Bagaimana Dapat Kukelabui Dia?

Pikiran berkata, “Akan kukelabui dia dengan kata-kata“. Cinta berkata, “Diamlah! Aku tipu dia dengan hati dan jiwa.”

Jiwa berkata kepada hati, “Pergilah! Jangan buat aku tertawa. Segala sesuatu miliknya. Jadi bagaimana aku bisa menipunya dengan apa saja?”

Ia bukan seseorang yang terjatuh ke dalam pikiran dan berharap dapat melupakan dirinya, karenanya aku akan mengalihkan perhatiannya dengan anggur dan gelas besar.” Continue reading

Menyandi Hati Menyirat Sari

Dulu, pernah kubisikkan padamu, sederetan desah nirlanggam dari kalbuku – sebagaimana jua mereka telah terwariskan padaku oleh para pengelana yang telah lama menyusur cakrawala kata adimakna.

Saya lupa kapan diskusi itu berlangsung, karena saya jarang sekali kembali menulis hal yang sama saat ini. Karena puisi itu menyandikan isi hati dan hanya mengungkapkan sedikit sarinya, maka ia tidak dapat diguratkan jika seseorang tak berhati – heartless. Saya sudah lama lupa jika tidak melihat kutipan dari Paul Dirac pagi ini.

Continue reading

Di Pucuk Kesendirian

Ada kesunyian mencakup nan mendekap erat sayap-sayap kecilnya, angin pun enggan menunjuk cakrawala yang telah ia benamkan dalam mimpi-mimpi tak terungkapkan. Aku mendengar rayuan sunyi mengantarkan buluh-buluh kehidupan yang telah menua di antara ranting-rantingnya, sebuah gita yang tertawan oleh canda di balik kemesraan yang sirna.

Kini, adakah kesendirian meruam sunyi di antara kelembutan sayap-sayap mungilnya? Adakah ia masih menanti canda yang menyeruak jingga di kaki cakrawala? Ataukah batinnya hendak menyulam mesra dari puntiran-puntiran angin kecil yang datang menyapa?

Continue reading

Berbahasa dalam Puisi

Semakin banyak saja saya temukan blog-blog yang menulis puisi belakangan ini, rasanya senang saja membaca tulisan-tulisan itu walau tanpa bisa berkata apa-apa. Saya ingat ketika masih jadi anak SMP, seorang guru pernah berkata bahwa biasanya orang mendadak jadi puitis ketika ia sedang jatuh cinta; dan kalau mengingat kata-kata itu sekarang, saya malah bisa menemukan banyak puisi saat ini yang ditulis ketika patah hati – tapi rasanya mungkin karena hati itu masih terselip selaksa rasa cinta di dalamnya.

Saya jelas-jelas bukan orang yang mendalami sastra, lebih jelas lagi bukan seorang sastrawan pun pujangga, saya hanya seseorang dengan antusiasme dalam mengerlip riang menengok jejeran sastra di nusantara.

Kali ini saya hendak berbagi sedikit tentang bahasa dalam sebuah puisi, ah…, tentu saja ini adalah sebuah opini yang empiris dan bukannya kebakuan dalam tata dunia sastra. Pengalaman saya mondar-mandir dan clingak-clinguk di bengkel sastra dulu memberi saya sedikit sudut pandang baru.

Puisi lama memiliki beberapa aturan baku, pengikat makna, sehingga sangat khas dalam ranah zaman itu. Jika kita membaca puisi lama, rasanya akan benar-benar kembali ke masa-masa itu lagi, di saat puisi itu mulai dituliskan.

Sedangkan puisi baru lebih bebas, bentuknya tidak terikat, tidak ada persajakan yang mengatur, bahkan mungkin terkesan seperti vandalisme terhadap gaya puisi lama. Kadang ini membuat para siswa yang menerima pelajaran bahasa Indonesia (karena kita tidak memiliki kurikulum sastra Indonesia yang independen), menganggap bahwa menulis puisi bisa sebebas-bebasnya.

Tentu saja pandangan ini tidak keliru, siapa sih yang melarang menulis puisi secara bebas. Namun dalam pembahasaan puisi tentu saja ada beberapa hal yang ditekankan, seperti penggunaan majas, kreativitas, keefektifan kata, keluwesan makna, serta kekuatan dan keutuhan rangkaian puisi itu sendiri – terdengar rumit, ah, mungkin itu hanya perasaan saja.

Jika demikian, bagaimana dengan sebuah contoh? Misalnya ketika Anda sedang bersedih dan berjalan terseok ke tepi sebuah ngarai dengan sungai jernih membentang di bawahnya, hutan-hutan pinus menghiasi lerengnya. Lalu bagaimana Anda menuangkan apa yang bercampur dalam apa yang Anda lihat & Anda rasakan ke dalam syair puisi?

Kaki berjalan lelah terseret di antara rangkaian pinus
Elok alam menemani hati yang sedang gundah di musim ini
Entah kenapa kesedihan ini masih ada dan begitu dalam
Adakah sungai yang akan menghanyutkannya seperti di dasar ngarai

Satu bait di atas adalah bagaimana kebanyakan puisi ditulis saat ini. Dan tentu saja masih ada yang lebih baik dalam mengungkapkannya. Lalu bagaimana jika tuangkan seperti bait berikut.

Terseret lelah celah-celah pinus pengharapan
Sebuah luka menukikkan air mata ke dasar ngarai
Jiwa melompat menyinggung musim
Terbawa angin pada kecupan sungai, terhanyut

Nah, kedua bait tersebut bisa dibilang sama-sama dibuat sebagai puisi, mengungkapkan hal yang sama. Tapi apa yang disebut puitis itu adalah hal yang sepenuhnya berbeda, jika tidak maka setiap susunan kalimat yang dipenggal baris akan bisa disebut puisi.

Apakah gaya bahasa yang puitis tampak rumit? Mungkin “ya”, dan saya rasa memang begitu bagi banyak orang, sehingga lebih banyak yang suka menulis sesuka hatinya kemudian melabeli bahwa itu adalah sebuah “puisi”.

Puisi yang memang untuk publisitas, saya rasa memang mesti komunikatif, dan dalam bahasa yang mudah dipahami, tapi bukan berarti bisa melunturkan pemahaman akan puisi itu sendiri. Tapi puisi-puisi yang memang berasal dari ledakan sebuah emosi – Anda bisa sebut itu “cinta” – tidaklah mesti komunikatif, kadang abstraktif, dengan majas “tingkat tinggi” bagi kita yang sulit membedahnya.

Mungkin mesti dipahami bahwa puisi merupakan bagian seni sastra yang menekankan pada estetika abstraksi dengan tidak melihat fungsi semantik dan silogisme bahasa secara utuh.

Seperti dalam dua contoh di atas, “Adakah sungai yang akan menghanyutkannya…” – baris ini terlalu logis, terlalu semantik, dan tidak estetik abstraktif. Saya sendiri tidak akan menyebutkan sebagai bahasa yang puitis. Bandingkan dengan baris “Terbawa angin pada kecupan sungai…”.

Tentu saja puisi tidak selalu mesti abstraktif, karena sering kali kekuatan puisi ada dalam kesederhanaannya. Namun kesederhanaan tidak berarti bisa menulis puisi secara sembarangan, pun juga dengan kebebasan dalam menulis puisi tidak berarti asal-asalan. Dan saya rasa semua orang bisa sesungguhnya, karena hermeneutika bahasa puisi bukanlah sesuatu yang rumit, serumit abstraksi puisi. Karena jika orang sudah mengerti esensi hermeneutika dalam sastra, maka semiotika sastra akan muncul dengan sendirinya dalam menulis puisi yang indah & sarat makna.

Nah, bagi Anda yang gemar menulis puisi di manapun itu, sudahkah Anda menulis puisi dengan baik?

  Copyright secured by Digiprove © 2010 Cahya Legawa

Antara Bahasa dan Sastra

Penggunaan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar memang tidak mudah, sebagaimana semalam saya dan narablog Dani Iswara berlomba membenahi tulisan lawas blog yang berisi kata ‘kesimpulan’ dan meralatnya dengan kata ‘simpulan’ – setelah berdiskusi dengan gelak tawa dan mencari beberapa rujukan yang menjelaskan hal ini – mana yang tepat antara penggunaan kata ‘simpulan’ atau ‘kesimpulan’.

Dari pandangan saya, rasanya kami tampak konyol. Namun itulah mungkin sedikit cerminan betapa bahasa Indonesia ternyata tidak sesederhana membalik telapak tangan untuk bisa diaplikasikan dengan tepat guna, baik dan benar. Namun daripada bahasa Indonesia yang tampak rumit, ternyata sastra Indonesia bisa dipandang memiliki kerumitan tersendiri. Apakah memang demikian?

Saya bukan orang sastra – pastinya – dan tidak memiliki pemahaman mendalam tentang sastra Indonesia. Namun saya rasa sastra Indonesia tidak begitu mendapatkan perhatian di negeri ini. Saya sedikit tidak sependapat jika mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di bangku sekolah digabung menjadi satu kesatuan – pun mereka memiliki dasar yang sama. Karena mungkin ini yang menyebabkan sastra Indonesia menjadi agak ‘terpinggirkan’.

Tentu saja hipotesis ini harus diuji terlebih dahulu. Misalnya dengan bertanya, selama 12 tahun di bangku sekolah – manakah yang lebih kita kuasai, bahasa atau sastra? Atau jika Anda diberikan satu buku mengenai Ejaan Yang Disempurnakan dan satu lagi buku mengenai Antologi Sastra Indonesia, yang manakah yang lebih mungkin untuk dimuat dalam buku pelajaran sekolah dalam bentuk sederhana? Ah, saya bukan pendidikan yang mengerti beban kurikulum lebih ke arah mana.

Menurut saya, sastra bisa menutupi kelemahan bahasa yang terkesan formal. Misalnya bahasa yang baik selalu menekankan penghindaran terciptanya makna yang ambigu pada sebuah baris pernyataan, sedangkan sebaliknya sastra bisa lepas dengan hadirnya multiinterpretasi yang tidak mengekang.

Sastra bisa memberikan, menghadirkan, memancing dan melahirkan celah-celah kreativitas dalam menulis dan mengungkapkan ide & pikiran. Sayangnya, ada banyak sekali rasanya beban, bagi dunia sastra di tanah air kita tercinta. Hal yang paling mudah diperhatikan adalah pengenalan sastra yang tidak mampu memancing minat para siswa atau pelajar, baik di tingkat sekolah dasar maupun sekolah lanjutan.

Bayangkan saja, baru masuk ke dalam kelas. Tiba-tiba halaman buku teks sudah menunjukkan bab awal “pujangga lama”, kemudian dalam sejam siswa berkutat dengan tokoh dan karya sastra pujangga lama termasuk di dalamnya sejarah melayu, hikayat, syair dan kitab. Seminggu ke dapan sudah melompat ke sastra melayu lama, padahal pelajaran tentang syair, pantun, hikayat, dan gurindam minggu lalu masih lebih tipis daripada angin di dalam kepala para siswa, kecuali mungkin ada siswa yang memang penggemar Hamzah Fansuri atau Syamsuddin Pasai misalnya. Jika tidak mereka harus bersiap memasuki era 1870 – 1942 untuk sastra melayu lama, tapi jika pembabarannya menarik, mungkin akan ada yang menukan karya-karya menarik, seperti terjemahan “Mengelilingi Bumi dalam 80 Hari” yang termasuk dalam era ini.

Pasca itu, ternyata masih ada lagi riwayat seputar karya sastra angkatan Balai Pustaka, Pujangga Baru, Angkatan 1945, dan angkatan-angkatan selanjutnya. Bahkan sebelum seorang siswa berhasil menyentuh sebuah puisi hingga ke relung-relungnya, pohon kesadarannya sudah terbebani oleh tumpukan sejarah sastra yang luar biasa – hingga ia tak bisa melihat lagi di mana puncaknya.

Pada akhirnya, pelajaran sastra mesti bercampur aduk dengan pelajaran bahasa Indonesia bak “Deru Campur Debu” – sebuah karya Chairil Anwar – yang saling tumpang tindih. Bayangkan…! Ah, saya sendiri sudah menyerah untuk membayangkannya.

Maka kemudian, hanya mereka yang berminat tentang sastra saja mungkin yang akan berkumpul dalam sebuah kelompok tertentu, entah dalam “bengkel sastra” atau “teater siswa” yang khas. Mungkin memang dunia pendidikan hanya sekadar pengenal saja, sedangkan untuk mendobrak gairah sastra dalam dunia pendidikan diperlukan lebih dari sekadar kurikulum standar.

Untuk menimbulkan gairah dalam dunia sastra, seseorang harus tertarik terlebih dahulu, dan guna menghadirkan ketertarikan maka barulah minat & gairah dapat berkembang. Namun saya rasa justru inilah bagian yang sulit, maksud saya – apakah harus dilakukan suatu promosi sastra agar orang-orang tertarik, atau mengampanyekan kembali sastra Indonesia. Apa bisa? Sementara generasi muda mungkin lebih tertarik dengan budaya ‘al4y’ yang lebih populer.

Ada banyak buku yang mengulas awal mula sastra, jenis sastra, dan berbagai teori sastra. Termasuk setapak yang akan membukakan pintu ke ranah kritik sastra, sebut saja sebagai contoh ‘Mozaik Sastra Indonesia’ oleh Faiz Manshur, atau ‘Kritik Sastra Indonesia Modern’ oleh Rachmat Djoko Pradopo. Pustaka-pustaka tentang sastra menyenangkan untuk dibaca – namun tentunya hanya bagi yang telah memiliki minat, bagi yang tidak bergairah bisa jadi kebalikannya. Anak muda zaman sekarang mungkin lebih baik memilih update facebook status ratusan kali dibandingkan membaca karya sastra sekali.

Walau bahasa sastra lebih fleksibel dibandingkan bahasa Indonesia yang baik dan benar, namun tetap saja kurang menarik minat banyak orang. Mungkin karena bahasa sastra tidak dianggap ‘gaul’, ‘nge-trend’ atau lain sebagainya, atau mungkin justru malah menjadi sesuatu yang pelik, terlalu rumit, atau bahasa tingkat tinggi yang tidak cocok bagi mereka.

Rasanya corak stereotype terhadap dunia sastra ini mesti dipudarkan terlebih dahulu, dan paradigma kental tentang pengajaran sastra yang standar berdasarkan kurikulum mungkin perlu dikaji ulang. Sastra sesuatu yang bebas, dan diperlukan kebebasan yang luar biasa untuk mampu mencintai sastra itu sendiri. Maka mungkin langkah awal yang baik untuk memasuki dunia sastra adalah membuang semua ilmu tentang sastra itu sendiri.

Saya salut dengan apa yang telah diupayakan balai sastra selama ini, melalui bengkel sastra untuk memperkenalkan dunia sastra kepada para pelajar. Keterlibatan sastrawan lokal dan nasional juga memberikan sentuhan yang berbeda, melihat & menyentuh sastra dari sudut pandang mereka yang sudah biasa bersanding dengan sastra dalam kesehariannya.

Seperti memperkenalkan keindahan sebuah tarian, jika saya yang sama sekali tidak bisa menari justru hanya berjingkrak aneh di depan seseorang dan mengatakan bahwa itu adalah tarian, bisa jadi ia malah antipati pada tarian. Namun jika ada yang bisa membawakan tarian dengan luwes dan indah, mungkin pandangannya terhadap tarian akan berubah sepenuhnya, dan mulai menyukai dunia tari.

Itulah mengapa, menurut hemat saya, sastra akan lebih ‘menggugah’ jika diperkenalkan langsung oleh mereka yang telah lama bergulat di dalamnya. Karena sastra bukan hanya sesuatu yang berbalut kaidah, namun juga tersimpul rapi di dalamnya setiap asa, cita & rasa. Sehingga demikianlah sebuah karya sastra dapat disebut sebagai karya seni.

Bahasa & sastra akan saling mengisi dalam perkembangannya kemudian, jika seseorang telah menemukan minat dan kesukaannya pada dunia sastra. Karena pada bagian yang ini, tidak ada sesuatu yang bisa dipaksakan lebih banyak lagi.