Jadi Pembicara Dadakan

Awal pekan yang lalu saya menerima tawaran menjadi pembicara dalam sebuah acara bincang-bincang seputar kesehatan, donor darah dan religi yang diadakan oleh adik-adik dari KMHD UGM. Setelah saya pastikan tidak ada jadwal lain yang berbenturan, maka saya pun menyanggupinya. Materi yang saya bagikan mengambil judul, “Donor Darah dalam Pandangan Hindu”, saya usahakan berada dalam tema yang bisa diterima oleh umum.

Jika saya mengingat kembali – zaman mahasiswa tempo dulu, saya mungkin akan menolak tawaran seperti ini. Tapi ketika saya merasa sudah tidak lagi memiliki “kemewahan” seorang mahasiswa, maka saya memilih melawan kemalasan saya untuk tetap bisa berbagi dari sedikit yang saya miliki. Saya sendiri heran, kok bisanya saya duduk tenang di kursi pembicara, padahal narasumber lainnya adalah dosen saya sendiri, seorang guru besar di bidang kedokteran dan obat-obatan herbal. Continue reading

Adakah Ketakacuhan Ritual Menggrogoti Keseimbangan Alam?

Ini selalu menjadi pertanyaan saya, dan mungkin karena fakta-fakta itu ada di sekitar saya. Tradisi Hindu di Bali sangat kental dengan pelaksanaan ritual yang begitu beragam, begitu beragamnya – bahkan saya tidak dapat mengingat apa-apa saja bagian dari semua ritualitas tersebut. Ritual dala konsepnya, memiliki tujuan suatu bentuk turut menjaga keseimbangan seluruh unsur kehidupan, manusia, alam, dan spiritualitas. Hanya saja, saya menemukan sebuah pertanyaan yang mendasar yang bisa jadi mempertanyakan semua rangkaian tersebut. Continue reading

Logika atau Kepercayaan?

Ketika saya mulai mendesain ruang kecil ini, saya memahami bahwa mungkin akan muncul perdebatan ke depannya. Namun bukan itu yang ingin ditampilkan lebih banyak. Dalam ranah masyarakat Hindu, setiap orang bebas menemukan jalan menuju pada kebenaran yang hakiki. Apakah melalui jalan kepercayaan sebagai seorang bhakta, jalan pengetahuan dan kebijaksanaan seorang jnanin, jalan ketulusan seorang karmin, atau kultivasi sang diri seorang yogi. Continue reading

Ramayana Dalam Sentuhan Modern

Ramayana adalah epos yang begitu tua, jauh lebih tua daripada Mahabharata, dalam ribuan tahun usianya dan penyebarannya dalam kerajaan-kerajaan tempo dulu di seluruh dunia, kita memiliki banyak versi kisah Ramayana yang beragam, termasuk di nusantara dalam Kekawin Ramayana. Demikian juga telah diangkat dan menjadi inspirasi banyak karya seni di seluruh dunia. Di nusantara misalnya menjadi relief Candi Prambanan, sendratari Ramayana, atau bahkan tari Kecak di Bali.

Saya tidak tahu saat ini, namun saat saya kecil dan masa-masa sebelum itu, Ramayana sudah menjadi bagian dari tradisi bercerita orang tua, seperti kakek dan nenek kepada cucu-cucunya. Dan di luar menjadi sebuah ekspresi seni yang mengalirkan nilai filosofis di dalamnya. Continue reading

Melasti Dalam Hikayat

Pagi tadi saya mengikuti rangkaian Upacara Melasti bersama warga Desa Beringkit, sudah cukup lama saya tidak mengikuti kegiatan seperti ini. Melasti merupakan salah satu rangkaian Hari Raya Nyepi, di Bali dilakukan biasanya dua hari menjelang Nyepi, namun di tempat lain menyesuaikan, karena biasanya tidak libur khusus untuk kegiatan ini.

Secara ritual, Upacara Melasti melibatkan para umat yang mengiring benda-benda yang disucikan di Pura masing-masing (disebut Pratima) menuju laut (baca: segara) untuk dibersihkan kembali. Namun karena saya tidak terlalu memiliki ketertarikan, jadi detil ritualnya tidak pernah saya ketahui. Continue reading