Skip to content

Tag: kesehatan

Selamat Hari Kesehatan Nasional ke-49 Tahun 2013

Mungkin terlambat 2 hari, namun saya hendak menyampaikan – Selamat Hari Kesehatan Nasional ke-49 – terutama bagi rekan-rekan dan sejawat yang bekerja dan bertugas dalam pengabdian di mana pun di seluruh pelosok negeri ini. Selama setahun terkahir, saya melihat sendiri bagaimana sejawat berusaha menjalankan profesi dengan sebaik-baiknya, bahkan pada infrastruktur kesehatan yang masih begitu jauh dari sempurna.

Terutama mereka yang berada di garis depan di layanan kesehatan primer, saya bisa menyaksikan sendiri kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi dan juga yang pernah saya hadapi. Ini masih di Pulau Jawa yang dalam catatan termasuk memiliki pembangunan yang baik di bandingkan banyak pulau-pulau lainnya di nusantara. Continue reading Selamat Hari Kesehatan Nasional ke-49 Tahun 2013

Jadi Pembicara Dadakan

Awal pekan yang lalu saya menerima tawaran menjadi pembicara dalam sebuah acara bincang-bincang seputar kesehatan, donor darah dan religi yang diadakan oleh adik-adik dari KMHD UGM. Setelah saya pastikan tidak ada jadwal lain yang berbenturan, maka saya pun menyanggupinya. Materi yang saya bagikan mengambil judul, “Donor Darah dalam Pandangan Hindu”, saya usahakan berada dalam tema yang bisa diterima oleh umum.

Jika saya mengingat kembali – zaman mahasiswa tempo dulu, saya mungkin akan menolak tawaran seperti ini. Tapi ketika saya merasa sudah tidak lagi memiliki “kemewahan” seorang mahasiswa, maka saya memilih melawan kemalasan saya untuk tetap bisa berbagi dari sedikit yang saya miliki. Saya sendiri heran, kok bisanya saya duduk tenang di kursi pembicara, padahal narasumber lainnya adalah dosen saya sendiri, seorang guru besar di bidang kedokteran dan obat-obatan herbal. Continue reading Jadi Pembicara Dadakan

Menuju Era Jaminan Kesehatan Nasional

JKN atau Jaminan Kesehatan Nasional akan mulai diterapkan awal tahun 2014 (dan benar-benar awal). Iklannya pun sudah mulai tayang di stasiun televisi untuk membuat masyarakat awas atas keberadaan program ini.  Dalam naskahnya disebutkan bahwa Program Jaminan Kesehatan Nasional disingkat Program JKN adalah suatu program Pemerintah dan Masyarakat/Rakyat dengan tujuan memberikan kepastian jaminan kesehatan yang menyeluruh bagi setiap rakyat Indonesia agar penduduk Indonesia dapat hidup sehat, produktif, dan sejahtera.

JKN adalah sebuah sistem asuransi kesehatan yang bersifat nirlaba, dari yang sehat untuk yang sakit, yang kaya untuk yang miskin dan yang berisiko tinggi pada yang berisiko rendah. Sistem ini akan mengganti semua jenis asuransi/jaminan sosial lainnya yang telah ada sebelumnya. Continue reading Menuju Era Jaminan Kesehatan Nasional

Ketika Dokter Berdemo

Kemarin saya menonton sekilas dari streaming yang tersendat-sendat di dekat kaki Gunung Rawung, bahwa kelompok dokter dari DIB – Dokter Indonesia Bersatu melakukan demo di ibu kota. Saya pernah membaca dari satu milis dokter di negeri ini tentang kelompok DIB, lebih pada gerakan moral, dibandingkan organisasi. Dan isu demo ini sudah terdengar jauh hari sebelum tibanya hari Kebangkitan Nasional dan hari Bakti Dokter Indonesia tahun ini.

Mereka adalah sejawat, dan apa yang mereka perjuangkan, jika untuk kebaikan masyarakat luas, maka dukungan akan saya berikan. Sayangnya saya tidak bisa memberikan dukungan langsung, kecuali melalui coretan kecil di sini. Pun kemudian saya malah melihat sejumlah “plintiran” di media, sehingga terkesan para dokter berdemo untuk menuntut kenaikan pendapatan. Continue reading Ketika Dokter Berdemo

Name Your Price

Pernahkah Anda ketika seseorang menawarkan, “Anda bisa bekerja di sini, silakan sebutkan harga Anda (bayaran yang dikehendaki)“. Ya, penawaran seperti tampak menggiurkan. Beberapa waktu lalu, saya mendapatkan penawaran seperti itu. Sayangnya, saya hanya bisa tersenyum saja – itu bukan tawaran yang bisa saya terima.

Saya mesti katakan, kehidupan itu sepertinya agak aneh. Ada banyak orang yang sekolah tinggi, mati-matian mencari kerja, akhirnya hidup tidak layak. Ada yang bahkan tidak berkesempatan untuk menempuh pendidikan secara layak; pun mungkin saya tidak akan menaruh simpati berlebihan pada mereka yang menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan, atau memperkaya diri mereka dengan pengetahuan, keterampilan, keahlian serta kebijaksanaan. Continue reading Name Your Price

Medically Santet

Obrolan ringan kita kali ini, karena saya tidak sengaja tadi pagi menatap layar televisi yang berisi hiburan gosip seputar kasus Eyang Subur dan santetnya. Salah satu narasumber – di luar apa yang dinyatakannya benar atau tidak – menyatakan bahwa salah satu keluarganya menjadi korban santet, sehingga dalam kista yang diambil ditemukan ada rambut dan gigi, hal ini tidak lain pastilah santet.

Saya sendiri sering mendengarkan hal-hal yang serupa, dan dengan malas saya mungkin menjawab, “yes, they are medically santet” – ya, mereka menderita santet secara medis. Menjelaskan logika medis pada mereka yang terlanjur percaya dengan hal-hal mistis adalah hal yang sering kali sia-sia, ketika tingkat edukasi tidak memungkinkan, selama dirasa aman dan tidak membahayakan, maka biarlah orang hidup dalam kepercayaannya. Continue reading Medically Santet

Salah Siapa

Meski sedang jauh dari pusat hiruk pikuk dunia pendidikan kedokteran. Sesekali saya masih mendengar ada keluh kesah para sejawat.

Seperti sebuah tweet siang ini. Sejawat saya yang “orthoped wanna be” mengutip bahwa ada pasien kondisi kritis, dan mungkin memang akan sulit tertolong.

Katakan saja Mr. X. Mengalami cedera (baca: luka dan patah tulang) dan ditangani oleh “traditional healer” (baca: dukun). Mr. X dijahit lukanya dan diolesi ramuan tradisional (mungkin sejenis herbal).
Continue reading Salah Siapa

Lebih Suka Obat yang Terjangkau

Pagi tadi badan saya sudah mulai mencapai puncak keluhannya. Saya tahu beberapa hari ini tenggorokan saya memang sudah tidak nyaman, cuaca yang datang tidak menentu juga tidak membantu memperbaiki gairah hidup. Saya berusaha bertahan dengan memperbaiki nutrisi, tapi ketika berkunjung ke salah satu swalayan waralaba kecil, harga buah-buahan begitu tinggi, tidak menampung pada anggaran saya bulan ini.

Pasca visite bangsal pagi hari, saya semestinya langsung ke poliklinik untuk tugas pagi. Namun karena faringitis saya mendapat bonus nyeri kepala yang hebat dan demam ringan, saya merasa akan sulit fokus menyelesaikan tugas dengan baik. Sehingga saya menuliskan resep untuk diri sendiri dan berbelok ke arah apotek. Continue reading Lebih Suka Obat yang Terjangkau

By continuing to use the site, you agree to the use of cookies. more information

The cookie settings on this website are set to "allow cookies" to give you the best browsing experience possible. If you continue to use this website without changing your cookie settings or you click "Accept" below then you are consenting to this.

Close