Hantu dan Poltergeist

Tulisan ini tidak untuk membahas mendalam kedua topik ini, ghost and poltergeist, tidak juga mencari jawaban atas keduanya. Nah, anggap saja obrolan ringan di sebuah warung kopi, atau sebuah kafe elegan – jika Anda tidak terbiasa dengan warung kopi. Saya sendiri bertanya-tanya, memang ada banyak kisah menyeramkan tentang dua fenomena ini, yang secara nyata sulit dijumpai.

Mengapa sulit, sebut saja hantu (ghost/spirit), seberapa banyak dari kita yang pernah melihat langsung? Saya cukup sering berjalan di sekitar kuburan, persawahan dan candi angker pada malam hari, nah ini sih karena apa boleh buat, namun tidak pernah bertemu dengan yang namanya hantu. Sering terjaga dan tidur di ruang jaga atau bangsal rumah sakit yang dibilang paling seram, tapi tetap tidak berjodoh berjumpa. Continue reading

Ramayana Dalam Sentuhan Modern

Ramayana adalah epos yang begitu tua, jauh lebih tua daripada Mahabharata, dalam ribuan tahun usianya dan penyebarannya dalam kerajaan-kerajaan tempo dulu di seluruh dunia, kita memiliki banyak versi kisah Ramayana yang beragam, termasuk di nusantara dalam Kekawin Ramayana. Demikian juga telah diangkat dan menjadi inspirasi banyak karya seni di seluruh dunia. Di nusantara misalnya menjadi relief Candi Prambanan, sendratari Ramayana, atau bahkan tari Kecak di Bali.

Saya tidak tahu saat ini, namun saat saya kecil dan masa-masa sebelum itu, Ramayana sudah menjadi bagian dari tradisi bercerita orang tua, seperti kakek dan nenek kepada cucu-cucunya. Dan di luar menjadi sebuah ekspresi seni yang mengalirkan nilai filosofis di dalamnya. Continue reading

Tanah, Leluhur dan Dewata

Sore itu senja menggantung di antara rerimbunan nyiur yang membelah persawahan luas, Nang Olog baru tiba di gubuk kecilnya setelah usai memandikan dua sapinya sehabis menggarap sawah. Peluh mengucur pelan dari rambut-rambutnya yang telah memutih, di antara kulit-kulitnya yang telah lama mengeriput. Sesekali ia meneguk air putih dari sebuah botol bekas air mineral yang sudah tampak kumuh dan lusuh, meski tak selusuh bajunya yang dipenuhi noda lumpur dan mungkin beberapa cipratan getah pohon dan entah apa lagi yang didapatkannya dari seumur hidup sebagai tani.

Perhatian Nang Olog asyik kelebatan burung kokokan putih yang mulai meninggalkan tanah-tanah basah berlumpur pada petak-petak yang sebentar lagi tertanam padi, hingga tiba-tiba saja perhatian itu teralihkan.

Continue reading

Pipi Rama

Terkisahlah seorang saudagar yang dinasihati oleh guru rohaninya agar selalu ingat dan mengucapkan nama Tuhan. Namun sang saudagar menyampaikan keluhannya, bahwa ia kesulitan menemukan waktu yang tepat, ia terlalu sibuk dengan urusan niaganya, tidak memiliki waktu untuk duduk dan mengucapkan nama Tuhan. Semua tenaga dan waktunya telah terkuras habis untuk tokonya.

Lalu gurunya bertanya, kapan dia memiliki waktu di luar urusan dagangnya. Ia berkata saat istirahat untuk makan, namun itu pun tidak cukup untuk mengucapkan nama Tuhan, ia mesti makan dengan cepat dan kembali ke toko, tidak mungkin baginya untuk mengucapkan nama Tuhan saat makan.

Continue reading

Ayah yang Melompat

Apakah Anda masih ingat kisah pendek “Lebih Merdu dari Tansen” yang pernah saya ceritakan kembali sebelumnya? Ini adalah kisah lain dari Tansen dan Maharaja Akbar.

Maharaja Akbar seringkali menanyakan hal-hal seputar kepercayaan orang Hindu pada para pejabat istananya. Tentu saja pertanyaan-pertanyaan umum yang sudah sering ditanyakan berulang kali. Dalam Purana disampaikan bahwa jika dharma di dunia mengalami kemerosotan, maka Tuhan sendiri akan turun ke dunia, mengambil rupa dalam wujud avatar. Lalu mengapa Tuhan mesti turun sendiri, mengapa tidak memerintahkan banyak dewa yang ada di bawah kekuasaan untuk bertindak? Kadang rasanya itu tidak masuk akal bagi mereka yang berkuasa.

Lukisan "Court of Akbar"

Tansen tidak langsung menjawab pertanyaan sang maharaja, namun meminta beberapa waktu sebelum ia memberikan jawabannya. Dan diperkenankan oleh rajanya untuk memberi jawaban dalam waktu satu minggu.

Beberapa hari berselang, keluarga kerajaan mengadakan pelayaran pesiar di sebuah danau. Ketika semua sedang asyik menikmati suasana, tiba-tiba ada suara keras benda yang jatuh ke air, dan di saat bersamaan terdengar teriakan, “O tidak! Pangeran terjatuh ke danau”.

Raja dan yang lain langsung melihat ke arah suara, dan semua kaget saat menyaksikan pangeran yang mulai tenggelam. Sang raja langsung melompat, dan menyelamatkan putranya. Namun begitu semua itu selesai, raja amat marah, karena itu hanya boneka yang dibusanakan mirip pangeran.

Tansen segera menjelaskan untuk meredakan amarah padukanya, bahwa pangeran baik-baik saja, dan dialah yang membuat rekayasa ini – tujuannya hanya satu, untuk menjawab pertanyaan sang raja. Mengapa Tuhan langsung yang datang mengambil wujud kehidupan di dunia ini untuk menyelamatkan dharma, dan bukan memerintah makhluk lain atau para dewa yang ada di bawah kuasanya.

Dharma bisa diibaratkan putra yang amat dikasihi oleh Tuhan. Sepertinya Maharaja Akbar, saat mengetahui putranya tercebur ke dalam danau, ia bisa saja memerintahkan salah satu pengawalnya untuk menyelamatkan putranya – ada banyak pengawal yang sigap yang bisa menyelamatkan putranya dalam sekejap, namun mengapa tidak? Inilah yang disebut kasih, inilah yang dipanggil cinta – demikian besar kasih Ilahi menyaksikan kemerosotan dharma di muka bumi, hingga keterdesakan akan kasih yang maha memahami ini membuat Beliau sendiri yang turun langsung ke dunia.

Diadaptasi dari Chinna Katha III, hal. 63. Gambar dikutip dari Lok Sabha.