GIMP Magazine akan Segera Hadir

Bagi Anda yang menyukai melakukan pengolahan gambar, desain dan fotografi – terutama pada sistem operasi Linux, maka ini adalah kabar gembira. Karena sebentar lagi majalah khusus akan diluncurkan oleh GIMP, peranti lunak populer pengolahan gambar dengan sumber kode terbuka. GIMP adalah penyunting gambar yang memiliki fitur serupa dengan Adobe Photoshop.

Saya sendiri selalu bekerja dengan GIMP, dan kebetulan memang saya tidak sanggup membeli lisensi Adobe Photoshop yang berharga hingga jutaan rupiah itu. GIMP Magazine yang akan diluncurkan pada musim gugur tahun ini akan menyediakan pelbagai karya pengguna GIMP. Continue reading

Narablog Terkenal atau Dikenal?

Orang bilang, terkenal tidak membuat dikenal, demikian juga dikenal tidak membuat orang terkenal. Ketika seseorang mulai menulis blog, bisa jadi pertimbangan ini ingin ada, atau dalam istilah saat ini “eksis” di dunia maya.

Saya melihat – meski mungkin keliru – ada yang sedikit membedakan di antara keduanya. Meski tidak harus ada maksud untuk dikenal ataupun terkenal, namun pendekatan yang berbeda akan menghasilkan jalan-jalan yang berbeda. Continue reading

Menyandi Hati Menyirat Sari

Dulu, pernah kubisikkan padamu, sederetan desah nirlanggam dari kalbuku – sebagaimana jua mereka telah terwariskan padaku oleh para pengelana yang telah lama menyusur cakrawala kata adimakna.

Saya lupa kapan diskusi itu berlangsung, karena saya jarang sekali kembali menulis hal yang sama saat ini. Karena puisi itu menyandikan isi hati dan hanya mengungkapkan sedikit sarinya, maka ia tidak dapat diguratkan jika seseorang tak berhati – heartless. Saya sudah lama lupa jika tidak melihat kutipan dari Paul Dirac pagi ini.

Continue reading

Memberi Kredit Itu, Manusiawi

Sore hingga malam ini, saya berbincang dengan dr. Dani Iswara (semoga kali ini pranalanya tidak salah sasaran lagi) – bukan sebagai bagian dari dunia rumah sakit, tapi hanya obrolan usil & ringan ala narablog yang membahas hal-hal tidak penting. Sebagai sosok yang antusias menerapkan dan belajar bahasa Indonesia yang baik & benar, saya sering dibuat keteteran dengan kuis-kuis ringan dari narablog yang sudah senior ini.

Hingga saya menyinggung tentang diskusi saya sebelumnya dengan Bapak Aldy M. Aripin di blog Mas Kharisma Adi pada salah satu tulisan teranyarnya. Sepertinya Pak Aldy berusaha menyampaikan bahwa saya mungkin telah melewatkan sesuatu, namun saya tidak menemukan kejanggalannya, walau sudah saya pindai dengan laju yang dilambatkan.

Dan setelah perbincangan diteruskan, Bli Dani kemudian mengajak saya menulusuri sebuah blog di domain WordPress.com yang mengusung tema seputar dunia blog dan desain web. Saya melihat salah satu tulisan terbarunya, memindai dengan cepat, kemudian dengan mesin telusur Google saya mengetik kembali kata kunci judul artikel tersebut dalam bahasa Inggris. Dan saya menemukan sebuah web yang berisi artikel yang saya cari (modus operandi detektif).

Pasca membandingkan dengan saya bisa menangkap sesuatu, intinya adalah – ada sebuah artikel berbahasa Inggris, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dengan gaya bahasa & komposisi serupa. Sehingga itu menjadi sebuah artikel saduran.

Tentu saja tidak ada yang keliru dengan menyadur artikel, saya sering kali menyadur artikel juga. Karena selain menambah wawasan saya sendiri, menyadur memberikan kesempatan bertukar pandang dengan orang-orang yang memiliki ide serupa. Namun, di bagian akhir saduran saya, biasanya saya menempatkan kredit pada si penulis atau sumber artikel.

Nah, blog yang saya telusuri tadi tidak menempatkan kredit sama sekali. Apa dia lupa mencatumkannya? Menurut gosip – yang sebaiknya Anda tidak percayai begitu saja – narablog ini sudah gemar sekali menyadur tanpa menyertakan sumbernya, seakan-akan ia-lah yang memiliki ide akan tulisan itu. Ia baru akan menambahkan sumbernya, jika ada yang ‘menegur’-nya.

Salahkah dia? Entahlah, itu mungkin hanya satu dari sekian banyak yang mungkin luput dari pandangan banyak pengguna internet. Saya sendiri sudah termasuk jenuh dengan isu-isu seperti ini. Karena seringnya terdengar. Namun saya ingin – bukan untuk siapa-siapa – setidaknya melalui tulisan ini, untuk mengingatkan diri saya sendiri, bahwa memberikan kredit itu adalah sesuatu yang manusiawi.

Tidak ada salahnya menyadur karya orang lain, namun rasanya akan tetap saja keliru jika kita mengakui itu sebagai karya kita – atau setidaknya membuat sedemikian rupa itu tampak sebagai karya kita. Ada sesuatu yang jauh lebih bermakna daripada sekadar kebanggaan, dan itu adalah kejujuran yang polos.

Kata-kata itu bukan untuk siapa-siapa, namun diri saya sendiri. Mengingatkan diri saya pada langkah-langkah awal saya ketika saya mulai menulis di dunia maya.

Maaf jika terlalu banyak pengaburan latar dalam tulisan ini, itu disengaja untuk maksud-maksud tertentu.