Arsip Kategori: suara

Pelbagai Wajah

Jangan menyang­kal kehidupan dari apa yang telah kita sak­sikan, walau mung­kin bukanlah kebenaran yang absolut. Jika kita dengan seketika menolak­nya, maka mung­kin kita akan meng­hilang sebuah peluang untuk melihat fakta yang sesung­guh­nya dari setiap gerak kehidupan. Seperti awan yang ber­senan­dung di ang­kasa, kadang ter­seok bak orang tua, kadang ber­lari ken­cang seperti anak kecil yang ber­lari

Pendongeng

Apa seseorang per­nah mem­buat daf­tar sesuatu yang ingin ditemukan pada seseorang yang diim­pikan seba­gai pasangan hidup­nya? Semisal­nya apakah Anda menam­bahkan bahwa seseorang mesti “penger­tian” sebelum baris yang ber­bunyi “tang­gung jawab” dari apa yang Anda harapkan. Namun sering kali hal-hal seperti itu ter­lalu abs­trak untuk dapat ditautkan satu sama lain­nya, bahkan sering kali merupakan sebuah kesatuan

Setapak Perapian Waktu

Sang kala sedang duduk ter­menung, letih dan peluh sudah cukup menetes mem­basahi jejak­nya selama per­jalanan ini. Tubuh­nya yang sudah renta bagi banyak makh­luk yang melahir­kan­nya ber­san­dar di pohon tua yang disebut orang seba­gai dirinya. Ia menarik dalam-dalam napas­nya yang disimpan dari mun­culan harapan yang ditabur dalam angin kehidupan dan kematian. Seakan ia menahan agar dirinya

Antara Fakta dan Mitos Kebahagiaan

Anda ingin men­jadi lebih bahagia? Hmm…, meng­apa tidak, rasanya semua orang rata-rata per­nah memikirkan hal serupa. Tapi lang­kah per­tama mung­kin adalah mem­per­tanyakan sen­diri pan­dangan anda seputar kebahagiaan itu sen­diri. Mung­kin Anda ber­pikir bahwa untuk men­jadi lebih bahagia, Anda memer­lukan lebih dari apa yang Anda miliki sekarang – lebih banyak ruang bebas, lebih banyak uang, lebih

Terlalu Banyak Doa?

Saat saya meng­oceh (meng­eluh?) ten­tang demam saya semalam di jejaring sosial twit­ter dan facebook. Tidak usah ditanya lagi (bagi manusia yang memang makh­luk sosial), saya dapat ucapan semoga lekas mem­baik baik secara lisan maupun tulisan. Dan tentu saja saya ber­terima kasih untuk itu walau kemarin malam saya tidak sem­pat balas apa-apa karena sudah asyik meriang

Tikungan Layang-Layang

Saat melewati gang-gang kecil di sekitaran dusun dengan sepeda motor tua saya, kadang saya jum­pai beberapa anak yang asyik dengan gulungan benang dan layang-layangnya. Beberapa sedang ber­usaha mener­bangkan layang-layangnya, beberapa lagi teng­gelam ber­sama angin mener­bangkan benda kecil itu meliak-liuk di udara. Saya suka ber­main layang-layang saat kecil, namun kali ini ada yang ber­beda. Mereka tidak ber­main

Another Night’s Faces

Cuaca Yogyakarta sangat panas, saya sering kali susah men­dapatkan tidur yang lelap di malam hari, mudah ber­keringat di malam hari karena cuaca seperti ini bukanlah hal yang mudah. Kadang saya ter­bangun lagi setelah ter­tidur beberapa jam, dan kemudian susah tidur kem­bali. Tapi kali ini cerita saya bukan masalah susah­nya tidur. Malam beberapa hari yang lalu, saya

I am Bad

Sejak saya kecil saya sangat sering men­dengar bahwa orang mes­tilah baik dalam ber­ba­gai hal. Intinya, orang selalu meng­atakan pada anak-anak, “Nak…, jadilah manusia yang baik.” – mung­kin lebih meng­ena jika meniru logat Mario Teguh saat meng­ucapkan kata-kata itu. Apakah saya baik ketika masih kecil dulu? Wow…, mung­kin tidak. Bahkan jika saya dan gem­bong saya ketika

Keperawanan Dalam Perspektif Kekinian

Cukup lama bagi saya untuk memilih judul tulisan ini, bahkan mung­kin lebih lama waktu yang saya per­lukan untuk memilih judul daripada meng­ung­kapkan apa yang saya pikirkan ke dalam tulisan. Saya belum ingin menim­bulkan per­ang dunia kedelapan dengan menem­patkan judul yang ter­lalu meman­cing, seperti “Keperawanan, Pen­ting Ga Sih?” atau sejenis­nya. Meng­apa saya menulis hal ini, yang

Nostalgia Yang Lama

Kadang saya bisa duduk ter­menung memikirkan satu dua hal yang tidak jelas. Beberapa saat bisa jadi pan­dangan ini kosong, jika saya melirik­nya kem­bali, per­sis seperti seekor keledai dengan wajah dungunya sedang meman­dangi lukisan Van Goh. Hanya saja bedanya walau sama-sama ter­menung, mung­kin bukan lukisan yang saya pan­dangi, namun hanya grafiti dari kehidupan masa lalu saya. Ini