana.</p></blockquote>
<p>Si pemuda satu terperanjat, sambil berbisik tanpa melirik pun pada temannya. “<em>Apa kamu harus pulang lebih awal, tidakkah dapat ditunda selama lima belas atau tiga puluh menit</em>?”</p>
<p>Temannya itu pun menghentikan langkahnya yang sudah beberapa meter menjauh. Dia menurunkan naskahnya dari pandangannya, dan balik menatap sahabatnya yang kini sudah melihat ke arahnya, ia tersenyum pelan dan berkata, “<em>bisa saja, apa ada yang darurat</em>?”</p>
<p>Pemuda pertama itu menunjukkan pelan ke arah kafe yang mereka bicarakan. “<em>Kamu lihat gadis cantik yang duduk di sana, yang sedang minum teh dan membaca buku setebal yang kamu bawa</em>?”</p>
<p>“<em>Yang mengenakan syal abu-abu</em>?”</p>
<p>“<em>Ya…, ya…</em>” Pemuda pertama itu mengangguk sembari tak melepas pandangannya, “<em>Dia sangat menawan bukan</em>?”</p>
<p>Pemuda kedua kembali mengepaskan kacamatanya, di kejauhan ia bisa melihat seorang gadis dengan rambut keemasan, selain mengenakan jas semi formal lengan panjang dengan syal abu-abu, maka lain-lainnya tidak begitu jelas. Namun rasanya pandangan itu menimbulkan <em>de’ javu</em> dan membuatnya tersenyum geli.</p>
<p>“<em>Nah, aku tidak pernah melihatmu mendekati satu gadis pun di kelas. Itulah salah satu alasan kukatakan kamu kurang bersosialisasi. Ayo temani aku berkenalan dengan gadis itu, biar master</em> – merujuk pada dirinya sendiri, ed. – <em>yang memperlihatkan caranya</em>.”</p>
<p>“<em>Ee…, bukannya aku protes, tapi kudengar kamu saja diputuskan</em>?”</p>
<p>“<em>Hah</em>…” Pemuda pertama itu kaget bukan main, “<em>Bagaimana kamu bisa tahu tentang hal itu</em>?”</p>
<p>“<em>Aku kan sudah bilang, aku bukannya tidak acuh</em>.” Sambil tersungging senyuman tipis di bibirnya.</p>
<p>Si pemuda pertama hanya bisa geleng-geleng saja, kali ini ia dibuat terkejut lagi. Siapa sangka orang yang tampak tak acuh di sebelahnya ini ternyata bisa mendapat informasi yang bahkan orang para pelakunya sendiri berusaha ditutup rapat. Mungkin setengah menggerutu, ia jadinya tidak bisa berkata apapun.</p>
<p>“<em>Ya, sudah. Apapun itu, ayo kita ke kafe itu</em>.”</p>
<p>“<em>Wow, aku tidak tahu kamu tipe orang yang cepat bersemangat kembali. Tapi kurasa jika kamu bersungguh-sungguh, kamu tidak boleh lengah</em>.”</p>
<p>“<em>Hah…, mengapa</em>?”</p>
<p>“<em>Entahlah, namun kurasa gadis itu sedikit berbahaya</em>.”</p>
<p>“Mana mungkin gadis semanis itu berbahaya.” Ia memandang kembali ke arah gadis itu dari kejauhan, dan tampak gadis itu tersenyum ke arah mereka. “<em>Tidak mungkin berbahaya, ayo ke sana, dan kamu ambil tempat duduk di meja yang hanya ada satu kursi itu, sementara biar aku yang duduk di hadapannya. Dan belajar sedikit dari master</em> – kembali merujuk pada dirinya sendiri, ed.”</p>
<p>Mempercepat cerita ini, si pemuda pertama setelah memperkenalkan diri dengan sopan, ia pun kini telah duduk berhadapan dengan gadis cantik itu. Sementara ia memesan segelas minuman dingin yang namanya terdengar aneh, temannya lagi satu duduk di meja di belakangnya, memesan paket <em>green tea</em> &amp; <em>light cakes</em>, sambil tetap asyik melanjutkan membaca naskah lembarannya.</p>
<p>Pemuda pertama tampaknya asyik memulai perbincangan dengan gadis itu. Dalam sekejap mereka sudah tampak akrab, dan saling mengenal latar belakang satu sama lainnya.</p>
<p>“<em>Jadi apa yang membuatmu datang ke kota kecil kami, Nona</em>?” tanyanya dengan sopan.</p>
<p>“<em>Seperti yang kukatakan sebelumnya, hanya membantu seseorang dalam kajian budaya lokal di daerah ini</em>.” jawabnya tersenyum, sambil menuangkan kembali teh hangat ke dalam cangkirnya yang sudah kosong.</p>
<p>“<em>Hmm…, kamu tampaknya sangat menarik. Penduduk setempat pun jarang ada yang tertarik dengan budaya lokal</em>.”</p>
<p>“<em>Dan inti pernyataan itu adalah…</em>?”</p>
<p>“<em>Ah…, bukan apa-apa, mohon jangan salah paham, itu hanya pujian biasa</em>.” Jawabnya agak tergagap oleh pandangan tajam di hadapannya.</p>
<p>“<em>Terima kasih atas pujiannya</em>.”</p>
<p>“<em>Jadi siapa orang ini yang membuatmu datang jauh kemari membantunya dan meninggalkan semua pekerjaanmu</em>?”</p>
<p>Suasana hening sejenak, sementara seorang pelayan membawa menu tambahan untuk mereka berdua. Matahari sebentar lagi akan terbenam di Selatan, dan lampu-lampu jalan yang berada di atas tiang terhias ukiran logam indah nan antik mulai dinyalakan.</p>
<p>“<em>Pertama-tama, kurasa aku tak begitu meninggalkan pekerjaanku, aku bisa bekerja dari mana saja — selama ada informasi, hal itu tidak akan sulit bukan</em>.” Dia mengambil sepotong kue kecil dan menghabiskannya dengan seteguk teh hangat, “<em>Lagi pula yang tidak dapat kutinggalkan adalah orang ini, dia sedikit ceroboh, apalagi dia adalah tunanganku — jadi kurasa aku harus menjaganya dari keteledorannya yang bisa dengan mudah ia buat</em>.”</p>
<p>Pemuda itu cukup terkaget, walau ia bisa tampak tenang, dan melanjutkan percakapan mereka dengan biasa, “<em>Hal seperti itu bukan tak pernah kudengar , tapi kurasa dia adalah pria yang sangat beruntung hingga tunangannya datang kemari untuk membantunya</em>.” Sambil mengangguk pelan, tanda ia mencoba mencermati situasi.</p>
<p>Si gadis itu kembali tersenyum geli dan sedikit tertawa sebelum kembali berucap, <em>“Ah, saya rasa dia tidak akan menganggapnya beruntung. Dia menganggap saya hanya sahabat baik — saya rasa, dia tidak pernah berkata setuju untuk pertunangan kami, walau juga dia tidak pernah berkata sesuatu yang menolaknya</em>.” Ia kembali tersenyum sambil menatap ke langit senja, <em>“Saya rasa karena ia tampak plin-plan seperti itulah saya mesti datang kemari untuk menjaganya</em>.”</p>
<p>“<em>Tunggu dulu..</em>.” tiba-tiba si pemuda menyela pembicaraan gadis itu, “<em>kamu datang kemari untuk mencoba menangkap dan mendapatkan hatinya? — maaf kurasa itu yang sekilas kutangkap dari kata-katamu</em>.”</p>
<p>“<em>Hmm…, seandainya sesederhana itu. Dia mungkin selalu “clueless” terhadap perasaan khusus seseorang — walau bukan berarti dia tidak tahu, tapi dia selalu ada untuk membantu yang memerlukan bantuannya. <span class="pullquote">Hatinya seperti lautan yang maha luas, keinginanku untuk menangkap hatinya akan menjadi seperti sentuhan angin kecil yang berusaha mengangkat seisi lautan menjadi dalam balutannya</span> — dan itu adalah hal yang sia-sia</em>.”</p>
<p>Pemuda di hadapannya menggeleng-gelengkan kepalanya, “<em>Maaf, bahasa itu terlalu dalam untukku. Walau kurasa aku bisa mengerti</em>.”</p>
<p>Si gadis menuangkan kembali teh ke dalam cangkirnya yang telah kosong, “<em>Katakan saja dia orang yang tampak bodoh yang tidak sensitif terhadap perasaan orang lain, seharusnya itu lebih tepat dan lebih sederhana</em>.”</p>
<p>Gurauan dan percakapan yang hangat-pun terus berlanjut hingga sekitar sepuluh atau lima belas menit kemudian. Suasana petang sudah mulai terasa, dan suara-suara aktivitas malam pun mulai menggantikan kesibukan di siang hari ini.</p>
<p>“<em>Kurasa sekarang sudah cukup gelap</em>.” Kata si pemuda sambil mengacungkan tangannya, memberi tanda seorang pelayan untuk membawakan tagihannya. “<em>Terima kasih atas waktunya sore ini, tapi saya harap saya tidak mengurangi kesopanan dengan pamit lebih awal</em>.”</p>
<p>“<em>Kamu sangat sopan ya. Kebetulan aku juga ada janji sebentar lagi</em>.”</p>
<p>“<em>Dengan tunanganmu. Wah, kuharap berjalan baik</em>?”</p>
<p>“<em>Iya… kami ingin mencari bahan untuk dimasak sebagai makan malam nanti, terima kasih</em>.”</p>
<p>“<em>Dan untuk kali ini biar aku saja yang mentraktir ya</em>…” Sambil pemuda itu melihat bon yang diserahkan pelayan.</p>
<p>“<em>Mengapa</em>?”</p>
<p>“<em>Nona adalah tamu di sini — di kota kecil kami — jadi sebagai tuan rumah, biarlah saya kali ini yang menjamu</em>.”</p>
<p>“<em>Hmm…, jika begitu, tidak usah dibayarkan</em>.”</p>
<p>“<em>Hah…, mengapa</em>?”</p>
<p>“<em>Ya, karena kamu adalah tamuku. Apa aku belum bilang kalau kafe kecil ini adalah salah satu usaha milikku</em>?”</p>
<p>“<em>Ah…</em>” Si pemuda tampak menjadi canggung, “<em>Maaf, aku tidak tahu, tapi…</em>”</p>
<p>“<em>Sudah, tidak apa-apa, anggap saja ini aku sedang menerima tamu yang menyenangkan dan telah menemaniku sore ini. Jadi tidak masalah kan, lagi pula tidak sopan lho menolak sajian tuan rumah</em>.”</p>
<p>“<em>Baiklah jika begitu, terima kasih banyak. Tapi aku tetap ingin membayar untuk temanku, itu…</em>” dia menunjuk pada pemuda kedua yang dari tadi terdiam seolah tenggelam dalam naskah-naskah yang dibacanya, <em>“aku tadi menyeretnya kemari, jadi biar tagihannya aku yang bayar. Kamu tahu, dia biasanya selalu ada di sini setiap sore, kurasa kamu mendapatkan satu pelanggan setia</em>.”</p>
<p>“<em>Mungkin bukan pelanggan setia sih, karena temanmu itu setiap kemari juga tidak pernah mengeluarkan sepeser uang pun</em>.”</p>
<p>“<em>Apa…</em>?” Si pemuda terkejut. Dia menepuk pundak temannya, dan bertanya, <em>“Apa kamu duduk setiap sore di sini karena semuanya gratis</em>.”</p>
<p>“<em>Hmm…, kurang lebihnya begitu</em>.” Jawab pemuda kedua dengan senyum yang tenang.</p>
<p>“<em>Jangan-jangan kamu sudah kenal dengan Nona pemilik kafe ini</em>?”</p>
<p>“<em>Hmm…, kurang lebihnya juga begitu</em>.”</p>
<p>“<em>Hah…, ya sudahlah kalau begitu</em>.” Si pemuda pertama, mengemasi barang-barangnya, “<em>mau pulang bareng</em>?” tanyanya pada sahabatnya.</p>
<p>“<em>Tidak, terima kasih. Karena aku sudah terlanjur duduk di sini, aku ingin berada beberapa lama lagi di sini. Tanggung, beberapa dialog lagi ingin kuselesaikan dulu</em>.” Sambil menunjuk pada tulisan-tulisan di atas naskah yang ia bawa.</p>
<p>“<em>Nona terima kasih atas traktirannya ya..</em>” Si pemuda memberi jabat tangan hangat pada gadis yang baru ia kenal, “<em>Tolong titip sahabat saya ini di sini, tapi saya sarankan jangan terus membiarkannya duduk gratis — walau kutahu kamu orang yang baik</em>.”</p>
<p>Gadis itu tersenyum pelan, “<em>Sama-sama, sahabatmu ini akan kujaga dengan baik, jadi jangan khawatir</em>.”</p>
<p>“<em>Selamat petang semuanya</em>.” Si pemuda pertama pun melangkah pergi.</p>
<p>Suasana senja mengubah pemandangan kota kecil itu menjadi sebentuk keindahan yang memiliki keunikan tersendiri. Lampu-lampu kafe di tempat mereka berada kini sudah dinyalakan dan tampak sederhana dalam balutan aneka warna. Seorang pelayan sibuk menulis menu baru di papan tulis di hadapan kafe, karena menu yang berbeda ditawarkan untuk siang dan malam harinya.</p>
<p>Gadis yang tadi berdiri sejenak, kini mengangkat dan memindahkan sebuah kursi ke dekat meja si pemuda kedua yang masih asyik membaca naskahnya.</p>
<p>“<em>Jadi apa yang diperlukan untuk menu makan malam</em>?” Tanya gadis itu pada pemuda pertama.</p>
<p>Pemuda itu melepaskan kacamatanya, dan memandang lembut pada gadis yang duduk di hadapannya. “<em>Bagaimana jika untuk pembukanya adalah ‘baguette’ plus keju yang khas, untuk ‘appetizzer’-nya kurasa lebih nikmat dengan ‘escargot’. Dan menu utamanya adalah ‘filet mignon’, tapi aku akan memerlukan pemanggang yang bisa memanaskan ‘beef terdeloins’ hingga 400 derajat. Dan pasangan untuk menu utama, aku ingin sentuhan sayuran, bagaimana jika ‘rosemary roasted red potatoes’ dengan sayuran ‘julienne’ dicampur</em>?”</p>
<p>“<em>Boleh juga, jangan lupa saos ‘bernaise’ untuk ‘filet mignon’ — tapi apa kamu bisa membuatnya</em>?”</p>
<p>“<em>Hmm…, entahlah, kupikir kamu akan membantuku. Yang jelas aku tidak pandai membuat hidangan penutup, padahal aku ingin mencoba ‘creme brulee’ yang enak itu</em>.”</p>
<p>“<em>Ya, ya aku akan membantumu</em>.” Si gadis memandang wajah yang seakan sudah dikenalnya sejak lama.</p>
<p>“<em>Benarkah kali ini kamu akan membantuku</em>?”</p>
<p>“<em>Tentu saja, bukankah aku yang minta dibuatkan makan malam. Aku akan membantumu dengan mengiringi acara memasakmu dengan lagu-lagu kesukaanmu</em>.”</p>
<p>Pemuda itu menutup semua catatan dan naskahnya, serta memasukkannya ke dalam tas yang ia bawa. “<em>Sudah kuduga kamu akan berkata demikian — tetangga baru yang merepotkan</em>.”</p>
<p>“<em>Apanya yang merepotkan</em>?” Si gadis menjewer telinga si pemuda itu hingga kemerahan, “<em>Siapa yang meneleponku dan berkata ia perlu bantuan untuk pemeran tokoh wanita utama di acara teaternya nanti, dan membuatku menyeberangi separuh planet untuk sampai di sini</em>?”</p>
<p>“<em>Ya… ya…, maafkan aku</em>.” Si pemuda mengusap-usap telinganya yang masih terasa sakit. “<em>Ayo kita mencari bahannya sebelum toko pada tutup</em>.”</p>
<p>“<em>Ah…, iya</em>.” Si gadis berjalan di sampingnya, “<em>Hmm…, ternyata kamu suka menghabiskan waktu sore di kafe itu ya? Kurasa aku tahu alasannya</em>.”</p>
<p>“<em>Benarka</em>h?”</p>
<p>“<em>Ya, tempat itu mengingatkanmu saat seseorang pertama kali mengungkapkan perasaannya padamu kan</em>?”</p>
<p>“<em>Mungkin, dan mungkin karena itu juga tadi aku rasanya melihat de’ javu — sudah lama juga ya</em>.” Si pemuda bergumam sambil menutup matanya.</p>
<p>“<em>Jadi karena itu kamu membiarkan temanmu itu ngobrol denganku, tanpa menjelaskan apa-apa terlebih dahulu</em>.”</p>
<p>“<em>Ya mungkin juga, rasanya sedikit terkenang saat-saat itu. Tapi kurasa aku hanya mengambil apa yang sudah disediakan. Kudengar manajer kafe itu mengubah penampilan kafe baru-baru ini, karena ada instruksi demikian dari pemilik pusatnya.</em>” Si pemuda tersenyum penuh canda pada gadis di sampingnya, “<em>Apa kamu sudah merencanakan ini sebelumnya</em>?”</p>
<p>Dan dengan penuh tawa ceria mereka pun berjalan meninggalkan kafe itu berkelip dalam cahaya malam.</p>
<h3>Prolog</h3>
<p>Tiga hari sebelumnya di sebuah rumah mewah di NSW, ponsel pintar berdering dengan nada musik yang indah. Gadis pemiliknya pun mengangkat panggilan itu.</p>
<p>“<em>Ada ada Div</em>?” tanyanya pada si penelepon.</p>
<p>“<em>Ah, tidak. Aku hanya perlu bantuanmu. Dua atau tiga minggu lagi aku ada pementasan teater</em>.”</p>
<p>“<em>Ya, kamu sudah mengatakan itu seminggu yang lalu saat berangkat ke sana. Apa yang dapat kubantu</em>?”</p>
<p>“<em>Aku perlu pemeran wanita utama</em>.”</p>
<p>“<em>Kamu mau aku jadi pemeran wanita utama</em>?”</p>
<p>“<em>Ya, karena aku tidak bisa berpasangan dengan orang lain</em>.”</p>
<p>Gadis itu tersenyum hingga ke dalam hatinya, “<em>Ya baiklah, kali ini aku akan bermurah hati padamu</em>.” Ia berkata dengan nada cuek yang dibuat-buat, <em>“Aku akan datang ke sana, tapi kamu harus menanggung semua akomodasinya, dan jangan lupa buatkan aku makan malam setiap malamnya, itu syaratnya</em>!”</p>
<h3>Epilog</h3>
<p>Dalam ruang makan sebuah apartemen tua, tercium aroma keju dan terdeloin panggang yang sedap. Beberapa orang berkumpul di sana, karena ini juga adalah acara penyambutan seseorang yang baru saja menjadi warga di sana, walau mungkin nanti hanya sementara.</p>
<p>Sementara lagu yang khas yang dijanjikan tengah mengiringi seseorang yang asyik menyiapkan ‘<em>creme brulee</em>’. Dan walau di sana cukup ramai, namun ruang yang mengisi di antara mereka berdua sama sekali tidak terganggu.</p>
<p>“<em>Hmm, desert itu tampak sedap</em>.”</p>
<p>“<em>Tentu saja…, hmm…, boleh aku minta satu lagu</em>?” Tanya pemuda itu.</p>
<p>“<em>Katakanlah</em>.”</p>
<p>“<em>Yang mana saja dari</em> <em>New Harvest — First Gathering</em>”</p>
<p>“<em>Ya, tentu saja, untukmu, apa pun juga bisa</em>.” Gadis itu tersenyum sambil mulai memetik gitarnya dengan irama yang hangat.</p>
<blockquote><p>Sometimes I try to count the ways and reasons that I love you But I can’t ever seem to count that far I love you in a million ways and for a million reasons More than this I love you as you are More than this I love you as you are</p>
<p>You are my inspiration, you are the song I sing You are what makes me happy, you are my everything You are my daily sunshine, you are my ev’ning star Ev’rything I’ll ever need or want, that’s what you are Ev’rything I’ll ever need or want is what you are</p>
<p>You are my thoughts when I’m awake, my dreams when I’m asleep You are the reason for my smile, you are the words I speak Every role I play in life you play the leading part Ev’rything I’d ever hope to find is what you are Ev’rything I’d ever hope to find is what you are</p>
<p>You are my inspiration, you are the song I sing You are what makes me happy, you are my everything You are my daily sunshine, you are my ev’ning star Ev’rything I’ll ever need or want, that’s what you are Ev’rything I’ll ever need or want is what you are</p>
<p>You are… You are</p></blockquote>
<p><!--Digiprove_Start--><span style="vertical-align:middle; display:inline-table; padding:3px; line-height:normal;border:0px;" title="certified 21 June 2010 01:58:59 UTC by Digiprove certificate P20848" ><a href="http://www.digiprove.com/show_certificate.aspx?id=P20848" style="text-decoration:none" target="_blank" style="border:0px; float:none; display:inline; text-decoration: none;"><img src="http://www.digiprove.com/images/dp_seal_trans_16x16.png" style="vertical-align:middle; display:inline; border:0px; margin:0px; float:none; background-color:transparent" border="0"/><span style="font-family: Tahoma, MS Sans Serif; font-size:11px; color:#757572; border:0px; float:none; display:inline; text-decoration:none; letter-spacing:normal" onmouseover="this.style.color='#A39912';" onmouseout="this.style.color='#757572';">  Copyright secured by Digiprove © 2010 Cahya Legawa</span></a><!--6BDBDDAA89B2340B27084EC62FD630B90BDBEA22AC7EC0E55225CCF20E42BE9C--></span><!--Digiprove_End--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatan.legawa.com/2010/06/percakapan-si-bodoh-bag-iii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hari Istimewa</title>
		<link>http://catatan.legawa.com/2010/04/hari-istimewa/</link>
		<comments>http://catatan.legawa.com/2010/04/hari-istimewa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Apr 2010 17:01:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cahya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[batin]]></category>
		<category><![CDATA[hati]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[pasangan]]></category>
		<category><![CDATA[pemuda]]></category>
		<category><![CDATA[pemudi]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[reflection]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatan.legawa.com/2010/04/hari-istimewa/</guid>
		<description><![CDATA[Setiap orang mungkin memiliki hari istimewa dalam hidupnya, atau momen-momen yang dianggap cukup berarti untuk dikenang. Tentu kita tidak menghitung hari kelahiran, kecuali Anda dapat mengenang hari di mana Anda terlahir di dunia ini. Hari ini adalah hari istimewa bagi saya, jadi hari ini saya tidak akan berada di blogsphere. Tapi tulisan ini sudah saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setiap orang mungkin memiliki hari istimewa dalam hidupnya, atau momen-momen yang dianggap cukup berarti untuk dikenang. Tentu kita tidak menghitung hari kelahiran, kecuali Anda dapat mengenang hari di mana Anda terlahir di dunia ini.</p>
<p>Hari ini adalah hari istimewa bagi <a title="Cahya Legawa&#39; Homepage" href="http://catatan.legawa.com" rel="nofollow">saya</a>, jadi hari ini saya tidak akan berada di <em>blogsphere</em>. Tapi tulisan ini sudah saya persiapkan jauh hari sebelumnya, jadi akan tetap hadir di sini dengan otomatis tanpa perlu kehadiran saya. Sebenarnya malah saya tidak ingin mengunjungi dunia maya untuk hari ini.</p>
<p> <span id="more-861"></span>
<p>Sebagai ganti ketidakhadiran saya, maka saya akan menceritakan sebuah kisah. Mungkin tidak secara langsung sebagai refleksi bagi diri saya sendiri.</p>
<p>Ada sepasang muda-mudi (tapi mohon jangan arahkan telunjuk Anda pada saya, dan memulai deduksi liar anda), si perempuan mulai agak kesal dengan sikap di laki-laki, tentu ada hal-hal yang mendahului mengapa kekesalan ini bisa timbul, namun saya lupa bagian itu dari kisah ini.</p>
<p>Si perempuan bertanya (entah dengan nada tinggi atau rendah), mengapa bisa demikian (mungkin merujuk pada situasi dibandingkan obyek materiil menurut saya). Si laki-laki mungkin tidak terima, dan balik berargumen dengan perasaan tidak senang, ia berkata pada si perempuan mengapa dulu dia (si perempuan) sudah tidak peduli dan sekarang mempertanyakan lagi masalah itu.</p>
<p>Perempuan muda ini sangat jengkel tampaknya, dia berkata, “<em>Jika demikian, terserah kamu saja maumu bagaimana, jangan temui aku lagi</em>.”</p>
<p>Tentu dengan tersentak kaget, dan balik berkata, “<em>Sebenarnya kamu tidak peduli apa pun, ya sudah kalau begitu, aku tidak akan menemui lagi, jadi biarkan juga aku sendiri dengan semua ini.</em>”</p>
<p>Saya tidak tahu apa yang melatar-belakangi hal ini sampai terjadi, namun sebagaimana yang umum dikisahkan pada kami, tentunya kedua orang itu sama-sama terluka.</p>
<p>Waktu berlalu, si pemuda mengikuti perjalanannya dengan tetap membawa kekesalannya serta. Ia sering melamunkan, merenungkan dan mempertanyakan semua yang telah terjadi saat ini. Ia bertanya pada banyak ahli, ia membuka debat pada semua kemungkinan. Namun tetap saja sama, dan semakin lama semakin jelas.</p>
<p>Pada siapa pun dan ke mana pun ia berkisah, seluruh dunia tetap akan tetap menyatakan bahwa ia-lah yang bersalah atau semua kejadian saat itu. Akhirnya sampai ia diberikan petunjuk oleh suara yang penuh kebijakan dan kelembutan.</p>
<p>“<em>Percuma saja mencari ke mana pun, kamu telah tahu bahwa seluruh dunia pun tahu kamu-lah yang bersalah, mereka akan meneriakkan kamu bersalah, seluruh dunia kecuali satu</em>….”</p>
<p>Ia bingung, apa yang dimaksud kecuali satu, siapa yang akan membelanya? Mungkin orang itu bisa membantunya menuntut keadilan akan masa lalunya. Mungkin orang itu dapat meyakinkan dunia bahwa ia bukanlah yang bersalah, bahkan walau dirinya sendiri tahu bahwa ialah yang bersalah…</p>
<p>Si pemuda ini putus asa, setidaknya ingin mendengar satu saja orang yang akan berkata bahwa semua itu bukan salahnya…, karena rasa bersalah kita telah tumbuh kokoh di dalam batinnya.</p>
<p>Perlu waktu lama, sampai ia terhenyak kaget, tentu saja… tentu saja ada orang yang akan mengatakan bahwa ia bukanlah yang bersalah. Ia tidak tahu mengapa, tapi ia tahu bahwa orang itu akan berkata dengan lembut bahwa ia tidak bersalah sama sekali.</p>
<p>Ia tersenyum bahagia, namun air matanya menetes pelan. Ia tahu orang itu, dan itulah adalah orang yang sama yang mereka telah berkata tidak akan berjumpa lagi satu sama lainnya.</p>
<p>Tak banyak yang bisa dilakukannya setelah menyadari hal itu.</p>
<p>Kisah ini berakhir di sini bagi kami para putra, sedangkan sisi lainnya yang menggambarkan si perempuan dikisahkan pada para putri. Apa yang terjadi pada potongan kisah yang satunya tak pernah saya ketahui.</p>
<p>Kisah ini berasal dari negeri yang jauh, kebetulan saya cukup beruntung untuk memungutnya sebagai pelajaran hidup. Jika ada perempuan yang pernah mendengar kisah ini, tentu bisa membandingkan dengan potongan kisah yang khusus dikisahkan padanya.</p>
<p>Saya tidak menyebutkan kisah ini secara utuh, karena di bagian akhir ada kunci yang menyatukan dua potongan kisah putra dan putri – si pemuda dan si pemudi – menjadi satu. Dan saya menghargai si pemberi sedekah dalam wujud kisah ini, sehingga kuncinya tetap saya simpan. Jika tidak seluruh yang pernah mendengar kisah di bagian putri akan bisa mengungkapnya, sementara tidak sebaliknya.</p>
<p>Konon, jika seorang pemuda bertemu seorang pemudi tanpa sengaja memperbincangkan kisah ini dan membuka kuncinya bersama-sama menuju akhir kisah, mereka akan menemukan jendela pandang baru yang jernih dan indah dalam makna pengertian dan pemahaman antara sesama.</p>
<p>Nah, saya akan meninggalkan dunia maya dulu sementara waktu. siapa tahu saya bisa menemukan seorang wanita yang dapat membantu membuka misteri akhir kisah ini. Toh ini adalah hari yang istimewa bagi saya.</p>
<p><!--Digiprove_Start--><span style="vertical-align:middle; display:inline-table; padding:3px; line-height:normal;border:0px;" title="certified 10 April 2010 15:02:09 UTC by Digiprove certificate P14048" ><a href="http://www.digiprove.com/show_certificate.aspx?id=P14048" style="text-decoration:none" target="_blank" style="border:0px; float:none; display:inline; text-decoration: none;"><img src="http://www.digiprove.com/images/dp_seal_trans_16x16.png" style="vertical-align:middle; display:inline; border:0px; margin:0px; float:none; background-color:transparent" border="0"/><span style="font-family: Tahoma, MS Sans Serif; font-size:11px; color:#636363; border:0px; float:none; display:inline; text-decoration:none; letter-spacing:normal" onmouseover="this.style.color='#A35353';" onmouseout="this.style.color='#636363';">  Copyright secured by Digiprove © 2010 Cahya Legawa</span></a><!--98FB61098410410F7F38DD0BD86553B0F6F0C4D83DB00B495437889A96D3BA21--></span><!--Digiprove_End--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatan.legawa.com/2010/04/hari-istimewa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Batik Dari Cinta Satu Bait</title>
		<link>http://catatan.legawa.com/2010/04/batik-dari-cinta-satu-bait/</link>
		<comments>http://catatan.legawa.com/2010/04/batik-dari-cinta-satu-bait/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Apr 2010 19:38:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cahya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[baju]]></category>
		<category><![CDATA[batik]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[hadiah]]></category>
		<category><![CDATA[lomba]]></category>
		<category><![CDATA[model]]></category>
		<category><![CDATA[Nara]]></category>
		<category><![CDATA[Pekalongan]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatan.legawa.com/2010/04/batik-dari-cinta-satu-bait/</guid>
		<description><![CDATA[Senin siang saya didatangi oleh Ibu Kost, beliau membawa satu buah amplop ukuran folio ganda dan tampak begitu antusias. Pertama kata-kata beliau yang saya tangkap adalah “Ada kiriman…” saya kemudian pikir kenapa kiriman bukannya surat? Lalu lanjutannya, “… dari Pekalongan.” Lalu dengan cepat pikiranku beralih, ah iya, itu sudah jelas. Aku membaca alamat pengirimnya dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Senin siang <a title="Cahya Legawa&#39; Homepage" href="http://www.legawa.com" rel="nofollow">saya</a> didatangi oleh Ibu Kost, beliau membawa satu buah amplop ukuran folio ganda dan tampak begitu antusias. Pertama kata-kata beliau yang saya tangkap adalah “<em>Ada kiriman</em>…” saya kemudian pikir kenapa kiriman bukannya surat? Lalu lanjutannya, “… <em>dari Pekalongan</em>.” Lalu dengan cepat pikiranku beralih, ah iya, itu sudah jelas.</p>
<p>Aku membaca alamat pengirimnya dari Mbak Lia – tentunya tidak lain pemilik <a href="http://aliazblog.wordpress.com/">AliazBlog</a> – di Pekalongan. Sebuah baju batik berwarna dasar hijau tua yang sangat khas motif kota Pekalongan terbungkus rapi dalam lembar plastik transparan. Saya melepas dari bungkusnya dan melihat serta mengagumi desainnya yang unik.</p>
<p> <span id="more-846"></span>
<p>Lalu saya memberikannya pada Ibu Kost untuk melihat sejenak, yah…, saya mengerti mengapa beliau begitu antusias, karena mungkin butik kecil-kecilan miliknya di depan sana. Tampaknya ia berminat jual beli berbagai busana, termasuk Batik Pekalongan.</p>
<p>Saya mendapatkan batik ini dari Mbak Lia, dalam rangka “<a href="http://aliazblog.wordpress.com/2010/02/18/ekspresi-puisi-cinta-satu-bait/">Ekspresi Puisi Cinta Satu Bait</a>” yang diikuti oleh begitu banyak narablog sebagaimana yang dapat dilihat di halaman “<a href="http://aliazblog.wordpress.com/puisi-cinta-satu-bait/">Puisi Cinta Satu Bait</a>” yang lebih dari seratus judul. Hingga akhirnya, “<a href="http://catatan.legawa.com/2010/02/7-untai-awan-kosong/">7 Untai Awan Kosong</a>” yang saya tulis dipilih Mbak Lia pada “<a href="http://aliazblog.wordpress.com/2010/03/13/5-puisi-terpilih-sesi-1/">5 Puisi Terpilih (Sesi 1)</a>”.</p>
<p>Saya sebenarnya tidak pernah mengikuti kompetisi. lomba blog atau pun sejenisnya. Namun saya memiliki ketertarikan dalam sastra, jadi waktu itu saya berpikir tidak ada salahnya untuk turut serta.</p>
<p>Namun celetuknya kemudian membuyarkan perjalanan pikiran saya yang “<em>ngalor-ngidul</em>”, dia bilang bahwa rasanya batik ini agak kekecilan buat saya. Kaget juga, karena saya juga agak ragu saat memberikan ukuran baju dulu pada Mbak Lia. Maklum selama 6 tahun di Jogja saya tidak pernah membeli baju sendiri, baju kuliah dan sehari-hari hampir semua dikirimkan dari Bali oleh orang tua, dan percayalah pakaian saya tak banyak berubah dari dulu, sehingga teman-teman sering protes kalau baju saya yang itu-itu saja.</p>
<p>Saya sampai tidak sadar berapa ukuran baju saya. Kemudian saya lihat batik itu berukuran <strong>L</strong>. Saya pun mencobanya…</p>
<p>Tapi…, <em>humps</em>…, sesak dan sangat nge-pas. Aku kaget dan bilang, apa bajunya menyusut di perjalanan, namun sial – <a title="Prasojo Ga Pakai &quot;D&quot;" href="http://virusprasojo.wordpress.com/">Si Arie</a> melihatnya dan dengan spontan bilang, “<em>Bukan bajunya yang nyusut, tapi badanmu yang ngembang</em>!” Gubrak…, tak elak seisi kost pun tertawa terbahak-bahak. Rasanya aku siap dijadikan pengganti Po untuk syuting film animasi Kungfu Panda yang berikutnya.</p>
<p>Ibu Kost pun menyarankan diberi sama adik saja yang masih pas, hiks…, walau harus menelan ludah, rasanya kalau dipakai adik saya pasti akan lebih pas dan mantap.</p>
<p>Karena tidak mungkin saya berpose dengan batik yang super nge-pas dan membuatku tampak <em><a href="http://www.thefreedictionary.com/chunky" rel="nofollow">chunky</a></em>. Akhirnya petang hari saya menghubungi foto modelku untuk bersedia jadi model kali ini – dan saya pun meluncur ke lokasi pemotretan setelah dapat persetujuan dari manajernya, maklum, sayang kan kalau sudah cerita tapi tidak diperlihatkan citranya aslinya.</p>
<p>Silakan lihat Batik Pekalongan bersama modelnya Nara… (silakan klik untuk melihat gambar dalam ukuran besar)</p>
<p><a title="Nara on Pekalongan Batic" href="http://picasaweb.google.com/lh/photo/gatAHXkSSYvfaIR-H3CarA?authkey=Gv1sRgCJDukvavr-XuCA&amp;feat=directlink" rel="nofollow"><img title="Nara on Pekalongan Batic" alt="Nara on Pekalongan Batic" src="http://lh4.ggpht.com/_Hd5imL9eh-8/S7o7VeTELyI/AAAAAAAAA0c/wBqbO5QGXGc/s400/05042010144.jpg" /></a> </p>
<p><a title="Nara and Pekalongan Batik 1" href="http://picasaweb.google.com/lh/photo/GVEDmxEsip8mWXVx5IlrnQ?authkey=Gv1sRgCJDukvavr-XuCA&amp;feat=directlink" rel="nofollow"><img title="Nara and Pekalongan Batik 1" alt="Nara and Pekalongan Batik 1" src="http://lh3.ggpht.com/_Hd5imL9eh-8/S7oxqG90NEI/AAAAAAAAAzk/XM9SWUGlMVo/s400/05042010145.jpg" /></a> </p>
<p><a title="Nara and Pekalongan Batic 2" href="http://picasaweb.google.com/lh/photo/j_dEotzIGmmpEpLPNQY6dw?authkey=Gv1sRgCJDukvavr-XuCA&amp;feat=directlink" rel="nofollow"><img title="Nara and Pekalongan Batik 2" alt="Nara and Pekalongan Batik 2" src="http://lh4.ggpht.com/_Hd5imL9eh-8/S7o6y-uKoWI/AAAAAAAAA0A/93jzpmu5HIs/s400/05042010142.jpg" /></a> </p>
<p>Bagaimana, warna dan coraknya unik dan menarik bukan? Indonesia memang memiliki ragam busana yang luar biasa.</p>
<p>Maaf, saya tidak bisa menjadi model, bukan fotogenik masalahnya.</p>
<p>Terima kasih Mbak Lia sudah memberikan hadiah istimewa ini <img alt="" src="http://www.zu14.cn/coolemotion/emotions/zz_18.gif" /></p>
<p><!--Digiprove_Start--><span style="vertical-align:middle; display:inline-table; padding:3px; line-height:normal;border:0px;" title="certified 5 April 2010 19:38:57 UTC by Digiprove certificate P13673" ><a href="http://www.digiprove.com/show_certificate.aspx?id=P13673" style="text-decoration:none" target="_blank" style="border:0px; float:none; display:inline; text-decoration: none;"><img src="http://www.digiprove.com/images/dp_seal_trans_16x16.png" style="vertical-align:middle; display:inline; border:0px; margin:0px; float:none; background-color:transparent" border="0"/><span style="font-family: Tahoma, MS Sans Serif; font-size:11px; color:#636363; border:0px; float:none; display:inline; text-decoration:none; letter-spacing:normal" onmouseover="this.style.color='#A35353';" onmouseout="this.style.color='#636363';">  Copyright secured by Digiprove © 2010 Cahya Legawa</span></a><!--92CD25042F3D621DD24B5894B0C7C3AFCC9791EAB9C8607AAF750555A6C8F598--></span><!--Digiprove_End--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatan.legawa.com/2010/04/batik-dari-cinta-satu-bait/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>37</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Percakapan Si Bodoh (bag. I)</title>
		<link>http://catatan.legawa.com/2010/03/percakapan-si-bodoh-bag-i/</link>
		<comments>http://catatan.legawa.com/2010/03/percakapan-si-bodoh-bag-i/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Mar 2010 17:16:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cahya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[dialog]]></category>
		<category><![CDATA[hati]]></category>
		<category><![CDATA[kebijaksanaan]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[nurani]]></category>
		<category><![CDATA[pikiran]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatan.legawa.com/2010/03/percakapan-si-bodoh-bag-i/</guid>
		<description><![CDATA[Setiap orang mungkin tahu bahwa sesungguhnya dia tidaklah begitu bodoh, walau tentu ia bukan juga dikategorikan sebagai makhluk yang cerdas. Namun karena beberapa hal, dia memiliki tempat tertentu di masyarakat, sebutlah ia sebagai si bodoh. Hari ini kebetulan si bodoh akan diwawancarai oleh seorang wartawan pemula (sebenarnya karena baru pertama kali terjun ke lapangan untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setiap orang mungkin tahu bahwa sesungguhnya dia tidaklah begitu bodoh, walau tentu ia bukan juga dikategorikan sebagai makhluk yang cerdas. Namun karena beberapa hal, dia memiliki tempat tertentu di masyarakat, sebutlah ia sebagai si bodoh.</p>
<p>Hari ini kebetulan si bodoh akan diwawancarai oleh seorang wartawan pemula (sebenarnya karena baru pertama kali terjun ke lapangan untuk wawancara). Rupa-rupanya wartawan ini lupa mempelajari sedikit banyak kehidupan nara sumbernya kali ini, dan si bodoh pun tampaknya masa bodoh dengan masalah itu.</p>
<p> <span id="more-754"></span>
<p>Wartawan (W) mulai membuka notes-nya dan bertanya pada si bodoh (B)…</p>
<p>W: B, rumah anda luas, tapi kenapa sepi ya. Ke mana keluarga anda yang lain?</p>
<p>B: Wah, <a title="Cahya Legawa&#39; Homepage" href="http://www.legawa.com" rel="nofollow">saya</a> hidup sendiri. Tidak ada siapa-siapa di sini kecuali saya, pelayan-pun hanya datang dua atau tiga kali seminggu untuk bersih-bersih saja.</p>
<p>W: Oh maaf, saya tidak tahu Anda hidup sendiri… (tertunduk agak malu).</p>
<p>B: Tak apa-apa, saya biasa mendapat pertanyaan seperti itu.</p>
<p>W: (tiba-tiba mendapat ide ke mana plot wawancaranya akan mengarah) Maksud Anda?</p>
<p>B: Ya…, tak banyak yang tahu saya hidup sendiri – mungkin karena rumah besar ini dikiranya saya berkeluarga, apa lagi karena saya punya banyak rumah, jadi mereka tidak harus menduga keluarga saya wajib tinggal di rumah saya yang satu ini.</p>
<p>W: Oh… (astaga…, kaya amat nih orang dalam pikirnya), mengapa Anda tidak berkeluarga, bukankah Anda sudah agak lewat umur untuk itu – maaf…</p>
<p>B: Saya tidak punya alasan untuk itu, jadi kenapa saya harus…?</p>
<p>W: (terheran-heran)… Apakah Anda tidak pernah berencana menikah, atau apakah karena Anda belum menemukan seseorang yang cocok sebagai pendamping hidup…?</p>
<p>B: Dulu mungkin ya, beberapa tahun yang lalu, saya punya seorang yang saya cintai, dan dia pun berkata dia mencintai saya – pernah kami berpikir bersama untuk hidup berbahagia….</p>
<p>W: (Wow…, cerita klasik, sepertinya menarik untuk diungkit dan diangkat) Lalu apa yang terjadi dengan kalian?</p>
<p>B: Ya tentu saja tidak terjadi apa-apa, jika terjadi sesuatu, pastilah lain ceritanya saat ini.</p>
<p>W: (Ya ampun, terlalu <em>simple minded</em> nih) Bukan begitu, maksud saya mengapa kalian tidak menikah?</p>
<p>B: Katakanlah karena suatu hal, dia harus berjanji mendampingi orang lain hingga akhir hidupnya – apa itu sudah cukup menjelaskan?</p>
<p>W: Ya tentu saja, tapi itu tak menjelaskan kenapa Anda – yang mungkin dalam banyak kesempatan bertemu juga dengan orang lain – untuk memulai kesempatan hidup berdampingan? (meremas pulpennya karena saking gregetan).</p>
<p>B: Hmm…, seingat saya dulu saya pernah berkata, bahwa saya hanya mencintainya dalam sebuah hubungan perasaan yang istimewa, tak tergantikan, sesuatu yang memanggil untuk tidak saling berpaling. Saya tak jatuh cinta lagi pada orang lain, dan tanpa itu bagaimana orang dapat berpikir ia akan menjalani kehidupan berdampingan? Saya rasa itu sesuatu hal yang saya logis.</p>
<p>W: Bukankah jatuh cinta adalah sesuatu yang sederhana, apakah itu begitu sulit menurut Anda?</p>
<p>B: Tidak, tidak… Jatuh cinta adalah sederhana, bahkan Anda tidak perlu memolesnya agar jadi lebih indah. Saya pernah jatuh cinta, hati saya pernah mencintai dan ia telah memberikan seluruh dayanya pada cinta ini – begitulah ketetapannya, saya tak bisa lakukan apa pun. Sesederhana hati saya mencintai, sesederhana itu pula ia tak bisa jatuh cinta pada yang lain. Dan saya tak punya kuasa apa pun untuk memaksa yang satu ini, atau saya hanya akan membohongi diri saya sendiri.</p>
<p>W: Tidakkah ada lawan jenis lain yang pernah menarik perhatian Anda lagi?</p>
<p>B: Tentu banyak yang menarik perhatian saya, banyak yang baik dan santun, cerdas, kreatif, dapat diandalkan dan dipercaya, nyaris sempurna dalam berbagai hal.</p>
<p>W: Lalu…?</p>
<p>B: Ya, kembali pada apa yang saya sampaikan sebelumnya.</p>
<p>W: Bagaimana Anda yakin bahwa Anda tidak melewatkan sesuatu yang ternyata itu cinta?</p>
<p>B: Bagaimana Anda bisa…?</p>
<p>W: Entahlah…, saya tidak tahu, saya tidak yakin?</p>
<p>B: <em>That is it…! You don’t believe so you don’t know. Just believe in your heart, not your thought</em>. Jika Anda seorang pria, mungkin pikiran Anda akan menginginkan memiliki semua wanita yang terbaik di dunia. Tapi jika Anda dengan sederhana yakinkan urusan ini pada hati anda, semua pikiran konyol itu akan hilang dengan sendirinya, dan Anda tahu bahwa Anda tak melewatkan apa pun…</p>
<p>W: Tapi di luar sana ada banyak orang yang bisa jatuh cinta lagi dan hidup berbahagia, apakah mereka orang yang berpikiran bodoh…?</p>
<p>B: Nah, lihat Anda sudah berpikir lagi, dan lihat Anda tampak bingung dan konyol (tertawa kecil). Saya tak pernah bilang orang tak bisa atau tak boleh jatuh cinta lagi, kalau ini diperdebatkan sebagai konsep dalam pikiran – seluruh dunia bisa bingung dibuatnya. Buka hati Anda, buat ia awas dan rentan terhadap dunia, ia akan memahami apa yang menjadi pilihannya, apa yang menjadi kebijaksanaannya.    <br />Bagi saya, inilah kebijaksanaan yang ditawarkan hati saya pada kehidupan saya, dan saya menerimanya dalam suka cita. Belum tentu jalan yang sama akan menjadikan kebijaksaan pada hati orang lain, setiap hati membangun dan membawa kebijaksanaannya masing-masing, jika jalan cinta dibuka kembali, maka itulah kebijaksanaan yang ditawarkan pada kehidupan seseorang – Anda hanya perlu melangkah atau tidak sama sekali. Jangan bandingkan hati anda dengan hati orang lain, pikiran Anda mungkin akan terlalu picik untuk tidak menyulut masalah-masalah baru yang justru tidak bermakna sama sekali bagi kehidupan.</p>
<p>W: (dengan beberapa bintang berputar-putar di sekitar kepalanya) Dapatkah Anda mencontohkan di kehidupan yang nyata?</p>
<p>B: Ah…, apakah Anda memiliki kekasih atau pasangan – Anda masih tampak muda?</p>
<p>W: Belum, saya sebenarnya sedang ada yang saya suka, tapi kami belum sejauh itu (lha, kok yang diwawancara malah saya).</p>
<p>B: Mengapa tidak bergerak lebih jauh, buatlah kemajuan?</p>
<p>W: Saya tidak yakin dia punya perasaan sama…, mungkin? (Waduh, kok yang terekspos malah kehidupan pribadi saya.)</p>
<p>B: Lalu apa yang Anda lakukan jika ia berkata ia mencintai Anda – walau Anda belum berkata perasaan anda padanya?</p>
<p>W: (dengan berbinar) tentu saja saya juga menyampaikan perasaan saya dan berharap kami jadi pasangan… (kemudian menyadari kekanakannya dan berusaha tampil <em>cool</em> kembali) tapi itu wajar bukan?</p>
<p>B: Lalu apa yang terjadi jika kemudian Anda tahu, ia memiliki kisah seperti saya – sebenarnya hatinya tak bisa jatuh cinta lagi, namun memilih tidak mengikuti kata hatinya dan memilih hidup “seperti” jatuh cinta pada Anda?</p>
<p>W: Tapi mengapa…? (sambil agak berteriak, terbawa emosi, mengira-ngira apakah hal itu mungkin terjadi, dan berharap seandainya pengandaian ini tak pernah ia dengarkan)</p>
<p>B: Katakanlah ia orang yang baik di satu sisi, mungkin dia tahu perasaan anda dan tidak ingin Anda kecewa serta menangis, karena ia pernah memiliki perasaan yang sama, jadi ia memutuskan untuk tidak membuat anda mengalami apa yang ia alami. Atau di sisi yang lain, dia orang yang baik, menuruti harapan orang tuanya untuk mendapatkan pendamping hidup.</p>
<p>W: Kedua itu sisi yang baik…? (tapi kenapa terasa sama-sama tak adil bagi saya)</p>
<p>B: <em>Well</em>, saya tak pernah menganggap orang itu buruk, jadi kita semua orang yang baik hanya saja dengan sisi-sisi yang berbeda. Lalu bagaimana apa Anda bisa menerimanya?</p>
<p>Peliput berita itu terdiam, ia kini berpikir dalam-dalam…</p>
<p>Di dunia ini berbagai kebijaksanaan dapat hadir, kini apakah seseorang bersedia membuka diri terhadapnya, saya rasa kembali pada masing-masing individu. Kita sering mendengar, nyalakan pelita hatimu – dan biarkan ia menjadi pandumu; tapi kini kita lebih suka kelap-kelip pikiran yang serba gempita bak lampu diskotik yang membuat setiap penikmat termabukkan.</p>
<p>Hidup sederhana dalam sebuah pandangan hati yang polos, namun kita tak terbiasa dengan kepolosan. Ketika hidup memberi sebuah tantangan, pikiran kita yang selalu kompleks sering kali kusut dalam meresponsnya, sehingga kita kalang kabut mencari panduan kehidupan. Kadang terjadi benturan, ada sesuatu yang berbeda, tapi panduan yang kita pegang berkata lain, konflik bermunculan dalam diri kita, rasanya hati dan pikirannya menjadi panas – seperti aroma prosesor komputer yang terbakar arus tegangan tinggi.</p>
<p>Ketidakjujuran kita pada kebijaksanaan yang ditawarkan oleh hati ini menjadi sumber banyak masalah dalam kehidupan ini, lalu siapa yang akan kita salahkan?</p>
<p><!--Digiprove_Start--><span style="vertical-align:middle; display:inline-table; padding:3px; line-height:normal;border:0px;" title="certified 4 March 2010 17:20:50 UTC by Digiprove certificate P10353" ><a href="http://www.digiprove.com/show_certificate.aspx?id=P10353" style="text-decoration:none" target="_blank" style="border:0px; float:none; display:inline; text-decoration: none;"><img src="http://www.digiprove.com/images/dp_seal_trans_16x16.png" style="vertical-align:middle; display:inline; border:0px; margin:0px; float:none; background-color:transparent" border="0"/><span style="font-family: Tahoma, MS Sans Serif; font-size:11px; color:#636363; border:0px; float:none; display:inline; text-decoration:none; letter-spacing:normal" onmouseover="this.style.color='#A35353';" onmouseout="this.style.color='#636363';">  Copyright secured by Digiprove © 2010 Cahya Legawa</span></a><!--915752C9CAE51B2B8236F3C31907A81D353A1B462E928127B4A9AB9811E14E7F--></span><!--Digiprove_End--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatan.legawa.com/2010/03/percakapan-si-bodoh-bag-i/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pertengkaran Alfred dan Bob</title>
		<link>http://catatan.legawa.com/2010/01/pertengkaran-alfred-dan-bob/</link>
		<comments>http://catatan.legawa.com/2010/01/pertengkaran-alfred-dan-bob/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Jan 2010 06:46:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cahya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[jalan]]></category>
		<category><![CDATA[keyakinan]]></category>
		<category><![CDATA[pandangan]]></category>
		<category><![CDATA[panduan]]></category>
		<category><![CDATA[pertengkaran]]></category>
		<category><![CDATA[peta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatan.legawa.com/2010/01/pertengkaran-alfred-dan-bob/</guid>
		<description><![CDATA[Di kejauhan terlihatlah dua sosok yang sedang bergulat di atas gersangnya padang tandus dalam sengatan matahari yang terkesan tidak bersahabat bahkan pada angin yang mestinya menyejukkan. Samar-samar dari kejauhan pun dapat terdengar umpatan kasar yang berasal dari gumulan debu di udara, di mana kedua sosok itu tak henti hentinya saling menghadiahkan tinju pada rekan seperkelahiannya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di kejauhan terlihatlah dua sosok yang sedang bergulat di atas gersangnya padang tandus dalam sengatan matahari yang terkesan tidak bersahabat bahkan pada angin yang mestinya menyejukkan.</p>
<p>Samar-samar dari kejauhan pun dapat terdengar umpatan kasar yang berasal dari gumulan debu di udara, di mana kedua sosok itu tak henti hentinya saling menghadiahkan tinju pada rekan seperkelahiannya. Mereka adalah Alfred dan Bob, mereka telah berselisih selama beberapa selang waktu terakhir ini. Sebenarnya mereka berdua adalah pemburu harta, namun mengapa mereka bisa hingga berkelahi satu sama lainnya? Mungkin itu tidak terkait dengan harta itu sama sekali, atau mungkin juga ada sebab yang berkecocokan.</p>
<p> <span id="more-655"></span>
<p>Sebelum kita kembali menjenguk perkelahian di tengah kegersangan itu. Marilah kita tengok beberapa masa ke belakang. Konon pada beberapa zaman sebelumnya terdapat beberapa orang yang telah tiba di tempat “itu” (mungkin seperti tempat bertanda “<strong>X</strong>” dalam peta harta karun perompak ala film animasi <em>SpongeBob</em>). Mereka berkata atau setidaknya orang-orang yang dekat dengan orang-orang itu berkata, bahwa di tempat “itu” orang-orang ini menemukan harta yang tak ternilai harganya, tak bisa dijual karena tak ada yang sanggup membeli, namun memberikan penemunya kekayaan dan kesejahteraan yang melimpah, bahkan melebihi kekayaan dan kesejahteraan dari beratus-ratus raja yang disatukan dan ditumpuk dalam sebuah neraca global.</p>
<p>Dan dari zaman ke zaman selalu ada orang yang berjodoh menemukan tempat “itu”, mereka umumnya berbaik hati dan memberikan panduan bagi orang-orang untuk sampai ke tempat “itu”. Kadang panduannya sangat jelas, kadang sangat kabur. Namun itu bukanlah hal yang penting, karena yang mengikuti panduan kabur justru sering menemukan jalannya sendiri, sedangkan panduan yang jelas sering kali membuat orang malah bertanya-tanya jika ia belum juga tiba di tempat “itu”.</p>
<p>Banyak orang membawa peta yang diwariskan dari generasi ke generasi – yang mungkin salah satu pendahulunya bisa jadi orang yang cukup beruntung tiba di tempat “itu”. Mereka tekun mempelajari peta tersebut, menempuh berbagai medan sulit di muka bumi dan lautan, bahkan hingga mencoba menaklukkan angkasa guna berada di “sang jalan”. Mereka kemudian dikenal sebagai pemburu harta. Tipenya beragam, seberagam umat manusia di muka bumi.</p>
<p>Kini terkisahlah dua pemburu harta pengelana, si Alfred dan si Bob, mereka sudah bertahun-tahun mencari tempat “itu” dengan peta tua nan lusuh di tangan mereka. Mereka hapal semua gambaran peta itu, hingga tulisan keterangan yang menyertainya, bahkan mereka hapal mati interpretasi dari masing-masing tulisan keterangan itu. Mereka yakin mereka telah mengikuti jalan yang sesuai. Di luar apakah mereka benar dan salah, namun keyakinan ini begitu lekat pada pemikiran mereka.</p>
<p>Suatu hari Alfred dan Bob bersua, kebetulan mungkin peta mereka mempertemukan mereka pada saat yang bersamaan. Mereka bertegur sapa dengan sopan, karena itulah etika para pencari harta sebagaimana yang tertulis di panduan masing-masing. Mereka tampak sangat akur, duduk di kedai teh di pinggir jalan. Perbincangan mereka pun mengalir dengan spontan. Mengetahui minat masing-masing yang serupa, mereka pun bertukar ide.</p>
<p>Awalnya mereka biasa saja jika ada yang berbeda atau panduan yang berbeda tentang cara sampai ke tempat “itu”, mungkin yang mewariskan peta itu memang orang yang berbeda. Namun kemudian diskusi mereka lambat laun mengarah ke perdebatan. Bukan hanya perbedaan, namun juga ada pertentangan ternyata dalam panduan-panduan mereka masing-masing.</p>
<p>Mereka saling tidak bisa terima, karena apa yang diinterpretasikan dari panduan mereka dinilai menghina dan merendah lawannya. Mulai dari sumpah serapah hingga pertengkaran kecil yang kemudian menjadi pertengkaran besar.</p>
<p>Akhirnya mereka bergulat di padang gersang itu, padahal sebelumnya tampak akur menikmati hangatnya teh. Mereka sudah tidak melihat jalan yang tadi hendak mereka lalui, atau setidaknya melanjutkan perjalanan mereka masing-masing. Mereka berteriak mengatakan jalannya lah yang benar dan jalan lain itu salah besar bahkan menyesatkan.</p>
<p>Anda pun bisa menebak, akhirnya Alfred dan Bob tidak tiba di mana pun, apalagi di tempat “<strong>X</strong>”, karena mereka telah keluar jalur masing-masing dan sibuk bergulat untuk keyakinan mereka masing-masing.</p>
<p><!--Digiprove_Start--><span style="vertical-align:middle; display:inline-table; padding:3px; line-height:normal;border:0px;" title="certified 23 January 2010 06:46:34 UTC by Digiprove certificate P7056" ><a href="http://www.digiprove.com/show_certificate.aspx?id=P7056" style="text-decoration:none" target="_blank" style="border:0px; float:none; display:inline; text-decoration: none;"><img src="http://www.digiprove.com/images/dp_seal_trans_16x16.png" style="vertical-align:middle; display:inline; border:0px; margin:0px; float:none; background-color:transparent" border="0"/><span style="font-family: Tahoma, MS Sans Serif; font-size:11px; color:#636363; border:0px; float:none; display:inline; text-decoration:none; letter-spacing:normal" onmouseover="this.style.color='#A35353';" onmouseout="this.style.color='#636363';">  Copyright secured by Digiprove © 2010 Cahya Legawa</span></a><!--A6B50C6A2689F6184950CBCA9DDEA2E7CC795913E9FB8E49A64639E4A3586425--></span><!--Digiprove_End--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatan.legawa.com/2010/01/pertengkaran-alfred-dan-bob/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nang Olog tak Punya yang Sukla</title>
		<link>http://catatan.legawa.com/2009/12/nang-olog-tak-punya-yang-sukla/</link>
		<comments>http://catatan.legawa.com/2009/12/nang-olog-tak-punya-yang-sukla/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Dec 2009 09:13:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cahya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[Mozaik]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[kontemplasi]]></category>
		<category><![CDATA[Nang Olog]]></category>
		<category><![CDATA[Religi]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[sukla]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatan.legawa.com/2009/12/nang-olog-tak-punya-yang-sukla/</guid>
		<description><![CDATA[Dalam budaya Bali dikenal kata/istilah sukla, yang berarti sesuatu yang masih murni/baru. Semisal buah yang baru dipetik kemudian digunakan dalam persembahyangan, maka buah itu disebut sukla. Kebalikannya adalah carikan, yaitu sesuatu yang sudah bekas, semisal nasi yang sudah dimakan, sisanya disebut carikan. Pengertian sukla dalam budaya kemudian meluas. Seperti piring sukla, atau bokoran sukla, gelas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam budaya Bali dikenal kata/istilah <em>sukla</em>, yang berarti sesuatu yang masih murni/baru. Semisal buah yang baru dipetik kemudian digunakan dalam persembahyangan, maka buah itu disebut <em>sukla</em>.</p>
<p>Kebalikannya adalah <em>carikan</em>, yaitu sesuatu yang sudah bekas, semisal nasi yang sudah dimakan, sisanya disebut <em>carikan</em>.</p>
<p>Pengertian <em>sukla</em> dalam budaya kemudian meluas. Seperti piring <em>sukla</em>, atau <em>bokoran sukla</em>, gelas <em>sukla</em>, dan sebagaimana yang lainnya. Semisal gelas yang digunakan untuk tempat air suci (tirta), haruslah gelas yang <em>sukla</em> (bukan bekas pakai) agar tidak mencemari kesuciannya. Maka kemudian berbagai hal yang berbau ritual budaya, mestilah mengandung ke–<em>sukla</em>–an.</p>
<p>Namun apakah sukla wajib? Sebagian besar orang mengatakannya wajib, karena kesucian tidak boleh dicemari, dan Anda bisa dimarahi habis-habisan jika menentang konsep ini.</p>
<p>Namun coba tengok kisah berikut:</p>
<p><i><b>patram puspam phalam toyam        <br />yo me bhaktya prayacchati         <br />tad aham bhakty-upahrtam         <br />asnami prayatatmanah</b></i></p>
<p>“<em>If one offers Me with love and devotion a leaf, a flower, fruit or water, I will accept it</em>.” </p>
<p>- The Bhagavad Gita (9.26)</p>
<p>(Dalam Bhagavad Gita, disebutkan hanya persambahan yang tulus ikhlas, ah… walau aku tak bisa menemukan kata sukla di dalamnya).</p>
<p>Alkisah Nang Olog adalah warga di bawah garis kemiskinan sebagaimana rerata orang-orang di desanya. Hari ini dia dan keluarga akan mengadakan odalan sanggah. Dia tidak punya <em>bokoran</em> indah sebagaimana yang kita lihat dalam acara televisi tentang kebudayaan dan religi di Bali. Nang Olog hanya memiliki sebuah “piring kaca” demikianlah orang Bali tempo dulu menyebutnya, cukup bersih setelah istrinya mencuci piring itu di bantaran sungai kecil yang sudah cukup banyak plastik dan sampah mengalir di sana, dan tak terhitung berapa banyak orang buang hajat di sana. Sumurnya sudah lama setengah mengering karena hujan tak kunjung turun juga, air yang bisa diambil sebisanya digunakan untuk memasak dan diminum, sementara lain-lain mestilah ia memanfaatkan kali itu.</p>
<p>Si istri telah membeli dua biji salak, dan dua biji jeruk dari pasar tadi pagi. Tak mewah memang, bahkan tampak lusuh jika dipandang lebih dekat. Namun itu apa yang bisa dibeli dari uang yang disisihkan oleh mereka. Nang Olog hanyalah buruh tani kasar, kadang dapat kerjaan, kadang tidak, semenjak si empunya sawah sekarang lebih suka menurunkan langsung mesin selip padi ke pemanenan, maka “<i>juru gedig</i>” padi sudah hampir tak dibutuhkan. Dan istrinya sendiri juga buruh kasar di pabrik pembuatan bata tradisional yang juga tidak banyak menghasilkan.</p>
<p>Buah-buah itu ditata apik oleh Nang Olog di atas piring kaca itu. Ketika sore tiba, ia dan keluarga siap bersembahyang. Tiba-tiba ada tamu datang, orang perangkat kecamatan ditemani aparat desa yang datang mensurvei. Mereka datang setahun sekali untuk berbincang-bincang dan mendata warga miskin. Nang Olog menerima tamunya dengan senyum dan penuh ramah, ia meminta sang istri menghidangkan buah tadi dan beberapa gelas air putih. Mereka berbincang sebentar di “<i>jineng</i>” tua yang sudah lama kosong melompong tanpa tanda kemakmuran. Hingga matahari terbenam barulah si perangkat kecamatan dan aparat desa meninggalkan gubuk Nang Olog dalam kesunyian.</p>
<p>Di atas piring hanya tersisa dua buah dari empat yang dihidangkan untuk tamu. Nang Olog dan istri kemudian mulai odalan sederhananya, dalam kegelapan petang karena tiada cahaya buatan bertenaga listrik yang ada di kemiskinannya. Tiada <em>pamangku</em> atau pun orang yang disucikan memimpin persembahyangannya, tidak sebagaimana yang banyak masyarakat berada lakukan. Tiada juga bokoran indah yang <i>sukla</i>, apalagi buah yang dihaturkannya sudah menjadi <i>carikan </i>si tamu. Namun itulah segala yang terbaik yang bisa dihaturkan oleh Nang Olog dan keluarga.</p>
<p>Nang Olog bukan orang modern yang mengerti konsep <i>reuse</i>, <i>reform </i>atau pun <i>recycle</i>, namun keterbatasannya membuat ia melakukan semua itu. Sehingga walau sering diolok-olok ditetangga yang berada, ia tetap diam, Nang Olog sadar ia sama sekali tidak punya barang atau benda <em>sukla</em> di gubuk kecilnya, tidak punya untuk dipersembahkan pada Tuhan, walau acap kali para ahli agama yang ia dengar dan lihat di televisi hitam putih di balai banjar mengatakan agar menggunakan persembahan yang <em>sukla</em> sebagai tanda kemurnian rasa bhakti sang umat. Hatinya sering tersayat, seolah <em>sukla</em> adalah barang yang wajib dimiliki oleh setiap umat berbudi dan berbhakti, sekali lagi ia menengok dalam bayang gubuknya, tidak ada apa pun juga.</p>
<p>Ah…, mungkin Nang Olog boleh tidak memiliki apa pun yang <i>sukla </i>untuk dipajang di hadapan Tuhan. Namun setidaknya ia masih punya hati yang <i>sukla</i>, yang belum menjadi jamahan dan <i>carikan </i>keserakahan. Kesedihannya mungkin dikarenakan karena budaya yang bertopeng agama hanya memandang sebelah mata pada ketidakberdayaan yang tak berpunya.</p>
<p>Tulisan ulang dari: <a title="Daily Lhagima: Nang Olog tak Punya Yang Sukla" href="http://lhagima.wordpress.com/2009/10/23/nang-olog-tak-punya-yang-sukla/" rel="dofollow">Daily Lhagima</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatan.legawa.com/2009/12/nang-olog-tak-punya-yang-sukla/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perdana Menteri Dan Peti Mati</title>
		<link>http://catatan.legawa.com/2009/12/perdana-menteri-dan-peti-mati/</link>
		<comments>http://catatan.legawa.com/2009/12/perdana-menteri-dan-peti-mati/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Dec 2009 07:20:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cahya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>
		<category><![CDATA[negara]]></category>
		<category><![CDATA[pelantikan]]></category>
		<category><![CDATA[perdana menteri]]></category>
		<category><![CDATA[peti mati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatan.legawa.com/2009/12/perdana-menteri-dan-peti-mati/</guid>
		<description><![CDATA[Ketika itu pada sebuah negara seorang perdana menteri baru melantik anggota kerjanya yang berjumlah 20 orang, dalam upacara pelantikan yang seharusnya meriah malah ada banyak peti mati yang terjejer rapi di tengah aula. Peti-peti itu sederhana, hampir tak ada yang istimewa. Namun tentu keberadaannya yang nyleneh itu bikin orang bertanya-tanya. Walau demikian tak seorang pun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika itu pada sebuah negara seorang perdana menteri baru melantik anggota kerjanya yang berjumlah 20 orang, dalam upacara pelantikan yang seharusnya meriah malah ada banyak peti mati yang terjejer rapi di tengah aula. </p>
<p>Peti-peti itu sederhana, hampir tak ada yang istimewa. Namun tentu keberadaannya yang nyleneh itu bikin orang bertanya-tanya. Walau demikian tak seorang pun tahu apa maksudnya, dan tak seorang pun berani bertanya pada Perdana Menteri yang terkenal tegas dan lugas itu sementara ia masih dengan khidmat memimpin upacara pelantikan menteri-menterinya yang dua puluh orang itu. Tak ada yang berani mengusik acara itu, karena di negeri itu pimpinan begitu dicintai dan dihormati.</p>
<p>Setelah acara selesai seorang wartawan memberani kan diri mendekati perdana menteri yang tampaknya sudah agak luang dan hendak menuju mobilnya. Dengan sopan ia mempersiapkan dirinya untuk bertanya – mungkin amat berbeda dengan negeri kita yang para wartawannya selalu tampak berebutan di tayangan berita (<em>ups.. no offense</em>).</p>
<p>“<em>Pak, maaf, apakah kami dapat meminjam waktu luang Anda sesaat? Kami dari stasiun berita PQR</em>.” Kata wartawan dengan santun.</p>
<p>Perdana menteri dengan ramah menyambutnya, sementara ia meminta ajudannya untuk menunda sesaat acara selanjutnya yang harus dihadirinya. Ia mempersilakan wartawan muda itu bertanya apa saja, namun hanya lima menit, karena ia harus segera berada di tempat lainnya.</p>
<p>Lalu wartawan pun bertanya tentang peti-peti mati yang berjejer di ruang itu, mungkin juga pertanyaannya adalah hal yang sama yang diajukan setiap mata yang memandang ke upacara pelantikan itu.</p>
<p>“<em>Nak, itu hanya peti mati biasa, diperuntukkan bagi orang-orang yang sudah mati, sehingga mereka mereka dapat dikuburkan secara layak sesuai tradisi kita</em>.” Kata perdana menteri dengan halus.</p>
<p>Wartawan berkata, bahwa ia mengerti tentang hal itu. Namun mengapa benda-benda itu justru ada di ruangan saat acara yang secara logika tidak sesuai dengan yang sedang berlangsung.</p>
<p>“<em>Ah…, itu begini. Salah satu dari dua puluh peti mati akan </em><em>saya</em><em> hadiahkan bagi menteri yang terbukti bersalah melakukan korupsi berat, merugikan rakyat dan negara. Satu yang di depan adalah untuk saya sendiri jika saya bersalah melakukan kejahatan yang sama terhadap rakyat dan negara</em>.” Jawabnya sambil tersenyum ramah.</p>
<p>Tentu si wartawan menjadi kaget mendengar hal itu, ia melihat peti-peti itu kembali, dan sepertinya memang sesuai dengan yang dikatakan perdana menteri itu. Namun masih ada satu peti lagi yang tersisa, lalu itu untuk siapa? Peti itu tampak lebih bagus dari yang lain.</p>
<p>“<em>Oh…, itu sama saja, hanya saja saya sempat menyisihkan uang tabungan saya untuk memberi polesan yang lebih bagus. Bagaimana pun itu setidaknya harus lebih bagus, karena diperuntukkan bagi sahabat baik saya sejak kecil yang baru pergi dalam mobil kuno itu</em>” Perdana menteri menunjuk pada sebuah mobil hitam yang mengangkut wakil perdana menteri.</p>
<p><em>Ups</em>…, kini si wartawan kehabisan kata-kata dan perdana menteri pun bisa pamit dengan tenang tanpa diganggu pertanyaan lebih jauh lagi.</p>
<p>Tulisan ini adalah respon bagi “<a href="http://dianpurnomo.com/archives/176" rel="dofollow">Belajar Dari Lula</a>”, sebuah tulisan yang menarik oleh <a title="Dian Purnomo and her two cents" href="http://dianpurnomo.com" rel="nofollow">Dian Purnomo</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatan.legawa.com/2009/12/perdana-menteri-dan-peti-mati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Harganya Dua Kali Lipat</title>
		<link>http://catatan.legawa.com/2009/06/harganya-dua-kali-lipat/</link>
		<comments>http://catatan.legawa.com/2009/06/harganya-dua-kali-lipat/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Jun 2009 07:43:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cahya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Chinna Katha]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[Religi]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatan.legawa.com/?p=122</guid>
		<description><![CDATA[Dahulu ada seseorang yang memiliki arloji tua, dan kini arloji tersebut telah rusak, ia menimbang-nimbang hendak memperbaikinya. Ia pun berangkat ke kota dan menemukan tukang arloji yang mungkin dapat membantunya. Sesampainya di sana, orang tersebut menyerahkan arlojinya kepada si tukang, sementara mata jeli tukang memperhatikan arloji tersebut dengan seksama. Akhirnya si tukang berkata pada pemilik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dahulu ada seseorang yang memiliki arloji tua, dan kini arloji tersebut telah rusak, ia menimbang-nimbang hendak memperbaikinya. Ia pun berangkat ke kota dan menemukan tukang arloji yang mungkin dapat membantunya.</p>
<p>Sesampainya di sana, orang tersebut menyerahkan arlojinya kepada si tukang, sementara mata jeli tukang memperhatikan arloji tersebut dengan seksama. Akhirnya si tukang berkata pada pemilik arloji, oleh karena arloji tersebut sudah sangat tua, maka memperbaikinya akan susah dan mahal, setidaknya si empunya bisa akan dikenakan biaya dua kali lebih mahal dari harga arloji itu sebenarnya.</p>
<p>Si empunya bersikeras, walau bagaimana pun juga dia ingin memperbaiki arloji tersebut. Meski dikenai biaya dua kali harga arloji itu.</p>
<p>Kemudian si tukang arloji berpikir, jika si pemilik bersikeras memperbaiki arloji yang sudah tua dan rusak ini, barangkali arloji merupakan azimat yang membawa kemujuran. Dia pun mulai bekerja untuk memperbaikinya, dia mengganti semua bagian yang tua dan menaruh bagian-bagian baru ke dalam arloji tersebut.</p>
<p>Arloji pun selesai diperbaiki, si tukang mengembalikan arloji tersebut kepada si empunya sambil meminta biaya perbaikan yang disepakati tadi. Kemudian tiba-tiba si empunya menampar si tukang sebanyak dua kali. Dan keributan pun terjadi.</p>
<p>Orang-orang di sekitar sana menyerahkan si empunya arloji kepada petugas penegak hukum. Petugas pun memintanya menerangkan mengapa ia memukul si tukang arloji yang malang ini.</p>
<p>Ia pun menjelaskan bahwa ia diminta membayar biaya perbaikan dua kali lipat dari harga aslinya. Dulu ia mendapatkan arloji tersebut tidak dengan membeli, namun memperolehnya dengan menampar seseorang. Oleh karena itulah ia menampar tukang arloji tersebut dua kali.</p>
<p align="right">Adaptasi dari: <em>Chinna Katha</em> I.6</p>
<div class="blogger-post-footer">Artikel oleh <a href="http://legawa.com">Cahya</a></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catatan.legawa.com/2009/06/harganya-dua-kali-lipat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
