Video

The Wind Rises

Banyak yang mengatakan bahwa Studio Ghibli mengucapkan selamat tinggalnya, atau setidaknya vakum dalam waktu yang belum ditentukan. Maka film animasi “The Wind Rises” yang dirilis akhir tahun yang lalu akan menjadi sebuah karya berharga dari perpisahan sebuah studio yang banyak membawa mimpi anak-anak dan remaja di seluruh dunia melalui karya animasi mereka. Continue reading

Setangkai Tulip dan Secercah Kincir

Jika saya mendengarkan dua kata, “tulip” dan “kincir”, maka saya pun mendapati di mana angan saya berada. Terlepas dari pelbagai kisah masa lalu negeri saya sendiri, ada sebuah dorongan yang kuat akan bayangan itu, sebagaimana jika dua kata seperti “gondola” dan “kanal” menghadirkan saya di kota air tua Venezia; maka “tulip” dan “kincir” akan langsung membawa saya ke dalam aroma negeri seluas lebih dari tiga puluh tujuh ribu kilometer persegi tersebut.

Saya bisa terjatuh di atas blok jalanan tua pedesaan Mersfoot yang tertata rapi dengan udara yang lebih dingin dari negeri asal saya. Maka siapa yang tidak akan mengenal kekhasan negeri Belanda yang beribu kota di Amsterdam ini. Continue reading

Petualangan Hugo Cabret

Kisah aslinya ditulis oleh Brian Selznick sebagai novel fiksi sejarah tentang seorang anak bernama Hugo Cabret yang hidup seorang diri di stasiun kereta api Paris. Di tangan Martin Scorsese disulap menjadi film petualangan yang seru berjudul “Hugo”. Saya tertarik pada film ini karena begitu banyak rekomendasinya, dan Hugo sendiri mendapatkan 11 nominasi Oscar dan memenangkan 5 di antaranya.

Yang unik dari film ini adalah, tidak menggunakan banyak latar, hanya stasiun kereta api Paris dan labirin menara jamnya, rumah Papa Goerges, perpustakaan kota, teater Robert-Houdin, sekilas ruang kerja ayah Hugo dan rumahnya, serta sekilas jalanan kota. Dengan latar yang sedikit ini, Hugo dapat menjadi film yang penuh daya tarik. Continue reading

Membangun Mimpi

Saya tidak memiliki mimpi tertentu, tapi tentu saja pernah diajukan pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Bahkan dari sejak kecil mungkin, tapi sebenarnya apa yang menjadi mimpi seseorang itu?

Misal saat kecil saya sering ditanya, apa yang menjadi mimpi saya. Ketika masih berlari dengan kaki mungil ini, dengan napas yang memburu & tidak lebih tinggi untuk mampu menghempas pucuk-pucuk ilalang, maka angan kecil itu ingin segera melompat ke tempat yang tak terjamah oleh imajinasinya. Saya ingin jadi seorang astronom (atau astronot ya), kaki kecil saya ingin berlari di angkasa luas.

Setelah usia bertambah, dan imajinasimu menjadi sedikit lebih logis, maka saya tahu, bahwa berlari di angkasa lepas tidaklah sebebas berlari di permukaan bumi. Dan tidak ada alang-alang yang bisa disentuh sambil berlari.

Kemudian saya melihat bahwa ada sesuatu yang bisa membawa kaki yang berjalan ke tempat-tempat yang lebih liar dari imajinasi ini. Sesuatu yang penuh misteri dan menantang, tentu dengan alang-alang di mana-mana. Saya pun berkata, bahwa saya ingin menjadi arkeolog ketika ditanya apa mimpi saya.

Lihatlah, satu mimpi lahir setelah mimpi lainnya padam. Namun bukan berarti hidup berakhir dengan keterpurukan. Pada akhirnya saya pun tidak menjadi seorang arkeolog, tapi itu tidak berarti menghilangkan hobi saya berburu kulit kerang jika saya sempat mengunjungi pantai.

Saya bukan orang yang memiliki kemampuan membangun mimpi, namun saya orang yang memiliki kealamian dalam melahirkan mimpi. Saya tidak pernah mempertahankan mimpi saya, namun saya melihatnya berjalan bersama kehidupan di sisi saya, jika memang sudah saatnya padam, maka ia akan padam. Seperti kumpulan kunang-kunang di tepian savana pada malam hari, kita bisa melihat kelap-kelipnya silih berganti, mimpi walau hanya ilusi namun menghiasi kehidupan manusia yang penuh kegelapan.

I never build my dream, they just exist while I breath away.