Kadang saya bisa duduk termenung memikirkan satu dua hal yang tidak jelas. Beberapa saat bisa jadi pandangan ini kosong, jika saya meliriknya kembali, persis seperti seekor keledai dengan wajah dungunya sedang memandangi lukisan Van Goh. Hanya saja bedanya walau sama-sama termenung, mungkin bukan lukisan yang saya pandangi, namun hanya grafiti dari kehidupan masa lalu saya.
Ini [...]
Archive for the ‘suara’ Category
Mengapa Saya Tidak Ke Pura?
Beberapa waktu yang lalu seorang sahabat bertanya pada saya, mengapa saya tidak ke Pura? Apakah karena malas atau bagaimana? Hal ini mungkin adalah respon dari tulisan saya sebelumnya yang berjudul “Mencari Palangkiran”.
Saya membagi beberapa hal dalam tulisan saya di surat elektronik kemudian, dan berikut adalah salinannya yang saya cantumkan di sini:
Kenapa saya tidak pernah ke [...]
Haruskah Diaspal?
Malam itu Nang Lecir bersuara lantang di forum rembuk desa, dia adalah yang mewakili sedikit dari segelintir orang yang menyatakan tidak pada wacana bahwa jalan persawahan mereka akan diaspal.
Sedikit aneh memang, karena umumnya sudah banyak sawah di desa-desa tetangga yang memiliki jalan utama yang sudah diaspal, dan hal ini memudahkan transportasi keluar masuk persawahan. Semisal [...]
Hidup Itu Sepasti Matematika
Ada beberapa hal yang saya sukai dalam beberapa kutipan bab-bab “Quod Erat Demonstrandum”. Bahwasanya di antara semua pencinta, Tuhan “paling” mencintai ahli matematika. Kehidupan ini dikatakan pasti dan serumit namun juga sesederhana matematika.
Namun ini bukanlah sebuah pendapat yang mesti harus diterima, karena kebenarannya hendaklah diuji terlebih dahulu oleh masing-masing insan yang menyelaminya. Cobalah tengok dalam [...]



Komentar Terbaru