Skip to content

Tag: Bali

Menyerta Pada Pilgub Bali Kali Ini

Pemilukada Bali 2013, pemilihan Gubernur Bali untuk periode 5 tahun mendatang dilaksanakan kemarin. Saya juga punya beberapa urusan di Bali, jadi sekalian mengikuti pilgub ini. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui.

Padahal saya sendiri sebenarnya tidak begitu suka urusan politik. Alasan pekerjaan saya kacau balau di lapangan, salah satunya karena sistem politik yang hanya sekadar mencari kuasa. Produk kesehatan gratis bagi masyarakat sudah menjadi bumerang di mana-mana, dan justru menurunkan kualitas kesehatan itu sendiri, tapi masih saja ada yang suka mengusung-usungnya ke mana-mana di saat kampanye. Continue reading Menyerta Pada Pilgub Bali Kali Ini

Kabar Bloody Valentine

Tulisan acara @baliblogger #bloodyvalentine ini seharusnya sudah dimuat pada akhir bulan lalu, namun kesibukan saya begitu menumpuknya. Sehingga tidak bisa berkutat sama sekali dengan blog, hanya sesekali berkicau di twitter. Pertengahan bulan lalu saya pulang ke Bali untuk mengurus beberapa administrasi seperti SKCK dan “kartu kuning”, ternyata mengendarai sepeda motor sejauh 200 Km cukup melelahkan – bisa cukup merasakan apa yang dirasakan pemudik setiap kali pulang kampung di atas roda dua.

Pada hari Minggu, 17 Februari yang lalu, saya juga menyempatkan diri mengikuti acara Bloody Valentine yang diadakan oleh komunitas Bali Blogger, sebuah acara sosial kegiatan donor darah yang akan disumbangkan pada para anak-anak penyandang kanker di Bali. Lama saya tidak mengikuti acara bersama komunitas, ini sangat menyenangkan. Continue reading Kabar Bloody Valentine

Problematika Balang Tamak

Hampir setiap anak yang tumbuh di Bali mengenal Pan Balang Tamak, baik hanya sekadar namanya maupun juga kisahnya. Dia adalah potret kecerdikan dalam banyak sisi, dan di sisi lain adalah dianggap sebagai sebuah bentuk kebobrokan yang selalu lari dari tanggung jawab sosial (baca: adat) di lingkungan tempatnya tinggal. Dalam pola pandang masyarakatnya, ia menjadi sosok yang tidak disuka, namun kecerdikannyalah yang pada akhirnya membuat masyarakat mengalah dan memujanya. Continue reading Problematika Balang Tamak

Adakah Ketakacuhan Ritual Menggrogoti Keseimbangan Alam?

Ini selalu menjadi pertanyaan saya, dan mungkin karena fakta-fakta itu ada di sekitar saya. Tradisi Hindu di Bali sangat kental dengan pelaksanaan ritual yang begitu beragam, begitu beragamnya – bahkan saya tidak dapat mengingat apa-apa saja bagian dari semua ritualitas tersebut. Ritual dala konsepnya, memiliki tujuan suatu bentuk turut menjaga keseimbangan seluruh unsur kehidupan, manusia, alam, dan spiritualitas. Hanya saja, saya menemukan sebuah pertanyaan yang mendasar yang bisa jadi mempertanyakan semua rangkaian tersebut. Continue reading Adakah Ketakacuhan Ritual Menggrogoti Keseimbangan Alam?

Kembang Sepatu

Siapa yang tidak tahu kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis), salah satu bunga yang cukup sering kita temukan di mana-mana. Namun mungkin sekarang sudah semakin jarang seiring banyaknya bangunan modern. Di desa saya dulu, dan termasuk rumah saya, kami memagari pekarangan tidak dengan tembok namun dengan menggunakan kembang sepatu – mereka dapat tumbuh lebat dan mudah diatur. Jika perawatannya bagus, justru akan tampak seperti pagar vila mewah.

Sehingga jamak banyak orang menggunakan kembang sepatu sebagai tanaman hias pembatas. Daunnya yang hijau pekat namun terang, memberikan kesan asri, dan bunganya yang indah – meski tidak harum – memberikan kesan kenyamanan yang meneduhkan. Continue reading Kembang Sepatu

Plumeria

Di tempat saya, genus plumeria dikenal dengan nama pohon kembang jepun, banyak digunakan sebagai hiasan pekarangan rumah, dan karena juga cukup sering digunakan sebagai bunga bagian dari persembahyangan, maka hampir selalu bisa ditemukan di tempat-tempat suci masyarakat Hindu. Di tempat lain si kembang kemboja ini (banyak orang sering terpleset mengatakan bunga kamboja) biasanya hanya ditanam di areal pemakaman karena kesan angkernya (mungkin).

Saya menyukai berbagai jenis plumeria, terutama yang menghasilkan warna putih cemerlang, apalagi aroma harum yang dihasilkan – bisa menjadi alternartif aroma terapi modern tersendiri. Apalagi plumeria cukup mudah tumbuh di iklim kita, kadang hanya ditancapkan pada lingkungan yang tepat, maka batangnya tumbuh dengan sendirinya. Continue reading Plumeria

Melasti Dalam Hikayat

Pagi tadi saya mengikuti rangkaian Upacara Melasti bersama warga Desa Beringkit, sudah cukup lama saya tidak mengikuti kegiatan seperti ini. Melasti merupakan salah satu rangkaian Hari Raya Nyepi, di Bali dilakukan biasanya dua hari menjelang Nyepi, namun di tempat lain menyesuaikan, karena biasanya tidak libur khusus untuk kegiatan ini.

Secara ritual, Upacara Melasti melibatkan para umat yang mengiring benda-benda yang disucikan di Pura masing-masing (disebut Pratima) menuju laut (baca: segara) untuk dibersihkan kembali. Namun karena saya tidak terlalu memiliki ketertarikan, jadi detil ritualnya tidak pernah saya ketahui. Continue reading Melasti Dalam Hikayat

Spring Project: Arunametta

Jadi apa yang saya lakukan pada tanggal 29 Februari ini? Saya hampir melupakan sesuatu yaitu membuat proyek informasi teknologi. Biasanya setiap akhir tahun saya membuat sebuah “winter project“, dan yang terakhir adalah Manvahana – hanya saja akhir tahun yang lalu benar-benar terlewatkan karena kesibukan yang tidak bisa dihindarkan.

Saya tidak ingin sesuatu yang berakhir kacau seperti “summer project” tahun lalu Likhita Mandala yang sampai sekarang terbengkalai. Nah kali ini saya menggarap sebuah “spring project” yang cukup serius (semoga). Sebuah online shop yang menggabungkan keunggulan WordPress dan Dwarapala. Saya menamakannya “Arunametta” – yang bermakna “pelaju mentari kebahagiaan“. Continue reading Spring Project: Arunametta

Menghadiri Mahasabha Pasemetonan Sri Karang Buncing

Pagi ini saya berkesempatan mewakili menghadiri mahasabha (rapat besar) pasemetonan (persaudaraan) Sri Karang Buncing bertempat di Balai Budaya Gianyar. Kali ini yang diangkat sebagai topik utama adalah kepanutan akan tokoh Kebo Iwo (Kebo Mayura) yang berada pada silsilah Karang Buncing. Jika menelusuri kembali dinasti raja-raja Bali kuno, maka Kebo Iwo adalah salah satu tokoh sentral sebagai mahapatih raja Bali pada masa itu. Mahapatih Majapahit pada masa itu, Gadjah Mada, tidak dapat menaklukan Bali sebelum membunuh Kebo Iwo di tanah Jawa dengan siasatnya. Konon Kebo Iwo telah tahu bahwa dirinya akan terbunuh oleh siasat Gadjah Mada sebelum berangkat ke Majapahit, namun untuk kesetiaan pada rajanya, dia tetap berangkat.

Continue reading Menghadiri Mahasabha Pasemetonan Sri Karang Buncing

By continuing to use the site, you agree to the use of cookies. more information

The cookie settings on this website are set to "allow cookies" to give you the best browsing experience possible. If you continue to use this website without changing your cookie settings or you click "Accept" below then you are consenting to this.

Close