Arsip Penanda: cinta

Bahasa Bunga Mawar

Tidak perlu diper­tanyakan lagi bahwa saya bukan tipe orang yang roman­tis. Tapi setidak­nya saya tahu jika seseorang mem­berikan saya hadiah setang­kai atau beberapa tang­kai bunga, ada mak­sud apa di balik­nya. Bukan artinya mak­sud yang ter­selubung, namun kata-kata apa yang tidak ia bisa sam­paikan hingga harus hadir melalui bunga-bunga. Anda mung­kin sering men­dengar bahwa mawar adalah

Percakapan Si Bodoh (Bag. III)

Saat itu per­tengahan musim gugur, sore dengan suhu udara dan kelem­baban yang seakan ber­saing menuju tangga ter­bawah, matahari tam­pak mening­galkan sing­gasana keemasan­nya nan jauh di Barat Daya. Daun maple pun sudah tidak lagi menyisakan kecerahan di awal musim. Dua orang pemuda sedang ber­jalan menyusuri trotoar kecil di kota kecil mereka. Pemuda per­tama ber­badan lebih tinggi dan

Cinta Tak Pernah Menyesuaikan

Anda mung­kin mem­per­lakukan ber­bin­cangan yang telah ber­lang­sung di antara kita seba­gai sebuah per­tukaran ide-ide, seba­gai suatu proses penerimaan ide-ide baru dan melepaskan ide-ide yang lama, atau seba­gai proses menolak ide-ide baru dan tetap mem­per­tahankan ide-ide yang lama. Kita tidaklah ber­urusan dengan ide-ide sama sekali. Kita ber­hadapan dengan fakta-fakta. Dan ketika seseorang mem­per­hatikan fakta, maka di

7 Untai Awan Kosong

Bait yang tak per­nah ada dasar asa ter­liar sekali pun Ber­jingk­rak riang bak cahaya tajam di kelebatan sukma Turun senja meng­uak muram sirna semua 7 untai awan seren­tak bisu dalam kosong Suka, duka, tawa, sedih, yang hen­dak menyong­song Remuk redam ber­sama ruang waktu menyisakan hampa Baru cinta dapat tum­buh dan meng­isi dalam nada napas kebebasan

Pelajaran Dari Siwa

Melan­jutkan kem­bali edisi tulisan ber­judul “Paid Bang­kung” sebelum­nya, saya telah menerima ber­agam masukkan dari ber­ba­gai suara. Tidak semua orang sepan­dang dengan saya, dan itu pun adalah kewajaran di dunia ini. Setiap mata bisa melihat hal yang ber­beda ter­gan­tung sudut pan­dang­nya, jika batas-batas sudut pan­dang tidak dibong­kar, maka sekat-sekat itu masih ada. Ah…, tapi sudah­lah, bukan

Sebuah Dialog Dengan Sang Diri

Malam ini seorang sahabat baik meminta saya meng­irimkan ter­jemahan “A Dialogue with Oneself” oleh Jiddu Krish­namurti. Mung­kin juga sudah cukup lama saya tidak lagi mem­buka lembar-lembar karya Jiddu Krish­namurti, namun saya menyim­pan­nya dengan baik dalam beberapa map ber­kas khusus, sehingga saya dengan cepat dapat menemukan­nya kem­bali. Saya pun sudah meng­irim­kan­nya via surat elek­tronik. Tulisan ini

Tiada Jembatan antara Cinta?

Mereka meng­atakan bahwa dunia dihiasi oleh ber­macam hal yang indah, dikaruniai dengan pel­ba­gai sum­ber kehidupan, dan manusia telah ber­man­dikan cahaya yang berwarna-warni dari pelangi kehidupan itu sen­diri, sedemikian hingga dalam per­jalanan­nya, ia mampu meng­ung­kap apa itu cinta. Namun di antara banyak kisah, banyak yang ter­lepas dan menim­bulkan relung yang ter­lalu dalam dan lebar dalam jang­kauan keter­batasan

If Love… There’s just Love

Sering kali para sahabatku bertanya-tanya, ketika saat kepaniteraan utamanya, per­tanyaan­nya yang biasa, “Kamu sudah nikah ya?” Awal­nya aku selalu bingung dengan per­tanyaan itu, namun tak perlu lama untuk meng­etahuinya meng­apa. Tentu saja, dengan cin­cin yang ada di salah satu jariku ~ yang notabene tidak umum ~ pertanyaan-pertanyaan seperti itu akan sangat mudah untuk dilayangkan. Dan

Love or Loved?

Aku baru saja meng­habiskan banyak waktu untuk ber­bin­cang dengan seorang sahabat lama, per­cakapan kami dimuali dengan per­tanyaan yang kurang lebih ber­isikan pilihan, sean­dainya dihadapkan antara memilih ber­sama orang yang kita cin­tai atau ber­sama orang yang men­cin­tai kita, sing­kat kata, bahasa umum­nya adalah memilih dicin­tai atau men­cin­tai? Ten­tunya dalam hal ini adalah hubungan antar dua manusia,