Arsip Kategori: Puisi

Siulan Malam

Jangan men­cari karena kutakkan men­dera Jangan sem­bunyi karena kutakkan melirik Jangan ber­lari karena kutakkan memikul Jangan ter­lelap karena kutakkan tak sekejap Aku suara di antara setiap duka, meng­apa juga eng­kau tetap cari Aku tangis dari setiap rin­tihan penyesalan, jangan dengar detak jan­tungku Aku muram yang men­jelma kelabu, maka langit tak lagi peduli pada kita Aku

7 Untai Awan Kosong

Bait yang tak per­nah ada dasar asa ter­liar sekali pun Ber­jingk­rak riang bak cahaya tajam di kelebatan sukma Turun senja meng­uak muram sirna semua 7 untai awan seren­tak bisu dalam kosong Suka, duka, tawa, sedih, yang hen­dak menyong­song Remuk redam ber­sama ruang waktu menyisakan hampa Baru cinta dapat tum­buh dan meng­isi dalam nada napas kebebasan

Sunyi Negeri

SUNYI NEGERI (Serang­kai kata ‘tuk Per­tiwi kini)   Ber­tajuk sunyi di tepian negeri Menatap per­tiwi bagai bunda yang kan ber­paling pergi Halus redam dalam buaian halau pasti Segala ada dan segenap men­jadi tiada Ada suara di relung dada Men­jadi rasa asa yang ber­gelung rupa pada Aku tiada memijak rum­put nan pasti Kepada ia ber­harap sua kem­bali Akan masa lalu negeri

My Wings

If I have a wings then the sky shall be my shel­ter A wings those spread all these solitudes A wings with dreams of another moon another stars If I have a wings then the land shall cap­tured within this heart A wings takes me through with a flying mind A wings in winds of des­serts

Lahirnya Pancasila

Sudah lama sekali, dan aku ham­pir tak bisa meng­ingat lagi pelajaran pada masa sekolah dulu, meng­enai lahir­nya Pan­casila yang men­jadi dasar negara kita saat ini. Saat Bung Karno menyam­paikan per­tama kali dalam pidato di hadapan Badan Penyelidik Usaha-Usaha Per­siapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), di sanalah kon­sep ini per­tama kali hadir, dan kemudian lahir seba­gai jiwa negara

100 Tahun Kebangkitan Nasional

Sejarah secara resmi men­catat bahwa bangsa ini telah 100 tahun meng­alami kebang­kitan nasio­nal, ter­hitung sejak ber­dirinya Budi Utomo 20 Mei pada 100 tahun yang silam. Meng­esam­pingakan semua kon­troversi lain­nya, pen­dapat lain­nya meng­enai apakah saat ini layak dijadikan per­ingatan kebang­kitan nasio­nal, bukan­nya saat-saat yang lain­nya, mes­kipun di luar sana begitu banyak pen­dapat bahwa seharus­nya momen A