Dokter dan Stres

Terutama di rumah sakit, tingkat stres dokter relatif tinggi. Anda mungkin tidak merasakannya kecuali menjadi dokter itu sendiri. Dan seperti profesi lainnya yang memiliki beban mental yang tinggi, maka profesi kalangan medis memiliki beban psikologis yang juga tinggi. Saking tingginya, tidak jarang menimbulkan kasus bunuh diri. Saya tidak tahu data pastinya di Indonesia, tapi di Amerika sendiri setiap tahun sekitar 400 dokter bunuh diri – setara seluruh mahasiswa kedokteran yang diterima dalam setahun oleh sebuah fakultas kedokteran yang cukup besar. Jika dalam angkatan saya hanya ada 150-200 orang mahasiswa baru, maka perlu dua tahun untuk mencentak jumlah dokter yang bunuh diri dalam setahun di kasus tersebut.

Bulan ini ada perbincangan di forum antara para dokter di Internet menyoroti kesejahteraan para dokter. Perkiraan bahwa sekitar 70% dokter di nusantara masih hidup di bawah garis kesejahteraan (bukan garis kemiskinan tentunya), bukan dilihat dari mereka yang bekerja di kota-kota sehingga berkesempatan meningkatkan taraf hidupnya, namun juga yang tersebar di pelbagai plosok negeri ini. Continue reading

Orang Miskin Dilarang Sakit?

Siapa yang tidak pernah dengan slogan kritikan sosial bahwa “orang miskin dilarang sakit?” – Saya rasa kita semua pernah mendengarnya. Tidak dipungkiri lagi bahwa akses kesehatan di negeri ini masih cukup mahal, apalagi bagi mereka yang kurang mampu – karena saya sendiri, jika sedang sakit, merasakan betapa mahalnya akses kesehatan itu. Sedemikian hingga, meskipun di balik tubuh saya yang memang lemah sejak kecil, saya berusaha menjaga kesehatan sebaik mungkin – meskipun kemudian menjadi tidak optimal karena satu dan lain hal.

Orang bilang uang tidak bisa membeli segalanya, namun fakta bahwa uang bisa membuat orang mendapatkan akses kesehatan yang lebih baik tidak bisa dipungkiri. Lalu apakah orang miskin yang mengalami kesulitan finansial tidak bisa mendapatkan akses kesehatan? Jawabannya akan menjadi sangat relatif dan beragam. Hal yang kemudian menjadi bermakna adalah latar belakang lingkungan dan dukungan sistem kesehatan yang ada di sana. Continue reading

Di Bawah Separuh Langit

Setiap orang memiliki masalah dan kesulitan dalam hidupnya, kecuali mungkin Anda lahir dengan keberuntungan tak terbatas – maka Anda dapat hidup di luar semua masalah yang dialami orang lain. Beruntunglah bagi orang yang mampu mengatasi masalahnya, dan lebih beruntung juga jika mereka dapat membantu orang lain mengatasi masalah mereka.

Terutama kaum perempuan, memiliki masalah sendiri. Siang ini, Dhea mengingatkan saya akan sebuah video lawas tentang bagaimana masa depan dari seorang anak gadis yang hidup di dalam kemiskinan bukan lagi berada dalam kontrolnya. Dan kemudian rantai kemalangan akan dimulai di sana, padanya dan pada seluruh dunia. Continue reading

Isu Tes Keperawanan

Berita pun wacana tentang adanya usulan tes keperawanan dalam tulisan salah satu rekan narablog. Saya tidak tahu menahu bagaimana isu ini bermula, apa latar belakang isu ini bergulir. Namun dari beberapa tulisan media massa, saya mendapat gambaran bahwa isu ini ditujukan untuk anak remaja agar dites keperawanannya, yaitu pada saat penerimaan siswa baru.

Saya sebelumnya telah menulis dalam “Keperawanan dalam Perspektif Kekinian”, bahwasanya, tidak ada metode yang valid dalam menentukan apakah seseorang perawan atau tidak, bahkan itu bisa dikatakan mustahil. Apalagi tes keperawanan termasuk “kekerasan pada perempuan”, karena telah melanggar batas privasi. Nah, kini siapakah yang berani disumpah untuk memberikan pemeriksaan valid terhadap keperawanan mengetahui hal itu tidak mungkin dibuktikan, dan juga termasuk melakukan kekerasan pada perempuan?

Ini adalah gambaran kecil tentang apa yang mungkin terjadi…

Anda memiliki seorang anak putri yang begitu Anda sayangi – ya, setiap orang tua tentunya menyayangi anaknya. Ia suka menari, ia suka bersepeda, ia suka berenang. Sayangnya ia memiliki himen (selaput dara) yang secara struktur anatomis dan histologis dapat dikatakan himen yang rapuh. Jadi regangan saat gerakan menari balet bisa merobeknya, benturan pada sadel sepeda bisa merobeknya, menggunakan tampon saat renang bisa merobeknya. Dan malangnya, ia tidak akan pernah merasa, sadar ataupun tahu bahwa himennya robek, bahkan anak gadis ini mungkin tidak pernah tahu tentang himen.

Kini anak gadis anda memasuki sekolah baru, Anda mengantarnya. Dan ternyata di sana ada tes keperawanan. Lalu si pemeriksa keluar dan menyampaikan hasil tes bahwa anak anda (mungkin) sudah tidak perawan lagi. Bayangkan, Anda bisa mengalami syok yang hebat, bisa jadi jika Anda memiliki riwayat penyakit jantung, Anda akan tersungkur di tempat. Karena setahu Anda bahwa putri anda adalah anak yang baik-baik. Anda bisa jadi memarahi putri anda dan memintanya mengaku untuk sesuatu yang tak pernah dia tahu. Anda persis seperti pemeran polisi jahat dalam adegan bad cop & good cop dalam menginterogasi tersangka kriminal. Anda merasa harapan anda pupus sekita.

Di sisi lain, putri anda yang tidak pernah merasa melakukan hubungan badan dan tidak mengerti bagaimana ia bisa dikatakan tidak perawan lagi akan lebih tertekan dan kebingungan. Ini adalah dampak psikologis yang hebat. Jika hal ini tersebar, ia bisa jadi gunjingan oleh teman-temannya dan masyarakat. Ia bisa menutup diri dari lingkungan, ia bisa mencurigai orang-orang di sekitarnya karena menduga seseorang telah berbuat yang tidak-tidak saat ia tidak mengetahuinya. Ia menjadi orang yang tertutup dan tidak percaya pada lingkungan, sementara ia menderita secara psikologis.

Hal-hal yang melandasi ide wacana tes keperawanan ini mungkin bukanlah ide yang buruk. Namun jika tidak memahami tentang isu keperawanan secara esensial, janganlah meluncurkan ide-ide seperti itu. Negeri ini sudah banyak masalah, jangan ditambahkan dengan masalah lagi.

Pun demikian saya rasa bukan berarti kita tidak memberikan perhatian terhadap hal-hal seperti ini. Edukasi tentang seks pada anak juga melibatkan unsur orang tua. Jangan sampai orang tua sibuk dengan pekerjaan, lalu semua pendidikan anak hanya dipercayakan pada sekolah. Padahal untuk menjadikan seorang anak sebagai sosok yang budiman, itu adalah sepenuhnya kewajiban orang tua.

Jika tidak ingin anak terjerembab ke dalam pergaulan bebas termasuk free sex, maka berilah edukasi dan teladan yang baik. Berikan pemahaman, sehingga anak-anak melihat dengan pengetahuan dan kesadaran, dan bertindak sesuai dengan nurani, dan mereka berani mengatakan tidak pada free sex karena nurani mereka berkata demikian. Bukan berani berkata tidak karena takut ketahuan, atau takut malu jika diperiksa ternyata dibilang tidak perawan lagi. Tugas generasi sebelumnya adalah menuntun generasi berikutnya sebagai insan yang hidup dengan kesadaran, bukan dengan kekakangan ketakutan yang menciptakan jiwa-jiwa yang kerdil.

Jiwa-jiwa yang kerdil akan mudah melakukan pelarian. Saya tidak akan heran jika di pasaran semakin laris alat pemalsu keperawanan nantinya. Dan saya rasa negeri ini tidak memerlukan masalah-masalah sosial bertambah lagi.

Jika Anda tidak khawatir tidak sanggup membimbing putra dan putri anda untuk itu, maka sebaiknya ya tidak usahlah membuat anak sekalian. Ya, ini memang tidak mudah. Jika jadi orang tua itu mudah, maka tidak akan ada istilah anak yang salah asuh di dunia ini. Orang tua memerlukan komitmen yang penuh dengan kesungguhan untuk membimbing anak-anaknya, dan komitmen ini juga mestinya hadir sebelum seseorang memutuskan untuk berkeluarga. Karena ketika orang sudah mengatakan menemukan pendamping hidup, maka pendidikan anak seharusnya sudah menjadi agenda yang tidak dapat dipungkiri lagi.

Jika Anda menggulirkan ide tes keperawanan atau mendukung ide ini, bisa jadi Anda adalah orang yang tidak siap untuk bertanggung jawab atas pendidikan keluarga yang baik untuk anak-anak anda.

Dan akhir kata, saya percaya bahwa perempuan bukanlah barang yang bisa semena-mena dites untuk mengetahui kualitasnya ala paradigma pemikiran tertentu, termasuk tes keperawanan di dalamnya.