Membangun Mimpi

Saya tidak memiliki mimpi tertentu, tapi tentu saja pernah diajukan pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Bahkan dari sejak kecil mungkin, tapi sebenarnya apa yang menjadi mimpi seseorang itu?

Misal saat kecil saya sering ditanya, apa yang menjadi mimpi saya. Ketika masih berlari dengan kaki mungil ini, dengan napas yang memburu & tidak lebih tinggi untuk mampu menghempas pucuk-pucuk ilalang, maka angan kecil itu ingin segera melompat ke tempat yang tak terjamah oleh imajinasinya. Saya ingin jadi seorang astronom (atau astronot ya), kaki kecil saya ingin berlari di angkasa luas.

Setelah usia bertambah, dan imajinasimu menjadi sedikit lebih logis, maka saya tahu, bahwa berlari di angkasa lepas tidaklah sebebas berlari di permukaan bumi. Dan tidak ada alang-alang yang bisa disentuh sambil berlari.

Kemudian saya melihat bahwa ada sesuatu yang bisa membawa kaki yang berjalan ke tempat-tempat yang lebih liar dari imajinasi ini. Sesuatu yang penuh misteri dan menantang, tentu dengan alang-alang di mana-mana. Saya pun berkata, bahwa saya ingin menjadi arkeolog ketika ditanya apa mimpi saya.

Lihatlah, satu mimpi lahir setelah mimpi lainnya padam. Namun bukan berarti hidup berakhir dengan keterpurukan. Pada akhirnya saya pun tidak menjadi seorang arkeolog, tapi itu tidak berarti menghilangkan hobi saya berburu kulit kerang jika saya sempat mengunjungi pantai.

Saya bukan orang yang memiliki kemampuan membangun mimpi, namun saya orang yang memiliki kealamian dalam melahirkan mimpi. Saya tidak pernah mempertahankan mimpi saya, namun saya melihatnya berjalan bersama kehidupan di sisi saya, jika memang sudah saatnya padam, maka ia akan padam. Seperti kumpulan kunang-kunang di tepian savana pada malam hari, kita bisa melihat kelap-kelipnya silih berganti, mimpi walau hanya ilusi namun menghiasi kehidupan manusia yang penuh kegelapan.

I never build my dream, they just exist while I breath away.