Mencoba Deepin Music Player

Karena berpindah ke seri Tumbleweed, saya masih tidak bisa membiasakan diri dengan pemutar musik Amarok bawaan KDE. Memang Amarok tidak buruk, tapi bagi saya memiliki terlalu banyak fitur yang tidak saya perlukan sehingga membingungkan, saudaranya Clementine juga bukan merupakan pilihan yang baik bagi saya.

Lalu saya melihat ada ulasan tentang Deepin Music Player ketika mencari sejumlah aplikasi pemutar musik guna menggantikan Nightingale yang terlalu repot ketika dipasangkan dengan seri tumbleweed. Sepertinya sederhana, dan saya pun mencobanya. Continue reading

Audacious – Alternatif Winamp untuk Linux

Saat saya menggunakan openSUSE (dan distribusi Linux lain secara umum), si kadal hijau sudah dilengkapi dengan pemutar musik yang kaya fitur seperti Banshee untuk Gnome dan Amarok untuk KDE. Saya ingin mendapatkan sebuah pemutar musik yang lebih sederhana, mudah digunakan, yah seperti Winamp untuk Linux.

Dulu ada XMMS, namun nasib buruk menimpa pemutar musik open source berbasis GTK 1 ini, ia dijual ke pihak ketiga oleh pihak sponsor tanpa terlebih dahulu memberitahukan, apalagi meminta persetujuan pada pihak pengembang. Kabarnya tidak pernah terdengar lagi, namun saat ini muncul penerusnya yang bernama Audacious. Continue reading

Banshee di Ubuntu

Jika sebelumnya kita menyimak Songbird di Ubuntu, maka kali ini adalah Banshee yang pada Ubuntu 11.04 Natty Narwhal menggantikan peran Rhythmbox sebagai pemutar musik asli. Tidak seperti openSUSE yang sudah sejak lama menggunakan Banshee, mungkin komunitas Ubuntu ada sebagian yang menolak keputusan Canonical ini, mereka ingin Rhythmbox dipulihkan sebagai pemutar musik asli di Ubuntu.

Tapi saya rasa kemudian, hal ini akan sia-sia saja, karena pada akhirnya kustomasi sebuah distro kembali ada di tangan pengguna itu sendiri. Pada Ubuntu 11.04, Banshee akan terpasang secara asli sejak awal, dengan cara pemasangan standar, hal ini tidak bisa diubah lagi (memangnya Green Geeko yang sejak awal bisa memilih peranti lunak yang hendak dipasang).

Continue reading

Memasang Songbird di Ubuntu 11.04?

Saat saya mencoba Banshee di Ubuntu, wuih…, rasanya sangat jauh berbeda ketika menggunakan Green Geeko, saya suka Banshee di openSUSE. Namun entah mengapa rasanya tidak cocok untuk Ubuntu. Kemudian saya memasang Rhythmbox yang baru saja tersingkir sebagai default music player di Natty Narwhal. Yah, sedikit klasik, tapi saya suka.

Lalu saya menemukan pembaruan informasi di GetDeb bahwa ada versi terbaru Songbird untuk dipasang di Ubuntu. Awalnya saya bertanya-tanya, bagaimana bisa, karena jika membaca catatan rilis resmi Songbird, maka untuk versi dekstop hanya mendukung sistem operasi Windows dan MacOS. Karena memang pihak Songbird sendiri sudah memutuskan untuk berhenti memberikan dukungan pada Linux karena kekurangan sumber daya meskipun Songbird berbasis open source.

Continue reading

Mencoba Songbird

Memang sudah banyak diketahui jika pengguna Windows akan lebih familier dengan Winamp sebagai pemutar musik walau sudah memiliki Windows Media Player secara default, sedangkan pengguna OS Mac akan senang menggunakan iTunes yang ternama itu, jika pengguna Linux pasti lebih familier dengan Banshee ataupun Amarok.

Songbird

Namun pernahkah Anda melihat logo burung hitam kecil yang mengenakan headset seperti di samping? Ya itu adalah logo sebuah pemutar media yang bernama Songbird. Mungkin belum begitu terkenal di Indonesia, tapi lumayan banyak penggunanya, karena merupakan salah pemutar media yang dibangun dalam ranah open source (peranti lunak terbuka), serta mendukung banyak platform seperti Windows, OS Mac dan Linux, serta mendukung sinkronisasi antara berbagai perangkat genggam seperti Nokia N900 atau pun Motorola Droid yang cantik itu, atau hanya sekadar menyinkronisasi dengan MP3 player biasa.

Continue reading