Film Oz the Great and Powerful

Saya menonton film ini, mungkin karena terikat dengan salah satu musik favorit saya, “Over the Rainbow“. Setidaknya seminggu sekali, saya akan mendengarkan lagu ini di saat santai. Sayangnya, kali ini tidak muncul dalam film terbaru Disney, “Oz the Great and Powerful”.

Lalu apa yang ditawarkan film ini? Saya bisa katakan, “dunia baru” yang diciptakan benar-benar karya imaginasi yang tiada duanya, dibandingkan semua film yang pernah saya tonton. Ini seperti banyak dunia film dijadikan satu. Apakah mendekati film “Wizard of Oz” tahun 1939 yang pernah ditayangkan di televisi kita di masa lalu? Entahlah, saya lupa, terlalu kecil untuk mengingatnya, tapi saya rasa “keajaiban imaginasi” yang diberikan, nyaris sebanding. Continue reading

Tangled Ever After

Film Tangled sendiri cukup menarik saya dulu, dan sedikit kisah kecil yang menjadi penutupnya tentu cukup menarik. Kali ini bukan Eugine ataupun Rapunzel yang menjadi tokoh utama, namun para pendamping mereka di acara pernikahan kerajaan.

The short starts out with the film narrated by Eugene, similar to the first story, proclaiming dramatically that “This is the day my life ended”. Rapunzel corrects him and he then admits that it was actually the best day of his life. Rapunzel and Eugene (Flynn Rider) are about to be married. The entire kingdom prepares for what Eugene and Rapunzel state is the biggest shindig the kingdom has ever seen and that everything was perfect and went as planned, except for two things: Eugene’s nose once again not properly drawn and Pascal and Maximus losing their wedding rings. Continue reading

Ice Age: Continental Drift

Ini adalah seri keempat film “Ice Age” sejak perdana mengocok perut saya sepuluh tahun yang lalu. Mengambil judul “Ice Age: Continental Drift“. Dan sebagaimana film-film sebelumnya, secara klasik petualangan Manny dan kawan-kawan dimulai oleh bencana yang disebabkan oleh Scrat, dan memang bisa dibilang semua bencana memang dialah berang keroknya dalam film Ice Age, kecuali beberapa bencana kecil oleh Sid.

Pada film “Ice Age: Continental Drift” ini, Scrat membuat bencana luar biasa yang dikenal dengan “Scrat’s Continental Crack-Up”, bahkan saya tertawa menyaksikan cuplikannya yang sudah dirilis sejak setahun lalu. Ya, ini nostalgia pelajaran ilmu bumi dalam lelucon animasi 3D yang apik. Hanya saja jika terjadi sebenarnya seperti itu, mungkin tidak akan lucu lagi, Continue reading

Brave

Brave adalah film animasi terbaru dari Disney dan Pixar yang mengambil latar di era Skotlandia tempo dulu, saat mitos dan legenda dimulai. Karena sejumlah masukkan dari teman-teman di Facebook, saya memilih menonton Brave, sebelumnya ada juga pertimbangan menonton Madagaskar 3. Namun karya Pixar tidak ingin dilewatkan jika bisa.

Sore itu saya datang ke Empire XXI dan memesan tiket 30 menit sebelum pertunjukkan terakhir, rupanya banyak kursi yang kosong. Brave diawali dengan film pendek dari Pixar, dan ini adalah bonus yang tidak ternilai. Kali ini adalah “La Luna” yang saat munculnya perahu kecil itu saya sudah tebersit pemikiran akan “Sang Rembulan”. Film pendek karya Enrico Carsarosa ini memenuhi layar selama hampir 7 menit dengan keajaiban-keajaiban imiganiasinya. Continue reading

Ninjutsu Gakuen Zenin Shutsudou!

Akhir pekan ini saya bernostalgia dengan menyaksikan film kedua dari Nintama Rantarou (di Indonesia dikenal dengan Ninja Boy) yang berjudul “Ninjutsu Gakuen Zenin Shutsudou!”. Ternyata film ini berat juga jika tidak ada pengisi suara alih bahasanya. Saya memang suka Nintama Rantarou terutama dari komik-komiknya yang lucu. Ceritanya yang cukup edukatif seringkali banyak memberi nilai tambah tersendiri.

Di kisah ini, para murid sekolah ninja kelas 1 cukup khawatir dengan perang yang sedang terjadi di antara dua kelompok besar. Namun mereka tidak bisa apa-apa. Kepala sekolah yang tahu hal ini dari Hemu Hemu lalu menyiapkan misi untuk anak-anak ini, namun apa yang bisa mereka lakukan di antara dua kelompok angkatan bersenjata dan para ninja musuh? Continue reading