Berdirilah Seperti Gunung

Dalam setiap langkah kehidupan, manusia bisa menjadi bimbang, dan kebimbangan adalah bayangan yang selalu menghantui bagaimana seseorang berdiri menghadapi kehidupan.

Berdirilah seperti gunung, dingin yang menghembus kencang diterima dengan terbuka, demikian juga hangat yang sekejap berubah menjadi panas. Tetap bergeming ketika musim-musim berubah, manusia yang memiliki pendirian mungkin tidak akan ditatap oleh dunia, namun manusia tidak memilih berdiri tegap karena ingin dilihat oleh dunia.

Berterima kasih pada apa yang telah mengelilingnya, baik yang mengikis maupun menambahkan kehidupannya, dan semua itu adalah sahabat dalam perjalanan sang waktu.

Suatu saat jika berjodoh, musim mungkin akan menumbuhkan bunga lili yang indah di tebing-tebing curammu, meskipun hanya setangkai. Langit mungkin menyibakkan malam dan menghadirkan hujan bintang yang tak satupun jatuh ke pangkuanmu. Karena kamu berdiri seperti gunung, kamu akan melihat apa yang tidak pernah disaksikan oleh mereka yang berlari kian kemari dalam kebimbangan.

Sorry, But I Quit

Bekerja di sisi kemanusiaan itu selalu ada tantangannya; ada saja saat-saat di mana tawaran akan datang yang berasal dari tarikan ke sisi yang berseberangan. Atau kadang dorongan yang berasal dari pihak-pihak yang semestinya paham di sisi mana profesi ini selayaknya berada.

Secara materiil mungkin kerugian yang datang akan cukup besar, namun ada masa saya berkata dengan tegas, “sorry, but I quit“. Orang boleh berkata sisi kemanusiaan itu ego belaka dan tidak realistis, tapi sayangnya – saya menyukai sisi yang tidak realistis ini, sehingga saya akan berhenti di mana pun saya bisa, sedemikian hingga saya tidak menyeberang ke sisi yang lainnya.

Seberapa Mahal Harga Kebahagiaan?

Saya bertanya-tanya, sebagaimana banyak orang di muka bumi ini. Apa kebahagiaan begitu mahal harganya? Sehingga tak cukup manusia berlomba, atau bahkan saling senggol untuk memungut seklumit kepuasan. Ataukah kepuasan dan kebahagian itu setali tiga uang? Apa yang bisa memuaskan diri kita? Apa yang bisa membahagiakan diri kita?

Sayangnya pertanyaan ini akan selalu berputar-putar, karena saya tidak memiliki kemampuan mengukur dunia dengan keterbatasan ketika saya mengukurnya dengan diri saya sendiri. Kriminalitas mulai dari gelapnya jalanan hingga ke kerah terputih menjadi sesuatu yang umum. Berbagai alasan dilontarkan, berbagai argumen dihadapkan, namun kebenaran akan kebahagiaan tetaplah semu.

Harmoni dan Ketiadaan

Ketika pertanyaan tersebut menghampiri saya, apakah yang membuat hidup ini penuh dengan harmoni, dan apa juga yang menyebabkannya tiada. Pada akhirnya, antara keselarasan dan ketiadaan bukanlah dua hal yang berbeda. Yang satu hanyalah sebutan lain untuk wujud yang sama, selayaknya kehidupan dan kematian ini.

Dalam perjalanan hidup ini, ketika musim kering tiba, daun-daun yang telah tua akan terlepas dari tangkainya dan membumi dengan keelokannya. Pepohonan yang merangas setelah ditinggalkan dedaunannya yang berguguran, hanya tampak seperti sebuah pohon mati, apalagi kadang menyeramkan jika dilintasi ketika gelap menggantikan terang di muka bumi.

Tersandar di Sisi Keheningan

Ketika napas melangkah masuk ke dalam kehidupan, seutas lembayung tengah asyik memoleskan hembusan nirupa yang menjadikannya tidak hanya sebuah jantung yang berdegup. Ia seperti setetes sabda di antara kehampaan yang tak memiliki langit sebagai naungan.

Ia membuka mata dalam gulita, setetes sabda tepercik menjadi cahaya. Di sana keheningan berhenti dan menanggalkan kala dalam buaian nirdaya.