Kemanusiaan Di Seputar Kemajemukan

Dulu, seorang sastrawan tua datang pada kami, dan di antara kata-katanya terucap – bahwa setiap orang (baca: siswa) yang berdiri di hadapannya ketika itu, berhak bermimpi menjadi apapun di masa depan, dan silakan menjadi seperti yang diinginkan, entah itu mulai dari kepala negara/daerah hingga menjadi preman jalanan sekali pun, asal jangan lupa untuk tetap menjadi manusia.

Ya, manusia bisa menjadi apapun, mengambil peran sebagai apapun, bertindak dan berpikir seperti apapun, namun selayaknya semua itu tidak membuatnya berhenti untuk menjadi manusia. Dan tentu saja seorang manusia dalam makna yang sesungguhnya. Continue reading

Pil Pahit Di Sudut Jalanan

Beberapa waktu yang lalu, salah seorang kolega-ku menulis dalam status jejaring sosial facebook, bahwa dia merasa sangat iba melihat para gepeng di perempatan jalan yang sering ia lalui, apalagi para anak-anak, dan ibu-ibu yang menggendong bayi atau balitanya. Pemandangan seperti itu sungguh menyayat hati.

Berpakaian lusuh, dengan wajah yang kumuh. Tangan yang menengadah ke atas guna meminta-minta. Bayi-bayi dalam gendongan yang terlelap seakan telah terbiasa dengan panasnya sengat matahari siang, atau aroma asap serta kebisingan kendaraan di perempatan jalan besar. Bayi-bayi yangbegitu tidak berdaya tanpa setitik pun kekhawatiran, justru sebaliknya menimbulkan kekhawatiran bagi yang menyaksikan pemandangan itu. Atau pemandangan para lansia yang begitu kurus seakan kematian bisa saja segera tiba pada mereka, namun wajahnya mereka menunjukkan ekspresi yang beragam, beberapa tampak pasrah, beberapa masih dengan sedikit sinar pengharapan, tampak sesekali semburat senyum di wajah tua yang penuh kerut itu ketika menerima uluran recah dari mereka yang peduli. Pemandangan ini selalu begitu menyakitkan, namun entah mengapa lama kelamaan seakan-akan semua itu menjadi sesuatu yang sambil lalu dan kewajaran bagi kita semua.

Aku tak pernah tahu berapa yang mampu mereka dapatkan dalam seharinya, cukupkah itu bagi sesuap nasi sebagaimana yang selalu mereka gunakan sebagai alasan peminta-pinta. Namun beberapa hal lain justru hadir sebagai sebuah pertimbangan bagi kita semua.

Aku tidak yakin, namun dapat mengingat beberapa hal yang kusaksikan dalam sebuah acara televisi beberapa tahun yang lalu. Seorang peminta-pinta (gepeng) bisa jadi mendapatkan uang senilai puluhan hingga ratusan ribu rupiah per harinya, beberapa di antara mereka telah menjadikannya sebagai profesi, mereka yang mengenal tempat yang strategis dan cara yang jitu bisa memperoleh penghasilan lebih banyak dari gepeng lainnya. Adakah gepeng menjadi sebuah profesi bagi mereka? Jika iya, tidak heran bahwa walau berulang kali dipulangkan ke kampung halaman oleh pihak berwajib melalui penertiban sosial, gepeng yang sama berulang kali datang ke tempat yang sama. Ini justru semakin menyedihkan bagi kita semua.

Hal kedua yang menjadi pertimbangan adalah beberapa di antara para gepeng justru merupakan sumber daya potensial dalam dunia kerja. Aku tidak ingin membahas apakah cukup atau tidaknya lapangnya kerja di negeri ini, namun marilah kita menengok ke dalam keseharian mereka. Beberapa di antaranya cukup muda dan cukup kuat untuk bekerja, bahkan tampak jauh lebih sehat daripada diriku sendiri. Salah seorang sahabat dekatku, dan beberapa yang lain tidak pernah bersedia mengulurkan receh bagi gepeng seperti ini, mereka lebih bepedulian pada lansia yang tampaknya sudah tidak dapat bekerja untuk menyambung hidup kecuali dari bantuan orang lain. Dan sebagian dari gepeng-gepeng yang “potensial” ini pastilah sudah mengetahui tentang yayasan-yasanan dan panti sosial baik milik pemerintah atau pun swasta yang bersedia menampung dan melatih mereka untuk sebuah keterampilan, sedemikian hingga mereka dapat diterima di dunia kerja. Mengapa aku sampaikan mereka pasti tahu, karena seharusnya setiap penjaringan sosial yang dilakukan oleh pihak berwajib, pastilah selalu mendapatkan pengarahan tentang hal ini. Dan mereka sepertinya lebih tertarik kembali menjadi gepeng setelah pengarahan itu daripada mencoba melatih diri. Apakah kita tengah membuang receh kita sia-sia bagi mereka yang malas?

Hal ketiga adalah, walau tak dapat kupastikan namun kita tak pernah tahu ke mana uang-uang itu mengalir. Apakah mereka sungguh menggunakannya untuk sesuap nasi? Jangan heran aku bertanya seperti ini, bukan berarti aku meragukan ketidakmampuan dan ketidakberdayaan mereka sebagai suatu kepalsuan. Apakah Anda pernah melihat gepeng di perempatan jalan meminum minuman kaleng dari merk terkenal, atau anak-anak yang mencicipi eskrim berkelas? Yang bahkan sedikit dari makanan enak itu kita sendiri akan pertimbangkan untuk membeli saat keadaan normal, apalagi saat kondisi kesusahan. Kita tak pernah tahu, apakah orang-orang tua yang kita serahkan receh atau si anak-anak bisa menggunakan sesuai yang kita berikan. Belum lagi ditambah isu mafia yang bergerak di balik para gepeng ini.

Aku masih teringat saat gempa di Yogyakarta beberapa tahun yang lalu, bumi Bantul porak poranda. Banyak warga yang tidak memiliki apa-apa lagi, baik harta maupun persedian pangan mereka. Melihat situasi yang darurat ini, maka banyak elemen masyarakat dan pemerintah bergerak bersama-sama guna memberikan bantuan. Aku sempat mendengar dari para warga sekitar dan para anggota NGO yang saat itu aku turut serta di dalamnya. Beberapa saat setalah gempa, banyak truk bermuatan orang-orang berpenampilan seperti masyarakat di sana diturunkan di berbagai titik. Mereka-lah yang kemudian “menyamar” menjadi masyarakat sekitar dan mencegat bantuan-bantuan kemanusian bagi masyarakat yang sebenarnya memerlukan. Mungkin hal ini dapat berlangsung mulus karena pada kondisi genting seperti itu, koordinasi antara tiap elemen yang memberi bantuan tidak berjalan baik sepenuhnya. Nah, siapakah yang bersedia mengerahkan truk, dan dari mana semua orang yang menyamar ini? Ah…, mungkin itu benar-mungkin itu tidak. Namun bagi kitalah untuk mempertimbangkannya.

Ada cerita lain lagi yang merupakan pengalaman pribadiku. Saat itu aku sedang parkir di depan sebuah swalayan kecil guna membeli perlengkapan sehari-hari, hari itu masih pagi dan swalayan itu tampaknya baru saja buka. Setelah selesai berbelanja, aku keluar dan menemukan seorang tukar parkir yang sudah berdiri di samping sepeda motorku, walau itu bukan tukang parkir yang biasa ada di sana. Aku pun menyerahkan lembar uang seribu padanya, namun aku sangat kaget, bukannya membantu mengeluarkan sepeda motor dia malah nyelonong pergi begitu saya. Dan di sana aku tahu, dia bukanlah tukang pakir di situ. Beberapa saat kemudian aku melihatnya kembali saat di jalan aku berkendara, seorang bapak separuh baya berlenggang santai dengan menghisap sebatang rokok berfilter sembari acuh saat aku memandang ke arahnya. Aku merasakan kondisi masyarakat yang begitu memperihatinkan.

Keempat guna menjadi pertimbangan adalah, adakah kita membantu menyelesaikan mengatasi masalah mereka ataukah justru menambahnya? Jika kita mengelurkan receh bagi mereka, mereka akan terbantu – untuk sementara waktu, namun bagaimana selanjutnya? Mereka akan selalu seperti itu, mungkin mereka tak akan memikirkan bagaimana mereka dapat menghidupi dirinya, namun bagaimana cara untuk mendapatkan beberapa receh lagi esok hari. Karena ini seakan-akan menjadi pekerjaan mereka, menjadi jalan hidup bagi mereka. Jika mereka sudah mampu untuk hidup dari apa yang mereka lakukan sekarang, mengapa mereka perlu mencari kerja lagi, mungkin demikianlah pandangan mereka. Celakanya, ini seperti penyakit menular, seperti stasiun televisi yang berlomba-lomba membuat tayangan sejenis yang sedang naik daun. Makin banyak orang yang ikut menjadi gepeng, dan anak-anak yang lahir dan/atau tumbuh di lingkungan para gepeng sebagai gepeng juga, mereka akan ikut seperti itu di kemudian hari dan demikianlah mata rantai ini terus berlanjut. Sehingga dapat kusampaikan bahwa kita ketika mengulurkan receh pada mereka, kita telah turut berperan menjadikan hidup mereka seperti itu.

Apa yang dapat kita lakukan?

Kita mungkin tidak tega untuk tidak mengulurkan mereka ketika kita berhadapan sendiri dengan situasi tersebut. Ketika kita melihat ketidakberdayaan itu di hadapan ketika di luar fakta apakah kondisi itu adalah keadaan yang sesungguhnya ataukah rekayasa. Hati kita bisa jadi luluh, apalagi dengan adanya pertimbangan norma agama dan kemanusiaan untuk selalu membantu mereka yang tidak mampu dan kesusahan. Tidak memberikan sesuatu yang mereka sampaikan dengan bahasa mereka bahwa mereka amat memerlukan sesuatu itu, tentu akan memberikan rasa yang sangat tidak enak bagi kita.

Namun, aku tidak melihat jalan lain untuk memutus rantai dari penyakit yang menular ini kecuali memotong sumber yang menghidupinya, yaitu uluran tangan para pemberi receh di jalanan, yang adalah kita sendiri. Kita harus bersedia untuk berhenti memberikan receh jika menyadari bahwa itu akan tidak akan memperbaiki keadaan mereka dan justru menambah buruk situasi dalam tatanan sosial kita.

Kita harus rela menelan pil pahit dari perasaan tidak mengenakan dengan tidak membantu para gepeng, dengan tidak menyerahkan receh atau uang pada mereka yang mengulurkan tangan. Dan percayalah, jika Anda sungguh-sungguh mengerti hal ini, pil ini akan selalu terasa pahit setiap kali kita menelannya, tidak akan berubah menjadi hambar atau manis, karena kita berbagi rasa yang sama pada setiap masyarakat pada setiap manusia. Kita harus bersedia menelan pil pahit ini guna menyembuhkan masyarakat.

Namun bagaimana bila kita tidak sanggup. Nah…, kita semua adalah orang-orang yang belajar menjadi dewasa. Ketidaksanggupan tidak mengakhiri segalanya. Namun menyadari konsekuensi bahwa dengan memberikan receh pada gepeng itu tidak menyelesaikan masalah, maka kita juga turut bertanggung jawab atas ketidakberdayaan mereka. Dan jika kita belajar menjadi dewasa, maka tanggung jawab itu akan ada pada kita semua.

Jika kita memang hendak membantu mereka. Sebagaimana juga dianjurkan oleh lembaga-lembaga internasional, nasional mapun lokal. Sumbangkan receh kita melalui yayasan, panti dan lembaga sosial yang resmi yang berperan dalam menampung para gepeng dan memberikan mereka bekal keterampilan guna memasuki dunia kerja.

Jika Anda berpandangan sama dengan saya, sebarkanlah pesan ini pada dunia. Negeri ini telah 64 tahun merdeka, namun kita pun harus tetap membantu memperbaiki beberapa sisinya, dan ini adalah peran kita semua.

Selamat Jalan Sastrawan Burung Merak

Aku masih saat membaca sebuah artikel berikut:

Willibrordus Surendra Broto Rendra (lahir di Solo, Jawa Tengah, 7 November 1935 – wafat di Jakarta, 6 Agustus 2009 pada umur 73 tahun) adalah penyair ternama yang kerap dijuluki sebagai “Burung Merak”. Ia mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta pada tahun 1967 dan juga Bengkel Teater Rendra di Depok. Semenjak masa kuliah beliau sudah aktif menulis cerpen dan esai di berbagai majalah.”

Ya, itu adalah sebuah artikel di Wikipedia tentang WS Rendra si Sastrawan Burung Merak.

Pagi ini aku cukup terkaget oleh berita kepergiaannya, cukup mengagetkan setelah beberapa hari yang lalu juga dikagetkan oleh berita lelayu dari sahabat karibnya, Mbah Surip.

Walau aku tidak banyak mengenalnya, namun tulisan-tulisannya cukup banyak dan acap kali kujumpai ketika masih bergulat dengan bidang sastra selama duduk di bangku sekolah dulu. Aku masih ingat sangat kental saat memerankan seorang tokoh pendamping Maria dalam teatrikal Maria Zaitun karya Rendra, walau aku sama sekali tidak berbakat dalam dunia peran, namun udara dingin pegunungan di Baturiti saat tidak membuatku merasa tambah bergetar. Bersama dengan kawan-kawan dari Bengkel Sastra daerah, dan beberapa senior sastrawan seperti Tan Lio Ie, kami sungguh bisa menikmati suasana.

Sastra menjadi pekat dan kental di tangan mereka yang menggelutinya, namun ringan dan penuh gairah kehidupan bagi mereka yang mencitanya. Setidaknya demikianlah yang kukenal bersama tulisan Rendra dan sastrawan lainnya.

Warisannya kepada mereka yang mencintai sastra akan selalu menjadi permata yang tak pudar. Selamat jalan Rendra.

Tag Technorati: {grup-tag}Sastra,Sastrawan,W.S. Rendra.

Pangrupukan: Menyambut Nyepi 1931 Saka

Sehari sebelum pelaksanaan Hari Raya Nyepi di Bali, umum dilakukan pelaksanaan kegiatan Pangrupukan, secara tradisional dilakukan pengarakan ogoh-ogoh (suatu model raksasa ukuran besar) dengan berbagai variasi di desa-desa, umumnya setiap banjar (pembagian area yang lebih kecil dari desa) akan setidaknya terdapat satu buah ogoh-ogoh.

Ogoh-ogoh secara sekala, merupakan cerminan sifat-sifat negatif pada diri manusia: adharma svarupa; sehingga pengarakannya berbagai lokasi di sekitar banjar atau desa, yang melewati jalan-jalan utama sehingga tampak oleh semua warga banjar, memiliki suatu makna tersendiri. Kehidupan selalu memiliki elemen yang positif maupun negatif, hal ini selalu ada di dalam diri manusia, dan jika kita bijaksana untuk bersedia melihatnya, kita tidak akan menyangkalnya. Ogoh-ogoh yang dibangun bersama secara swadaya oleh masyarakat banjar, secara implisit, memberikan ide bagi kita semua untuk bersedia melihat sifat-sifat negatif dalam diri kita, dan menjadi terbuka akannya, bahwa hal itu bukanlah hal yang harus ditakuti, namun untuk kita lihat dan amati bersama, sehingga kita dapat memahaminya. Tradisi ini mengingatkan masyarakat Bali khususnya, bahwa beban yang mereka gendong adalah sebuah sifat negatif, seperti cerminan sifat-sifat raksasa, ketika manusia menyadari hal ini, mereka tidak akan menahan elemen-elemen ini sendirinya, dan membiarkan elemen ini menjadi tiada seperti abu dan debu yang tertiup angin. Sehingga biasanya, secara tradisional, di akhir pengarakan ogoh-ogoh, masyarakat akan membakar figur raksasa ini, boleh jadi dikatakan membakar (membiarkan terbakar habis) sifat-sifat yang seperti si raksasa.

Ketika semua beban akan sifat-sifat negatif yang selama ini mengambil (memboroskan) begitu banyak energi kehidupan seseorang, maka seseorang akan siap memulai sebuah saat yang baru, ketika segalanya menjadi hening, masyarakat diajak untuk siap memasuki dan memaknai Nyepi dengan sebuah daya hidup yang sepenuhnya baru dan berharap menemukan makna kehidupan yang sesungguhnya bagi dirinya dan segenap semesta.

Walau kini budaya pangrupukan ini memberi beberapa dampak positif di masyarakat seperti menjadi hiburan tersendiri, menarik banyak minat wisatawan karena keunikannya; namun juga menghadirkan beberapa dampak yang kurang diharapkan seperti pertikaian baik kecil maupun besar antara warga (khususnya kaum pemuda) akan hal-hal yang secara personal tidak terkait dengan pemaknaan pangrupukan sendiri; Anda dapat bayangkan kelompok warga yang tumpah ruah ke jalan-jalan menyaksikan arak-arakan yang ada dari desa ke desa hampir di seluruh Bali, tentu bisa menjadi tempat muncul sentimen-sentimen personal lama ke permukaan, sehingga sejak lama paruman bendesa (permufakatan para pemuka daerah) atau sejenisnya sepakat untuk merayakan Nyepi (dan Pangrupukan) tanpa ogoh-ogoh. Terlepas dari apa-apa yang menjadi problematika berbagai sisi mengenai hal-hal tersebut, namun semoga perayaan Nyepi tahun ini dapat berjalan dengan baik.

Sebuah tulisan untuk renungan Nyepi kali ini dapat ditemukan di sini, Rahajeng nyanggra rahina penyepian 1931 Saka.

Pemburu Batu Pulasan Laut

Liburan yang lalu saya ketika mengantar ibu untuk melihat kegiatan posyandu terpadu (dalam hal ini melibatkan kesehatan ibu hamil, anak dan manula), mungkin acara itu berakhir dengan baik, saya juga sempat “tanpa sengaja” mendengar bahwa pemda tidak sedikit memberikan anggaran agar acara ini dapat terselenggara dengan baik. Ada acara balita sehat, pemeriksaan rutin ibu hamil, dan senam manula, serta pengadaan makanan bergizi yang dilakukan pihak puskesmas dibantu oleh ibu-ibu anggota PKK. Lokasinya berada di Desa Cukcukan, yang merupakan salah satu desa tepian pantai di Kecamatan Gianyar. Yang aneh, mungkin karena tidak terbiasa mendengar, adalah sebuah celetuk yang tak sengaja tertangkap oleh pendengaran saya. Karena acara ini merupakan rangkaian penutupan, para manula tampak tertawa senang ketika salah satu dari mereka berkata, “Yah…, sekarang bisa mencari batu lagi”.

Saat itu saya belum memahami, apakah yang mereka perbincangkan, hingga hari di mana saya mengantarkan ibu ke acara perpisahan akhir tahun Dinkes Kab. Gianyar di Pantai Masceti, bersebelahan dengan lokasi desa yang saya sampaikan sebelumnya. Pagi itu antara pukul 8 dan 9, saya bersiap dengan Kodak EasyShare di tangan, sesuai dengan instruksi untuk mengambil setiap momen yang unik dan menarik. Langkah kaki saya tak sengaja membawa menuju pinggiran pantai yang lebih rendah dari batasan yang telah ditinggikan dengan bentangan tembok beton (abrasi di daerah ini juga cukup terkenal ganas). Aku cukup terkejut melihat jejeran manusia usia setengah baya ke atas saling tumpang tindih bayangannya di hantam mentari pagi, sepanjang pantai yang tak cukup panjang itu, puluhan dari mereka berjongkok seakan seperti anak-anak yang sedang asyik bermain-main dengan pasir.

Tampak tangan-tangan yang telah cekatan mengambil batu-batu hitam oval mengkilap dengan cepat dan memasukkannya ke ember-ember sedang, bergerak perlahan dalam hembusan angin yang tak kenal henti, membawa serta bulir air yang telah pecah oleh ombak yang menghempaskannya ke pinggiran pantai. Tampaknya mereka mengumpulkan batu-batu itu untuk dijual, karena batu-batu yang telah rapi itu oleh penghalusan secara alami di antara arus ombak dan pasir bisa berarti tambahan ekonomi bagi keluarga. Aku melihat tampaknya mereka begitu tenggelam tidak oleh lautan, namun oleh apa yang diberikan lautan sehingga mereka dapat hidup, bukan dari apa yang hidup di lautan, namun bentuk kehidupan yang lebih diam dan lebih terbentuklah yang diberikan.

Hmm…, aku berpikir…, mungkin daripada senam setiap pagi, aku kini mengerti jika mereka lebih menyukai mencari batu pulasan laut ini, karena mereka dapat hidup olehnya.